Thursday, November 01, 2012

Adakah yang Merindu Blog Ini?

Sekadar tanya. Sekadar sapa. Mampirlah di http://katakataku.com read more...

Wednesday, July 15, 2009

PINDAH ALAMAT BLOG (http://katakataku.com)

Sahabat-sahabat blogger dan netter, Musafir Mudah mulai saat ini pindah ke alamat baru di http://katakataku.com. Blog ini tidak akan dimusahkan. Sewaktu-waktu akan di-update kembali.Itu saja. Selamat bertemu kembali di KATA-KATAKU: BLOGGING FOR HUMANITY. Gracias!


read more...

Monday, October 06, 2008

Tamu Istimewa

Tamu istimewa datang berkunjung ke rumahku beberapa hari sebelum Lebaran tiba. Datang sendirian. Tanpa pasukan. Pagi hari saat ibu peri membuka pintu kamar depan dan mematikan bola lampu. Tubuhnya mungil. Lebih tepat lagi kurus. Rambutnya awut-awutan. Tatapannya nanar. Langkahnya limbung seperti pengemis dekil digempur lapar. Mulutnya meracau dalam bahasa yang tidak kukenali.

Rasa kasihan perlahan muncul seperti peluh yang menggembung di pori-pori saat gerah tiba. Mungkinkah dia seorang pengemis yang mengiba-iba. Ataukah dia seorang sahabat yang selama ini kulupakan dan mengetuk-ketuk pintu rumahku agar aku membukanya dan memberinya sepotong roti dan bukan seekor ular atau kalajengking. Mungkin dia adalah Maryam, Ibu Jesus, yang menyaru. Lalu bertandang ke rumahku seperti yang ia lakukan dua ribu tahun silam dengan mengunjungi rumah saudaranya, Elizabeth. Ah, jelas bukan! Mungkin seorang Maryam yang sedang bunting Anak Tuhan dan sedang berjalan dari pintu ke pintu untuk sebuah tumpangan karena jabang bayinya akan segera lahir. Ah, bisa jadi.

Bisa jadi dia seorang musafir yang tersesat. Mendadak dia lupa arah mata angin. Tidak tahu mana utara, mana selatan. Mana barat, mana timur. Atau juga dia Sidharta Gautama yang sedang menguji hatiku untuk sebuah pertolongan. Mungkin juga dia seorang malaikat yang karena melanggar perjanjian dikutuk dan diempaskan ke bumi ini untuk merasakan pahitnya cawan kehidupan. Bisa juga dia salah satu dari leluhurku yang harus menjalani reinkarnasi untuk menebus dosa-dosamasa lalunya dengan laku samsara.

Ah, semua itu bisa jadi. Tapi, di depan mataku, dia hanya seekor anak kucing yang kehilangan induknya dan merana. Badannya ciut. Kerempeng. Matanya belekan. Tulangnya menyembul berlomba dengan daging yang kian kisut. Tatapannya mendorongku untuk melakukan apa yang disebut Levinas dengan tanggung jawab etis. Dua biji bakpia kuserahkan padanya. Maaf tidak ada ikan asin di meja makan atau onggokan daging di kulkas. Tapi, kucing itu memakannya dengan lahap. Usai kenyang, kucing itu pergi dan tidak kembali lagi. Mungkin mengembara ke suatu tempat yang tak pernah kumengerti. Mungkin juga sudah menjelma lagi menjadi Sidharta Gautama.

Ah, ada-ada saja! Bagaimana kalau esok dia datang lagi dalam rupa manusia?
read more...

Pada Sebuah Halaman

Pernah melihat burung-burung dara jejingkrakan bergerombol di sebuah pelataran memperebutkan remah-remah makanan dari para pelancong? Aku pernah melihatnya! Mungkin kamu juga. Tapi, di televisi. Itu pun di sebuah daerah di benua dingin, Eropa. Potret itu juga pernah aku lihat di kalender dinding. Juga di halaman perjalanan sebuah majalah. Aku tertarik pada pemandangan itu. Sepertinya burung-burung itu punya rasa aman yang tinggi. Tidak terusik oleh mahkluk berjalan tegak dan berasio itu. Manusia pun tidak mengusik gerombolan mahkluk bangsa aves itu. Sebuah persahabatan yang indah!

Aku melihat pelataran itu berenergi magis. Menyerap siapa saja untuk datang ke situ. Para pelancong dari berbagai arah mata angin. Duduk santai. Bermandi matahari musim panas. Baca buku. Berciuman. Tiduran sambil menanti senja. Menikmati siluet di gedung-gedung tambun berusia ratusan tahun. Mengayun-ayunkan kaki telanjang di sebuah kolam. Berceloteh. Menari. Main biola. Mencuci muka dengan air yang mengalir dari lubang penis sebuah patung bocah bersayap. Bersepedia ria. Meliuk-liukkan tubuh dalam sepotong akrobat. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Nah, begitulah aku menganalogkan halaman depan rumah kami.


Tepatnya halaman di depan garasi rumah kami. Selama hampir hampir tujuh tahun mendiami rumah bernomer 23 di sepotong gang Haji Solihun itu, aku memperhatikan ada suatu yang aneh di halaman depan rumah kami. Sebenarnya, bukan halaman. Tapi, jalan yang menghubungan sebuah ruas gang dengan sebuah pasar tradisional. Jalanan yang tiap pagi dilewati oleh istri-istri pengangguran dan barisan pembantu rumah tangga. Meski begitu, itu halamanku. Jalan sekaligus halaman. Maklum, susah mencari rumah berhalaman di ibukota. Kecuali kalau itu disulap oleh para kontraktor menjadi hunian mewah yang semakin menggeser rumah-rumah warga kecil. Tiap pagi dan sore kami menyapu dan menyiraminya dengan air. Biar adem dan teduh, kata kakak perempuanku suatu hari. Apalagi, kalau garasi bersih, rezeki akan datang mengalir sendiri ke rumah itu.

Halaman itu seperti zona ajaib. Punya kekuatan magnet. Menyerap siapa saja. Bagai Segitiga Bermuda yang menyedot kapal-kapal di lautan Atlantik ke palung misterius. Mereka doyan berhenti persis di depan garasi. Minimal satu kali dalam sehari. Paling sering para pengendara sepeda motor yang berhenti hanya untuk menerima sepotong telepon, mengirim pesan pendek, atau mengontak seseorang yang ku tak pernah tahu di mana ia berada. Ada lagi tukang asinan keliling yang senang duduk-duduk di depan sambil istirahat dan menghalau panas matahari yang membakar udara siang. Ada tukang siomay yang menggelar dagangannya tiap sore.

Tempat itu juga sering jadi tempat kencan. R-e-n-d-e-s-v-o-u-s. Tak jarang kudengar celotehan dua orang, entah dua-duanya laki-laki, entah yang satu laki dan satunya perempuan, dari bilik kamarku. Sementara kedua sepeda motor mereka di parkir miring tepat di depan garasi. Sampai kini, aku tak tahu apa isi celotehan mereka. Mungkin tentang bisnis. Proyek baru. Rumah kontrakan. Kebon anggrek. Jual tanah. Bisnis Adenium. Ah, tak tauhlah!

Aku kadang bertanya. Apa yang menarik dari sepotong halaman beraspal yang kanan kirinya ditumbuhi rumput liar itu? Pernah ada dua orang ibu-ibu dari pasar terdengar ngomel-omel. Mulut mereka meracau tak keruan. Suara gaduh pun menguar melalui lorong garasi dan masuk ke kamar lalu membuat siang jadi tambah gerah. Ada lagi para pengendara sepeda motor yang suka memutar arah persis di depan. Seolah-olah halaman itu seperti putaran lap balapan Formula 1.

Lebih lucu lagi ketika halaman itu tiba-tiba ditanami tiang-tiang penyangga terpal. Meminjam istilah Desi Ratnasari “Tenda Biru.” Hah, halaman depan rumah dijadikan pelaminan bagi tetangga yang mau nikah. Padahal rumah tetangga ada 500 meter di belakang rumahku. Tapi, kenapa aku si tuan rumah tidak diberitahu atau sekadar izin pinjam halaman. Ini sedikit menyembulkan sedikit prejudice pada saudara Betawi. Tenda ini pun memaksa aku memindahkan si kecil pindah sementara ke rumah kakak. Maklum pesta itu akan dihujani oleh petasan. Yak, daripada gara-gara petasan si kecil jadi tidak mau minum susu atau mendadak amnesia pada bapak dan ibunya. Berabe dah!

Ada juga yang kurang ajar memarkir mobilnya persis merapat di depan pintu garasi. Otomatis pintu garasi tidak bisa dibuka. Padahal seberang masih ada space khusus buat parkir. Alhasil, aku pun marah-marah pada sopir bodoh nan malang itu. Lebih kurang ajar lagi ketika masa Lebaran tiba. Dipastikan, tempat itu akan menjadi ajang menyulut petasan. “Blaar!” lalu kumbang-kumbang tak kasat mata pun berterbangan di liang telinga.

Istriku justru mengajakku bersyukur. Ternyata, halaman depan rumah menjadi tempat nyaman bagi banyak orang. Katanya lagi, coba kalau hati kita seperti halaman depan rumah itu, pastilah banyak orang akan menyediakan diri untuk mampir dan mengecap sejumput kedamaian dari sepetak halaman hati kita. Tapi, hati kita lebih sering dipagari beton tinggi. Tertutup bagi orang lain. Angker. Beku. Kesepian.

He, he, he. Iya sih!
read more...

Friday, September 19, 2008

Tarian Cinta Untukmu

Tetaplah tidur. Mimpilah sesukamu. Malam di luar masih berjaga bersama bintang. Matahari pun masih tertidur lelap. Menunggu celoteh televisi menyampaikan renungan pagi. Mengabarinya sebuah hari baru. Tetaplah tidur. Mimpilah sesukamu.

Biarkan aku menjagamu bersama jam dinding di atas meja rias ibumu. Berharaplah bahwa pagi esok datang membawakan seribu matahari. Malam ini, bersama mesin ketik ini, kupersembahkan padamu sebuah tarian cinta. Tidak sekadar salsa. Bukan pula tango. Tapi, tarian cinta yang belum pernah ada di dunia ini. Tetaplah tidur. Mimpilah sesukamu.

