IBU guru bingung. Bola matanya melotot. Gerak ke kiri dan ke kanan. Sekonyong-konyong mau copot. Terpelanting ke ubin. Paling tidak itu yang ada dalam imajinasiku saat kakak perempuanku bercerita tentang ibu guru yang sedang memeriksa pekerjaan sekolah anaknya. Kheisa, nama siswa SD kelas I itu yang tak lain adalah keponakanku sendiri.
Ibu guru itu bingung mengapa setiap kata yang memuat huruf “H”, huruf mirip pagar sekolahan ini selalu tidak dicantumkan. Misalnya, kata Tuhan ditulis menjadi Tuan. Hari menjadi ari. Istilah menjadi istila. Rumah menjadi ruma. Alamak! Apa yang terjadi? Daripada hidup dirundung kebingungan, sang guru pun menegur Kheisa.
“Kheisa, kenapa huruf H-nya tidak ditulis?”
“Huruf H-nya diambil Tuhan.”
“Kok Tuhan bisa mengambilnya?”
“Waktu aku mau menulis, Tuhan tiba-tiba datang dan merebut huruf H itu.”
“Tapi, kenapa nama Kheisa tetap ada H-nya?”
“Huruf H yang ini sudah aku kasih lem banyak. Jadi, saat Tuhan mau mengambil, Tuhan tidak kuat. Tuhan malah terjungkal.”
Aku bisa membayangkan raut wajah ibu guru itu. Bisa jadi parasnya berubah menjadi warna merah apel dengan bibir terkatup dan pipi mengembung menahan gelak. Bisa jadi, matanya menyempit. Alisnya menekuk ke atas. Bibirnya merapat. Membentuk garis lengkung ke bawah. Tanda mau marah karena merasa dikerjain oleh anak didiknya. Mungkin juga hanya geleng-geleng kepala. Tangannya meremas sepotong kapur dengan sedikit tekanan. Mungkin sekadar menghela napas. Mungkin juga cuek karena anak-anak di kelasnya tak lain adalah kumpulan para badung.
Ibu guru itu pun melaporkan itu kepada kakak perempuanku. Kakakku pun melontarkan pertanyaan serupa kepada Kheisa. Kheisa pun melontarkan jawaban yang sama. Minggu lalu, Kheisa datang ke rumahku. Aku pun melontarkan pertanyaan itu. Kheisa masih setia dengan jawabannya. Bahkan, sambil memeragakan bagaimana Tuhan terjungkal ketika ingin menculik huruf H pada nama k-h-e-i-s-a.
Tawa pun berderai. Bergetar di pita suara. Dasar!
read more...
Tuesday, September 25, 2007
Di Mana Huruf H-nya?
Sunday, September 23, 2007
Tentang Dua Sahabat
SABTU malam. Aku bongkar satu kardus Aqua gelas. Tergolek di pojok kamar. Jarang kujamah. Kutemukan lagi 4 buku catatan harianku. Masing-masing berangka tahun 1993, 1996, 1997, dan 2001. Dengan begitu, total jumlah buku harian yang kutemukan menjadi 11 buku. Dokumentasi menarik ketika dibaca ulang.
Di antara catatan-catatan kumal itu, kutemukan 1 lembar kertas yang empat tahunan ini aku cari. Satu lembar. Kumal. Membekas empat garis penuh daki. Huruf-huruf sudah dikaburkan usia. Nyaris luntur. Kertas fotokopi ini memuat puisi seorang sahabat. Sahabat di asrama selama 4 tahun, 1992-1996 di Magelang.
Merambati setiap batasan duniawi
Tak sadar pintu gerbang kebebasan ada di depan mataku
Kebebasan yang tak senilai dengan hidupku
Langkah demi langkah berjuang melawan nafsu
Hingga tertinggal hati yang damai dan penuh cinta
Namun tak ada yang lebih susah daripada tidak punya hati dan cinta
Hari ini, bulan keempat di penghujung milenium
Aku bertemu Tuhanku
dan memandang sejenak wajah agung-Nya
Seakan Ia tahu apa yang kualami
Keterbatasan-keterbatasan itu harus kubuka dan kubuang selama-lamanya
Dan perlahan-lahan, namun pasti, hatiku yang dulu beku kini berkembang dalam lautan cinta dan kedamaian. Terimakasih Tuhan. Amin.
Thursday, September 20, 2007
Ibu Pulang
HANYA 10 hari ibu berada di Jakarta. Senin pagi kemarin, ular besi menelan ibuku. Membawanya kembali ke Jogja. Sepotong rasa sedih tertinggal di hati. Belum puas maksud hati mengenyam kangen. Tapi, apa boleh buat. Kerabat di Jogja lebih membutuhkan kehadiran ibu.
Ibu tampak lebih tua. Garis-garis putih semakin banyak menghiasi mahkotanya. Kerutan-kerutan di kulitnya semakin tegas. Langkahnya juga tidak sekokoh dulu. Semut-semut tidak kasat mata pun berkoloni di setiap persendiannya. Membuatnya berlobang. Rapuh. Gejala osteoporosis. Tapi, ada yang tidak berubah dalam diri ibu. Pancaran matanya memperlihatkan sebuah ketegaran, keuletan, dan pengharapan tanpa batas. Tekadnya kuat. Kalau sudah melakukan pekerjaan, ia tidak mau berhenti meski rasa capek menggerayangi tubuhnya. Semua harus beres. Tanpa ada penundaan.
Selama 10 hari itu, ibu harus berbagi malam dengan dua rumah. Rumah kakak perempuanku di mana cucu pertamanya berada dan rumah ibu di mana aku tinggal. Kehadiran ibu membuat tugas-tugas domestikku cukup terbantu. Menyapu. Mengepel. Membersihkan gudang. Belanja ke pasar. Memasak. Menyirami suplir. Mencuci. Kalau ada jeda, ibu mengantar keponakan ke sekolah. Menyuapinya. Berbagi cerita. Memilin rosario. Mengunjungi kerabat. Menyambangi tetangga. Membaca buku. Tak ketinggalan, ibu memasak menu favoritku, yakni kering tempe.
Soal buku, tidak heran, ibuku pun doyan membaca. Di hari pertama kunjungannya ke Jakarta, ibu memintaku menyediakan buku. Di perpustakaan rumah, terserak banyak buku. Kusuguhkan 2 buku. Bukan buku filsafat. Bukan novel. Tapi, buku rohani, pemantik inspirasi. Kusodorkan dua buku kecil. Satu buku karangan Henri J.M. Nouwen berjudul “Buah Pengharapan” (Kanisius, 1998) dan “Girisonta: Dari Novisiat Menatap Taman Getsemani, Percikan Kisah Para Sahabat.” Buku pertama selesai ia baca. Buku kedua hanya ia sortir saja karena kumpulan kisah.
Pernah sebuah siang, aku dan ibuku duduk bareng di sofa hijau. Kami duduk bersama tanpa obrolan karena kami sibuk dengan buku bacaan masing-masing. Sesekali kulihat ibuku mengatur letak kacamata plusnya. Menarik ulur letak buku untuk mencari fokus baca. Membasahi jari tengah kanannya dengan sejumput liur untuk membuka halaman per halaman. Aku berjanji membelikan buku-buku rohani padanya. Tapi, belum kesampaian juga menebus janji itu. Ular besi bernama Fajar Utama itu keburu menculik ibu. Membawanya kembali ke kampung halaman.
Sesekali, aku bisa membaca kecemasan dan kesedihan menghiasi parasnya. Apalagi, ketika menerima kabar dari Jogja, si bungsu meminta uang untuk sebotol anggur. Pesta anggur dengan dewa mabuk. Sampai kapan malam-malam seperti itu akan berakhir. Sudah belasan tahun, ibu menjalani ini dengan tabah. Tapi, semua itu membuat iman ibu semakin membaja. Kuat. Kekuatan ibu hanya satu, yakni p-e-n-g-h-a-r-a-p-a-n. Pengharapan akan masa depan yang lebih baik. Bagi si bungsu. Bagi keluarga. Bagi dirinya sendiri. Seakan ia mengamini tidak ada rasa sakit yang abadi.
Aku pernah memberontak pada Tuhan. Aku katakan, ibuku sudah terlalu sabar menjalani realitas ini. Tak kunjung jugakah Dirimu memberinya sepotong kebahagiaan di usia tuanya? Ibuku seperti perempuan tua yang mengetuk-ketuk pintu rumah sahabat untuk meminta pertolongan karena anaknya sakit. Tapi, sampai tangan perempuan itu berdarah-darah karena terlalu lama mengetuk pintu kayu itu, pintu juga belum dibukakan. Tapi, itu dulu. Ibu sendiri tidak protes. Justru, ibu mengenyam semua itu sebagai bagian dari iman personalnya. Ia selalu menyimpan segala perkara di dalam hatinya.
Aku pernah membenci ibu. Dulu, saat aku di asrama. Sejak hari pertama, ibu berjanji akan mengirimiku surat. Tapi, selama 8 tahun aku berada dan akhirnya keluar dari asrama, ibuku tidak pernah menulis sepucuk surat pun untuk satu cerita atau satu larik kalimat atau satu kata pun. Sepertinya hanya teman-temankulah yang ditakdirkan menerima surat. Sampai sekarang, aku belum menanyakan mengapa ibu tidak pernah berkirim surat. Itu dulu. Sekarang, kebencian itu sudah lama tanggal dari hatiku.
