Monday, July 14, 2008

Ekologi di Mata Kartunis

SEBUAH siang yang meranggas. Dua sosok manusia, lelaki dan perempuan, tengah telanjang bulat di tengah hutan. Kegerahan. Kedua tangan mereka berupaya menutupi kemaluan masing-masing. Di benak mereka, muncul gambar daun yang bisa digunakan untuk menutupi kelaminnya. Sayang sangat disayang, mereka tidak menemukan selembar daun pun lantaran seluruh pohon sudah ditebang. Hutan benar-benar gundul. Tak tersisa!

Itulah yang diceritakan Muhammad Nasir dalam kartunnya berjudul “Tak Tersisa”. Kartun Nasir ini mengingatkan kita pada kisah manusia pertama di Taman Eden, Adam dan Hawa. Usai mereka jatuh ke dalam dosa, mereka menyadari diri mereka telanjang. Karena malu, keduanya membuat cawat dari daun. Gambar Nasir adalah satir atas Taman Eden, taman yang konon katanya sangat rindang, subur, berlimpah susu dan madu. Tapi, di tangan Nasir, taman itu telah kerontang. Selembar daun pun tidak disisakan. Semua ludes.

Meski terbuka pada multitafsir, kartun Nasir berbicara satu topik, yakni ekologi. Kartu Nasir itu menjadi salah satu kartun yang dipamerkan dalam pameran kartun berjudul “Eko-komunikasi” di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), 11-17 Juli 2008. Di samping karya Nasir, puluhan kartun yang dipamerkan itu adalah buah tangan kartunis kondang GM Sudarta, Hanung Kuncoro, Jitet Koestana, Didie SW, dan Tommy Thomdean.

Pameran kartun ini merupakan salah satu kampanye mencintai linkungan hidup yang sudah jamak dilakukan di berbagai belahan dunia. Dengan nada humor, pesan moral bisa disampaikan dengan ringan dan mengena. Kartun bisa mengandung kritikan pedas meski dibalut dengan kejenakaan. Itulah yang disampaikan kurator Efix Mulyadi dalam handbook pameran tersebut.

Bagi Efix Mulyadi, tugas para kartunis tidak jauh berbeda dengan tugas suratkabar, yakni mempersoalkan, mengingatkan, menyentil, memprotes, sekaligus melakukan kritik. “Sepanjang masih ada penggundulan hutan, perusakan terumbu karang, pencemaran sumber air, pemusnahan hewan langka, dan sebagainya, para pekartun tetap mendapatkan energi untuk berkarya,” katanya.

Sementara itu, tema “Ekomunikasi” merupakan paduan dari kata “ekologi” atau “ekosistem” dengan “komunikasi.” Seluruh kartun merupakan refleksi dan keprihatinan para kartunis atas kondisi lingkungan hidup yang kian parah ini. Ini merupakan wujud kejelian kartunis dalam membaca fenomena sosial yang kadang lepas dari pandangan khalayak.

Mari kita tengok karya GM Sudarta berjudul “Tawa Terakhir.” Gambar ini mengingatkan kita pada kisah penyelamatan manusia dari banjir bah oleh Nabi Nuh dengan kapal raksasanya. Di sana, tampil sebuah kapal besar di atas bongkahan es berisikan aneka macam satwa. Di samping bawah kapal, tampak dua lelaki dan satu perempuan tertawa terbahak. Seolah tidak peduli dengan bahaya yang sedang mengancam. Di depan mereka, berdiri seekor beruang kutub dengan tongkat di tangan dan memandang manusia itu tanpa ekspresi. GM Sudarta mengambarkan si beruang dengan lebih arif ketimbang manusia yang nota bena adalah aktor utama perusakan lingkungan. Gambar “Iniah Bumiku?” menjadi gambar lain pencipta ikon Om Pasikom di Harian Kompas dan kini tinggal di Jepang itu. Gambar ini memotret seorang anak kulit hitam dengan badan kurus. Perut buncit berbentuk bola dunia. Tangan kiri memegang semangkuk penuh butiran peluru. Tangan kanannya siap memasukkan sebuah granat ke lubang mulutnya.

Jitet Koestana tampil dengan karya seperti “Revolusi Hijau”, “Rewriting History”, “Semburan Kematian,” dan sebagainya. Revolusi Hijau berkisah tentang ledakan bom atom raksasa di mana cendawan raksasanya berisi jutaan pohon. Dalam gambar ini, Jitet seolah ingin memadukan dua kekuatan yang saling berlawanan, yakni pepohonan sebagai simbol kehidupan dengan bom atom sebagai simbol kematian. Ironisme dalam sebuah kartun. Gambar ini berhasil memenangi medali emas dalam festival kartun Internasional di Seoul pada tahun 1997. Sementara itu, Rewriting History mengambarkan sesosok tentara yang berdiri di sebuah bongkahan kayu, kedua tangan memegang gergaji mesin, dan helm tentara yang ditumbuhi dengan sebuah bunga mekar. Gambar ini menyabet medali emas Cordoba International Cartoon di Argentina pada tahun 2000. Asal tahu saja, lelaki kelahiran Semarang tahun 1967 ini pernah dianugerahi MURI sebagai kartunis peraih penghargaan internasional terbanyak (49 buah). Terakhir ia menyabet Grand Prize dalam 8th Tehran Cartoon International Biennial 2007 dan First Prize dalam 9th Caratiga International Comedy Exibition 2007 di Brazil.

Muhammad Nasir memukau dengan kartun-kartun bertema hutan. Selain gambar “Tak Tersisa”, kartunis kelahiran Kendal tahun 1968 ini tampil dengan kartun “Paru-paru Sakit.” Di sini, Nasir menggambar sebuah pulau berbentuk paru-paru manusia dengan batangan pohon-pohon yang habis di tebang dan dikelilingi lautan biru. Tampaknya, Nasir mau mengangkat kasus ilegal logging yang membuat hutan sebagai paru-paru dunia menjadi sakit. Ada lagi “Hutan Mebel” yang melukis seekor gorila yang kebingungan mencari pohon untuk bergelantungan. Pohon-pohon sudah ditebang dan dijadikan mebel. Gambar lain adalah “Gunung Pencaharianku.” Di sini, keluarga miskin berhasil menaiki gunung sambil membentangkan bendera merah putih. Gunung itu tak lain adalah tumpukan limbah industri, plastik, produk-produk pabrik, dan sebagainya. Ilustrator Tabloid Bola ini pernah mendapat penghargaan Honorable Mention dalam festival kartun The Yomiuri Shimbun (1992), Selection Comites Special Prize festival kartun Manga di Jepang (1995).

Gambar Penguin yang mencopot kulit luarnya karena kegerahan menjadi satu kartun karya Didie SW berjudul “Climate Exchange.” Di situ, tiga ekor penguin sedang kegerahan dengan keringat mengucur dari seluruh permukaan tubuhnya. Si penguin pun mengatasinya dengan mencopot kulit tebalnya. Gambar ini bagi Didie merupakan gambaran perubahan iklim. Bumi kian panas. Es di kutub semakin habis. Cuaca semakin semerawut. Global warming itulah yang dipotret dalam gambar kartunis kelahiran tahun 1970 itu. Efek global warming itu juga muncul dalm kartunnya berjudul “Sisa Kehidupan.” Di sini, seekor induk beruang kutub sedang memandang lemah anaknya di sebongkah salju kecil. Sebongkah salju yang hanya bisa ditempati mereka berdua. Si anak beruang memanggil “mamaaa” seolah ingin minta perlindungan. Sementara es di sekitarnya sudah mencair. Karya Didie lainnya, antara lain “Nyanyian Bumi,” “Carrying a Pace”, “Klimax”, “New Evolution”, “Water Crisis,” dan sebagainya. Didie pun menggondol berbagai penghargaan bergensi, seperti The Best Cartoon of Nippon (1997), 3th Place Surgun Karikaturlery (Turki, 2007), dan 1st Place Tehran Cartoon Biennial 2008.