Biarkanlah jari-jariku ini menari-nari. Berputar-putar. Meloncat-loncat. Menghentak-hentak. Menguarkan irama pengantar tidur. Berderap. Melesat dari satu abjad ke abjad yang lain. Merangkai seribu satu cerita tentang hidup kita. Tetaplah tidur. Mimpilah sesukamu.

Tentang mendung yang menggantung siang hari tadi tanpa menjatuhkan hujan. Tentang derasnya bunyi sahur dari mikrofon masjid yang menghujani pagi dan membuatmu terjaga sejenak untuk sepotong tangisan lantaran tenggorokanmu kerontang minta diisi susu. Tentang jam dinding di kamar mandi yang melaju lebih cepat lima menit. Tentang Adip, bayi montok seusiamu yang senang kau lempar senyum lesung pipitmu. Tentang engkong tua tetangga kita yang doyan mabuk dan menyetel keras-keras lagu mandarin setiap pagi menjelang.Tentang tukang koran yang datang tiap sabtu minggu dan berteriak lantang dari balik jeruji garasi rumah kita. Tentang Siti, pembantu rumah kita yang menggoreng cumi sampai gosong dan merusakkan topi biru kesayanganmu dengan larutan pemutih. Tentang Pak Ndut, si penjual mie ayam kesukaan ibumu, yang doyan membakar batok kelapa di depan rumah kita dan sebagian asapnya bertamu ke rumah kita tanpa diundang. Tentang nyamuk-nyamuk yang bersarang di kebon anggrek milik pak haji persis di samping rumah kita. Tentang petasan luncur yang meledak tepat di atas atap rumah kita pada malam larut. Tentang sabun curah milik ibumu yang mulai digemari ibu-ibu. Tentang boneka katak yang menggantung dan menari di jendela kamarmu. Tentang malam. Tentang siang. Tentang pagi. Tentang apa saja. Tentang kita. Tetaplah tidur. Mimpilah sesukamu.

Janganlah biarkan kekawatiran menganggu tidurmu. Janganlah takut karena aku akan terus menari untukmu. Jemari ini akan terus meloncat-loncat. Jejingkrakan. Berputar-putar. Berderap. Merangkai seribu satu cerita. Inilah tarian cinta. Tarian kehidupan. Tarian pengharapan. Tarian iman bahwa pagi nanti akan terbit seribu matahari.

Janganlah biarkan kekawatiran mengganggu tidurmu. Meski kamu harus tidur di malam-malam yang gerah karena angin tidak bertiup membawa dingin di kamarmu. Tapi, percayalah, aku akan terus menari. Pekan depan, kamarmu tidak lama lagi akan terasa sejuk seperti pucuk-pucuk Alpen yang dibalut salju putih. Di sana, kamu boleh tidur sesukamu. Biarkan tubuhmu menjadi montok seperti bayi malaikat. Tetaplah tidur. Mimpilah sesukamu.

Janganlah takut meski dunia tidak seideal yang kita mimpikan. Tapi, jangan pernah berhenti bermimpi. Meski kota ini semakin pengap. Panas. Padat. Meski kantong ini semakin tipis dan asat. Meski harga-harga barang kebutuhan semakin melesat. Kamu tidak usah takut.Langit akan terus memberi makan burung-burung di udara. Bumi setia mendandani bunga bakung di ladang. Berdoalah agar tarian ini tidak pernah berhenti. Meski badan lunglai dan jiwa terhimpit lelah. Kita terus menari agar langit terus menghujani rumah kita dengan rezeki. Tetaplah tidur. Mimpilah sesukamu.
read more...

Monday, September 08, 2008

Malaikat-malaikat Berdebu

“I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me”
[WestLife]

Tentu kata ‘malaikat’ sudah familiar bagi kuping kita. Konon, dari dongeng, malaikat digambarkan seperti manusia yang mempunyai sayap. Wajahnya rupawan. Bajunya putih beludru. Sayap-sayapnya putih. Halus. Wajahnya penuh aura kesucian. Menyala seperti aurora Borealis di Kutub Utara. Terbang di awan-awan. Tangannya memegang tongkat atau terompet atau sekuntum bunga lili putih atau tulip merah. Siap membantu bagi yang meminta pertolongan padanya.

Tulisan ini menceritakan perjumpaanku dengan para malaikat. Tapi, bukan malaikat bersayap, berjubah putih kemilau, dan berparas rupawan. Wajahnya dekil, berdebu, dan jauh dari cantik atau tampan. Orang tidak pernah tahu kalau mereka di bola mataku adalah malaikat. Mirip-mirip malaikat di filmnya Brad Siberling berjudul City of Angel (1998). Film yang dibintangi Nicolas Cage dan Meg Ryan ini menampilkan sosok para malaikat yang berbusana seperti manusia biasa. Tapi, malaikat yang aku jumpai ini tidak seganteng Nicolas Cage yang memerankan Seth. Aku senang menamainya dengan ‘malaikat berdebu.’ Tulisan ini cukup panjang, sepanjang perjalanan kami menjumpai para malaikat itu. Semoga pembaca menikmati!

Kisah ini terjadi sembilan tahun silam. Berawal di sebuah bibir dermaga di Pantai Kartini, Jawa Tengah. Siang itu cukup gerah. Angin pantai menerpa dan menggulung ombak. Aku dan seorang temanku berdiri tegap menantang angin. Lalu perlahan saling menjauh dan memunggungi seperti dua koboi yang bersiap adu tembak. Terdengar bunyi “sreet” mengiringi resluiting yang kubuka. Lalu, ‘pistol’ masing-masing dikeluarkan dari sarungnya. Dan “Serrrr!” bunyi ‘tembakan’ air amoniak berwarna putih kekuningan ke permukaan air pantai yang sudah membuih. Kami mengencingi pantai!

Itulah prolog pengembaraan kami berdua. Dari bibir pantai kami langsung melanjutkan perjalanan hari pertama. Matahari tegak lurus di atas ubun-ubun. Panas mulai menggerayangi kaki-kaki saat menghantam aspal. Pengembaraan panjang ini kami lakukan saat berada di tahun pertama di sebuah asrama ya
ng dikelilingi hamparan sawah dan di bawah bayang-bayang gunung Ungaran, Jawa Tengah. Kami melakukan berdua-dua. Setiap pasang mempunyai jalurnya sendiri. Kami tidak bawa bekal apa-apa selain buku tulis, puplen, rosario, kitab suci kecil, jeriken air minum, caping, tas, dua stel pakaian, peta, jas hujan, dan sandal jepit. Kami tidak boleh nebeng angkot. Semua harus jalan kaki sampai tujuan. Makan hanya dari sedekah orang. Tidak boleh terima uang. Tidak boleh membocorkan identitas. Itulah sepotong ilustrasi soal pengembaraan kami siang itu.

Jalur kami cukup panjang, kurang lebih 314 kilometer. Dari pantai Utara Jawa sampai Pantai Selatan, tepatnya di Goa Maria Tritis. Kalau jarak ini direntangkan, sebenarnya kami sudah melampaui lebar Pulau Jawa. Pengembaraan ini harus ditempuh paling lama 10 hari.

Hari pertama tidaklah mudah. Kami masih takut-takut bila ingin mengemis makanan dari orang. Dag dig dug bila dikira macam-macam. Takut juga bila tidak mendapat makan s
ementara perut terus ‘ngomel’ minta diisi. Takut juga bila nanti ada garong, penculik, penembak misterius, setan gunung, atau orang-orang jahat. Takut bila mendadak sakit dan tidak ada sepeser koin pun di saku celana. Ketakutannya pun beragam. Tapi, tahap demi tahap seiring dengan langkah kaki, aku pun mampu membunuh ketakutan itu.

Mencari makan dan penginapan di hari pertama tidak gampang. Kami sering ditolak dengan alasan kami masih muda dan harusnya kami bekerja dan tidak mengemis. Tapi, ada seorang ibu penjual warung yang memberi kami makan. Kami pun tidur di sebuah surau kecil. Dingin tapi damai.

Preman Terminal

Pengalaman unik terjadi saat kami tiba di Sulang. Siang itu mendung. Langit pun sempoyongan membobong air laut yang dibawa angin. Tumpahlah ke bawah. Kami bernaung di bawah pohon waru. Badan mulai menggigil. Mendadak seorang perempuan tua memanggil kami. Menyilakan kami masuk ke rum
ah bambunya. Di sana, seorang lelaki berjambang lebat, bertubuh kekar, berkulit sawo pekat, menyambut kami. Ngeri juga rasanya berhadapan dengan sosok ‘genderuwo’ itu. Lelaki itu memperkenalkan diri dengan nama Gondrong. Tapi, rasa ngeri ini menguap saat kami terlibat obrolan. Entah kenapa orang itu menaruh hormat pada kami. Kami dikira sebagai santri.

Wih, langsung kami dijamu dengan makanan istimewa. Ayam goreng. Telur puyuh rebus. Dua botol sprite. Nasi liwet panas. Tempe goreng. Dua gelas arak. Perutku pun melonjak girang. Ini melebihi dari yang kami minta. Lalu, lelaki lebih muda muncul dan menyalami kami dengan ramah. Namanya Mamik. Obrolan tambah seru saat Gondrong dan Mamik mengaku diri sebagai preman terminal Sulang. Kakak beradik jadi pentholan preman. Hati mendadak menciut saat mengetahuinya. Melebar lagi saat mereka berpesan, “Tenang mas. Kalau Anda dapat masalah di Sulang, bilang saja saudara Gondrong dan Mamik. Anda tidak bakal diganggu lagi!” Kami pun undur diri dengan tenang. Perut kenyang plus dapat jaminan keamanan g
ratis!

Cerita unik lain terjadi di hutan jati. Usai menghabiskan satu hari satu malam melintasi Blora, tibalah kami di hutan jati Randublatung. Saat itu, matahari sudah mulai menua. Sinarnya pun mulai redup. Siluet di mana-mana. Malam di ujung jalan. Di depan mata, berjejer ribuan pohon jangkung dengan batang mengelupas, cabang-cabang kering, dan daun-daun mulai menguning disengat panas. Kami sepakat meneruskan perjalanan.