Itulah ibu. Satu pesan ibu sebelum pulang: jangan lupa membersihkan dapur dan gudang setiap malam sebelum tidur. Tiga hari ini, pesan ini aku penuhi. Maklum, aku tidak mau trio mickey mouse itu datang lagi. Dapur dan gudang tidak pernah absen dari sapu, cairan wipol, dan kain pel. Semua barang harus disterilkan dari binatang pengerat itu. Dan para pengerat berbau tak sedap itu tidak nongol lagi. Mungkin sudah migrasi ke rumah tetangga.
Pesan itu diulangi saat tiba di Stasiun Senen. Tepatnya di gerbong 5 nomer 5 A. Pukul 06.20, ular besi itu menjalar. Derit roda-rodanya semakin kencang. Ibu pun dibawa lari. Akhirnya, ibu pulang juga.
read more...
Wednesday, September 19, 2007
Namanya SUMIRE
AKU bertanya pada temanku siapa nama gadis itu melalui SMS. Sehari sesudahnya saya baru mendapatkan jawaban. Namanya Sumire, artinya bunga abadi. Sekali lagi S-U-M-I-R-E.Kata temanku itu, Sumire-lah yang akan membawaku terbang mengelana ke Jepang. Sebuah negeri penuh pesona bunga sakura dan salju di pucuk Gunung Fuji. Negeri Matahari Terbit. Saudara Tua. Di sana, aku akan duduk di pelataran taman kota, memandangi senja, melukis kuil tua, dan menulis. Kita buktikan saja janji Sumire. Aku ingin tahu raut wajahnya. read more...
Mati, Mati, & Mati
KEMATIAN itu begitu akrab. Dekat. Biasa. Bayangkan saja dalam waktu hampir 4 bulan, ada 4 sanak kerabatku yang mati. Pertama, kakekku mati lantaran usur usia dengan komplikasi berbagai penyakit. Satu bulan berikutnya, adik lelaki kandung kakek, Mbah Gimin, mati di Surabaya. Lalu di susul Bulik Mukri di Jogjakarta. Lalu Om Har pada usia 43 tahun lantaran virus hepatitis B menggerogoti hatinya. Ini terjadi dalam waktu yang berdekatan.
Sudah ada 4 catatan tentang kematian aku posting di blog ini. Mungkin karena kematian ini begitu akrab. Memesona. Dekat. Biasa. Sering. Semua menimpa keluargaku. Mungkin juga karena kematian ini begitu menganggu. Menakutkan. Asing. Misterius. Sepertinya malaikat pencabut nyawa itu belum puas memanen jiwa-jiwa dari ladang keluargaku. Bahkan, aku sempat bertanya, jangan-jangan kematian itu menular. Menulari orang-orang terdekat.
Kematian mungkin juga menyakitkan. Aku tidak bisa membayangkan perasaan simbah putriku (nenek) saat bersimpuh di depan peti jenasah Om Har, putra kesayangannya. Bayangkan saja, tiga bulan sebelumnya, suaminya diambil Tuhan. Kesedihan belum sempurna raib, Tuhan mengambil putra kesayangannya. Aku memandangi matanya yang tersaput oleh sedikit selaput katarak putih. Nenek tidak menangis. Ia hanya mengangguk-angguk sambil berucap Sembah Bekti (Doa Salam Maria-red) sambil memilin jemari keriputnya pengganti butiran tasbih. Mungkin, ia memang sudah tidak bisa menangis lagi. Air matanya sudah habis. Rasa kehilangan datang seperti kemarau panjang. Pergi meninggalkan kerontang di pelupuk matanya. Kesediah sudah lama menyumbat mata-mata air air matanya.
Sampai di suatu siang, terdengar kabar dari suara tak dikenal, Om Bambang (suami dari Bulik Yani, adik kandung ibuku) mati mengenaskan di jalan. Suara lirih penuh simpati dari menguar dari telepon genggam Bulik Yani. Sontak, Bulik terkejut bukan kepalang. Tangisnya pecah. Meraung-raung seperti anak singa terluka oleh peluru senapan pemburu. Kabar ini pun menyebar cepat ke sanak kerabat. Semua orang kawatir. Bulik pun merasa tak berdaya di depan kematian yang rutin menghampiri. Bulik pun menggugat kakek yang seakan tidak puas mengajak saudara dan anaknya untuk mati, sampai dirinya mengajak suami tercintanya berpulang tanpa gelagat.
Untung saja, kondisi buruk ini segera bisa diatasi. Suara pewarta kematian tak dikenal itu pun terbongkar. Ini modus kejahatan yang jamak terjadi dengan memanfaatkan telepon untuk memeras uang korban. Om Bambang pulang ke rumah Cimanggis dengan kondisi segar bugar.
Meski demikian. Kematian itu tetaplah akrab. Dekat. Biasa. Misterius. Aku hanyut dalam permenungan. Malaraux dari Prancis pernah menulis, seseorang baru dilahirkan ketika ia berdiri merenung di depan sebuah mayat dan bertanya: m-e-n-g-a-p-a?
read more...
Tuesday, September 18, 2007
Jadi Modin 100 Hari Kematian
MENGENANG 100 hari kematian Om Har, aku didaulat menjadi modin. Modin dalam tradisi Jawa dikenal sebagai pemimpin doa. Sanak kerabat sering memintaku untuk sejenak menjalani profesi dadakan ini. Entah syukuran 7 bulanan seorang bayi, 1 minggu atau 40 hari atau 100 hari kematian. Bahkan, seorang karib pernah memintaku untuk membuatkan doa untuk ulang tahun perkawinan orangtuanya. Gedubrak! Entah kenapa orang-orang itu menginginkan diriku menjadi modin.
Mungkin gara-gara aku pernah mengenyam pendidikan di pesantren kuning, sebutanku untuk pesantren Katolik. Toh, tidak semua lulusan (tepatnya pelarian-red) dari pesantren kuning itu hidup soleh dan bertabiat seperti nabi atau santo-santa. Lihat saja. Doa jarang aku daraskan. Sering absen ke gereja hari minggu. Hidupku juga awut-awutan. Novel dan buku-buku lain telah menggeser jauh-jauh Kitab Suci. Di rak perpustakaan pribadi, buku setebal kamus ini terletak di bawah tumpukan buku yang jarang dibaca. Tuhan pun tidak lagi menjadi kata dan sosok dingin yang untouchable bak gembong mafia Italia. Aku bebas sebebas-bebasnya menyapa diri-Nya. Entah menyebut ‘Tuhan di saku celana’ atau ‘Tuhan di laci meja’ atau ‘Tuhan kedodoran celana’ dan sebagainya.
Tapi, ini rahasia besar yang kusimpan dalam diriku: dengan cara inilah, aku mengenal, aku membaca, aku merasakan, aku mengunyah Tuhanku. It’s very personal! Dengan jalan inilah, aku melihat Tuhanku bukan sebagai pribadi yang jauh, yang terbang di awan-awan sehingga aku harus senantiasa mendongakkan kepalaku, yang duduk di kursi beludru di mana aku harus senantiasa membungkuk, mengangguk-anggukkan kepala tanda hormat. Dengan jalan ini, Tuhan sungguh terkesan sangat dekat. I-n-t-i-m. Jangan-jangan Tuhan itu tergolong homo ludens, sosok yang senang bermain. Tuhanlah yang mengajariku berbagai kegilaan ini. Tuhanku gila. Aku pun gila. Auk ah gelap!
Ketika didaulat jadi modin doa 100 hari kematian itu, benakku berputar-putar di langit-langit kamar tempat aku merebahkan diri secara manja. Sinar bolham lampu 15 watt di emperan luar kamar, membawa tempias bayangan daun-daun suplir yang digantung. Memikir-mikir bentuk doa apa yang akan aku berikan. Emoh jika hanya ikut dan baca doa standar yang ada dalam buku. Pasti monoton. Tuhan mungkin bosan.
“Eureka!” Ide itu sontak jatuh. “Telepok!” begitulah bunyinya. Tiba-tiba aku seperti Archimedes yang menceburkan di ember gede penuh air. Air seakan tumpah dan menggenangi seluruh isi kamar. Aku langsung meloncat dari kasur dan meraih 2 keping cd berisi musikalisasi sajaknya Sapardi Djoko Damono. Ada dua album: Becoming Dew dan Gadis Kecil. Sampai akhirnya di malam di ruang tamu rumah kakak perempuanku. Lilin dinyalakan mengapit patung kecil Isa dan Bundanya. Foto hitam putih Om Har saat masih kanak-kanak menyender di patung salib. Lalu alunan suara gitar Ari Malibu dan getar pita suara Reda menguar dalam hening.
Ketika kau tak ada
Masih tajam seru jam dinding itu
Jendela tetap seperti matamu
Napas langit pun dalam dan biru
Hanya aku yang menjelma kata
Mendidih menafsirkanmu
Kau mungkin jalanan
Menikung-nikung itu
Yang menjulur dari mimpi
Yang kini masih kutempuh
Sebelum sampai di muaramu
Sungguh tiadakah tempat berteduh di sini
Kalau tak ada di antara jajaran cemara itu
Kepada siapa mesti kucari jejak napasmu
Maghrib begitu deras, ada yang terhempas
Tapi ada goresan yang tak akan terlupakan
Yah, itu yang bisa kulakukan sebagai modin. Tepatnya modin-modinan. Setiap kali sajak Sapardi itu diputar, yang kuingat adalah sosok Om Har (bisa diklik Ecce Homo). Seakan kematiannya hanyalah mimpi saja. Cemara itu memang sudah tidak ada lagi di jajaran keluarga kami. Tapi goresan akarnya masih jelas dan belum dikaburkan angin. Seringai wajahnya saat menahan perut yang sakit. Gigi ginsulnya saat tertawa. Dua bola mata manisnya di balik kacamata minusnya. Belut goreng campur lombok kesukaannya.