Tommy Thomdean tampil dengan “The Sinking”. Di sini, terhampar hutan hijau seperti lautan. Di atasnya, sebuah benda mirip kapal dengan cerobong-cerobong industrinya nyaris tenggelam. Tommy seakan mengajak orang mawas diri pada kondisi hutan. Pemangkasan hutan sembarangan tak lain adalah agenda bunuh diri massal. Gambar ini menyabet First Prize Amazon Forest Brazil Cartoon Contest 2007. Tommy juga mengambarkan duka lara akibat lumpur Lapindo dengan gambar yang ia beri judul “Air Mata Sidoarjo.” Di sini, tampak seorang warga yang menangis keras dengan mulut menganganga dan lumpur keluar dari kedua bola matanya. Ada lagi “Menanti” yang menggambarkan sebuah pohon yang meranggas di hutan gundul dan menantikan curahan air dari awan yang berbentuk keran air. Gambar “Well Done!” menggambarkan seorang lelaki berbusana bos pemilik modal dengan mata mendelik, mulut terbuka, gigi runcing, dan lidah menjulur sedang memainkan boneka penebang. Di samping kanan dan kirinya berdiri sambil tertawa seorang berseragam militer dan polisi. Gambar ini seakan menjadi sebuah analisis sosial dari Tommy bahwa kehancuran ekologi disebabkan oleh keserakahan para pemilik modal yang berselingkuh dengan aparat yang sering diasosiasikan dengan bahasa kekerasan. Tommy meraih penghargaan dari3 th Prize Pen Syria Cartoon Festival (2007), 1st Prize Gag Cartoon di World Press Cartoon di Portugal (2007), dan 1st Prize Amazon Forest Brazil Cartoon Contest di Brasil (2007).

Hanung Kuncoro hadir dengan kartun-kartun simpelnya. Ambil contoh “Pembalak Liar.” Gambar ini menunjukkan seorang pembalak liar tertawa puas usai menebangi seluruh pohon. Dengan pongah dan membela diri, ia mengatkan, “Saya jamin! Kebakaran hutan yang sering terjadi di kawasan ini tidak bakal terjadi lagi!!!” Sebuah karikatural yang lucu, satir, dan menohok. Ada lagi karya “Bike to Work” sebagai gambaran kemacetan yang melanda ibukota dan memaksa seorang terpaksa bersepda ke kantor. Itu pun harus memanggul sepedanya lantaran kemacetan total. Asal tahu saja, Hanung Kuncoro adalah pencipta tokoh Si Gundul sebagai maskot bola dalam sepabolaria di Tabloid Bola.

Itulah potret problematika lingkungan hidup di mata para kartunis. Kartun-kartun itu bukan sekadar tontonan yang membuat kita mengelus dada. Lebih dari itu, para kartunis justru ingin mengundang pengunjung pameran untuk tetap optimis. Persis seperti yang dikatakan Efix Mulyadi, seberapa pun tajam pena dan kuas sang kartunis, tetaplah ada celah untuk tersenyum. Ini menjadi sangat penting karena justru ini yang mendorong terbitnya optimisme. Di tengah rusak dan carut marutnya lingkungan, masih ada harapan akan esok yang lebih baik!

Ajakan untuk hidup lebih baik lagi. The other world is possible!


[Tulisan ini pernah dimuat di Koki KOMPAS, 15 Juli 2008
Sumber: http://community.kompas.com/read/artikel/677]

read more...

Monday, June 16, 2008

Opiniku di Koran Sinar Harapan

SAAT sedang iseng mengelana di lorong-lorong mesin pencari Google, tidak sengaja aku menemukan namaku di website koran Sinar Harapan, koran nasional yang terbit sore hari. Nama itu muncul di rubrik opini tempat artikel opiniku dimuat. Judulnya “Martir-martir Dialog.” Opini itu dimuat pada Kamis, 21 Februari 2008.

Aku sendiri heran kenapa pihak Sinar Harapan (SH) tidak langsung memberitahukan kalau artikelku jadi dimuat. Baru hari ini, 17 Juni 2008, aku menelepon pihak SH. Hari ini pula, pihak redaksi berencana mentransfer honor tulisan itu. Menurut info seorang kawan, tidak semua media langsung memberitahu kepada penulis kalau naskahnya dimuat. Bahkan, pada taraf tertentu, si penulis itulah yang proaktif mencari tahu apakah naskahnya dimuat atau tidak dalam rentang dua minggu setelah pengiriman naskah. Yah, mungkin inilah salah satu risiko menjadi salah satu penulis lepas di negeri ini. Tidak seideal yang dibayangkan sebelumnya. Intinya, tidak menjadi masalah bagiku sekarang. Dengan dimuatnya opiniku di SH justru semakin menantang aku untuk giat menulis kembali. Bahkan, ada energi membuncah untuk meluberi koran-koran lain dengan kata-kataku.

Tulisan “Martir-martir Dialog” aku tulis pada saat pemerintah kota DKI Jakarta lagi gencar melakukan penggusuran para pedagang kaki lima. Dari Barito Blok M sampai pasar keramik Rawasari. Menariknya, peristiwa penggusuran ini dilakukan di awal pemerintahan gubernur DKI yang baru, Fauzi Bowo yang pernah berjanji tidak akan ada lagi penggusuran di Jakarta seperti yang dilakukan pendahulunya Sutiyoso. Aku mengerangkai tulisan ini dalam sudut pragmatisme dan utilitarianisme pembangunan megapolitan Jakarta. Intinya, pembangunan Jakarta cenderung menafikkan suara dan kebutuhan warga sebagai penghuni. Pembangunan hanya demi kepentingan para teknokrat, pemilik modal, dan penguasa. Jakarta memang bukan untuk semua!

Berikut adalah nukilan tiga alenia terakhir opiniku tersebut:

Dengan demikian, pembangunan demokratis yang berbasis kepentingan dari, oleh, dan untuk rakyat hanyalah semu belaka. Dalam proses pembangunan kota ini, para warga jarang dilibatkan sebagai subjek yang aktif untuk turut menentukan arah kebijakan. Ruang partisipatif sudah ditutup seawal mungkin.

Demokrasi memang bukan milik rakyat kecil. Demokrasi cenderung milik para elit, elit pemerintahan, elite teknokrat, dan elit pemilik modal.

Mungkin, Kota Jakarta akan benar-benar menjadi sebuah megapolitan, tapi megapolitan tanpa roh. Sebuah kota yang dibangun jauh dari proses pembangunan yang berkeadilan. Jakarta memang bukan untuk semua!

Tulisan utuhnya bisa dilihat di http://www.sinarharapan.co.id/berita/0802/21/opi01.html

read more...

Sunday, June 15, 2008

Ibu Peri Menulis

ADA hal yang membuatku surprise minggu ini. Ibu peri menulis. Oya, aku kembali menggunakan sapaan ibu peri seturut permintaannya. Padahal sejak Jagad lahir, aku mau mengganti istilah ‘ibu peri’ dengan mama Jagad. Tapi, tidak begitu masalah. Toh, sama-sama menunjuk satu orang.

Di sebuah petang, usai menghalau rasa capek akibat naik motor dari kantor di Kelapa Gading ke rumah Kebon Jeruk, aku ditanyai oleh ibu peri. “Mas, kalau mau ngirim tulisan di Kompas anak, aku harus menulis berapa halaman?” katanya.

Sontak pertanyaan ini membuatku terkaget-kaget sekaligus heran. Tumben ibu peri melontarkan pertanyaan yang tidak pernah kubayangkan. Ibu peri mengaku sedang membuat sebuah cerita pendek. Ini yang lebih mengejutkanku, yakni ibu peri menulis. Roh apa yang merasuki istriku sehingga membuat jari-jarinya mau menari-nari dan meninggalkan jejak berupa tulisan? Rasa heranku berubah menjadi rasa senang bercampur bangga.

Ibu peri bercerita bahwa ia menulis saat siang tiba. Siang di mana Jagad sedang asyik memeluk guling kecil ditemani oleh boneka anjing dan tertidur dalam iringan musik klasik. Ia merasa tiba-tiba ada ide yang menghujani batok kepalanya. Lama sekali aku tidak melihat ibu peri duduk di depan laptop dan menulis.

Petang itu, ia langsung membuka laptop dan menunjukkan karya yang 90% hampir jadi. Judulnya “Janji Martin.” Menurutku, tulisannya cukup bagus. Idenya cukup cerdas. Tapi, masih perlu memoles dan berlatih terus menghindari kalimat panjang dan bersayap sekaligus sesuai dengan standar ejaan yang disempurnakan.

“Martin, kenapa mainanmu rusak lagi?

"Kemarin boneka gorila. Sekarang robot. Mbak jadi bingung!”
Lagi-lagi nada kesal keluar dari mulut Narsih, pengasuh Martin. Bagaimana tidak bingung, hampir setiap hari ada saja mainan yang dirusak Martin. “Ah, biarin aja. Gak papa. Kalau dilempar-lempar juga gak nangis!” Selalu saja itu alasan yang keluar dari mulut Martin untuk membela diri.