Tapi, ada sesuatu yang membelokkan langkah kami ke sebuah gubuk kecil. Gubuk itu tak lain adalah sebuah posko perhutani. Seorang polisi hutan duduk di depan
gubuk sambil memelintir rokok. Usai perkenalan singkat, sang polisi pun mendesak kami bermalam di gubuk. Hutan jati terlalu panjang untuk disusuri. Katanya, kami masih harus menempuh 25 kilometer dari hutan seluas 32 ribu hektare itu. Akhirnya, kami putuskan menginap. Malam pun menyergap. Bohlam 5 watt menerangi ruangan tempat kami ngobrol. Polisi tua itu memberi kami nasi bungkus dengan lauk tempe goreng, sambel, dan kerupuk. Lumayan buat menghalau dingin udara hutan. Di pagi buta kami terbangun oleh kesibukan si polisi mempersiapkan tugas. Kami diberitahu tentang sebuah mata air cilik yang letaknya menjorok ke dalam hutan. Dengan diterangi senter kecil milik si polisi, kami berjalan menyusur jalan setapak. Di bibir telaga mini itulah tangan kami menggayung air dan menyiramkannya ke muka-muka kumal kami. Usai cahaya bola langit menelusup di rerimbunan jati-jati, kami pamit dan meneruskan perjalanan. Polisi itu membekali kami dengan beberapa potong lepet.

Di sekitar Blora, kami juga pernah mampir di sebuah dusun beraroma ganjil. Jalan masuk ke jantung desa sungguh terjal. Lantaran lolongan perut, kami nekat masuk ke dusun aneh itu. Di perkampungan, banyak pasang mata mengawasi kami. Tatapan mereka aneh. Aku mencium bau mistis. Kami menghampiri sebuah rumah. Kami minta makanan untuk makan siang. Seorang ibu ditemani seorang anak kecil memberi kami sepiring kacang rebus dan dua gelas air putih. Ia bilang sayurnya belum matang. Tapi, mendadak aku terkejut. Astaga! Tangan si ibu
itu tanpa jari. Sontak hatiku menciut. Apalagi jari-jari kaki anak kecil di sampingnya juga raib. Sepertinya ada virus misterius atau hewan buas yang memereteli jari-jari mereka. Lalu tatapanku menyapu seluruh arah mata angin. Lihat, seluruh orang di sini cacat! Tubuhnya tidak lengkap. Namun, si ibu itu menyilakan kami dengan ramah. Kami pun memakan kacang rebus itu dengan lahap. Kami pun mengucapkan terimakasih lalu sayonara. Orang-orang di dusun itu juga menyapa kami dengan ramah. Aura ganjil itu pun tanggal. Di ujung jalan, kami melihat sebuah papan bertuliskan “Wireskat: Wisma Rehabilitasi Sosial Katolik.” Di bawahnya, ada keterangan bahwa dusun itu dikhususkan bagi rehabilitasi mantan para penderita kusta. “Tuhan sendiri yang membelokkan kaki kita ke dusun itu. Kita memang harus berjumpa dengan orang-orang terbuang itu,” kata temenku sok religius.

Celana Dalamku Hilang

Memasuki wilayah Purwodadi dan Sragen kami sering ditolak. Rumah-rumah besar lebih senang mengunci pintunya rapat-rapat. Wajah kami pun sudah menghitam dan dekil. Di Solo, kami berdua dimarah-marahi oleh tentara. Namun, yang membuat kami terharu adalah saat minta makan pada rumah-rumah kecil. Banyak yang meminta maaf dengan nada tulus karena tidak ada makanan hari itu untuk dibagikan. Di daerah ini, hujan pernah mengamuk. Tapi perjalanan harus dilanjutkan. Dengan jas hujan dan caping kami pun melanjutkan perjalan
an. Menembus tirai air. Temanku berjalan di depan. Persis seperti hantu sawah!

Peristiwa kocak terjadi di Wonogiri. Tepatnya di pelataran sebuah gereja Katolik. Hari itu sudah malam. Hujan baru saja menghajar kota mungil itu. Menyisakan gerimis yang tak kunjung habis. Usai mendapat pengganjal perut, kami pun mencari tempat tidur. Emperan gereja jadi tujuan. Sesampainya di sana, kami melepas tas, membuka caping, dan meluruhkan penat ke lantai. Kami pun meninabobokkan diri sendiri. Tapi, sebelum tirai mata tertutup rapat, sekumpulan anak muda mendatangi kami. Aku tahu mereka anak muda gereja. Mereka menginterogasi kami. Tapi, kami tidak boleh membuka identitas kami. Tampaknya mereka sangat curiga dengan penampilan kami. Mereka menanyakan isi jeriken air minum kami. Mereka mengira bensin. Aku maklum karena waktu itu isu pembakaran gereja lagi marak. Lantaran masih curiga, mereka pun memutuskan ronda malam. Mereka menjaga kami. Kami pun terkekeh lirih.

Kami pun tertidur karena lelah. Gerimis belum juga bosan. Tempias membuat tubuh tanpa selimut ini menggigil berat. Dingin pun menusuk ulu. Tapi, lumayan! Kami tidur dengan dijaga oleh sekawanan anak muda, para ‘pasukan berani mati’ dan sang penjaga gereja itu. Sampai akhirnya, bunyi “tak-tak-tak-tak” mendekat. Pagi buta. Suara misterius itu semakin mendekat. Bulu kuduk sontak berdiri. Mengira itu suara hantu dini hari. Kami bangun. B
ayangan hitam muncul. Seperti siluet nenek jahat berbadan bungkuk pembawa tongkat maut. “Tak-tak-tak-tak!” Aku merinding. Bayangan itu semakin mendekat pintu gereja. Dan, ow, rupanya seorang nenek tua keriput berjalan pelan dengan tongkatnya menuju pintu gereja. Lalu satu per satu orang muncul dari tikungan dan tenggelam di dalam pintu gereja. Aha, aku baru ingat. Ini jam misa pagi. Lalu kami bergegas cari kran air dan bergegas masuk. Kami pun ikut ibadat pagi. Di dalam, kami celingukan. Kebanyakan orang-orang yang sujud di depan altar itu berwajah uzur dan renta. Aku pun bertanya di mana anak-anak muda sang penjaga gereja tadi malam? Tak satu pun ada di sana! Mungkin capek karena ronda malam.

Sepi membekap erat saat kami memasuki kawasan Pegunungan Seribu. Pegunungan kapur ini membentang dari Pacitan sampai Kebumen. Jalanan lengang. Hanya kami berdua. Kanan kiri menyembul ribuan gundukan bukit. Di atas, mega-mega putih berarak seperti sekumpulan domba sedang merumput di padang biru terbentang. Angin sesekali melesat cepat menghalau panas yang menghunjam ke tanah. Sebuah wahana yang menakjubkan! Sayang, tak ada kamera untuk mengabadikannya. Di bawah bayangan, dua gundukan bukit ada sebu
ah sungai mengalir lirih. Pelan. Seperti napas tersengal dari dada orang yang sedang sakratul maut. Sebentar lagi kerontang menghajar. Di sungai kecil itu, kami pun mencuci pakaian kami. Termasuk celana dalam. Maklum kami hanya bawa dua stel. Usai mencuci tanpa sabun, kami pun menjemur pakaian kami di atas caping kami. Kami harap matahari akan memanggangnya sampai gosong. Sambil menjemur, kami pun melanjutkan perjalanan. Selepas kawasan pegunungan Seribu, kami pun istirahat. Tapi, aku terkejut bukan main. Celana dalamku hilang! Pasti jatuh di perjalanan. Mau menyisir ulang jelas tidak mungkin. Yah, akhirnya aku hanya mengandalkan satu celana dalam di perjalanan selanjutnya. Bayangkan sendiri!

Lain lagi di Pracimantoro. Di sini, kami berniat minta penginapan di rumah pengurus RW. Tapi, demi keamanan, kami pun dibawa ke kantor koramil terdekat. Di sana, interogasi pun dimulai. Seorang tentara dengan pakaian hijau loreng-loreng mencecar kami dengan puluhan pertanyaan. Kumis tebalnya naik turun seperti sikat kamar mandi menggosok-gosok lubang kakus. Untungnya, kami bisa menyembunyikan identitas kami. Meski hati terlanjur keder. Aku mendadak seperti berada di bangku peradilan militer. Puas dengan serangan pertanyaan, lelaki berotot dengan pistol di pinggang itu mengizinkan kami tidur di kamar posko militer itu.


Angin berhembus melewati lobang jendela koramil membawa hangat. Si bola raksasa mulai merangkak di langit timur. Televisi di pos koramil itu masih berceloteh dengan siaran berita pagi. Kami pun bergegas dan minta pamit pada tentara berkumis seperti sikat kamar mandi itu. Lega rasanya meninggalkan rumah warna hijau itu. Plong! Seperti baru saja bebas dari rumah tahanan.

Pukul dua siang, kami tiba di Wonosari. Matahari marah. Panas membakar udara jalanan. Perut pun minta diisi. Kami melihat sebuah rumah bambu dengan atap mengepulkan asap putih. Pikir kami pasti si empunya rumah sedang masak. Artinya, ada makanan di sana. Kami mengetuk pintu. Seorang ibu setengah baya menyambut. Kami sampaikan maksud kami. Kami lapar dan kami mohon dikasih secuil makanan. Ibu menatap kami. Dalam bola matanya terbersit rasa kasihan mendalam. Tapi, ibu itu minta maaf karena tidak ada makanan siang itu. Yang ada hanya air minum. Itu pun baru dimasak. Kami paham dan melanjutkan langkah.

Saat kami meninggalkan rumah perempuan itu sejauh 500-an meter, mendadak terdengar orang berteriak dari belakang. Ternyata perempuan tadi mengejar kami dengan sepeda mininya. Ia berteriak-teriak sambil menangis. Ia meminta maaf karena benar-benar tidak mempunyai makan siang untuk disuguhkan. Kami heran lalu hanyut dalam haru. Bola-bola kristal cair tanpa henti menyembul di kedua sudut mata perempuan itu. Sebagai pengganti rasa salah, ia membawakan tiga bungkus indomie dan uang lima ribuan kepada kami. Kami pun terima indomie itu. Tapi tidak dengan uang itu. Kami komit untuk tidak menerima uang. Kami mengucapkan terimakasih. Perempuan itu pun pergi sambil terus sesenggukan. Di mataku, terasa ada gelimang air yang mau tumpah. T-e-r-h-a-r-u!