Ada sepotong pengalaman yang tidak bakalan usang di ingatanku. Tiga bulan silam, saat mbah kakungku meninggal, Om Har dengan wajah letihnya memintaku memimpin doa untuk arwah kakekku itu. Kami sekeluarga besar berdiri mengelilingi peti berisi sosok beku itu. Aku diminta Om Har menjadi modin. Tiga bulan kemudian, aku pun diminta menjadi modin lagi. Bukan untuk kakekku. Tapi, untuk Om Har sendiri. Lalu, ketika aku menulis catatan ini, aku bertanya: siapa yang akan menjadi modin untuk kematianku nanti?
read more...
Friday, September 14, 2007
Semalam Ada yang Bilang 'Sayang'
“Sudah menikmati secangkir kopi?”
“There is no morning coffee here.”
“Semalam ada seseorang yang bilang sayang ke gue”
Mataku sejenak melotot pada ruang chatting. Menahan untuk meledakkan tawa. Perempuan yang pernah terjungkal tanpa sebab di pelataran UI Depok itu menceritakan seorang lelaki telah ‘menembaknya’ tadi malam. Tadi malam di Dante Coffee, gerai kopi seberang Starbucks di Mal Kelapa Gading. Ditemani secangkir caramel macciato, jenis kopi yang tak begitu disukainya. Lebih enak menyeruput capuccino atau kopi susu cap Luwak pemberian teman. Enak tidak enak, pasti pelor-pelor cinta itu mengoyak jantungnya. Membuatnya insomnia mendadak. Malam jadi panjang. Suhu kamar naik-turun. Dan ini benar!
“Mengejutkan, menyenangkan, membuat gue susah tidur.”
“Senyum terus sepanjang malem”
“Ternyata gue gak segitu jeleknya”
“Masih ada juga yang diam-diam memendam rasa suka ke gue.”
Hatiku pun terpingkal-pingkal. Teman kantorku ini memang lucu bin ajaib. Apalagi setelah mengaku ternyata lelaki jagoan itu adalah adik kelasnya, lelaki yang diam-diam jatuh cinta padanya. Perempuan ini pernah cerita bahwa dirinya enggan menanggapi gelagat lelaki ini. Beribu cara ia cari untuk menghindar. Tapi, akhirnya dirinya terperangkap juga di Dante Coffee, gerai kopi yang tiba-tiba disulap menjadi lapangan tembak. Lelaki itu menunggu saat yang tepat. Mengukur kecepatan angin. Menguatkan pegangan. Menarik napas. Lalu menarik pelatuk. Dan “dorrrr!!!’’ Senapan cinta itu meletus. Pelor cinta pun menembus jantung temanku. Membuatnya membeku tanpa jawab.
“Gue tidur cuma beberapa jam. Tapi, hari ini, gue bangun dengan mata terang benderang tanpa jejak kantuk sedikit pun.”
“Sekuat itu ya pengakuan dia?”
Akunya, jagoan ini sudah nguber-uber dirinya selama 14 tahun. Sayangnya, jagoan ini adalah pangeran kesiangan. Seorang Romeo dadakan yang malang. Jaka Tarub yang gagal mencuri selendang dewi kayangan. Dua bulan lagi, sang putri naik ke pelaminan. Melepas lajang dan mengurung niat bercangkir kopi dengan para kawan dan selingkuhan. Tapi, sebegitu tegarkah pondasi hati tuan putri?
“Tapi dasar perempuan jahaman, gue seneng2 saja ada yang ama gue.”
“Dan mulailah sikap ambigu gue.”
Ketawaku mendadak berkeping-keping. Berderai di sela-sela keyboard komputer, tempat jemariku menari-nari. Perempuan ini pun bercerita lebih banyak lagi. Dan lagi. Tapi tidak etis aku ceritakan di sini semuanya.
“Klo bisa memiliki semua pria yang menyayangi gue, gue mau aja lho”
Alamak! Hati-hati, ntar banyak yang 'ngokang senjata'!
Monday, September 10, 2007
My Own Edensor
“Sure lof, it’s Edensor...”
KAMIS pukul 18:54 WIB. Petualangan Ikal aku baca sampai di sini. Selesai. Di lantai 19 Sky Line Building setelah setengah jam lalu bola matahari melorot dan sembunyi di pasar Tanah Abang. Tepatnya, dua jam setelah ibuku menelepon dari wartel Stasiun Senen untuk minta dijemput. Sayang sekali aku tidak bisa menjemput karena sudah ada janji wawancara dengan narasumber. Di langit, tersisia warna jejak jingga keperakan. Lalu hilang tergusur pekat saat lampu-lampu kota mulai berkedip-kedip seperti kerjapan kunang-kunang yang sedang menggerayangi malam.
Berakhir juga petualanganku selama sehari itu. Seharian untuk menuai kelelahan di penghujung senja. Pagi hari, aku berada di Grand Hyatt untuk mendengarkan celoteh Daren Sng, Senior Product Marketing Manager Apple untuk Asia Pacific memperkenalkan seri terbaru iMac. Berlanjut dengan menyisir jalan Thamrin-Sudirman dengan bus Trans-Jakarta menuju kedai makan Mbah Jingkrak. Mengikuti launching Sari Wangi Mobil Mudik 2007. Sejumlah 150 unit Kijang Inova disediakan gratis bagi pelanggan yang beruntung. Lengkap dengan sopir, gratis uang bensin, uang tol, dan uang makan. Weleh, uenak tenan! Tapi aku tidak berencana mudik. Pasti merepotkan. Lebih-lebih aku harus menjaga peri kecilku. Menyuapinya dengan bubur kacang ijo. Menyeduhkan susu cokelat untuknya tiap pagi dan malam. Lebih-lebih sayap peri kecil belum cukup kuat untuk terbang ke kampung halaman. Sore menjelang, aku kembali berada di bus Trans-Jakarta menuju Thamrin. Lalu membebaskan James, motorku, dengan menukar karcis parkir di Hotel Nikko dengan recehan Rp 7.000. Senja tiba dan sampailah aku di ruang Jasmine, Sky Line Building Lantai 19.
Jeda waktu menunggu narasumber kumanfaatkan untuk meluruskan kaki, meluruhkan lelah ke ubin, dan membaca kelanjutan petualangan Ikal, karakter utama dalam novel Edensor, novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Akumulasi kelelahan hari itu aku tumpahkan dengan menyambar tiga gelas penuh coca-cola, satu cangkir kopi hitam berkrim, berlanjut dengan sepiring nasi goreng Hainam bertaburan kacang polong nir kecap, spageti, Korean bbq, salad, dan sup asparagus. Menu yang layak untuk menebus pekerjaan seharian.
Mengikuti lembar per lembar halaman Edensor, aku seperti ikut hanyut dalam narasi. Ikut mengelana. Dari pedalaman Melayu di Belitong sampai pedalaman Eropa dan Asia. Petualangan ala backpackers yang penuh sensasi. Rasanya ikut merasakan serpihan salju menempeli kulit, merosotnya suhu dingin sampai titik nadir, dan badai salju di Rusia. Menikmati Paris yang sedang bersolek. Inggris yang beku dan tersaput warna jingga yang berpendar dari lampu-lampu kota. Antiknya rumah William Shakespeare saat menulis romansa Romeo dan Juliet. Anggunnya perempuan-perempuan Yunani. Memanjakan lidah dengan masakan beragam cita rasa.
Aku doyan cerita-cerita petualangan. Pergi dari kepompong rumah. Hengkang dari istana mapan. Mengambil risiko ke tanah asing. Mengalami ketidakpastian. Bercanda dengan seribusatu ancaman dan bahaya. Mewujudkan mimpi-mimpi. Mendekonstruksi takdir. Melompati batasan-batasan. Mematahkan kemustahilan. Lalu menulis cerita.
Andrea Hirata membuatku terkesiap sekaligus iri. Larik-larik cerita yang ia tuliskan memesonaku sekaligus membuncahkan mimpi-mimpiku yang masih dikerangkeng oleh rasa ragu. Jiwa merdeka, pengelanaan, bertemu dengan banyak orang, menjumpai aneka budaya, menaklukkan alam.
Cerita-cerita senada aku temukan juga dalam novel Sang Alkemis (Paulo Coelho) atau Life of Pi (Yan Martel). Keterbatasan yang dipadu dengan risiko-risiko membuat orang semakin perkasa untuk mematahkan segala ketidakmungkinan. Aku juga mempunyai mimpi. Mengelana juga. Tidak meleset juga jika aku menamai diriku sendiri dengan musafir muda. Ada orang Belitong mampu menaklukan dunia. Apakah aku, orang udik ini juga bisa menaklukkannya? Dusun Belitong mungkin sama dengan dusun Sembungan. Sembungan, nama yang tidak ada di peta dan jarang di dengar orang. Adakah seorang pengelana baru akan lahir dari dusun katrok di pedalaman Jogjakarta ini? Lao Tzu pernah berpesan, “A thousand mile journey begins with the first step.”
Jumat pekan lalu, aku chatting dengan seorang karib yang bekerja di sebuah agen tur jurusan tempat-tempat suci di Timur Tengah dan Eropa. Bolak-balik mengantar para pejiarah menjadi menu utamanya. Jelas ini mengasyikkan.
“Asik ya Mas menjadi guide para pejiarah!”
“Ya, ini pekerjaanku.”
“Dari sekian kali menemani para pejiarah, apa yang Mas dapatkan?”
“Aku semakin mengenali apa arti jiarah yang sebenarnya.”
“Apa itu Mas?”