Martin adalah anak tunggal. Ia merasa bebas memperlakukan boneka-bonekanya sesuka hati. Toh, pikirnya, jika rusak papa dan mamanya pasti akan membelikan yang baru. Memang orangtua Martin adalah orang kaya. Setiap Martin merengek minta mainan baru, esok harinya pasti mainan itu sudah ada di kamarnya.

Itulah tiga alinea pembuka dalam cerita pendeknya. Alurnya cukup bisa diterima. Nama Martin, karakter utama dalam cerpen itu, diambil dari nama anak sahabatnya, Bang Boston. Bahkan, ia minta izin dulu menggunakan nama itu.

Ibu peri menunjukku sebagai editornya. Aku pun melakukannya dengan senang hati. Saat kutanya apakah tulisan ini jadi dikirim ke koran atau tidak, ibu peri menjawab mantap ‘jadi!’ Bahkan, ia tampak ngotot agar tulisan itu dikirim ke Kompas Anak. Ia mempunyai dua opsi media, yakni Kompas Anak atau Majalah Bobo.

Kuakui, ada potensi menulis di dalam diri ibu peri. Dulu, saat masih pacaran, kita senang bertukar tulisan di email pribadi. Bahkan, aku dan dirinya sama-sama mempunyai blog. Sayang sekali, karena kesibukkan saat itu, bekerja sebagai internal auditor di Hotel Nikko Jakarta berlanjut sebagai store controller di head office Carrefour di Lebak Bulus, membuatnya tidak mempunyai waktu untuk menulis. Saat masih menjadi internal auditor, aku sendiri belajar banyak tentang tulisan investigasi darinya. Pasalnya, dia lebih jago tentang investigasi keuangan, paper trails, dan sebagainya. Lulusan Akuntansi Unversitas Katolik Atmajaya Jakarta ini mempunyai kemampuan analisis lebih ketimbang diriku. Baru setelah ibu peri melepaskan pekerjaan sementara demi perkembangan Jagad, ia mempunyai kesempatan untuk menumpahkan ide-idenya dalam tulisan.

Malam-malam belakangan ini, sambil menunggu pertandingan bola Piala Euro 2008, aku dan ibu peri sering mengobrol soal tulisan. Bahkan, ia mempunyai stok ide cerita anak yang siap dijadikan tulisan. Bahkan, dengan nada menantang, ibu peri siap ‘mentraktir’ jika tulisan dimuat di koran. Pokoknya laptopku selalu terbuka untuk ia pijit-pijit. Semoga optimisme dan gairah ini tetap terpelihara langgeng. Termasuk ketika ibu peri bekerja lagi. Jujur saja, melihat niat menulis ibu peri, membuat animo menulisku kembali bergairah.

Sebagai bentuk dukungan, aku pun memberikan buku-buku yang bisa membangkitkan ‘napsu’ menulis. Satu buku karangan A.S. Laksana berjudul “Creative Writing” (2006) terbitan Media Kita dan “Chicken Soup for the Writer’s Soul” (2007) terbitan Gramedia.

“Menulis adalah satu-satunya tempat aku bisa menjadi diriku sendiri dan tidak merasa dihakimi. Dan aku senang berada di sana,” kata Terry McMillan, seorang penulis Amerika. Aku pun merasa demikian.

read more...

Mentor Menulis di SMU Santa Ursula

INILAH kesekian kalinya aku menjadi mentor penulisan. Sore itu, saat mengendarai James motorku, seorang rekan dari Wikimu meneleponku. Intinya, ia menggundangku untuk terlibat dalam pelatihan penulisan opini dan berita di SMU Santa Ursula (Sanur), Jakarta pada 6-7 Juni 2008. Undangannya aku sambut dengan semangat. Sekalian belajar mengajar dan berbagi ilmu.

Tahun lalu, bersama seorang sahabat, aku juga mengisi sesi pelatihan menulis untuk anak-anak SMP di Sekolah Candle Tree, Serpong. Topiknya hampir sama, seputar menulis opini dan berita. Di Serpong, kami hanya berdua dan mengajar sekitar 70 siswa. Di Sanur, ada beberapa wartawan yang tergabung di tim Wikimu, termasuk dari Tempo, Koran Tempo, dan Swa.

Pada hari pertama pelatihan, aku mengajar 30-an siswa kelas I SMU. Kubawa tiga merek koran nasional di kelas sebagai media peraga, yakni Kompas, Koran Tempo, dan Rakyat Merdeka. Lalu kubawa mereka pada slide untuk memahami apa itu jurnalisme, mengapa berita perlu ditulis, apa fungsi berita, apa itu berita, bagaimana mencari dan menulis berita, dan sebagainya. Sesi kedua, aku antar mereka pada cara membuat sebuah opini di media.

Kelas di hari pertama cukup lancar. Anak-anak cukup menaruh perhatian, meski beberapa anak lebih senang sibuk dengan coretannya sendiri. Sebenarnya, waktu empat jam untuk sebuah pelatihan menulis yang terdiri dari teori dan praktik sangatlah pendek. Oleh karena itu, butuh seni tersendiri. Beda dengan yang aku lakukan di sekolah Candle Tree Serpong. Waktunya cukup panjang dan ada praktik membuat koran dinding per kelompok.

Tapi, ada hal baru dalam pelatihan menulis kali ini. Pihak Wikimu, portal jurnalisme warga dan yang menjadi patner pihak Sanur dalam pelatihan ini, memberi kesempatan siswa mengirim tulisan untuk diterbitkan langsung ke Wikimu saat itu juga. Dengan demikian, siswa dilatih untuk mencari berita, menulis berita atau opini, dan mengirimkannya ke redaksi Wikimu. Evaluasi tulisan dilakukan saat tulisan mereka sudah tampil di media online tersebut. Pada saat itulah, siswa diperkenalkan dengan penulisan di media on line sekaligus jurnalisme warga atau citizen journalism.

Beberapa siswa sudah mampu menangkap ide berita dengan baik. Minimal bisa membedakan mana yang layak diberitakan dan mana yang tidak. Ada yang menceritakan dampak kenaikan BBM terhadap uang saku dan kegiatan liburan keluarga. Ada pula yang bercerita tentang pengalamannya live in di Yogyakarta. Ada yang bercerita tentang pertandingan bola Euro 2008. Dan sebagainya.

Pada hari kedua, aku mengisi kelas II SMU jurusan IPA. Tidak disangka kecepatan menulis kelas ini masih kalah dengan adik kelas mereka. Ide-ide mereka cukup bagus. Tapi, mereka terlalu sibuk memikirkan ide dan lamban dalam menulis. Akibatnya hanya satu atau dua dari seluruh kelas yang tulisannya sempat dimuat secara on line di Wikimu. Tapi, ini juga bukan masalah. Evaluasi tetap dilakukan meski tidak langsung on line.

Usai memberi pelatihan ada beberapa kesan yang muncul di benakku. Aku akui sistem pendidikan di Santa Ursula cukup menjujung tinggi disiplin. Ini pun sudah terdengar oleh khalayak. Mereka sungguh patuh pada bunyi bel sekolah. Program-program pendidikannya berimbang antara program sains dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Namun, ada satu pertanyaan dalam diri saya, pertanyaan yang tidak saya bayangkan muncul sebelum aku masuk kelas, yakni mengapa mereka belum bersikap kritis? Mungkin prejudice pada Sanur terlalu berlebihan. Mungkin juga ini pertanyaan yang perlu dicari jawabannya secara komprehensif. Toh, di sana saya cuma dua hari dengan total waktu delapan jam.

Di setiap akhir kelas, aku selalu mengingatkan pada seluruh siswa bahwa menulis bukan milik wartawan saja. Menulis itu berguna untuk semua profesi, entah dokter, guru, pebisnis, seniman, pengacara, konsultan, dan sebagainya. Menulis akan menjadi nilai plus bagi setiap karir yang akan mereka masuki kelak. Oleh karena itu, tekunlah berlatih menulis.

read more...

Saturday, March 29, 2008

Enterobacter sakazakii

Restless about the bacteria-contaminated formula milk, Jagad’s mom had a plan to change the Jagad’s formula milk. Yet I told her that do not let everything bother her before the government especially the Food and Drug Monitoring Agency (BPOM) or the Indonesian Customers Agency (YLKI) give us an official statement.