Sore menjelang. Sinar matahari semakin kusut. Bukit tempat Gua Maria Tritis pun sudah di depan mata. Batu-batu karang berlumut berdiri dengan pongah. Menantang untuk segera dirangkaki. Tanpa lama sampailah kami di gua alam di wilayah Giring, Paliyan, Gunung Kidul itu. Kami pun segera merebahkan diri di mulut gua yang mengangga. Seperti berada di mulut raksasa gunung. Lega rasanya. Sukacita besar membuncah dalam hati. Tak peduli kelelahan membekap selama sembilan hari. Akhirnya, kami persembahkan seluruh pengembaraan itu di Lourdes Indonesia itu. Termasuk sandal jepit yang putus talinya di hari terakhir.

Sepertinya seluruh ketakutan hidup di awal pengembaraan ini tidak terbukti sama sekali. Langit telah mengirimkan malaikat-malaikatnya untuk memberi kami makan. Meski mereka malaikat-malaikat berdebu. Malaikat berwajah garang dengan bau acin terminal. Malaikat-malaikat tanpa jari lantaran lepra menggerogoti. Malaikat berumah bambu. Malaikat-malaikat kecil yang kadang hina di mata kita. Malaikat miskin yang memberi pertolongan dari kekurangan mereka. Malaikat yang jarang kita lihat dengan mata telanjang kita. Padahal ia ada di sekitar kita.

Yes, I believe in angels!

NB: tulisan ini pernah diterbitkan juga di Koki KOMPAS rubrik Koki Life
read more...

Monday, July 14, 2008

Ekologi di Mata Kartunis

SEBUAH siang yang meranggas. Dua sosok manusia, lelaki dan perempuan, tengah telanjang bulat di tengah hutan. Kegerahan. Kedua tangan mereka berupaya menutupi kemaluan masing-masing. Di benak mereka, muncul gambar daun yang bisa digunakan untuk menutupi kelaminnya. Sayang sangat disayang, mereka tidak menemukan selembar daun pun lantaran seluruh pohon sudah ditebang. Hutan benar-benar gundul. Tak tersisa!

Itulah yang diceritakan Muhammad Nasir dalam kartunnya berjudul “Tak Tersisa”. Kartun Nasir ini mengingatkan kita pada kisah manusia pertama di Taman Eden, Adam dan Hawa. Usai mereka jatuh ke dalam dosa, mereka menyadari diri mereka telanjang. Karena malu, keduanya membuat cawat dari daun. Gambar Nasir adalah satir atas Taman Eden, taman yang konon katanya sangat rindang, subur, berlimpah susu dan madu. Tapi, di tangan Nasir, taman itu telah kerontang. Selembar daun pun tidak disisakan. Semua ludes.

Meski terbuka pada multitafsir, kartun Nasir berbicara satu topik, yakni ekologi. Kartu Nasir itu menjadi salah satu kartun yang dipamerkan dalam pameran kartun berjudul “Eko-komunikasi” di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), 11-17 Juli 2008. Di samping karya Nasir, puluhan kartun yang dipamerkan itu adalah buah tangan kartunis kondang GM Sudarta, Hanung Kuncoro, Jitet Koestana, Didie SW, dan Tommy Thomdean.

Pameran kartun ini merupakan salah satu kampanye mencintai linkungan hidup yang sudah jamak dilakukan di berbagai belahan dunia. Dengan nada humor, pesan moral bisa disampaikan dengan ringan dan mengena. Kartun bisa mengandung kritikan pedas meski dibalut dengan kejenakaan. Itulah yang disampaikan kurator Efix Mulyadi dalam handbook pameran tersebut.

Bagi Efix Mulyadi, tugas para kartunis tidak jauh berbeda dengan tugas suratkabar, yakni mempersoalkan, mengingatkan, menyentil, memprotes, sekaligus melakukan kritik. “Sepanjang masih ada penggundulan hutan, perusakan terumbu karang, pencemaran sumber air, pemusnahan hewan langka, dan sebagainya, para pekartun tetap mendapatkan energi untuk berkarya,” katanya.

Sementara itu, tema “Ekomunikasi” merupakan paduan dari kata “ekologi” atau “ekosistem” dengan “komunikasi.” Seluruh kartun merupakan refleksi dan keprihatinan para kartunis atas kondisi lingkungan hidup yang kian parah ini. Ini merupakan wujud kejelian kartunis dalam membaca fenomena sosial yang kadang lepas dari pandangan khalayak.

Mari kita tengok karya GM Sudarta berjudul “Tawa Terakhir.” Gambar ini mengingatkan kita pada kisah penyelamatan manusia dari banjir bah oleh Nabi Nuh dengan kapal raksasanya. Di sana, tampil sebuah kapal besar di atas bongkahan es berisikan aneka macam satwa. Di samping bawah kapal, tampak dua lelaki dan satu perempuan tertawa terbahak. Seolah tidak peduli dengan bahaya yang sedang mengancam. Di depan mereka, berdiri seekor beruang kutub dengan tongkat di tangan dan memandang manusia itu tanpa ekspresi. GM Sudarta mengambarkan si beruang dengan lebih arif ketimbang manusia yang nota bena adalah aktor utama perusakan lingkungan. Gambar “Iniah Bumiku?” menjadi gambar lain pencipta ikon Om Pasikom di Harian Kompas dan kini tinggal di Jepang itu. Gambar ini memotret seorang anak kulit hitam dengan badan kurus. Perut buncit berbentuk bola dunia. Tangan kiri memegang semangkuk penuh butiran peluru. Tangan kanannya siap memasukkan sebuah granat ke lubang mulutnya.

Jitet Koestana tampil dengan karya seperti “Revolusi Hijau”, “Rewriting History”, “Semburan Kematian,” dan sebagainya. Revolusi Hijau berkisah tentang ledakan bom atom raksasa di mana cendawan raksasanya berisi jutaan pohon. Dalam gambar ini, Jitet seolah ingin memadukan dua kekuatan yang saling berlawanan, yakni pepohonan sebagai simbol kehidupan dengan bom atom sebagai simbol kematian. Ironisme dalam sebuah kartun. Gambar ini berhasil memenangi medali emas dalam festival kartun Internasional di Seoul pada tahun 1997. Sementara itu, Rewriting History mengambarkan sesosok tentara yang berdiri di sebuah bongkahan kayu, kedua tangan memegang gergaji mesin, dan helm tentara yang ditumbuhi dengan sebuah bunga mekar. Gambar ini menyabet medali emas Cordoba International Cartoon di Argentina pada tahun 2000. Asal tahu saja, lelaki kelahiran Semarang tahun 1967 ini pernah dianugerahi MURI sebagai kartunis peraih penghargaan internasional terbanyak (49 buah). Terakhir ia menyabet Grand Prize dalam 8th Tehran Cartoon International Biennial 2007 dan First Prize dalam 9th Caratiga International Comedy Exibition 2007 di Brazil.

Muhammad Nasir memukau dengan kartun-kartun bertema hutan. Selain gambar “Tak Tersisa”, kartunis kelahiran Kendal tahun 1968 ini tampil dengan kartun “Paru-paru Sakit.” Di sini, Nasir menggambar sebuah pulau berbentuk paru-paru manusia dengan batangan pohon-pohon yang habis di tebang dan dikelilingi lautan biru. Tampaknya, Nasir mau mengangkat kasus ilegal logging yang membuat hutan sebagai paru-paru dunia menjadi sakit. Ada lagi “Hutan Mebel” yang melukis seekor gorila yang kebingungan mencari pohon untuk bergelantungan. Pohon-pohon sudah ditebang dan dijadikan mebel. Gambar lain adalah “Gunung Pencaharianku.” Di sini, keluarga miskin berhasil menaiki gunung sambil membentangkan bendera merah putih. Gunung itu tak lain adalah tumpukan limbah industri, plastik, produk-produk pabrik, dan sebagainya. Ilustrator Tabloid Bola ini pernah mendapat penghargaan Honorable Mention dalam festival kartun The Yomiuri Shimbun (1992), Selection Comites Special Prize festival kartun Manga di Jepang (1995).

Gambar Penguin yang mencopot kulit luarnya karena kegerahan menjadi satu kartun karya Didie SW berjudul “Climate Exchange.” Di situ, tiga ekor penguin sedang kegerahan dengan keringat mengucur dari seluruh permukaan tubuhnya. Si penguin pun mengatasinya dengan mencopot kulit tebalnya. Gambar ini bagi Didie merupakan gambaran perubahan iklim. Bumi kian panas. Es di kutub semakin habis. Cuaca semakin semerawut. Global warming itulah yang dipotret dalam gambar kartunis kelahiran tahun 1970 itu. Efek global warming itu juga muncul dalm kartunnya berjudul “Sisa Kehidupan.” Di sini, seekor induk beruang kutub sedang memandang lemah anaknya di sebongkah salju kecil. Sebongkah salju yang hanya bisa ditempati mereka berdua. Si anak beruang memanggil “mamaaa” seolah ingin minta perlindungan. Sementara es di sekitarnya sudah mencair. Karya Didie lainnya, antara lain “Nyanyian Bumi,” “Carrying a Pace”, “Klimax”, “New Evolution”, “Water Crisis,” dan sebagainya. Didie pun menggondol berbagai penghargaan bergensi, seperti The Best Cartoon of Nippon (1997), 3th Place Surgun Karikaturlery (Turki, 2007), dan 1st Place Tehran Cartoon Biennial 2008.