“Persis seperti yang dialami Ignatius dari Loyola. Jiarah itu membiarkan hidup ini mengalami ketidakpastian dan menyerahkan diri untuk dibimbing Allah sendiri.”
Aku jeda sejenak. Cerita-cerita pengelanaan Ignatius Loyola sudah katam aku baca sejak ada di asrama. Menarik. Menginspirasi. Memang segala hal yang berasal dari pengalaman lebih menginspirasi ketimbang teori-teori.
Dan malam itu di ruang Jasmine, Sky Line Building lantai 19, aku menumpahkan kerinduan terpendamku. Jiwaku yang bersembunyi di dalam raga, di sela-sela tulang, dan di sari-sari sumsum seakan menggeliat. Meledak dalam sikap diam. Sementara mataku masih memanjakan diri dengan kerlap-kerlip kendaraan yang merangkak di sepanjang jalan Thamrin menuju peraduan mereka masing-masing. Dan di batok kepalaku, berputar-putar gambaran Edensorku sendiri. Sebuah tanah berumput hijau tempat aku merebahkan diri sambil memandangi bulan raksasa terbang rendah dari pucuk-pucuk cemara. That is my Edensor!
read more...
Wednesday, September 05, 2007
Toilet
SAAT sebagian masyarakat disibukkan dengan antri minyak tanah, kami di kantor disibukkan dengan antri toilet. Hari gene ngantri toilet? Pasalnya, satu dari tiga toilet di kantor kami digembok dengan alasan kurang masuk di akal.
“Ini akibat dari perbuatan kalian!” cetus seorang manager yang nimbrung makan siang kami di basement Mal Artha Gading yang super gerah. Seorang memplesetkan makan sembari sauna gratis.
“Halah, klasik banget. Kenapa terus digembok toiletnya?”
“Sebagai bahan pelajaran kalian yang jorok.”
“Tapi kenapa harus digembok? Apa tidak ada cara manajemen yang lebih wise?”
“Toilet itu kotor. Banyak tisu. Ada yang buang air tanpa menyiram. Noda sabun menempel di mana-mana.”
“Lalu, kenapa ditutup?”
“Iya, aku lihat Julia sibuk naik turun dengan tangan menggenggam pembalut. Sampai di atas, masih harus ngantri. Karena males, lalu turun lagi.”
“Ini sebagai peringatan. Kalau di antara kalian jorok, akibatnya semua kena getah.”
“Apa tidak ada cara yang lebih wise?”
“Tutup saja semua toilet!”
“Ah, manajemen yang kekanak-kanakan.”
Begitulah potongan obrolan di sela-sela makan siang. Obrolan soal toilet sempat membuat makan menjadi seret. Gumpalan daging ayam bakar bercampur nasi itu seakan tersumbat di kerongkongan. T-e-r-s-e-n-d-a-t. Seolah-olah segelas es teh pun tidak sanggup mendorongnya menuju lambung. Bukan lantaran jijik akan toiletnya. Tapi oleh tindakan menggembok salah satu toilet di lantai 4 itu. Dongkol campur gemes. Perlu tahu kantor kami memiliki empat lantai. Seluruhnya dihuni sekitar 60 mahkluk kaki dua yang dinamai karyawan.
Gedung ini punya tiga toilet. Ketiganya lengkap dengan si leher angsa, tempat segala limbah metabolisme tubuh digelontorkan sedalam-dalamnya ke tanah. Biar menjadi makanan bagi cacing-cacing. Seminggu lalu satu toilet resmi ditutup dengan gembok. Terbayang dalam kepalaku, tulisan garis polisi dengan tulisan “Do Not Cross!” melingkari ruangan yang tiba-tiba tampak keramat itu. Di lantai 4, tersisa satu toilet kecil seluas 44 ubin persegi. Tepatnya, panjang 11 ubin dan lebar 4 ubin. Di depan ruang kecil inilah, kami sekarang sering ngantri.
“Lo, tahu kan rasanya kebelet?”
“Gue pernah menggelepar kesakitan di lantai gara-gara kamar mandi rumah dipakai mandi saudaraku. Padahal, saat itu gue benar-benar sakit perut. Rasanya ingin tumpah saja.”
“Kalo aku lain. Biasanya aku ngebut naik motor saat rasa ingin be-ol tak tertahankan lagi.”
“Celanaku malah pernah basah. Habis gak bisa nahan.”
“Emang. Be-ol itu nikmat banget.”
“Berada di toilet itu seperti berada di ruang pribadi.”
“Betul, itu sangat privasi.”
“Saat-saat itu, saat-saat paling pribadi buat gue!”
Obrolan tenteng toilet berlanjut dengan kawan-kawan lain di ruang chatting. Sementara, sampai hari ini, toilet itu tetap terkunci. Tak jarang, kami pun harus ngantri. Kalau di kampung, tidak ada toilet juga tidak masalah. Alam raya telah menyediakan tempat yang bisa kita gunakan untuk toilet sesuka kita. Di bawah pohon atau di pohonnya sekalian. Asal tidak bikin orang lain mabuk lantaran bau busuk menusuk-nusuk hidungnya.
Omong-omong soal toilet, aku punya serpihan catatan. Asal tahu saja, toilet sudah dikenal dalam peradaban manusia pada periode Sebelum Masehi. Ini kata ensiklopedi online Wikipedia. Pada abad ke-25 SM, orang-orang Harappa di India memiliki toilet di setiap rumah. Toilet dihubungkan dengan saluran air dari batu bata. Di Mesir dan Tiongkok kuno, orang-orangnya juga sudah sadar toilet. Bahkan, di masyarakat Romawi toilet menyatu dengan tempat mandi umum.
Pada 1596, Sir John Harington menemukan toilet dengan fasilitas penyiraman. Toilet-toilet ini terus mengalami banyak inovasi pada Zaman Victoria di Inggris sampai sekarang. Lihat tuh, sadar toilet saja sudah dibangun sejak zaman baheula.
“Tas apa yang paling enteng?” tanya temanku.
“Tas tanpa isi!”
“Salah!”
“Lalu apa?”
“Tas, ngising!” (tas dalam bahasa Jawa= usai; ngising= berak)
Memang benar kata temanku itu. Saat-saat yang paling ringan, plong, seolah seluruh beban hidup meluruh ke bawah bersama ampas-ampas yang digelontorkan melalui leher angsa adalah usai berak. Be-ol itu rasanya seperti menyeruput secangkir kopi panas. Nikmatnya luar biasa. Ini sebuah karunia Tuhan yang tiada taranya. Coba bayangkan jika seumur hidup kita tidak bisa be-ol. Jangankan seumur hidup, cobalah satu hari saja. Tubuh seakan menciut bersama pucat. Langkah-langkah pun jadi limbung. Lalu orang berubah menjadi mayat hidup dengan gigi mengintip dari celah bibir. Pucat. Pasi. Linu. Duh, menderitanya!
Dan toilet itu pun masih terkunci. Gembok dingin masih menempel dengan sombongnya. Muka-muka meringis pun tampak samar dari etalase kaca di depan meja kerjaku. Sampai-sampai, aku sudah mulai lupa kalau di lantai 4 ada dua toilet. Amnesia?!?
read more...
Monday, September 03, 2007
Anak Kecil di Dalam Diriku
KENAPA Liana menatapku demikian? Gadis cilik berbalut busana biru telor ini menatapku aneh. Rautnya penuh keheranan. Bola matanya bening. Bibirnya merapat. Membentuk garis melengkung ke atas. Dia berdiri tak bergeming di depanku. Melupakan sejenak bola-bola kecil yang jatuh berderai di lantai. Bola-bola yang sejak siang tadi dimainkan di sela-sela kakinya yang terhuyung.
Tatapan itu membuatku sedikit salah tingkah. Ada energi keluar dari bola matanya. Aku heran dan penuh tanda tanya. Apa yang ingin kamu katakan padaku Liana? Aku seorang lucukah bagimu? Atau kamu sedang jatuh cinta padaku? Buruk rupakah aku? Atau kamu mau mengatakan sesuatu yang lain: udara Sawangan yang cukup gerah, rambut gondrongku, buramnya kacamata minusku, atau kamu mau bercerita tentang ibumu, bapakmu, mimpi-mimpimu, rindumu pada hujan. Jujur, aku tidak tahu. Sayang kamu belum bisa mengatakan maksudmu dengan bibir manismu itu.
Kejadian serasa terulang pada petang hari. Seorang gadis cilik berbalut busana merah jambu menatapku aneh. Gadis cilik yang berdiri mematung di antara kaki-kaki orang dewasa di ruang tunggu Teater Kecil itu memancarkan paras keheranan. Bibirnya merapat. Membentuk garis melengkung ke atas. Aku tersihir untuk ikutan mematung. Gadis kedua ini pun membuatku sedikit salah tingkah. Sampai seorang teman yang sedang menikmati standing party pembuka malam seni itu menepuk bahuku.
“Lihat, anak itu menatapmu! What’s going on?”
Aku juga tidak tahu. Dalam satu hari, dua gadis cilik menatapku penuh keheranan. Tanpa sebab jelas. Tidak ada yang tahu selain kedua gadis cilik itu. Sementara itu, dua tahun silam, seorang sahabat pernah mengatakan sesuatu. Aku jadi mengingatnya setelah berjumpa dua gadis cilik itu.
“Ada anak kecil di dalam dirimu,” kata sahabatku.
read more...