Jagad’s mom has chosen S26 milk formula produced by PT Wyeth Indonesia as her breast milk didn’t flow fluently. But, praise be to God, she is able to breast feed Jagad right now beside give him milk powder. After knowing S26 as one of some bacteria-contaminated formula milk brands from short message sent by her friend, she worried about the impacts of it to Jagad’s health. She is also afraid of the effects of long-term consumption of the contaminated formula. Moreover the price of this milk formula is too expensive. We always buy a tin of milk formula for Rp 82,000. Jagad consumes at least 3 tins of formula a month. I think it will be somewhat crazy if we pay at high price for something endangers the future of my son. Yet until now, there is no official statement for clearing this conflicting issue. The government has not disclosed the brand names contaminated.


So, based on the Ignatian principle of choosing, we should not change our old choices in the blurry situation. Not long afterward, as a new daddy, I have to search right information about this dangerous bacteria as much as possible.


Enterobacter sakazakii is a Gram-negative rodshaped pathogenic bacterium associated with infant formula. A microbiologist of the University of Indonesia’s school of medicine said that these bacteria usually cause illnesses in infants born weighing too little, in ailing infants or those who have just had surgery because the have very weak immune systems. But the bacteria can’t cause ilness in healthy babies.


On a national media, a mother of a-2-year-old girl lives in Bekasi told readers those issue were so confusing. To minimize the impacts of bacteria, she pays more attention to the cleanliness of the milk bottle. She always boils before using it. To prepare the milk, she uses hot water with a temperature of at least 70C. And her daughter is still healthy. What has been done by her also did by Jagad’s mom. But could I use her experience to judge the milk formula is clean from the pathogenic bacteria right now? I don’t think so!


It is not only Jagad’s mom and other mother demanding the government to make clearness, but also Seto Mulyadi, the chairman of the National Commisioan for the Protection of Children (Komnas-PA). I agree with his statement on the online national news website. He said, “I know the government is examining samples of formula milk, I hope they will take all the products off the market during the investigation. It’s about our children, our future generation.” He also asked mothers not rely on formula. Breastfeeding infants is safer.


Jagad’s mom tries to breastfeed as long as possible. To encourage her breast milk, she disciplines herself to eat nutritious meals and keep her heart peaceful. We hope it will be clearer as we see Jagad’s doctor next week.


Jagad is our son. He is our future!

read more...

A Hope within Easter

It was my first time to celebrate Easter with my first son, Jagad. While entering the holy week started with Sunday Palm, I devoted my personal intentions for my family’s future. I joined people gathering for Sunday Palm Mass in parish of Christus Salvator, Slipi, West Jakarta.


As usual, many churches observed Good Friday in solemnity for commemorating the Passion and Death of Jesus Christ in various way. This important religious event was observed with sermons, reflection and Holy Mass. Even some Christians reenacted the Passion of Christ in a theatrical performance either inside church or longer outdoor processions. I have my own way to live my personal faith. Along with my sister’s family, I observed this Holy Mass in church of Sint Mary Mother of Carmel, Tomang, West Jakarta as my own parish. At the same parish, I also celebrated the Easter Eve.


For me, spirituality of Easter is spirtuality of liberation. Not only from our sins, but all of our types of fear and weakness. In his life, Jesus showed me good ways of going through life in the world. Fear is the biggest hindrance for human beings to reach the state of human fully and human alive. In my opinion fear is also the origin of violence. Some bad tendencies of human actions are rooted in fear. Because of fear, persons lost their authenticity. Fear tends to urge people to be a liar, corruptor, oppressor, greedy, and other bad characters.


Easter is a moment for digging the source of liberation spirituality from fear. I pay much attention on my insecure world where I live. I realize after Jagad’s birth, a lot of problems waiting for me on the next days. As young parent, we have several new duties urgent to be fulfilled. Both of us are called to think of saving, child’s educational insurance, good money management, keeping family’s health, building a suitable house, providing nutrition and so forth.


Do you know how much monthly salary for a journalist like me? It’s common knowledge that salary of journalist is classified in the low price especially in the developing country like Indonesia. But I thank God I still can fulfil my duties up to now. I am called to improve my income right now. I also realize my job is still up in the air. But it couldn’t stop me to work harder and professional. Because I have a big plan to create our future better. We have dreams. We believe in God with his righteousness we can reach them. For sure we have to do it on concrete ways. Not just on prayers and without doing something.


We realize our world is getting worse in its all dimensions. At this time we are facing a systematic destruction of nature. Our environmental problems have contributed to various humanitarian problems as well. Our planet is getting older. Its temperature is getting hotter. Global warming. Floods. Eartquake. Mud floods. Landslide. Deadly storms. These problems are not yet including social and politic problems. Have we a power enough to keep us alive in future?


Honestly, I am not one hundred percents free of fear. Sometimes I get wrestling in my life. It is not strange in any way. Easter has given me a huge hope of better future. There is no succesful life can be reached without any struggle in its previous ways. Jesus got his resurrection after experiencing His passion and death. Therefore Easter can’t be separated from spirituality of cross. Easter offers us a spiritual joy. Lord has done this by Himself in the same world where we live now. So, as His creatures, we should follow whatever He has done. “For I have given you an example, that you also should do as I have done to you,” Jesus said.


Now, my vocation is clearer. Bringing up Jagad is my real vocation. I am called to take care my son into his fullness of his life. After celebrating the Easter Eve, I took a stick of Easter candle and lighted it in front of sleeping Jagad. “Jagad, happy Easter!”


And I prayed in my own mind as St. Ignatius of Loyola has taught me in his Spiritual Exercises:

Take, Lord, and receive all my liberty,
my memory, my understanding, and my entire will. All I have and call my own.
Whatever I have or hold, you have given me.
I restore it all to you and surrender it wholly
to be governed by your will.
Give me only your love and grace
and I am rich enough and ask for nothing more. Amen.


Believing in Christ The King of Universe is my personal devotion!

read more...

Sunday, March 23, 2008

Listening to Bambi

“The first rays of the morning sun began to filter into the dense forest. As the birds and animals awoke, they sensed everything in the air that told them this was to be no ordinary day. Even wise old Owl, tired after a night’s hunting, could not fall asleep. He, too, felt that something great was about to happen…”

That is the first paragraph of the story of Bambi, a little doe. This 24-page children story book is a special gift from the Danny’s for little Jagad. Danny is my colleague in Marketing Magazine as graphic manager. He has a wife named Lini who just launched her first e-book titled My Life is an Open Book. They have two children, Mikayla Karissa Denel and Gavryel Griffin Denel.

This Disney’s publication is completed with an audio CD. At the twilight before the Easter Eve, I played the CD and not long afterward the narrator started to tell the story accompanied on a soft soundtrack. While Jagad is taking milk at the breast, Jagad’s mom read the story written by Felix Salten slowly. This story is adapted as Disney’s production’s fifth animated feature by Perce Pearce and Larry Morey and directed by David Hand.

This book tells about life of Bambi, a little doe lived in the rich forest. The birth of this new prince brought happiness to all inhabitant. A little rabbit named Thumper was the first to spread the news throughout the forest. As spring turned into summer, Bambi took his first steps, following his mother as she walked through the forest. A gentle breeze blew a beautiful butterfly into the clearing. Bambi began to understand everything around him. At the grassy meadow Bambi found a new friend Faline, a little deer. They made a friendship. After the seasons were changing, something wrong happened. The forest was on fire.

Spring came again to the forest. Lovely flowers bloomed on the blackened fields. There was another great event! Bambi and Faline had a family too. And now Bambi becomes the Great Stag of the forest. This is the short review of the book.

Story telling has become our habit since Nat knew her first pregnancy. Every time we try to read aloud stories from anthology of short stories, especially Enid Blyton's. We believe this way could encourage the development of his brain. Instead of telling some stories, we also try to introduce Jagad to various music. For example classical music, jazz, songs of birds, Christian children’s songs, spiritual songs like Nikita’s, pop music even some poems of Sapardi Djoko Damono which put into music.

I try to give the best for my beloved son. He is my real Bambi!

read more...

Sunday, March 16, 2008

Jagad's Mom

Today I will tell you about Jagad’s mom. Jagad’s mom whose name Natalia Alami Asih was born in Jakarta, 1977. Her nickname is Nat. Talking about new born baby can’t be separated from talking about mother. From her I could learn many things. I dare to say myself, there were two new born human beings in hospital, me and my son. The birth of my first son is my new life. It’s a miracle.

Living in the same house with the girl who conceived for about nine months has given me some unforgettable experiences.