Tommy Thomdean tampil dengan “The Sinking”. Di sini, terhampar hutan hijau seperti lautan. Di atasnya, sebuah benda mirip kapal dengan cerobong-cerobong industrinya nyaris tenggelam. Tommy seakan mengajak orang mawas diri pada kondisi hutan. Pemangkasan hutan sembarangan tak lain adalah agenda bunuh diri massal. Gambar ini menyabet First Prize Amazon Forest Brazil Cartoon Contest 2007. Tommy juga mengambarkan duka lara akibat lumpur Lapindo dengan gambar yang ia beri judul “Air Mata Sidoarjo.” Di sini, tampak seorang warga yang menangis keras dengan mulut menganganga dan lumpur keluar dari kedua bola matanya. Ada lagi “Menanti” yang menggambarkan sebuah pohon yang meranggas di hutan gundul dan menantikan curahan air dari awan yang berbentuk keran air. Gambar “Well Done!” menggambarkan seorang lelaki berbusana bos pemilik modal dengan mata mendelik, mulut terbuka, gigi runcing, dan lidah menjulur sedang memainkan boneka penebang. Di samping kanan dan kirinya berdiri sambil tertawa seorang berseragam militer dan polisi. Gambar ini seakan menjadi sebuah analisis sosial dari Tommy bahwa kehancuran ekologi disebabkan oleh keserakahan para pemilik modal yang berselingkuh dengan aparat yang sering diasosiasikan dengan bahasa kekerasan. Tommy meraih penghargaan dari3 th Prize Pen Syria Cartoon Festival (2007), 1st Prize Gag Cartoon di World Press Cartoon di Portugal (2007), dan 1st Prize Amazon Forest Brazil Cartoon Contest di Brasil (2007).

Hanung Kuncoro hadir dengan kartun-kartun simpelnya. Ambil contoh “Pembalak Liar.” Gambar ini menunjukkan seorang pembalak liar tertawa puas usai menebangi seluruh pohon. Dengan pongah dan membela diri, ia mengatkan, “Saya jamin! Kebakaran hutan yang sering terjadi di kawasan ini tidak bakal terjadi lagi!!!” Sebuah karikatural yang lucu, satir, dan menohok. Ada lagi karya “Bike to Work” sebagai gambaran kemacetan yang melanda ibukota dan memaksa seorang terpaksa bersepda ke kantor. Itu pun harus memanggul sepedanya lantaran kemacetan total. Asal tahu saja, Hanung Kuncoro adalah pencipta tokoh Si Gundul sebagai maskot bola dalam sepabolaria di Tabloid Bola.

Itulah potret problematika lingkungan hidup di mata para kartunis. Kartun-kartun itu bukan sekadar tontonan yang membuat kita mengelus dada. Lebih dari itu, para kartunis justru ingin mengundang pengunjung pameran untuk tetap optimis. Persis seperti yang dikatakan Efix Mulyadi, seberapa pun tajam pena dan kuas sang kartunis, tetaplah ada celah untuk tersenyum. Ini menjadi sangat penting karena justru ini yang mendorong terbitnya optimisme. Di tengah rusak dan carut marutnya lingkungan, masih ada harapan akan esok yang lebih baik!

Ajakan untuk hidup lebih baik lagi. The other world is possible!


[Tulisan ini pernah dimuat di Koki KOMPAS, 15 Juli 2008
Sumber: http://community.kompas.com/read/artikel/677]

read more...

Monday, June 16, 2008

Opiniku di Koran Sinar Harapan

SAAT sedang iseng mengelana di lorong-lorong mesin pencari Google, tidak sengaja aku menemukan namaku di website koran Sinar Harapan, koran nasional yang terbit sore hari. Nama itu muncul di rubrik opini tempat artikel opiniku dimuat. Judulnya “Martir-martir Dialog.” Opini itu dimuat pada Kamis, 21 Februari 2008.

Aku sendiri heran kenapa pihak Sinar Harapan (SH) tidak langsung memberitahukan kalau artikelku jadi dimuat. Baru hari ini, 17 Juni 2008, aku menelepon pihak SH. Hari ini pula, pihak redaksi berencana mentransfer honor tulisan itu. Menurut info seorang kawan, tidak semua media langsung memberitahu kepada penulis kalau naskahnya dimuat. Bahkan, pada taraf tertentu, si penulis itulah yang proaktif mencari tahu apakah naskahnya dimuat atau tidak dalam rentang dua minggu setelah pengiriman naskah. Yah, mungkin inilah salah satu risiko menjadi salah satu penulis lepas di negeri ini. Tidak seideal yang dibayangkan sebelumnya. Intinya, tidak menjadi masalah bagiku sekarang. Dengan dimuatnya opiniku di SH justru semakin menantang aku untuk giat menulis kembali. Bahkan, ada energi membuncah untuk meluberi koran-koran lain dengan kata-kataku.

Tulisan “Martir-martir Dialog” aku tulis pada saat pemerintah kota DKI Jakarta lagi gencar melakukan penggusuran para pedagang kaki lima. Dari Barito Blok M sampai pasar keramik Rawasari. Menariknya, peristiwa penggusuran ini dilakukan di awal pemerintahan gubernur DKI yang baru, Fauzi Bowo yang pernah berjanji tidak akan ada lagi penggusuran di Jakarta seperti yang dilakukan pendahulunya Sutiyoso. Aku mengerangkai tulisan ini dalam sudut pragmatisme dan utilitarianisme pembangunan megapolitan Jakarta. Intinya, pembangunan Jakarta cenderung menafikkan suara dan kebutuhan warga sebagai penghuni. Pembangunan hanya demi kepentingan para teknokrat, pemilik modal, dan penguasa. Jakarta memang bukan untuk semua!

Berikut adalah nukilan tiga alenia terakhir opiniku tersebut:

Dengan demikian, pembangunan demokratis yang berbasis kepentingan dari, oleh, dan untuk rakyat hanyalah semu belaka. Dalam proses pembangunan kota ini, para warga jarang dilibatkan sebagai subjek yang aktif untuk turut menentukan arah kebijakan. Ruang partisipatif sudah ditutup seawal mungkin.

Demokrasi memang bukan milik rakyat kecil. Demokrasi cenderung milik para elit, elit pemerintahan, elite teknokrat, dan elit pemilik modal.

Mungkin, Kota Jakarta akan benar-benar menjadi sebuah megapolitan, tapi megapolitan tanpa roh. Sebuah kota yang dibangun jauh dari proses pembangunan yang berkeadilan. Jakarta memang bukan untuk semua!

Tulisan utuhnya bisa dilihat di http://www.sinarharapan.co.id/berita/0802/21/opi01.html

read more...

Sunday, June 15, 2008

Ibu Peri Menulis

ADA hal yang membuatku surprise minggu ini. Ibu peri menulis. Oya, aku kembali menggunakan sapaan ibu peri seturut permintaannya. Padahal sejak Jagad lahir, aku mau mengganti istilah ‘ibu peri’ dengan mama Jagad. Tapi, tidak begitu masalah. Toh, sama-sama menunjuk satu orang.

Di sebuah petang, usai menghalau rasa capek akibat naik motor dari kantor di Kelapa Gading ke rumah Kebon Jeruk, aku ditanyai oleh ibu peri. “Mas, kalau mau ngirim tulisan di Kompas anak, aku harus menulis berapa halaman?” katanya.

Sontak pertanyaan ini membuatku terkaget-kaget sekaligus heran. Tumben ibu peri melontarkan pertanyaan yang tidak pernah kubayangkan. Ibu peri mengaku sedang membuat sebuah cerita pendek. Ini yang lebih mengejutkanku, yakni ibu peri menulis. Roh apa yang merasuki istriku sehingga membuat jari-jarinya mau menari-nari dan meninggalkan jejak berupa tulisan? Rasa heranku berubah menjadi rasa senang bercampur bangga.

Ibu peri bercerita bahwa ia menulis saat siang tiba. Siang di mana Jagad sedang asyik memeluk guling kecil ditemani oleh boneka anjing dan tertidur dalam iringan musik klasik. Ia merasa tiba-tiba ada ide yang menghujani batok kepalanya. Lama sekali aku tidak melihat ibu peri duduk di depan laptop dan menulis.

Petang itu, ia langsung membuka laptop dan menunjukkan karya yang 90% hampir jadi. Judulnya “Janji Martin.” Menurutku, tulisannya cukup bagus. Idenya cukup cerdas. Tapi, masih perlu memoles dan berlatih terus menghindari kalimat panjang dan bersayap sekaligus sesuai dengan standar ejaan yang disempurnakan.

“Martin, kenapa mainanmu rusak lagi?

"Kemarin boneka gorila. Sekarang robot. Mbak jadi bingung!”
Lagi-lagi nada kesal keluar dari mulut Narsih, pengasuh Martin. Bagaimana tidak bingung, hampir setiap hari ada saja mainan yang dirusak Martin. “Ah, biarin aja. Gak papa. Kalau dilempar-lempar juga gak nangis!” Selalu saja itu alasan yang keluar dari mulut Martin untuk membela diri.

Martin adalah anak tunggal. Ia merasa bebas memperlakukan boneka-bonekanya sesuka hati. Toh, pikirnya, jika rusak papa dan mamanya pasti akan membelikan yang baru. Memang orangtua Martin adalah orang kaya. Setiap Martin merengek minta mainan baru, esok harinya pasti mainan itu sudah ada di kamarnya.

Itulah tiga alinea pembuka dalam cerita pendeknya. Alurnya cukup bisa diterima. Nama Martin, karakter utama dalam cerpen itu, diambil dari nama anak sahabatnya, Bang Boston. Bahkan, ia minta izin dulu menggunakan nama itu.

Ibu peri menunjukku sebagai editornya. Aku pun melakukannya dengan senang hati. Saat kutanya apakah tulisan ini jadi dikirim ke koran atau tidak, ibu peri menjawab mantap ‘jadi!’ Bahkan, ia tampak ngotot agar tulisan itu dikirim ke Kompas Anak. Ia mempunyai dua opsi media, yakni Kompas Anak atau Majalah Bobo.

Kuakui, ada potensi menulis di dalam diri ibu peri. Dulu, saat masih pacaran, kita senang bertukar tulisan di email pribadi. Bahkan, aku dan dirinya sama-sama mempunyai blog. Sayang sekali, karena kesibukkan saat itu, bekerja sebagai internal auditor di Hotel Nikko Jakarta berlanjut sebagai store controller di head office Carrefour di Lebak Bulus, membuatnya tidak mempunyai waktu untuk menulis. Saat masih menjadi internal auditor, aku sendiri belajar banyak tentang tulisan investigasi darinya. Pasalnya, dia lebih jago tentang investigasi keuangan, paper trails, dan sebagainya. Lulusan Akuntansi Unversitas Katolik Atmajaya Jakarta ini mempunyai kemampuan analisis lebih ketimbang diriku. Baru setelah ibu peri melepaskan pekerjaan sementara demi perkembangan Jagad, ia mempunyai kesempatan untuk menumpahkan ide-idenya dalam tulisan.