Wednesday, August 29, 2007
Telepon dari Jogja
RABU, 29 Agustus 2007. Ponselku tiba-tiba menjerit tengah malam. Malam saat aku sedang merubuhkan tubuhku di atas sofa hijau untuk melepas lelah. Membuatku jeda sejenak menikmati hiburan dari tabung ajaib. Kulihat nomer ponsel kakak perempuanku yang tinggal di Jogja berkedip-kedip. Tanpa lama, kutekan tombol hijau dan kubiarkan suara itu menguar ke ruangan melalui ponsel yang kuaktifkan speaker-nya. Biar ibu peri, cicak di balik kulkas, trio mickey mouse yang ngumpet di gudang, dan seluruh penghuni rumah turut mendengarkan. Mendengar kabar dari kampung halaman.
“Hey, kamu di mana?” suara kakak perempuanku pecah memulai obrolan.
“Aku di rumah.”
“Baik-baik saja, to?”
“Baik-baik. Setel kendo wae (santai saja).”
“Ini ibu mau bicara.”
Lalu, suara ibuku terdengar pelan. Santun. Sedikit basah. Ia menanyakan kabarku hidup di tanah rantau Jakarta. Ia juga bercerita singkat tentang kampung halaman. Tentang bapak yang sibuk dengan kios bensin depan rumah. Maklum, setelah pensiun dari tentara, bapak butuh kegiatan mengisi waktu senggang. Tentang nenek yang hidup sendirian di rumah setelah 7 bulan ditinggal mangkat kakek dan sibuk mengusir sedih setelah sebulan lalu ditinggal mati putra tercintanya lantaran hepatitis B. Tentang si bungsu yang belum kapok meneggak anggur dan membawa kegundahan tersendiri tiap malam menjelang. Sudah biasa. Sudah belasan tahun itu menjadi santapan sehari-hari ibu setiap malam. Ibu yang terbiasa duduk dan tidur di emperan saat larut malam. Menunggu si bungsu pulang. Sementara, tangannya memilin butir-butir rosario dari kayu cendana. Doa tak kunjung putus. Sekarang ini adalah hari-hari yang jauh lebih baik ketimbang hari-hari di tahun-tahun sebelumnya.
Ibu adalah seorang perempuan kuat. Punya jiwa besar dan hati rela berkorban. Gejolak-gejolak hidup di masa uzurnya telah menjadikannya semakin kuat. Ibarat emas yang terus digesek dan menjadi logam mulia. Ibuku adalah spiritualitas hidup itu sendiri. Sebuah oase yang tidak pernah mengering karena gempuran kemarau panjang. Lalu ibuku melontarkan sepotong pesan.
“Jangan lupa banyak doa, yo Le. Ibu sembahyang saka kene!”
(Ibu berdoa dari sini)
“Baik. Sama-sama berdoa.”
“Urip mung pisan. Ojo digawe susah. Atine sing seneng!”
Tak lama kemudian telepon ditutup. Aku terpaku sejenak. Merenungi kata-kata akhir dari obrolan itu. Urip mung pisan. Ojo digawe susah. Atine sing seneng! Artinya, hidup cuma sekali. Jangan dibuat susah. Hati yang bahagia! Duh, pesan yang menyemangati dan penuh makna. Jujur saja, kata-kata serupa pernah dilontarkan dari bibir yang sama sekitar 15 tahun silam. Saat itu, ibu dan beberapa kerabat melawatku pada sebuah hari kunjungan asrama.
Malam itu seperti malam doa yang panjang bagiku. Kelelahan seakan luruh. Meluncur ke bawah melalui sofa hijau dan melebur ke lantai. Semoga saja, malam penuh energi itu juga menjadi malam bagi ibu peri, cicak di balik kulkas, trio mickey mouse yang ngumpet di gudang, dan seluruh penghuni rumah. Aku sendiri belum bertanya pada mereka. Lalu aku pun kembali menikmati hiburan malam dari tabung ajaib.
read more...
Tuesday, August 28, 2007
Tidak Ada Gerhana Bulan di Atas Loteng
RADIO masih setia berceloteh. Aku meninggalkan kamarku sejenak. Meninggalkan satu artikel setengah rampung di laptopku. Jam di ponsel menunjuk angka 00.25. Aku bergegas membuka pintu gudang. Lalu merangkaki anak tangga besi menuju loteng. Pintu loteng kubuka. Aku meloncat ke atas.
Langit malam cukup bersih. Bulan melayang jauh di atas. Angin malam berhembus membawa dingin. Aku duduk dan menunggu. Menunggu gerhana itu terjadi. Detik demi detik. Menit demi menit. Sang Batara Kala tidak kunjung datang. Datang untuk menyantap hidangan kue bundar bercahaya itu. 30 menit berselang. Bulan itu tetap utuh. Raksasa itu tidak nampak. Parasnya bundar dengan bopeng-bopeng terserak dengan samar. Parasnya tidak berubah. Sama persis seperti ketika aku melihat pertama kalinyadi waktu kecil. Malam itu, tidak ada tanda-tanda gerhana. Angin malam masih berhembus membawa dingin. Membuat gejolak kecil di perutku.
Takut masuk angin, aku pun menuruni loteng. Menutup pintu loteng. Menuruni anak tangga besi. Bergegas ke luar gudang. Menutup kembali pintu gudang. Melanjutkan sejenak satu dua larik kalimat di layar monitor. Lalu melangkah menuju kamar tidur. Mendapati ibu peri tidur pulas dengan buku Harry Potter masih dalam genggamannya.
Rupanya, aku mendapat info salah. Malam kemarin, tidak ada gerhana bulan di atas loteng. Ternyata raksasa itu datang sore ini.
read more...
28-08-07
Makanlah anakku.
Biar engkau hidup.
Meski cuma secuil roti sisa.
Tapi ini sangat mahal harga.
Semahal darah dan keringat bapakmu.
Makanlah.
Agar engkau hidup.
read more...
Perempuan Ini
ANEH-ANEH saja kejadian yang menimpa temanku ini. Sabtu pagi pukul 7. Sebutir matahari masih melayang rendah. Sinarnya menyapu hangat halaman balairung kampus Universitas Indonesia, Depok. Dua jam lagi ada upacara wisuda. Ia terjungkal tanpa sebab jelas. Tidak ada setan lewat. Angin pun menari pelan. Sepatu kirinya melayang dan terkulai di aspal seperti sosis jatuh dari meja makan. Lucu. Mengharukan. Minimal dalam imajinasiku.
Betapa tidak mengomelnya dia. Ia sudah bangun pukul 3 pagi. Waktu di mana pepohonan masih basah oleh embun dan lampu jalanan masih menyala mengiringi senyap. Lalu mandi dengan sejenak menggigil. Beranjak untuk sebuah make up di sebuah salon tak jauh dari rumahnya. Kain jarik milik ibunya pun membekap pinggang sampai kakinya. Membuatnya tidak bergerak lincah. Selincah saat ia berjalan ke foodcourt Mal Artha Gading untuk sepotong makan siang. Padahal ia membenci berjalan lambat. Tapi, apa boleh buat. Ia seperti kura-kura lapar. Usai rapi, ia pun bergegas ke Depok mendahului macet. Pukul 7 sampailah ia. Harapan besar menyandang gelar Master of Science itu pun harus ditempuh dengan menjalani insiden kecil. Ia terjungkal tanpa sebab. Sepatu kirinya melayang dan terkulai di aspal seperti sosis jatuh dari meja makan.
“Sebel!” katanya.
Aku terpingkal-pingkal dalam hati. Lucu. Memang, ada sisi-sisi menarik dari temanku ini. Belum lama aku mengenalnya. Kita sering bertukar sapa dan obrolan pada sebuah makan siang. Sebelumnya selama 3 bulanan, kita tidak pernah bertegur sapa. Padahal kita ada di satu kantor, satu pabrik kata-kata. Aku di lantai 4 dan ia di lantai 3. Tapi perjumpaan di sela makan siang itu telah mengawali persahabatan kami. Setelah itu, kita pun rajin saling melempar sapa. Untuk sebuah obrolan, sepaket ejekan pada ruang chatting, atau sepotong janji makan siang.
Dia adalah Sekar Ayu. Sekar artinya bunga. Ayu artinya cantik. Sekilas namanya seperti tokoh dalam dongeng atau cerita rakyat Jawa. Hari-hari ini, ia disibukkan dengan persiapan melepas masa lajangnya pertengahan November nanti. Senang. Pusing. Deg-degan. Capek. Semua tumplek jadi satu seperti semangkok es campur saja. Satu bulan lalu, ia pusing memilih warna yang cocok buat kain pengantin. Ijo botol, merah maroon, atau warna emas. Berlanjut kepalanya dijejali dengan urusan cetak undangan, kata-kata mutiara, suvenir, tukang rias, dan sebagainya. Masih ditambah dengan kekonyolan-kekonyolan kecil di Kantor Urusan Agama (KUA). Sebuah lembaga formil-formilan belaka.
Ia akan menikah dengan seorang laki-laki yang lebih dari lima tahun menemaninya sebagai kekasih. Namanya Seto. Seto, sebuah nama yang mengingatkanku pada tokoh cerpen A.S. Laksana dalam antologinya Bidadari Yang Mengembara (2004). Seto, seorang pemuda yang gandrung dengan anak penjual martabak dan ingin menjadi kupu-kupu. Saat memandangi paras gadis itu, Seto melihat pendaran cahaya bak matahari. Saat itu juga ia merasakan dadanya dipenuhi laron-laron yang mengitari bola raksasa itu. Ia yakin ia segera jatuh cinta sebab laron-laron selalu terpesona pada cahaya. Aku kenal betul Seto pilihan Mas Sulak, panggilan A.S. Laksana dalam satu cerpennya. Tapi, aku tidak kenal Seto pilihan Sekar Ayu. Aku pernah melihat parasnya tersembunyi di balik helm dan tubuhnya dibalut jaket tebal. Kacamatanya mengintip dari kaca helm yang memantulkan cahaya senja yang sudah mulai pudar. Seto sama dengan Seto. Dua-duanya lagi dimabuk anggur cinta.