We met each other for the first time in front of Hotel Nikko while the twilight casting a shadow over Jakarta. At that time she had worked as a corporate internal auditor at Wisma Nusantara. And I was still working for Investigasi Tabloid as a journalist. Afterward we made a personal encounter at Kedai Tempo, a small food stand in the complex of Utan Kayu Theatre, East Jakarta.

On the tiny desks, we encountered any things. We tried to introduce ourselves to each other. Over a cup of coffee and a glass of orange juice, we shared our own stories of families, favorite books, colleague, and other activities. After getting together, not long afterward, she introduced me to her parent and sisters live in Sawangan, Depok. Then, at the other time, I introduced her to my mom and sisters in the house of Kebon Jeruk, West Jakarta. Her family was very welcome to me and so my family to her.

Nat is a strong type of woman. She is so smart and cute. She likes to show her analytical thought. Maybe this character has been shaped by her official tasks as internal auditor. I see her as an easygoing girl. She always greets her guests or new friends cordially. She is so openhearted although in the certain case she is also too stubborn to stick to her opinion. But I like her very much. I like a girl who has her own attitude. And I love her.

Although we have different educational background, both of us have studied in Jesuit’s college. She graduated from Gonzaga College of Pejaten. I graduated from St. Peter Canisius Seminary of Mertoyudan. Even I ever became a member of Jesuit Order. Yet before finishing my philosophy class in Driyarkara I made my resignation as a Jesuit Scholastic. My resignation have no relationship with her because it happened three years before I saw her at the first time.

The longer the deeper. Our relation became closer. All kinds of birds warbled in our heart. The colorful rainbow flashed over our mind. My heart looked like a glass glittered in the sun. And we got married on 26th November 2006 coinciding with the feast of Christ the King. Our marriage was announced formally by my own friend of seminary Father Henricus Eko Riyanto from Missionary of the Sacred Family.

In the middle of 2007, Nat got her first pregnancy. She felt upset stomach. At the sixth month of her pregnancy she decided to resign from Carrefour as store controller. She often felt headache. She became more sensitive. As husband I tried to understand and always kept in touch with her. I tried to fulfill whatever she want me to do.

Both of us are equal partners. There is no subordination among us. This commitment has been declared since we took our marriage vows. We always try to understand and instill the values of what Saint Paul had written on letter for Corinthians. Love is patient and is kind; love doesn’t envy. Love doesn’t brag, is not proud; doesn’t behave itself inappropriately. Doesn’t seek its own way, is not provoked, takes no account of evil. Doesn’t rejoice in unrighteousness, but rejoices with the truth. Bears all things, believe all things, hope all things, endures all things. And it’s the most important thing for us, love never fails!

Finally on February, 27th 2008 when the drizzle lasted for hours over the capital, my son was born. I felt relieved knowing both my wife and son were safe. We pray he always brings luck to our family. God has shown us his miraculous works. Spontaneously I sing a psalm. The heavens declare the glory of God. The expanse shows his handiwork. Day after day they pour forth speech, and night after night they display knowledge.

We realize we are still on the long journey. I just to say thank Nat right now. Let us be guardian angels for each other, especially for our beloved son. God bless us!

read more...

Wednesday, March 05, 2008

Selasa Ini Jagad Divaksin

Selasa ini, 5 Februari 2008, Jagad kontrol perdana di RS Harapan Kita sesuai jadwal dari dokter anak. Aku sendiri memutuskan izin kantor untuk masuk siang.

Pukul 08.55, taksi Blue Bird membawa Jagad, mama Jagad (mulai hari ini, ibu peri diganti dengan mama Jagad-red), eyang putri, dan mbak pengasuh Jagad. Aku sendiri seperti biasa mengendarai James motorku. Asal tahu saja, pagi ini langit cerah. Matahari pagi yang lima hari ini memberi asupan gizi pada tubuh Jagad bertengger dengan kalemnya di awan-awan.

Setelah regristrasi, Jagad ditelanjangi untuk ditimbang. Seperti layaknya bayi lain, berat dan panjangnya untuk dua minggu pascakelahiran mengalami penyusutan. Penyusutannya tidak banyak. Jagad pun pamer tangisan di ruangan yang penuh dengan anak-anak sebayanya.

Usai ditimbang, kami masih harus antri konsultasi dengan dokter Yuliatmoko, dokter anak di sana. Kami mendapat urutan ke-8. Pukul 09.45, kami memasuki ruang kontrol dan konsultasi. Di ruang itulah, Jagad disuntik vaksin Hepatitis B dan Polio.

Dari hasil kontrol dokter berambut putih dan berkacamata oval itu, Jagad dinyatakan masih sehat-sehat saja. Tapi, dokter mengingatkan soal peran orang tua dalam membantu pertumbuhan fisik dan psikisnya. Menjaga emosi anak menjadi penting. Bayi sangat peka dengan emosi-emosi tak terlihat. Mama Jagad juga didaulat untuk makan makanan bergizi dalam porsi banyak. Terutama makanan yang membantu merangsang keluarnya air susu dengan lebih baik lagi. Dokter Yuliatmoko mengingatkan lagi cara menyusui bayi yang baik dan tepat. Lalu menyarankan kami agar selalu mengajak Jagad berkomunikasi tentang apa saja dan memberinya sentuhan personal. Bayi akan peka apakah dirinya diperhatikan dan disayang orang tuanya atau tidak.

Pukul 10.10, usai memberesi administrasi, Jagad pulang ke rumah bersama mama Jagad, eyang putri, dan mbak. Aku sendiri langsung meluncur ke kantor di Kelapa Gading. Bekerja.

Sehat-sehat saja ya, Nak!

read more...

Tuesday, March 04, 2008

Doa Kami di Namamu

Salah satu keunikan manusia adalah kemampuan memberi nama. Tindakan menamai merupakan kekhasan manusia. Mahkluk lain seperti binatang dan pepohonan tidak mempunyai kemampuan ini. Kemampuan menamai ini bisa dilihat sebagai salah satu cara mengada manusia.

Tapi, manusia tidak bisa menamai dirinya sendiri. Sudah mentradisi, manusia diberi nama beberapa saat setelah ia dilahirkan. Nama menjadi bagian dri identitas. Seandainya saja, saat berumur satu hari bayi mampu menamai dirinya sendiri, mungkin aku akan melakukan hal serupa pada anakku. Namun itulah yang terjadi pada manusia.

Aku dan ibu peri mengamini nama sebagai doa. Mungkin bagi Shakespeare, nama tidak ada artinya. Tapi, nama bagi kami adalah doa dan doa adalah energi.

Sekarang, aku mau memperkenalkan nama peri kecil kami. Namanya Jagad Cleva Nitisara. Jagad merupakan representasi doa kami agar anak ini kelak mempunyai wawasan luas. Cleva arti harafiahnya adalah puncak gunung. Dalam kata ini, kami senantiasa berdoa agar anak ini mempunyai semangat tidak pantang menyerah dan dekat dengan Tuhan. Nitisara adalah sinonim dari wicaksono atau pecinta kebijaksanaan. Dalam kata ini, kami tanamkan sepotong doa agar kelak anak ini mampu berpikir dan bertindak secara bijak.

Nah, sebagai orang yang lagi belajar beriman, aku dan ibu peri mengamini itu semua. Tuhan sebagai sumber hidup dan Raja Semesta Alam selalu membuka jari-jari tangan-Nya bagi doa-doa dan kerinduan mahkluk ciptaan-Nya. Aku sendiri merasakan ada energi ajaib yang mengalir di dalam diriku setelah kelahiran jabang bayi yang akrab disapa dengan nama Jagad itu. Sebuah pengalaman luar biasa. Panggilan hidup itu seperti lintang kemukus di pagi hari. Semakin terang. Meski tetap tersaput kabut misteri kehidupan.

Kini, Jagad lahir sebagai musafir baru. Dengan langkah-langkah kecil nan sederhana, ia mulai menjiarahi kehidupan di dunia, kehidupan yang diberikan secara cuma-cuma oleh Pencipta. Kehidupan di dunia yang hanya sekali saja. Kehidupan yang pantas dirayakan dan disyukuri!

read more...

Monday, March 03, 2008

Peri Kecil Lahir

TIDAK terbayang sebelumnya kalau Rabu, 27 Februari 2008 menjadi hari sangat istimewa. Hari di mana peri kecil yang sekian lama ditunggu-tunggu menunjukkan batang hidungnya dan pamer tangis pertamanya. Natal memang tiba di Februari seturut perkiraan.