Malam-malam belakangan ini, sambil menunggu pertandingan bola Piala Euro 2008, aku dan ibu peri sering mengobrol soal tulisan. Bahkan, ia mempunyai stok ide cerita anak yang siap dijadikan tulisan. Bahkan, dengan nada menantang, ibu peri siap ‘mentraktir’ jika tulisan dimuat di koran. Pokoknya laptopku selalu terbuka untuk ia pijit-pijit. Semoga optimisme dan gairah ini tetap terpelihara langgeng. Termasuk ketika ibu peri bekerja lagi. Jujur saja, melihat niat menulis ibu peri, membuat animo menulisku kembali bergairah.

Sebagai bentuk dukungan, aku pun memberikan buku-buku yang bisa membangkitkan ‘napsu’ menulis. Satu buku karangan A.S. Laksana berjudul “Creative Writing” (2006) terbitan Media Kita dan “Chicken Soup for the Writer’s Soul” (2007) terbitan Gramedia.

“Menulis adalah satu-satunya tempat aku bisa menjadi diriku sendiri dan tidak merasa dihakimi. Dan aku senang berada di sana,” kata Terry McMillan, seorang penulis Amerika. Aku pun merasa demikian.

read more...

Mentor Menulis di SMU Santa Ursula

INILAH kesekian kalinya aku menjadi mentor penulisan. Sore itu, saat mengendarai James motorku, seorang rekan dari Wikimu meneleponku. Intinya, ia menggundangku untuk terlibat dalam pelatihan penulisan opini dan berita di SMU Santa Ursula (Sanur), Jakarta pada 6-7 Juni 2008. Undangannya aku sambut dengan semangat. Sekalian belajar mengajar dan berbagi ilmu.

Tahun lalu, bersama seorang sahabat, aku juga mengisi sesi pelatihan menulis untuk anak-anak SMP di Sekolah Candle Tree, Serpong. Topiknya hampir sama, seputar menulis opini dan berita. Di Serpong, kami hanya berdua dan mengajar sekitar 70 siswa. Di Sanur, ada beberapa wartawan yang tergabung di tim Wikimu, termasuk dari Tempo, Koran Tempo, dan Swa.

Pada hari pertama pelatihan, aku mengajar 30-an siswa kelas I SMU. Kubawa tiga merek koran nasional di kelas sebagai media peraga, yakni Kompas, Koran Tempo, dan Rakyat Merdeka. Lalu kubawa mereka pada slide untuk memahami apa itu jurnalisme, mengapa berita perlu ditulis, apa fungsi berita, apa itu berita, bagaimana mencari dan menulis berita, dan sebagainya. Sesi kedua, aku antar mereka pada cara membuat sebuah opini di media.

Kelas di hari pertama cukup lancar. Anak-anak cukup menaruh perhatian, meski beberapa anak lebih senang sibuk dengan coretannya sendiri. Sebenarnya, waktu empat jam untuk sebuah pelatihan menulis yang terdiri dari teori dan praktik sangatlah pendek. Oleh karena itu, butuh seni tersendiri. Beda dengan yang aku lakukan di sekolah Candle Tree Serpong. Waktunya cukup panjang dan ada praktik membuat koran dinding per kelompok.

Tapi, ada hal baru dalam pelatihan menulis kali ini. Pihak Wikimu, portal jurnalisme warga dan yang menjadi patner pihak Sanur dalam pelatihan ini, memberi kesempatan siswa mengirim tulisan untuk diterbitkan langsung ke Wikimu saat itu juga. Dengan demikian, siswa dilatih untuk mencari berita, menulis berita atau opini, dan mengirimkannya ke redaksi Wikimu. Evaluasi tulisan dilakukan saat tulisan mereka sudah tampil di media online tersebut. Pada saat itulah, siswa diperkenalkan dengan penulisan di media on line sekaligus jurnalisme warga atau citizen journalism.

Beberapa siswa sudah mampu menangkap ide berita dengan baik. Minimal bisa membedakan mana yang layak diberitakan dan mana yang tidak. Ada yang menceritakan dampak kenaikan BBM terhadap uang saku dan kegiatan liburan keluarga. Ada pula yang bercerita tentang pengalamannya live in di Yogyakarta. Ada yang bercerita tentang pertandingan bola Euro 2008. Dan sebagainya.

Pada hari kedua, aku mengisi kelas II SMU jurusan IPA. Tidak disangka kecepatan menulis kelas ini masih kalah dengan adik kelas mereka. Ide-ide mereka cukup bagus. Tapi, mereka terlalu sibuk memikirkan ide dan lamban dalam menulis. Akibatnya hanya satu atau dua dari seluruh kelas yang tulisannya sempat dimuat secara on line di Wikimu. Tapi, ini juga bukan masalah. Evaluasi tetap dilakukan meski tidak langsung on line.

Usai memberi pelatihan ada beberapa kesan yang muncul di benakku. Aku akui sistem pendidikan di Santa Ursula cukup menjujung tinggi disiplin. Ini pun sudah terdengar oleh khalayak. Mereka sungguh patuh pada bunyi bel sekolah. Program-program pendidikannya berimbang antara program sains dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Namun, ada satu pertanyaan dalam diri saya, pertanyaan yang tidak saya bayangkan muncul sebelum aku masuk kelas, yakni mengapa mereka belum bersikap kritis? Mungkin prejudice pada Sanur terlalu berlebihan. Mungkin juga ini pertanyaan yang perlu dicari jawabannya secara komprehensif. Toh, di sana saya cuma dua hari dengan total waktu delapan jam.

Di setiap akhir kelas, aku selalu mengingatkan pada seluruh siswa bahwa menulis bukan milik wartawan saja. Menulis itu berguna untuk semua profesi, entah dokter, guru, pebisnis, seniman, pengacara, konsultan, dan sebagainya. Menulis akan menjadi nilai plus bagi setiap karir yang akan mereka masuki kelak. Oleh karena itu, tekunlah berlatih menulis.

read more...

Saturday, March 29, 2008

Enterobacter sakazakii

Restless about the bacteria-contaminated formula milk, Jagad’s mom had a plan to change the Jagad’s formula milk. Yet I told her that do not let everything bother her before the government especially the Food and Drug Monitoring Agency (BPOM) or the Indonesian Customers Agency (YLKI) give us an official statement.


Jagad’s mom has chosen S26 milk formula produced by PT Wyeth Indonesia as her breast milk didn’t flow fluently. But, praise be to God, she is able to breast feed Jagad right now beside give him milk powder. After knowing S26 as one of some bacteria-contaminated formula milk brands from short message sent by her friend, she worried about the impacts of it to Jagad’s health. She is also afraid of the effects of long-term consumption of the contaminated formula. Moreover the price of this milk formula is too expensive. We always buy a tin of milk formula for Rp 82,000. Jagad consumes at least 3 tins of formula a month. I think it will be somewhat crazy if we pay at high price for something endangers the future of my son. Yet until now, there is no official statement for clearing this conflicting issue. The government has not disclosed the brand names contaminated.


So, based on the Ignatian principle of choosing, we should not change our old choices in the blurry situation. Not long afterward, as a new daddy, I have to search right information about this dangerous bacteria as much as possible.


Enterobacter sakazakii is a Gram-negative rodshaped pathogenic bacterium associated with infant formula. A microbiologist of the University of Indonesia’s school of medicine said that these bacteria usually cause illnesses in infants born weighing too little, in ailing infants or those who have just had surgery because the have very weak immune systems. But the bacteria can’t cause ilness in healthy babies.


On a national media, a mother of a-2-year-old girl lives in Bekasi told readers those issue were so confusing. To minimize the impacts of bacteria, she pays more attention to the cleanliness of the milk bottle. She always boils before using it. To prepare the milk, she uses hot water with a temperature of at least 70C. And her daughter is still healthy. What has been done by her also did by Jagad’s mom. But could I use her experience to judge the milk formula is clean from the pathogenic bacteria right now? I don’t think so!


It is not only Jagad’s mom and other mother demanding the government to make clearness, but also Seto Mulyadi, the chairman of the National Commisioan for the Protection of Children (Komnas-PA). I agree with his statement on the online national news website. He said, “I know the government is examining samples of formula milk, I hope they will take all the products off the market during the investigation. It’s about our children, our future generation.” He also asked mothers not rely on formula. Breastfeeding infants is safer.


Jagad’s mom tries to breastfeed as long as possible. To encourage her breast milk, she disciplines herself to eat nutritious meals and keep her heart peaceful. We hope it will be clearer as we see Jagad’s doctor next week.


Jagad is our son. He is our future!

read more...

A Hope within Easter

It was my first time to celebrate Easter with my first son, Jagad. While entering the holy week started with Sunday Palm, I devoted my personal intentions for my family’s future. I joined people gathering for Sunday Palm Mass in parish of Christus Salvator, Slipi, West Jakarta.


As usual, many churches observed Good Friday in solemnity for commemorating the Passion and Death of Jesus Christ in various way. This important religious event was observed with sermons, reflection and Holy Mass. Even some Christians reenacted the Passion of Christ in a theatrical performance either inside church or longer outdoor processions. I have my own way to live my personal faith. Along with my sister’s family, I observed this Holy Mass in church of Sint Mary Mother of Carmel, Tomang, West Jakarta as my own parish. At the same parish, I also celebrated the Easter Eve.


For me, spirituality of Easter is spirtuality of liberation. Not only from our sins, but all of our types of fear and weakness. In his life, Jesus showed me good ways of going through life in the world. Fear is the biggest hindrance for human beings to reach the state of human fully and human alive. In my opinion fear is also the origin of violence. Some bad tendencies of human actions are rooted in fear. Because of fear, persons lost their authenticity. Fear tends to urge people to be a liar, corruptor, oppressor, greedy, and other bad characters.