Kemarin sore, Sekar Ayu pun mematung dalam permenungan. Ia membayangkan dirinya dua bulan lagi. Ia harus memaknai kebebasannya lagi. Membaca ulang. Sudah biasa kamarnya berantakan. Kaus kaki tanpa dicuci tiga bulan. Mandi sehari sekali. Jajan indomie. Pulang malam. Menyeruput capuccino kapan pun, di mana pun, dengan siapa pun. Ngobrol dengan sahabat atau para selingkuhan yang membuat tagihan ponselnya membengkak. “Dia akan menjadi perempuan bersuami dengan keterikatan dan kebebasan yang berbeda,” katanya dalam blognya.
Tidak ada yang mampu menghentikan waktu. Perubahan niscaya terjadi. Sebuah konsekuensi dari sebuah pilihan. Perempuan doyan main basket ini tidak bisa menyembunyikan kekuatirannya. Kekuatiran yang lumrah. Tapi, percaya saja, di mana ada cinta, di situ pasti ada jalan. Itu yang selama ini aku amini. Cintalah yang akan membuka jalan-jalan tersumbat. Yang kupikirkan cuma satu. Setelah dua bulan ke depan, akankah dia masih sudi bertegur sapa denganku untuk sebuah obrolan, sepaket ejekan pada ruang chatting atau sepotong janji makan siang? Tunggu saja. The show must go on!
Ssst, aku merasa dejavu!
read more...
Monday, August 27, 2007
Penarik Gerobak Sampah
SEMINGGU ini, dirinya tidak muncul. Tiap pagi aku dan ibu peri menunggunya. Dirinya pun tidak menampakkan batang hidungnya. Suara paraunya pun senyap tiada terdengar dari balik jeruji pintu garasi. Sementara, sampah di dapur dan di garasi kian menumpuk. Baunya mengelena ke segala arah. Membuat hidup tidak jenak. Sementara, trio mickey mouse-sebutan tiga tikus kecil berkuping besar yang bersarang di gudang, pasti senang memanfaatkan kondisi ini. Bayangkan saja, tiap pagi usai bangun tidur. Aku pasti menemukan tisu, kulit pisang, tulang ayam, cuilan roti tawar, berserak tak keruan. Sudah dipastikan itu ulah trio mickey mouse.
Menghadapi tiga penjahat kecil itu, terlintas dalam benakku untuk memasang perangkap tikus. Tapi, aku tidak boleh membunuh binatang kecil itu atas permintaan peri kecilku. Terbayang juga memelihara kucing. Tapi, aku sendiri emoh melihat kucing tinggal di rumahku. Tiap malam saja, ada kucing liar membuat kegaduhan di atas atap rumah. Kadang menjerit tengah malam. Kadang berkejaran dengan suara gemeludug. Entah lagi mengejar tikus, bertarung memperebutkan pasangan, atau lagi birahi di dalam gelap. Tiga minggu lalu, tiba-tiba ada lima anak kucing mengeong-ngeong di dalam garasi. Tak tahu dari mana asalnya. Induknya pun tidak tampak. Mungkin sedang berburu tikus atau sepotong roti. Mungkin juga kabur karena tidak sudi mengasuh kelima ekor itu. Tapi, kelimanya mengeong-ngeong tanpa dihiraukan si induk. Dirasa menganggu, kumasukkan kelimanya dan kubuang di tempat yang jauh. Ibu peri pun sedikit mengomel. Membuat hatiku merasa sedikit bersalah. Teman kantorku pun ikutan mengomel. Aku disebutnya sebagai penjahat binatang. Maklum, dirinya begitu gandrung dengan kucing. Sampai ikon dalam yahoo messengernya-pun berupa paras seekor kucing.
Lagi-lagi, persoalannya adalah sampah. Dirinya seminggu ini tidak datang. Suara paraunya pun terdengar senyap dari balik jeruji pintu garasi. Sampah semakin menggunung. Bau tidak sedap pun mengelana ke berbagai arah.
“Ada apa dengan tukang sampah itu?” tanyaku pada si ibu peri.
“Tidak tahu. Setiap pagi aku juga menunggunya.”
“Mungkin dia sakit. Membeku karena hawa dingin.”
“Bisa juga. Tiga hari hujan turun tiap sore.”
“Persis si tukang gorengan. Ia juga tidak ada di tempat. Mungkin ikutan membeku.”
“Ah, alasan kamu saja untuk tidak membelikanku singkong goreng.”
Minggu pagi, aku sengaja melanjutkan tidur di sofa hijau. Berjaga kalau si tua penarik gerobak sampah itu datang. Berjaga siapa tahu dirinya menyapaku dari balik jeruji garasi dengan suara parau. Alarm di ponselku pun aku pasang pukul 08.00. Jam-jam di mana si tua bertopi hitam kumal itu lewat di depan rumah. Padahal malam minggu kemarin, aku begadang untuk menikmati tontonan gala aksi Bruce Willis dalam Die Hard 4 dan Mat Dammon dalam The Bourne Identity, The Bourne Supremacy, dan The Bourne Ultimatum. Minggu pagi, kelopak mata pun berat dibuka.
Aku pun meleleh dalam sofa hijau. Sampai suara parau dari balik jeruji garasi membangunkanku. Aku meloncat girang. Menyahut suara parau itu. Kubawa beberapa tumpuk plastik kresek besar berisi sampah ke depan. Kulihat wajah si tua itu tidak sesegar seperti biasanya. Mungkin dirinya sedang sakit. Melihat itu, aku memutuskan diam saja. Tanpa bertanya mengapa seminggu ini dia tidak berkeliling dengan gerobaknya. Sampai kuputuskan untuk memberi sebuah kado bila Lebaran nanti tiba. Tanpa lama, sampah pun hengkang dari rumah bersama bau-bau tidak sedap itu.
Bisa dibayangkan, betapa parahnya persoalan sampah di kota ini. Pemerintah daerah kwalahan mengolah sampah. Tanah pembuangan sampah pun minim. Para penghuni kota pun tidak peduli. Buang sampah sembarang. Entah orang kaya. Orang miskin. Orang terdidik. Orang bodoh. Semua bodoh membuang sampah sembarangan. Baru akan kita sadari ketika yang kita hempaskan sembarangan itu kembali kepada kita membawa bencana.
Aku pun harap-harap cemas kalau dia tidak datang lagi. Tidak menarik gerobak lagi. Dan tidak menyapaku dari balik jeruji garasi dengan suara parau.
read more...
Sunday, August 26, 2007
Alberto Knox
PEREMPUAN itu mengirimiku pesan pendek pada Jumat, 24 Agustus 2007 pukul 15:37:34 WIB. Pesannya pendek sekali. Membuatku mengernyitkan dahi sejenak. Mereka-reka apa maksudnya. Ia menulis seperti orang terkejut. Terkejut seperti Putri dalam dongeng yang baru mengenal seekor anjing yang selama ini menemaninya adalah seorang pangeran tampan. Atau seperti dua orang asal Emaus yang terkejut setelah seorang pemuda berwajah samar itu memecah-mecah roti pada sebuah meja makan dan mengenalnya sebagai Sang Juru Selamat. Keduanya terbelalak sampai pemuda itu pun raib dari penglihatan mereka.
Ia menulis seperti berikut: “Ya Tuhan...Kau adalah Alberto Knox! Tidak salah lagi!!”
Awalnya, aku bingung apa maksud pesan itu. Siapa Alberto Knox? Mungkin dia salah kirim SMS. Dipikir-pikir, kelihatannya aku agak familiar dengan nama itu. Otakku pun berputar-putar. Mengelana sejenak. Menjumput memori yang masih tersisa. Maklum aku sering diserang virus amnesia dadakan.
Lima menit berlalu. Akhirnya, aku tahu identitas Alberto Knox. Alberto Knox adalah salah satu tokoh rekaan Jostein Gaardner dalam novelnya berjudul Dunia Sophie (1991). Bacaan yang kubaca sejak lama. Alberto Knox adalah lelaki misterius yang gemar berkirim surat pada Sophie Amundsend. Lelaki ini terus berkorespondensi dengan Sophie tanpa langsung mengenalkan identitasnya. Seorang penulis tanpa nama.
Isi surat-surat lelaki misterius itu pun unik. Semua surat berisi pelajaran filsafat. Filsafat yang dikemas dalam cerita-cerita keseharian. Menarik. Unik. Sebuah petualangan di dunia ide yang menyenangkan. Dari ide-ide sebelum Socrates sampai ide eksistensialisme Jean Paul Sartre. Inilah kelebihan Gaardner. Ia mencoba menerjemahkan filsafat yang sering ditakuti itu menjadi cerita yang menarik. Gaardner adalah penulis kelahiran Oslo, Norwegia pada 1952. Karir sastranya ia mulai pada 1986 dengan antologi cerpennya. Pada 1990, ia dianugerahi Norwegian Literary Critics untuk novelnya berjudul The Solitaire Mystery. Sementara itu, Dunia Sophie atau dalam bahasa aslinya Sofie’s Verden menjadi best seller pada 1995. Mengalahkan novel The Celestine Prophecy karya James Redfield.