Pagi itu pukul lima pagi hari. Ibu peri sudah merasa tidak enak badan. Perih terasa menggerayangi wilayah selangkangan. Seperti hari-hari sebelumnya, ia pun doyan bolak-balik kamar mandi. Lalu kembali terlelap tidur dengan dengkur menguar dari mulutnya. Namun, tidak lama, ia kembali terjaga. Merasakan perih yang masih enggan tanggal.

Rasa nyeri kali ini sudah mulai teratur. Setiap 20 menit sekali. Ibu peri meringis menahan sakit yang sengaja ditahan. Tapi, kami masih meraba-raba mungkin saatnya sudah tiba dan mungkin juga saatnya belum tiba lantaran adanya kontraksi palsu. Di kaca jendela, langit masih doyan pamer jubah kelabunya. Mendung. Gerimis kecil. Aku sendiri semula ragu-ragu apakah mau masuk kantor atau tidak. Tapi, kondisi semakin memantapkan diriku untuk memutuskan tidak masuk kantor. Sebuah pilihan tepat dan benar.

Karena merasa diri cukup awam dengan kehamilan pertama ini, kami pun mulai mencari tahu. Kakak perempuanku menganjurkan agar kami segera waspada. Kontraksi itu sudah menjadi pertanda alami menjelang kelahiran. Sementara, saudara yang lain mengatakan kontraksi itu bisa jadi kontraksi semu. Tapi, kalau kontraksinya sudah teratur dengan frekuensi cepat, kami disarankan untuk segera pergi ke dokter.

Kami juga membaca ulang buku seri AyahBunda berjudul “9 Bulan yang Menakjubkan” terbitan Gaya Favorit Press. Buku ini menjadi kawan seperjalan selama sembilan bulan menjalani kehamilan.

Benar kata buku ini, kontraksi merupakan pertanda akan segera bersalin. Saat kontraksi tiba, otot-otot rahim berkerut sebagai upaya membuka mulut rahim dan mendorong kepala bayi ke arah panggul. Bila kontraksi tiba, perut terasa mulas disertai rasa sakit di pinggang dan di pangkal paha. Kontraksi terjadi setiap 20 menit sekali. Lalu meningkat menjadi 15 menit sekali, 10 menit sekali, 5 menit sekali, dan 2 menit sekali sampai proses persalinan. Nah, ini persis yang dialami ibu peri.

Saat masih kontraksi 20 menit sekali, kami masih bertahan di rumah. Bahkan, pukul 10 pagi, kami pergi laboratorium PRAMITA di jalan panjang, sekitar 1 kilometer jauhnya dari rumah. Di laboratorium, ibu peri check up kesehatan. Seharusnya, check up ini dilakukan pada usia kehamilan 2-3 bulan. Untung saja, di detik-detik terakhir, kami masih bisa menyerahkan berkas hasil check up untuk dibaca dokter sebelum proses persalinan. Kami mengendarai James, sepeda motor kami.

Usai dari lab, ibu peri pun kembali mengalami kontraksi dengan frekuensi lebih sering. Bahkan, saat ia pergi ke kamar mandi, ia menemukan bercak darah campur cairan putih. Tanpa pikir panjang kita pun berkemas ke rumah sakit. Dua tas berisi pakaian bayi dan pakaian ibu peri sudah disiapkan sejak lama. Dengan disopiri oleh saudara laki-laki ibu peri, mobil jazz warna hitam metalik itu pun membawa kami menuju RS Harapan Kita. Langit di kaca jendela mobil semakin menghitam. Pertanda sebentar lagi langit ibukota akan bocor dan memuntahkan airnya di mana-mana.

Sekitar pukul 16.05, seusai menembus kemacetan di ruas jalan Tomang, sampailah kami di tujuan. Usai mendaftarkan diri di bagian administrasi rumah sakit, kami bergegas ke lantai 3. Di sana, suster-suster pun segera menyambut dengan ramah dan mempersilakan ibu peri langsung ke kamar periksa. Tepatnya, di kamar 306. Alhasil, ibu peri sudah mengalami tahap pembukaan ke-7. Pihak RS segera mengontak Dr. Raditya Wratsangka, dokter pilihan kami. Dr. Raditya merupakan dokter langganan kami setiap periksa USG bulanan.

Sambil menunggu pembukaan ke-10 dan dokter, aku menemani ibu peri menikmati menit-menit mendebarkan itu. Hujan sudah turun di luar kaca jendela rumah sakit. Terlihat jalan depan rumah sakit tampak macet. Tidak lama kemudian, saudara perempuanku datang menemai. Pukul 18.00, suster membawakan ibu peri sajian makan malam untuk menambah energi. Melihat kontraksi masih berjalan lambat, ibu peri terpaksa menjalani induksi. Oksigen cair pun dialirkan ke lubang hidungnya dengan selang bening.

Pukul 19.45, dokter datang. Tapi, pembukaan masih memasuki babak ke-8. Ketuban pun belum pecah. Dokter memerintahkan suster untuk memecahkan ketuban. Tidak lama kemudian, tahap persalinan pun dimulai. Ditemani enam orang suster, dokter Radit pun mulai beraksi. Perkakas persalinan disiapkan. Nampan, Gunting, semacam pisau, alkohol, kain, perban, dan sebagainya.

Aku dan saudara perempuanku mendampingi ibu peri di kamar bersalin. Aku sendiri tidak tega melihat ‘pembantaian’ tersebut. Lebih banyak kulayangkan pandanganku ke tembok. Jerit kesakitan terlempar dari mulut ibu peri setiap kontraksi tiba. Para suster pun memandu setiap munculnya kontraksi. Darah mulai menggenangi sprei plastik dan sarung tangan sang dokter. Membuat perasaanku seperti ditimbuni balok-balok es. Sementara hatiku pasrah total seperti terjatuh ke palung tanpa dasar dan berharap tangan Tuhan akan menangkapku. Benar-benar sebuah cita rasa kepasrahan yang belum pernah aku alami seumur hidup.

Dan yang ditunggu tiba. Setelah ibu peri mengalami kontraksi hebat, peri kecil akhirnya bisa dikeluarkan dari lubang rahimnya alias lahir. Tangis pertama pun pecah. Merontokkan balok-balok es yang menimbuni persaanku. Menggantinya dengan rajutan bunga-bunga indah. Dan tangan Tuhan seakan benar-benar menopang aku dari tingginya palung dan mengelusku dengan lembut. Apalagi setelah melihat bayi itu lahir dengan normal, sehat, lengkap, dan lucu.

Peri kecil lahir pada pukul 20. 29 (menurut hitungan jam digital ponselku) atau pukul 20.32 (menurut catatan rumah sakit). Jenis kelamin laki-laki. Berat 3,595 Kg. Panjang 54 cm. Ini benar-benar pengalaman menakjubkan. Sebuah pengalaman ajaib yang tidak bakal terlupakan. Natal benar-benar datang di Februari.

read more...

Tuesday, February 12, 2008

Penaku Masih Basah, Roy!

PENAKU masih basah, Roy. Hanya saja, tintanya lumer di lembaran-lembaran lain. Tahu tidak, belakangan ini aku terserang insomnia. Susah sekali mengatupkan kedua kelopak mataku untuk sepotong mimpi. Dulu, kala insomnia datang berkunjung, secangkir nutrisari panas rasa jeruk nipis selalu menemani malam panjangku. Sekarang, hanya teh panas minus gula dalam iringan suara hujan menghantam genting rumah, dengkur berat ibu peri, dan detak teratur jam dinding di atas meja rias.

Pekan lalu, aku harus nongkrong di bangku kubikel kantor sampai tengah malam lantaran deadline. Lebih tepatnya, deadline dua edisi majalah sekaligus, edisi khusus dan edisi reguler. Ya, beginilah nasib buruh di pabrik kata-kata. Tugasnya tak lain adalah menjentikkan jari-jari di tuts keyboard sampai lupa malam sudah hampir pudar dan jari-jari ini sudah cukup sempoyongan. Tariannya pun sudah tidak selincah hari-hari sebelumnya. Istirahat memang perlu.

Usai deadline, ide-ide menulis terus berloncatan di malam hari. Ibu peri pun mengerti diri. Malahan selalu menanyakan kenapa aku tidak segera membuka laptop seusai mandi, mematut diri, dan makan malam. Sesekali perempuan berperut melembung lantaran akan melahirkan peri kecil itu menyuguhkan segelas jeruk hangat hasil perasannya sendiri, melarutkan sebutir vitamin c dalam segelas air bening atau menggorengkan tiga lembar mendoan panas.