Easter is a moment for digging the source of liberation spirituality from fear. I pay much attention on my insecure world where I live. I realize after Jagad’s birth, a lot of problems waiting for me on the next days. As young parent, we have several new duties urgent to be fulfilled. Both of us are called to think of saving, child’s educational insurance, good money management, keeping family’s health, building a suitable house, providing nutrition and so forth.


Do you know how much monthly salary for a journalist like me? It’s common knowledge that salary of journalist is classified in the low price especially in the developing country like Indonesia. But I thank God I still can fulfil my duties up to now. I am called to improve my income right now. I also realize my job is still up in the air. But it couldn’t stop me to work harder and professional. Because I have a big plan to create our future better. We have dreams. We believe in God with his righteousness we can reach them. For sure we have to do it on concrete ways. Not just on prayers and without doing something.


We realize our world is getting worse in its all dimensions. At this time we are facing a systematic destruction of nature. Our environmental problems have contributed to various humanitarian problems as well. Our planet is getting older. Its temperature is getting hotter. Global warming. Floods. Eartquake. Mud floods. Landslide. Deadly storms. These problems are not yet including social and politic problems. Have we a power enough to keep us alive in future?


Honestly, I am not one hundred percents free of fear. Sometimes I get wrestling in my life. It is not strange in any way. Easter has given me a huge hope of better future. There is no succesful life can be reached without any struggle in its previous ways. Jesus got his resurrection after experiencing His passion and death. Therefore Easter can’t be separated from spirituality of cross. Easter offers us a spiritual joy. Lord has done this by Himself in the same world where we live now. So, as His creatures, we should follow whatever He has done. “For I have given you an example, that you also should do as I have done to you,” Jesus said.


Now, my vocation is clearer. Bringing up Jagad is my real vocation. I am called to take care my son into his fullness of his life. After celebrating the Easter Eve, I took a stick of Easter candle and lighted it in front of sleeping Jagad. “Jagad, happy Easter!”


And I prayed in my own mind as St. Ignatius of Loyola has taught me in his Spiritual Exercises:

Take, Lord, and receive all my liberty,
my memory, my understanding, and my entire will. All I have and call my own.
Whatever I have or hold, you have given me.
I restore it all to you and surrender it wholly
to be governed by your will.
Give me only your love and grace
and I am rich enough and ask for nothing more. Amen.


Believing in Christ The King of Universe is my personal devotion!

read more...

Sunday, March 23, 2008

Listening to Bambi

“The first rays of the morning sun began to filter into the dense forest. As the birds and animals awoke, they sensed everything in the air that told them this was to be no ordinary day. Even wise old Owl, tired after a night’s hunting, could not fall asleep. He, too, felt that something great was about to happen…”

That is the first paragraph of the story of Bambi, a little doe. This 24-page children story book is a special gift from the Danny’s for little Jagad. Danny is my colleague in Marketing Magazine as graphic manager. He has a wife named Lini who just launched her first e-book titled My Life is an Open Book. They have two children, Mikayla Karissa Denel and Gavryel Griffin Denel.

This Disney’s publication is completed with an audio CD. At the twilight before the Easter Eve, I played the CD and not long afterward the narrator started to tell the story accompanied on a soft soundtrack. While Jagad is taking milk at the breast, Jagad’s mom read the story written by Felix Salten slowly. This story is adapted as Disney’s production’s fifth animated feature by Perce Pearce and Larry Morey and directed by David Hand.

This book tells about life of Bambi, a little doe lived in the rich forest. The birth of this new prince brought happiness to all inhabitant. A little rabbit named Thumper was the first to spread the news throughout the forest. As spring turned into summer, Bambi took his first steps, following his mother as she walked through the forest. A gentle breeze blew a beautiful butterfly into the clearing. Bambi began to understand everything around him. At the grassy meadow Bambi found a new friend Faline, a little deer. They made a friendship. After the seasons were changing, something wrong happened. The forest was on fire.

Spring came again to the forest. Lovely flowers bloomed on the blackened fields. There was another great event! Bambi and Faline had a family too. And now Bambi becomes the Great Stag of the forest. This is the short review of the book.

Story telling has become our habit since Nat knew her first pregnancy. Every time we try to read aloud stories from anthology of short stories, especially Enid Blyton's. We believe this way could encourage the development of his brain. Instead of telling some stories, we also try to introduce Jagad to various music. For example classical music, jazz, songs of birds, Christian children’s songs, spiritual songs like Nikita’s, pop music even some poems of Sapardi Djoko Damono which put into music.

I try to give the best for my beloved son. He is my real Bambi!

read more...

Sunday, March 16, 2008

Jagad's Mom

Today I will tell you about Jagad’s mom. Jagad’s mom whose name Natalia Alami Asih was born in Jakarta, 1977. Her nickname is Nat. Talking about new born baby can’t be separated from talking about mother. From her I could learn many things. I dare to say myself, there were two new born human beings in hospital, me and my son. The birth of my first son is my new life. It’s a miracle.

Living in the same house with the girl who conceived for about nine months has given me some unforgettable experiences.

We met each other for the first time in front of Hotel Nikko while the twilight casting a shadow over Jakarta. At that time she had worked as a corporate internal auditor at Wisma Nusantara. And I was still working for Investigasi Tabloid as a journalist. Afterward we made a personal encounter at Kedai Tempo, a small food stand in the complex of Utan Kayu Theatre, East Jakarta.

On the tiny desks, we encountered any things. We tried to introduce ourselves to each other. Over a cup of coffee and a glass of orange juice, we shared our own stories of families, favorite books, colleague, and other activities. After getting together, not long afterward, she introduced me to her parent and sisters live in Sawangan, Depok. Then, at the other time, I introduced her to my mom and sisters in the house of Kebon Jeruk, West Jakarta. Her family was very welcome to me and so my family to her.

Nat is a strong type of woman. She is so smart and cute. She likes to show her analytical thought. Maybe this character has been shaped by her official tasks as internal auditor. I see her as an easygoing girl. She always greets her guests or new friends cordially. She is so openhearted although in the certain case she is also too stubborn to stick to her opinion. But I like her very much. I like a girl who has her own attitude. And I love her.

Although we have different educational background, both of us have studied in Jesuit’s college. She graduated from Gonzaga College of Pejaten. I graduated from St. Peter Canisius Seminary of Mertoyudan. Even I ever became a member of Jesuit Order. Yet before finishing my philosophy class in Driyarkara I made my resignation as a Jesuit Scholastic. My resignation have no relationship with her because it happened three years before I saw her at the first time.

The longer the deeper. Our relation became closer. All kinds of birds warbled in our heart. The colorful rainbow flashed over our mind. My heart looked like a glass glittered in the sun. And we got married on 26th November 2006 coinciding with the feast of Christ the King. Our marriage was announced formally by my own friend of seminary Father Henricus Eko Riyanto from Missionary of the Sacred Family.

In the middle of 2007, Nat got her first pregnancy. She felt upset stomach. At the sixth month of her pregnancy she decided to resign from Carrefour as store controller. She often felt headache. She became more sensitive. As husband I tried to understand and always kept in touch with her. I tried to fulfill whatever she want me to do.

Both of us are equal partners. There is no subordination among us. This commitment has been declared since we took our marriage vows. We always try to understand and instill the values of what Saint Paul had written on letter for Corinthians. Love is patient and is kind; love doesn’t envy. Love doesn’t brag, is not proud; doesn’t behave itself inappropriately. Doesn’t seek its own way, is not provoked, takes no account of evil. Doesn’t rejoice in unrighteousness, but rejoices with the truth. Bears all things, believe all things, hope all things, endures all things. And it’s the most important thing for us, love never fails!

Finally on February, 27th 2008 when the drizzle lasted for hours over the capital, my son was born. I felt relieved knowing both my wife and son were safe. We pray he always brings luck to our family. God has shown us his miraculous works. Spontaneously I sing a psalm. The heavens declare the glory of God. The expanse shows his handiwork. Day after day they pour forth speech, and night after night they display knowledge.

We realize we are still on the long journey. I just to say thank Nat right now. Let us be guardian angels for each other, especially for our beloved son. God bless us!

read more...

Wednesday, March 05, 2008

Selasa Ini Jagad Divaksin

Selasa ini, 5 Februari 2008, Jagad kontrol perdana di RS Harapan Kita sesuai jadwal dari dokter anak. Aku sendiri memutuskan izin kantor untuk masuk siang.

Pukul 08.55, taksi Blue Bird membawa Jagad, mama Jagad (mulai hari ini, ibu peri diganti dengan mama Jagad-red), eyang putri, dan mbak pengasuh Jagad. Aku sendiri seperti biasa mengendarai James motorku. Asal tahu saja, pagi ini langit cerah. Matahari pagi yang lima hari ini memberi asupan gizi pada tubuh Jagad bertengger dengan kalemnya di awan-awan.

Setelah regristrasi, Jagad ditelanjangi untuk ditimbang. Seperti layaknya bayi lain, berat dan panjangnya untuk dua minggu pascakelahiran mengalami penyusutan. Penyusutannya tidak banyak. Jagad pun pamer tangisan di ruangan yang penuh dengan anak-anak sebayanya.

Usai ditimbang, kami masih harus antri konsultasi dengan dokter Yuliatmoko, dokter anak di sana. Kami mendapat urutan ke-8. Pukul 09.45, kami memasuki ruang kontrol dan konsultasi. Di ruang itulah, Jagad disuntik vaksin Hepatitis B dan Polio.

Dari hasil kontrol dokter berambut putih dan berkacamata oval itu, Jagad dinyatakan masih sehat-sehat saja. Tapi, dokter mengingatkan soal peran orang tua dalam membantu pertumbuhan fisik dan psikisnya. Menjaga emosi anak menjadi penting. Bayi sangat peka dengan emosi-emosi tak terlihat. Mama Jagad juga didaulat untuk makan makanan bergizi dalam porsi banyak. Terutama makanan yang membantu merangsang keluarnya air susu dengan lebih baik lagi. Dokter Yuliatmoko mengingatkan lagi cara menyusui bayi yang baik dan tepat. Lalu menyarankan kami agar selalu mengajak Jagad berkomunikasi tentang apa saja dan memberinya sentuhan personal. Bayi akan peka apakah dirinya diperhatikan dan disayang orang tuanya atau tidak.