Lalu apa maksud perempuan itu mengirimiku pesan pendek seperti itu? Aku tidak paham betul siapa perempuan ini. Ia pernah aku temui dalam sepotong perjumpaan sehabis bertemu narasumberku di Mr.Been Cafe di Cilandak Town Square. Ini perjumpaan pertama. Itu pun berlangsung singkat ditemani segelas orange juice. Aku menjumpai dalam jarak dekat, sejauh 60 cm. Perempuan ini mungil. Berkacamata minus. Bertahi lalat kecil di parasnya. Berjaket ketat warna krem. Bersandalkan warna hitam dengan taburan gambar bunga/bintang warna-warni. Ia memberi sepotong sapa perkenalan. Ia adalah blasteran Manado-Jogja. Ayahnya seorang pemburu waktu. Mengelana di sudut-sudut metropolitan. Menjumput rezeki dari orang-orang yang minta diantar. Yang mengejutkanku, dia mengaku sebagai seorang pembacaku. Ia mengembara di labirin kata-kata yang kugoreskan dalam patahan-patahan cerita. Ia menganalisisku. Ia mendiskusikanku bersama koleganya. Ia menebakku. Mengira-ngira. Lalu, apa hubungannya dengan Alberto Knox, penulis misterius itu? Yang jelas, dia sendiri yang tahu.
Usai membunuh keingintahuanku itu, aku pun terus berlenggang. Menorehkan satu dua kata sebagai tanda keberadaanku. Jalan masih tampak tiada berujung.
read more...
Monday, August 20, 2007
Tenggelam Dalam Tugas Domestik
TIGA bulan terakhir ini, aku telah disibukkan tugas-tugas domestik. Segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah tangga. Bangun pagi sebelum bola raksasa bangkit dari Timur. Mengucap sepotong sapa untuk Sang Pemilik Malam. Mencuci muka dengan air kran kamar mandi. Menyalakan kompor gas dengan dua kali putaran. Menanak nasi. Menyeduh secangkir teh. Memanasi sayuran. Mendadar dua telor. Mengaduk susu cokelat dengan air panas. Membersihkan meja makan dari debu dan tisu. Menyiapkan hidangan itu di meja dengan rapi untuk ia yang tidak bisa bangun pagi. Sesekali menggertak tikus kecil yang ngumpet di balik mesin cuci. Mengusir semut yang mengerubungi sisa makanan yang jatuh di lantai atau gelas tempat sirup ABC yang tidak habis diminum.
Melihat jam dinding. Membuka gorden jendela. Melihat cicak lari terbirit-birit. Melihat sinar matahari yang mengelus pucuk-pucuk pohon tetangga. Mendengar Si Engkong membuka gerbang, menyetel lagu-lagu Mandarin dengan suara yang tidak kalau keras dari mikrofon masjid. Membuka pintu depan. Mematikan lampu. Menyiram enam pot tanaman. Mengeluarkan James, motor Hondaku. Sesekali menyalakan mesin pompa air merek DAB yang doyan rewel. Bolang-baling turbinnya harus diputar dulu dengan sepotong kayu berlumut.
Bergabung dengan kerumunan ibu-ibu di pasar yang jaraknya 100 meter dari rumah. Tinggal jalan 3 menit. Membeli 1 liter beras, 2 larik pisang, ½ kilo buah pir segar, 1 bongkah tempe, 1 bungkus bawang merah-bawang putih, 1 ons lombok rawit, dan sebagainya. Sesekali mendengarkan ceriwis berceloteh ibu-ibu muda. Sambil mencuri pandang pada ibu-ibu yang berparas lumayan dan berdandan seksi.
Akhir pekan, kerja bakti. Membersihkan rumah dari kulit kacang, plastik kresek hitam, bungkus wafer, kotak minuman kacang ijo, struk rental film Video Ezy, plastik makanan katering, bungkus burger crispy. Menunggu si tua tukang sampah menyeret gerobak dengan tertatih di depan rumah. Mengelap meja, tabung televisi, kipas angin, DVD player, sofa hijau di ruang tamu, merapikan buku-buku di perpustakaan pribadi. Menyapu. Mengepel.
Masih ditambah menyortir baju dan celana yang mau dimasukan dalam mesin cuci. Menunggu mesin cuci selesai membolak-balik cucian selama dua jam. Mengumpulkan hanger. Menjemur pakaian. Memburu nasi padang atau soto Surabaya untuk makan siang. Membayar biaya listrik dan telepon. Membayar iuran keamanan bulanan Rp 10 ribu tiap minggu pertama dalam bulan.
Malam hari suasai ngantor. Menyiapkan makan malam. Menyeduh susu cokelat untuk orang terkasih. Membawa oleh-oleh. Memasukkan sayur untuk esok hari dalam kulkas. Bercerngkerama sejenak untuk sepotong perjumpaan dan cerita hari itu. Menonton kinclongnya gigi Thukul dalam program Empat Mata. Mematikan lampu kamar. Mengusapi lengan tangan dan kaki dengan sofell. Kalau ada waktu dan sisa energi, aku menulis. Ditemani Nutrisari hangat rasa jeruk nipis atau seduhan beras kencur ala Sido Muncul dengan tiga bongkah kecil es batu. Lalu menyapa sejenak pada Sang Pemilik Malam. Mendaratkan tiga kecupan. Mengucapkan selamat malam & selamat tidur.
Begitu seterusnya. Inilah rutinitas baruku di samping kerjaan pokok sebagai penulis. Awalnya, memang sangat membosankan. Rasanya ingin hengkang dari rumah itu dua atau tiga bulan lamanya. Maupun terbang seperti burung yang gemar menari-nari di atas loteng rumah tiap senja tiba. Tapi, gelora cinta itu lebih besar ketimbang rasa bosan.
Aku tersemangati oleh masa lalu. Di asrama, tugas-tugas rumah tangga itu sudah biasa dilakukan. Itu pun bagian dari doa. Inilah pembelajaran hidup yang amat berharga. Kecil tapi besar. Sepele tapi sangat berharga. Aku sedang belajar seperti Maryam, ibu Isa. Ia melihat segala peristiwa dan menyimpannya dalam hati serta merenungkannya. Belajar mencinta. Belajar setia.
Semua itu demi peri kecilku!
read more...
Thursday, August 16, 2007
Putri-putri Merah Putih
PAGI ini jalanan samping rumah tampak riuh oleh suara anak-anak. Niat untuk pergi ke pasar membeli beras dan pisang sejenak urung. Matahari masih ngumpet di balik loteng. Empat gadis cilik mengerubungi sebuah tongkat panjang. Satu orang memegangi sebuah kain warna merah putih. Mereka berceloteh riuh tak keruan. Tampaknya mereka beradu argumen bagaimana bendera itu bisa dikibarkan. Satu menyalahkan yang lain dan sebaliknya. Tapi aura keceriaan menempel erat di wajah-wajah polos itu.
Tali-tali bendera diikat ditongkat. Dilepas lagi karena kurang pas. Lalu dipasang lagi. Kurang pas lagi. Sekitar 15 menit kemudian, teriakan meledak dari mulut mereka bersama tepuk tangan. Bendera itu akhirnya dapat diikat dengan sempurna. Cekikikan pun berderai. Lalu bendera yang terikat itu diarak di jalanan dan lenyap di kelokan sebuah gang.
Drama singkat pagi itu sangat menarik. Kenangan masa kecil saat 17-an sontak menguar. Sempat sebuah pertanyaan lewat dalam benak. Apa yang ada di dalam benak anak-anak itu tentang arti kemerdekaan? Mungkin keceriaan. Mungkin bendera merah putih yang melambai-lambai. Mungkin lomba makan kerupuk. Lari kelereng. Balapan karung. Upacara bendera. Panjat pinang. Kepolosan. Libur sekolah. Gegap gempita. Macam-macam.
Sepotong rasa prihatin menyelinap di benakku. Mungkin mereka tidak menyadari betapa masih jauhnya cita-cita kemerdekaan itu terwujud konkret di negeri yang memproklamirkan kemerdekaan sejak 17 Agustus 1945 ini. Seorang kolumnis menulis di Kompas hari ini dengan judul “Terlunta di Negeri Merdeka.” Tulisan tentang sisi-sisi ironis di sebuah negeri merdeka. Indonesia.
Sementara itu, dunia anak-anak di negeri ini pun masih jauh dari kondisi ideal. Mungkin keempat gadis cilik pengibar bendera itu tidak tahu kalau teman-temannya di daerah lain sedang mengalami kekerasan. Perdagangan anak-anak dan perempuan masih marak. Anak-anak lain masih dipekerjakan menjadi buruh pabrik murah. Kejahatan seksual pada anak-anak marak terjadi. Remaja putri di Kabupaten Indramayu terancam seleksi keperawanan atas inisiatif bupatinya. Kemanusian anak-anak perempuan itu pun masih dilihat sebelah mata oleh para penafsir agama yang bodoh. Kelincahan mereka terganjal oleh perda-perda beraroma agama.
Apa yang akan terjadi pada mereka dan anak-anaknya 50 tahun mendatang? Apakah mereka masih hidup di lingkungan yang layak? Sementara itu, korupsi semakin menggila. Kekayaan alam dikuras oleh korporasi rakus. Pohon-pohon ditebangi. Musim carut marut. Badai datang tiba-tiba. Udara semakin gerah. Jalanan super mampat penuh jelaga beracun. Tempat tinggal semakin sempit lantaran penguasa gemar menanami vila-vila dan perumahan mewah cum mahal. Mal-mal mengepung dan menjepit dari berbagai arah.