Jujur saja, Roy. Menulis di malam hari mempunyai sisi ekstase tersendiri. Tidak sekadar mencoreti lembar putih layar monitor. Tapi, seperti tercebur dalam palung tanpa dasar. Di sana, harapan, masa depan, kesepian, kehangatan, keprihatinan, kepedulian, kegelisahan, keragu-raguan, terang, gelap, sedih, dan rupa-rupa perasaan lain larut jadi satu adonan. Tuhan pun melarut bersama malam-malam penuh harap itu. Dengkur ibu peri yang kelelahan membawa peri kecil yang semakin besar di perutnya justru membuat tarian jari-jari ini semakin lincah. Apalagi peri kecil yang doyan pamer sepak kaki di perut ibunya. Saat itu, sepertinya aku sedang menulis masa depan. Masa depan kami. Aku tidak tahu kapan jari-jari ini berhenti menari. Aku hanya berharap Tuhan masih memberi energi belimpah agar jari-jari ini tidak lelah menari, tidak cepat tua, keriput, lalu mati. Semoga jari-jariku masih bisa mengalirkan kata-kata ajaib.

Terimakasih Roy atas komentarmu pada dua tulisanku yang lahir di malam insomnia dua hari lalu. Semoga, saat dirimu mondar-mandir di halaman putih ini, dirimu menemukan kebaruan. Andaipun tidak , aku harap kamu mengerti, karena ujung penaku tidak pernah basah. Hanya saja tintanya lumer di lembaran-lembaran lain. Selamat menulis juga, Roy!

read more...

Friday, January 11, 2008

Gadis Peramal dari Belitung

WAKTU kadang bertingkah aneh bin ajaib. Bayangkan saja sudah sekitar 8 tahun aku berpisah dengan gadis ini dan baru dua hari lalu aku menemukan kontaknya. Pernah di waktu-waktu senggang aku memikirkan bagaimana caranya mengontak dan menemui gadis ini. Tapi selalu nihil. Nomer ponsel yang dulu pernah ada raib bersama diambilnya ponselku oleh tangan misterius saat aku menumpangi bus yang melintasi ruas jalan Tomang beberapa tahun silam. Sekalipun otak diputar-putar, diurai lipatan-lipatan neuronnya, dan digelar di bawah terik matahari yang paling terik, aku tetap tidak menemukan cara menjumpai gadis itu. Gadis itu mungkin sudah hilang abadi. Ia seperti satu larik kalimat usang yang terlihat samar dan menempel di dinding batok kepalaku dengan sedikit berlumut.

Tapi, dua hari lalu, saat aku membolak-balik halaman sebuah buku untuk sepotong referensi buat cerpenku, aku menemukan jejak pensil yang merangkai namanya. Di situ tergores nama Ovi lengkap dengan dua nomer telepon. Satu nomer rumah berkepala 7. Satu lagi nomer ponsel. Aku masih belum percaya benar itu adalah nama diri dan nomer ponselnya. Aku berupaya mengingat-ingat kapan aku menuliskannya di buku itu. Aku mendadak seperti kakek temanku yang sudah pikun dan sedang berupaya keras memutar otak untuk mengingat-ingat nama cucunya sendiri.

Mengapa gadis ini begitu istimewa? Aku mengenal Ovi saat aku masih menjadi anak kos di tahun terakhir kuliah filsafatku di Cempaka Putih. Saat itu, seorang kawan membawanya ke tempat kosku untuk sepotong perkenalan. Ia mengaku seorang mahasiswi dari IKIP Jakarta. Obrolan demi obrolan membuat kami semakin nyambung saja. Gadis ini berparas manis. Bermata oval. Rambut ikal dengan potongan pendek. Titik-titik jerawat menghiasai kedua pipinya yang merona. Bila tersenyum, jerawat-jerawat itu berubah menjadi manik-manik yang membuat wajah imutnya seperti gula-gula paling manis di dunia. Jujur kataku, saat garis bibirnya melengkung ke atas, manisnya minta ampun. Tapi, senyum manis itu adalah milik gadis bertubuh kerempeng lantaran kekuatan aneh menghisap tubuhnya. Tubuhnya cilik, ciut, dan terkesan ringkih.

Ovi adalah seorang gadis unik. Dia mengaku memiliki kekuatan membaca pertanda. Mirip-mirip seperti Mama Laurent maupun Permadi. Kekuatan ini dicurahkan dari langit kedalam dirinya sejak lahir. Pernah ia bercerita betapa sakit hatinya ketika membaca ada seorang kenalan yang akan mengalami penderitaan. Maksudnya, ia bisa membaca nasib orang. Pernah ada keinginan membuncah memintanya meramal nasibku. Tapi selalu berujung urung. Pengetahuan ini telah membuatnya lelah memikirkan nasib orang lain. Sampai-sampai pikiran ini seakan menguras energinya sekaligus menghisap tubuhnya menjadi sosok gadis kerempeng.

Ia juga dikaruniai kemampuan merasakan kehadiran mahkluk halus. Bahkan, berkomunikasi dengan mereka. Ini pernah ia ceritakan ketika kami sedang menyusuri malam dalam naungan bayangan dahan-dahan pohon yang tertimpa sorot lampu kota di sepanjang jalan Utan Kayu. Utan Kayu, tepatnya Teater Utan Kayu (TUK) adalah tempat favorit kami menggelar perjumpaan. Entah menonton pertunjukan teater, festival film, tari, maupun sekadar diskusi ngalor-ngidul. Maklum, waktu itu, kami mahasiswa dengan idealisme meluberi volume kepala. Apalagi tahu sendiri, saat itu gerakan reformasi lagi unjuk gigi.

Hampir tanpa absen, ia juga doyan menggabungkan diri dalam diskusi rutin hari Senin di kampusku. Sebuah forum diskusi Senin siang yang dinamai Mazhab Jembatan Serong. Suatu ketika, ia pernah bilang, aku adalah saudaranya. Tepatnya adalah kakaknya. Predikat dadakan ini sempat membuatku merenung lama. Lalu, entah kenapa waktu 8 tahun telah menculik gadis itu ke sebuah daerah yang tidak sembarang orang tahu.

Nah, setelah menemukan nomer kontaknya, segera aku menelponnya. Telepon rumah tidak bisa dihubungi. Lalu kutelepon nomer ponselnya. Ternyata yang angkat bukan dirinya melainkan orang lain yang mengaku saudaranya. Saat hampir putus asa, orang berpita suara sopran itu mengabari bahwa Ovi sudah tidak di Jakarta, melainkan tinggal di Belitung. Orang itu memberiku nomer ponsel Ovi yang baru.

Mendengar kata ‘Belitung’ sontak memoriku langsung berteriak, “Laskar Pelangi!” Tidak salah. Belitung itukan tanah kelahiran Andrea Hirata, pengarang novel Laskar Pelangi. Aku terkekeh renyah sambil mengenang karakter-karakter ‘dodol’ tentang anak-anak Belitung seperti yang diceritakan Andrea Hirata. Nah, hari juga aku menelponnya.

Dag-dig-dug dan penasaran mengiringi bunyi nada sambung ponselnya. Jiwaku seperti keranjingan untuk segera mengetahui kabar dari gadis itu. Akhirnya, babak pembukaan selesai dengan selamat. Kami berdua sama-sama menuai kejutan. Kami pun seperti terlibat dalam sebuah reuni dadakan meski kami terpisah jarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Serpihan peristiwa masa lalu berloncatan seperti bunga-bunga api memancar dari batang kembang api di malam tahun baru kemarin. Ia sempat mengobrol soal Laskar Pelangi. Tapi, obrolan itu tidak lama. Maklum pulsa nomer ponselku mendadak berubah wujud menjadi seorang tiran kejam yang melarangku mengobrol lama. Lalu aku akhiri rendezvous online itu dengan harapan kita akan kontak-kontakan lagi.

Intinya, gadis itu sekarang tinggal di Manggar, ibukota kabupaten Belitung Timur. Ia bekerja sebagai pegawai negeri di kantor Dharma Wanita kabupaten. Tiga kali dalam seminggu seusai melepas seragam pegawai negerinya, ia mengisi malam hari dengan bercuap-cuap sebagai presenter di sebuah stasiun radio FM di sana. Saat aku menelepon, ia sedang libur dan sibuk membantu temannya yang sedang punya hajatan nikah. Ada suara latar berupa cuap-cuap ayam kampung saat kami melangsungkan pembicaraan. Membuat imajinasiku semakin mengerti seperti apakah Belitung itu.