Pukul 10.10, usai memberesi administrasi, Jagad pulang ke rumah bersama mama Jagad, eyang putri, dan mbak. Aku sendiri langsung meluncur ke kantor di Kelapa Gading. Bekerja.

Sehat-sehat saja ya, Nak!

read more...

Tuesday, March 04, 2008

Doa Kami di Namamu

Salah satu keunikan manusia adalah kemampuan memberi nama. Tindakan menamai merupakan kekhasan manusia. Mahkluk lain seperti binatang dan pepohonan tidak mempunyai kemampuan ini. Kemampuan menamai ini bisa dilihat sebagai salah satu cara mengada manusia.

Tapi, manusia tidak bisa menamai dirinya sendiri. Sudah mentradisi, manusia diberi nama beberapa saat setelah ia dilahirkan. Nama menjadi bagian dri identitas. Seandainya saja, saat berumur satu hari bayi mampu menamai dirinya sendiri, mungkin aku akan melakukan hal serupa pada anakku. Namun itulah yang terjadi pada manusia.

Aku dan ibu peri mengamini nama sebagai doa. Mungkin bagi Shakespeare, nama tidak ada artinya. Tapi, nama bagi kami adalah doa dan doa adalah energi.

Sekarang, aku mau memperkenalkan nama peri kecil kami. Namanya Jagad Cleva Nitisara. Jagad merupakan representasi doa kami agar anak ini kelak mempunyai wawasan luas. Cleva arti harafiahnya adalah puncak gunung. Dalam kata ini, kami senantiasa berdoa agar anak ini mempunyai semangat tidak pantang menyerah dan dekat dengan Tuhan. Nitisara adalah sinonim dari wicaksono atau pecinta kebijaksanaan. Dalam kata ini, kami tanamkan sepotong doa agar kelak anak ini mampu berpikir dan bertindak secara bijak.

Nah, sebagai orang yang lagi belajar beriman, aku dan ibu peri mengamini itu semua. Tuhan sebagai sumber hidup dan Raja Semesta Alam selalu membuka jari-jari tangan-Nya bagi doa-doa dan kerinduan mahkluk ciptaan-Nya. Aku sendiri merasakan ada energi ajaib yang mengalir di dalam diriku setelah kelahiran jabang bayi yang akrab disapa dengan nama Jagad itu. Sebuah pengalaman luar biasa. Panggilan hidup itu seperti lintang kemukus di pagi hari. Semakin terang. Meski tetap tersaput kabut misteri kehidupan.

Kini, Jagad lahir sebagai musafir baru. Dengan langkah-langkah kecil nan sederhana, ia mulai menjiarahi kehidupan di dunia, kehidupan yang diberikan secara cuma-cuma oleh Pencipta. Kehidupan di dunia yang hanya sekali saja. Kehidupan yang pantas dirayakan dan disyukuri!

read more...

Monday, March 03, 2008

Peri Kecil Lahir

TIDAK terbayang sebelumnya kalau Rabu, 27 Februari 2008 menjadi hari sangat istimewa. Hari di mana peri kecil yang sekian lama ditunggu-tunggu menunjukkan batang hidungnya dan pamer tangis pertamanya. Natal memang tiba di Februari seturut perkiraan.

Pagi itu pukul lima pagi hari. Ibu peri sudah merasa tidak enak badan. Perih terasa menggerayangi wilayah selangkangan. Seperti hari-hari sebelumnya, ia pun doyan bolak-balik kamar mandi. Lalu kembali terlelap tidur dengan dengkur menguar dari mulutnya. Namun, tidak lama, ia kembali terjaga. Merasakan perih yang masih enggan tanggal.

Rasa nyeri kali ini sudah mulai teratur. Setiap 20 menit sekali. Ibu peri meringis menahan sakit yang sengaja ditahan. Tapi, kami masih meraba-raba mungkin saatnya sudah tiba dan mungkin juga saatnya belum tiba lantaran adanya kontraksi palsu. Di kaca jendela, langit masih doyan pamer jubah kelabunya. Mendung. Gerimis kecil. Aku sendiri semula ragu-ragu apakah mau masuk kantor atau tidak. Tapi, kondisi semakin memantapkan diriku untuk memutuskan tidak masuk kantor. Sebuah pilihan tepat dan benar.

Karena merasa diri cukup awam dengan kehamilan pertama ini, kami pun mulai mencari tahu. Kakak perempuanku menganjurkan agar kami segera waspada. Kontraksi itu sudah menjadi pertanda alami menjelang kelahiran. Sementara, saudara yang lain mengatakan kontraksi itu bisa jadi kontraksi semu. Tapi, kalau kontraksinya sudah teratur dengan frekuensi cepat, kami disarankan untuk segera pergi ke dokter.

Kami juga membaca ulang buku seri AyahBunda berjudul “9 Bulan yang Menakjubkan” terbitan Gaya Favorit Press. Buku ini menjadi kawan seperjalan selama sembilan bulan menjalani kehamilan.

Benar kata buku ini, kontraksi merupakan pertanda akan segera bersalin. Saat kontraksi tiba, otot-otot rahim berkerut sebagai upaya membuka mulut rahim dan mendorong kepala bayi ke arah panggul. Bila kontraksi tiba, perut terasa mulas disertai rasa sakit di pinggang dan di pangkal paha. Kontraksi terjadi setiap 20 menit sekali. Lalu meningkat menjadi 15 menit sekali, 10 menit sekali, 5 menit sekali, dan 2 menit sekali sampai proses persalinan. Nah, ini persis yang dialami ibu peri.

Saat masih kontraksi 20 menit sekali, kami masih bertahan di rumah. Bahkan, pukul 10 pagi, kami pergi laboratorium PRAMITA di jalan panjang, sekitar 1 kilometer jauhnya dari rumah. Di laboratorium, ibu peri check up kesehatan. Seharusnya, check up ini dilakukan pada usia kehamilan 2-3 bulan. Untung saja, di detik-detik terakhir, kami masih bisa menyerahkan berkas hasil check up untuk dibaca dokter sebelum proses persalinan. Kami mengendarai James, sepeda motor kami.

Usai dari lab, ibu peri pun kembali mengalami kontraksi dengan frekuensi lebih sering. Bahkan, saat ia pergi ke kamar mandi, ia menemukan bercak darah campur cairan putih. Tanpa pikir panjang kita pun berkemas ke rumah sakit. Dua tas berisi pakaian bayi dan pakaian ibu peri sudah disiapkan sejak lama. Dengan disopiri oleh saudara laki-laki ibu peri, mobil jazz warna hitam metalik itu pun membawa kami menuju RS Harapan Kita. Langit di kaca jendela mobil semakin menghitam. Pertanda sebentar lagi langit ibukota akan bocor dan memuntahkan airnya di mana-mana.

Sekitar pukul 16.05, seusai menembus kemacetan di ruas jalan Tomang, sampailah kami di tujuan. Usai mendaftarkan diri di bagian administrasi rumah sakit, kami bergegas ke lantai 3. Di sana, suster-suster pun segera menyambut dengan ramah dan mempersilakan ibu peri langsung ke kamar periksa. Tepatnya, di kamar 306. Alhasil, ibu peri sudah mengalami tahap pembukaan ke-7. Pihak RS segera mengontak Dr. Raditya Wratsangka, dokter pilihan kami. Dr. Raditya merupakan dokter langganan kami setiap periksa USG bulanan.

Sambil menunggu pembukaan ke-10 dan dokter, aku menemani ibu peri menikmati menit-menit mendebarkan itu. Hujan sudah turun di luar kaca jendela rumah sakit. Terlihat jalan depan rumah sakit tampak macet. Tidak lama kemudian, saudara perempuanku datang menemai. Pukul 18.00, suster membawakan ibu peri sajian makan malam untuk menambah energi. Melihat kontraksi masih berjalan lambat, ibu peri terpaksa menjalani induksi. Oksigen cair pun dialirkan ke lubang hidungnya dengan selang bening.

Pukul 19.45, dokter datang. Tapi, pembukaan masih memasuki babak ke-8. Ketuban pun belum pecah. Dokter memerintahkan suster untuk memecahkan ketuban. Tidak lama kemudian, tahap persalinan pun dimulai. Ditemani enam orang suster, dokter Radit pun mulai beraksi. Perkakas persalinan disiapkan. Nampan, Gunting, semacam pisau, alkohol, kain, perban, dan sebagainya.

Aku dan saudara perempuanku mendampingi ibu peri di kamar bersalin. Aku sendiri tidak tega melihat ‘pembantaian’ tersebut. Lebih banyak kulayangkan pandanganku ke tembok. Jerit kesakitan terlempar dari mulut ibu peri setiap kontraksi tiba. Para suster pun memandu setiap munculnya kontraksi. Darah mulai menggenangi sprei plastik dan sarung tangan sang dokter. Membuat perasaanku seperti ditimbuni balok-balok es. Sementara hatiku pasrah total seperti terjatuh ke palung tanpa dasar dan berharap tangan Tuhan akan menangkapku. Benar-benar sebuah cita rasa kepasrahan yang belum pernah aku alami seumur hidup.

Dan yang ditunggu tiba. Setelah ibu peri mengalami kontraksi hebat, peri kecil akhirnya bisa dikeluarkan dari lubang rahimnya alias lahir. Tangis pertama pun pecah. Merontokkan balok-balok es yang menimbuni persaanku. Menggantinya dengan rajutan bunga-bunga indah. Dan tangan Tuhan seakan benar-benar menopang aku dari tingginya palung dan mengelusku dengan lembut. Apalagi setelah melihat bayi itu lahir dengan normal, sehat, lengkap, dan lucu.

Peri kecil lahir pada pukul 20. 29 (menurut hitungan jam digital ponselku) atau pukul 20.32 (menurut catatan rumah sakit). Jenis kelamin laki-laki. Berat 3,595 Kg. Panjang 54 cm. Ini benar-benar pengalaman menakjubkan. Sebuah pengalaman ajaib yang tidak bakal terlupakan. Natal benar-benar datang di Februari.

read more...