Nah, apakah keempat gadis cilik itu 50 tahun mendatang masih mampu mengikat merah-putih pada sebuah tongkat di samping rumahku dengan wajah ceria? Itu saja kalau rumah itu masih ada dan tidak digusur. Lima meter depan rumah persis sudah berdiri tembok tinggi kokoh melingkari perumahan baru. Villa Kebon Jeruk. Satu rumah besar nyaris selesai dibangun. Bertengger angkuh. Tak tertutup kemungkinan, kelak, perumahan mewah itu akan melebar. Menggusur rumah tinggal kami.
Quid agendum? Apa yang akan kita perbuat? Kalau kita tidak berbuat apa-apa artinya kita ikut andil merampok masa depan anak-anak itu!
read more...
Thursday, August 09, 2007
Riyo Mori
BARU kali ini aku nguber-uber tokoh dunia. Riyo Mori, Miss Universe 2007. Rabu, 7 Agustus 2007, matahari masih menggantung rendah di balik bukit Sentul. Redaksi memintaku wawancara eksklusif dengan Ratu Sejagat asal Shizuoka, Jepang itu. Tapi, jelas tidak mungkin untuk sepotong pembicaraan eksklusif. Selain tidak ada deal-deal khusus redaksi, penjagaannya pun lumayan ketat. Dua bule kepala pelontos tampak seperti guardian angel Riyo Mori.
Gara-gara Riyo Mori, aku harus bangun pukul 4 pagi. Memanasi 2 macam sayuran untuk sarapan pagi. Menyeduh secangkir teh. Mendadar 2 telor ayam. Menanak nasi dalam rice cooker. Dan menyajikannya dengan rapi di meja makan. Aku sendiri tidak sempat mencicipi hidangan itu. Keburu mandi. Mendaratkan satu kecupan di kening orang terkasih. Trus bergegas meluncur ke kantor untuk mengejar sebuah tumpangan ke Sentul. Tempat Putri Negara Matahari Terbit itu mau menanam pohon dalam acara Go Green.
Bola rakasasa semakin meninggi. Panas mulai menggerayangi punggung. Aku dan temenku fotografer pun bangkit. Mencari sebuah teduhan. Riyo Mori pun belum nongol juga. Seorang wartawan dari Harian Suara Karya menawari sebuah undangan minum kopi. Kami pun menuruni bukit. Menemui sebuah warung kopi di ujung jembatan.
“Aku pesan satu jepretan saat aku wawancara atau di dekat Riyo Mori, ya!” pintaku pada temen fotografer. Maklum, aku mendadak terkena sindrom pengabadian bersama selebriti dunia itu.
15 menit berlalu. Aku sudah berada kembali di bawah tenda utama. Tak lama, rombongan Riyo Mori pun tiba. Riyo Mori hadir di depan mataku didampingi Putri Raemawasti sebagai Putri Indonesia 2007 dan Asyera Riza Pitaloka selaku Putri Lingkungan 2007. Riuh rendah suara dari bibir anak-anak SD dan lambaian bendera Merah Putih menyambut Mori yang dibalut oleh busana serba hitam itu.
Menurutku, wajahnya cukup familiar. Tidak begitu cantik. Tapi anggun. “Wajah seperti itu, di blok M banyak. Tapi, bedanya, dia pintar,” kata temanku meledek. Tapi, kelihatannya, semua mata tak bergeming saat Riyo Mori berdiri memberi sepotong sapa. Sungguh sexy. Kain hitam yang menutupi tubuhnya terlalu pendek untuk sepasang kaki jenjang dan putih. Belum bando hitam yang melingkar di kepala, tempat bibirnya mengukir senyum khas perempuan Asia.
Lebih-lebih, saat perempuan kelahiran 24 Desember 1986 itu menenam pohon. Ratusan pasang mata dan puluhan kamera semua tertuju padanya. Gaun dengan potongan rendah itu tak kuasa menutupi dadanya. Belahan dadanya begitu tegas. Membuat sebagian peserta Go Green tak bergeming. Lupa akan matahari yang mulai merangkaki puncak. Menyulut panas di sekujur tubuh. Dasar laki-laki!
Dengan bahasa Jepang dan didampingi seorang penerjemah, Riyo Mori memberi sepotong sapa. Ia mulai bicara tentang busana tradisional Indonesia. Tentang HIV-AIDS. Tentang global warming. Semua berjalan singkat. Sehabis menanam pohon, sosok Riyo Mori pun lenyap di balik gundukan bukit.
Sore hari, seorang panitia memberi kesempatanku mewawancarai Riyo Mori di Hotel Nikko Jakarta. Katanya, hanya 5 media yang diundang untuk wawancara khusus. Pukul 16.00, aku pun tiba di Ballroom Nikko. Tapi, Riyo Mori tampil dalam acara fashion show yang digelar Accent, merek busana perempuan ternama di tanah air. So, tidak ada jeda untuk interview dengan wartawan. Kali ini, ia tampil sangat cantik. Diam-diam, aku pun mengaguminya.
Ya, sudah. Aku pun duduk manis menyaksikan fashion show itu. Lumayanlah, sekalian memanjakan mata dengan liak-liuk gerak para model memerkan busana. Sempat kaget juga ada seorang model yang terjungkal di panggung lantaran licin. Membuat terhenyak dan rasa iba. Ada-ada saja.
Berpose bersama Riyo Mori pun tidak kesampaian. Gara-gara temen fotograferku disibukkan dengan Putri Indonesia. Tapi, aku mampu menerobos kerumunan, mengenyahkan dua bule berkepala pelontos, dan menyalami Riyo Mori. Sebuah sapaan “hey” meluncur dari bibirnya bersamaan dengan tangannya menyambut hangat tanganku. Kami beradu pandang dan saling melempar senyum. Sebelum dua sosok bule pelontos itu menggiringnya menuju hotel. Senyum itulah yang belum juga hengkang dari kepalaku. Andai saja...
Riyo Mori dinobatkan sebagai Miss Universe pada Mei 2007. Sebelum menjadi model, Mori dikenal sebagai penari sejak usia 4 tahun. Dia belajar tari di Quinte Ballet School of Canada. Katanya, dia masih menyimpan sepasang sepatu belajar balet pertamakalinya. Digelari Miss Jepang pada 15 Maret 2007.
Riyo Mori. Riyo Mori. Jelas, dikau tak bakalan kulupakan. Kamu telah membuatku bangun pukul 4 oagi. Memanasi 2 macam sayuran untuk sarapan pagi. Menyeduh secangkir teh. Mendadar 2 telor ayam. Menanak nasi dalam rice cooker. Uhh!
Sepotong Cerita dari Diary Kumal
Buku itu aku tulis di tahun pertama hidup di asrama di Magelang, Jawa Tengah. Asrama yang 99% dihuni oleh mahkluk berkelamin laki-laki. Asrama yang mengajari kami bangun pukul 4.30 pagi, mengepel gang-gang asrama, sembahyang pagi, dan menulis sebelum sarapan. Kebiasaan menulis buku harian inilah yang membuatku ketagihan menulis. Tak disangkal, hidup memang sebuah rangkaian cerita.
Selasa, 9 November 1993, seperti tertulis dalam buku harian itu, aku merayakan ulang tahunku ke-17. Katakanlah, sweet seventeen. Tidak ada pesta cokelat di sana. Tidak ada kue tart. Tidak ada nyala lilin untuk sebuah tiupan. Tidak ada kartu ucapan. Tidak ada kecupan. Rupanya, aku sedang sakit dan harus berbaring di valet, ruang khusus untuk merawat siswa sakit.
“Hari ini, hari ulang tahunku. Ibuku dan ayahku bergembira karena kedatanganku di bumi ini. Hari baru ini aku buka justru dengan berdoa di kapel Josep di valet karena aku sakit...”
Ternyata, aku sakit sejak 8 November 1993. Penyakitnya masih sama seperti yang sering aku alami sekarang, yakni diare, maag, dan kembung. Penyakit yang oleh para kolega disebut dengan penyakit dunia ke-III. Pada hari itu, aku menulis:
“Dari pagi, aku di valet. Aku tidak masuk sekolah. Perutku sakit sekali. Diare, maag, kembung. Aku sering pergi ke belakang. Bahkan, belum sampai tujuan, itunya sudah go out...Saya tahan ini sambil deg-degan. Jangan-jangan, ketahuan teman...”
Lucu sekali. Aku tertawa sendiri saat membacanya. Di catatan 9 November, ternyata aku orang yang nekat. Buku itu bicara seperti ini:
“Hari ini pula, aku berangkat sekolah walaupun badanku terasa dingin. Dan saat itu ada ulangan sejarah dunia. Namun, semoga saja dapat nilai baik. Tidak luput pula aku disalami teman-temanku.”
Banyak cerita dalam buku harian itu. Kebanyakan cerita sudah di luar daya ingatku. Cerita pergulatan di masa-masa awal masuk asrama, berpisah sama keluarga, bertemu dengan kawan baru. Cerita tentang suster ngesot, suster berwajah rata, tanpa mata, hidung, dan mulut, yang gemar bergentanyangan di gang-gang asrama. Tentang Jojo, anjing bulu cokelat penjaga asrama yang gemar menjerit keras saat lonceng kapel berdentang. Tentang guru olahraga yang gemar melontarkan kata-kata jorok. Tentang teman-teman yang drop-out lantaran nilai Bahasa Latin. Tentang seekor ulat hijau yang teronggok dalam sayur sawi, menu makan siang. Dan banyak cerita lainnya. Dari buku kumal itu, semakin kusadari kekuatan sebuah tulisan. Tulisan mampu membangkitkan kesadaran akan masa lampau. Masa lampau yang suka dilupakan orang. Mungkin dari sinilah, arti keabadian sebuah tulisan yang diamini oleh mendiang Pramoedya Ananta Toer.