Oiya, aku kembali menelepon dirinya untuk menanyakan nama lengkapnya. Maklum terlalu lama hidup di bangsa pelupa, jadi ketularan amnesia. Nama lengkap gadis itu Yunita Oviantari.

read more...

Wednesday, January 09, 2008

Malam Berbagi Gelak

ADA yang mengocok perutku tadi malam. Tepatnya, usai mengantar ibu peri ke dokter untuk mengetahui kabar si peri kecil. Malam dengan sedikit bintang dan jam dinding di atas meja rias menunjuk pukul 22.10 WIB. Kami berbaring di atas kasur sambil memandangi langit-langit kamar yang penuh jejak air hujan.

Entah kenapa, mendadak kami berbagi celotehan tentang pengalaman lucu di masa kecil. Aku mengawali obrolan tentang bioskop. Bioskop pertama yang aku kunjungi adalah bioskop Senopati yang terletak di belakang Benteng Vredeburg atau di pusat perbelanjaan shooping, selatan Malioboro, Yogyakarta. Sayang sekarang bioskop ini sudah tidak beroperasi lagi.

Ada dua film yang pernah aku tonton di gedung ajaib itu, yakni Arie Hanggara (1985) dan Saur Sepuh (1988). Keduanya tidak bakal lekang dari memoriku. Pasalnya, ada pengalaman lucu bercitarasa pahit di sana. Bagi yang sudah hidup di tahun 1980-an, tentu tahu apa itu Saur Sepuh. Film ini diangkat dari sandiwara radio yang terkenal dengan tokoh superheronya bernama Brama Kumbara. Asal tahu saja, radio waktu itu cukup populer. Alasannya bisa ditebak. Tayangan televisi masih super monoton dan membosankan karena dikuasai stasiun tunggal pelat merah, TVRI. Cerita Saur Sepuh begitu membiusku. Tidak heran jika di batok kepalaku lebih terisi nama-nama seperti Brama, Mantili, Lasmini atau jurus-jurus sakti seperti bayu bajra dan sebagainya, ketimbang mata pelajaran yang dibawakan guru-guru dengan membosankan. Saat kabar sandiwara yang sudah difilmkan itu menyusup ke lobang telinga, aku pun sontak merengek pada ayahku untuk lekas menontonnya.

Nah, pengalaman lucu rasa pare itu muncul di sore hari. Waktu itu, aku, ayahku, dan adikku yang masih kecil antri karcis di bioskop Senopati. Jumlah pengantri berjubel. Sementara, jam tayang sudah di ambang pintu. Entah kenapa, aku lupa, aku terpisah dari ayahku. Dan aku pun kehilangan mereka. Aku berputar-putar mencari mereka. Setelah capek menyusup di antara kaki-kaki angkuh di seputar loket, aku pun mematung seperti setangkai bunga lili kusut. Lalu gelembung-gelembung cair mengembang di kedua sudut mataku dan tergelincir pelan di pipi diiringi suara sesenggukan dari arah tenggorokan. Aku menangis. Seorang dewasa datang menyambangiku, memberiku secuil penghiburan, lantas menggandengku menuju petugas informasi. Seorang lelaki dewasa berpakaian hansip-waktu itu hansip tidak hanya masuk kampung tapi juga bioskop-menanyai namaku, nama ayahku, dan mencatatnya di sepotong kertas. Lalu, dengan nada suara yang dibuat kebapak-bapakan, hansip bioskop itu pun menyuruhku duduk manis di bangku tak jauh dari pos. Sambil mengayun-ayunkan kaki di bangku, mataku mengembara ke kerumunan. Mendadak aku melihat bayangan ayahku. Sontak aku minggat dari bangku tanpa sepengetahuan mata sang hansip. Di depan ayahku, aku malah dimarahi. Tanpa lama, kami pun menghayutkan diri di barisan orang menuju dalam gedung karena film segera dimulai.

Sampailah aku di dalam sebuah ‘gua’ raksasa dengan semilir angin AC yang tidak begitu dingin dan sebuah kain putih raksasa terbentang gagah di depan bangku tempat kami duduk. Pintu masuk ditutup. Lamu dimatikan. Secercah cahaya terang meluncur dari belakang dan membuat kain itu menyala. Dan apa yang pertama kali terlihat di kain putih itu? Selarik tulisan berukuran besar menempel dan menyebut nama ayahku.

PAK XXXXX DICARI ANAKNYA
HARAP DATANG DI POS INFORMASI

Sontak, gedung bioskop itu meledak oleh tawa dari para penonton. Sangat gaduh. Mereka berteriak sambil menyebut-nyebut nama ayahku. Aku semakin malu. Perlahan aku melelehkan diri ke bangku empuk bioskop itu. Beringsut malu. Merasa seolah para penonton lain itu tahu kalau kamilah yang disebut di layar putih itu. Ayahku hanya melempar senyum simpul sambil tangannya mengelus-elus rambutku.

Ternyata, hujan tawa itu pun berlanjut di kamar kami. Ibu peri pun tak kuasa menahan gelak. Sebenarnya, ada satu lagi pengalaman lucu rasa pare berkaitan dengan bioskop yang bisa kutuliskan di lembar putih ini. Tapi, cukup satu sajalah. Pengalaman ‘dodol’ lainnya biarlah tersimpan rapi di rak-rak memori kepalaku. Usai meredam gelak, kami berdua pun sibuk dengan urusan masing-masing. Ibu peri memilih membaca antologi cerpen karangan Ratih Kumala berjudul Larutan Senja. Lalu ia tertidur. Aku sendiri memilih membisu di depan laptop sambil berupaya melanjutkan larik-larik cerita untuk dirajut dalam sebuah buku. Kantuk datang, aku pun tidur.

read more...

Tuesday, January 08, 2008

Membaca Philip Pullman

FILM The Golden Compass akhirnya aku tonton juga pada Sabtu siang, 5 Januari 2008 di studio 21 Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mungkin karena The Golden Compass sebagai film anak-anak, bangku-bangku di kanan kiri, depan belakang tempat aku dan ibu peri duduk dipenuhi oleh anak-anak. Riuhnya bukan main. Untungnya, saat film itu diputar, mereka mampu duduk manis menikmati film garapan Chris Weitz dan dibintangi Nicole Kidman itu.

Secara umum, film ini cukup imajinatif sebagai karya fantasi. Fantasinya mirip-mirip Film Harry Potter, Eragon, Lord of The Rings, atau The Chronicles of Narnia. Asal tahu saja, rilis The Golden Compass cukup diiringi dengan gerimis kontroversi. Saat mengendus andanya kontroversi ini, aku sendiri tergelak renyah. Paling-paling wacananya mirip-mirip saat novel The Da Vinci Code karya Dan Brown diluncurkan. Juga mirip Harry Potter buah karya JK. Rowling yang dinilai Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) mengajarkan ilmu-ilmu sihir yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Kristen. Tentu saja kritikan itu memunyai alasan (reasoning)-nya sendiri. Tapi, sebagai pecinta sekaligus penikmat teks-teks sastra, aku sendiri tidak mau terjebak dalam lingkaran kontroversi itu. Aku sendiri mencoba menemukan dan mencecap seni di dalamnya.

Siang ini, sepotong pesan dari seorang teman mampir di lembar putih ruang chattingku. Intinya, teman itu menghimbau agar aku tidak usah menontonnya dengan alasan tidak bagus dan tidak ada pesan moral apa pun. Gelakku semakin renyah saja. Kadang orang buru-buru berkomentar negatif karena sudah pasang prasangka sejak awal. Memprihatinkan lagi, orang sudah menilai negatif tetapi itu hanya kata orang lain. Dirinya sendiri belum membaca novel dan menonton filmnya.

Sembari menonton, aku mencoba membandingkan imajinasiku ketika membaca versi novelnya dengan visualisasi film itu. Alur ceritanya sebagian besar sama dengan yang ada di buku: petualangan Lyra dari Akademi Jordan sampai Bolvangar di kutub utara. Kekuatan fantasi film itu ada di visualisasi para daemon. Tanpa daemon, mungkin, bobot fantasinya itu terlihat kering. Personifikasi binatang baik daemon maupun sosok beruang kutub seperti Iorek menjadi poin penting. Secara materi, aku menilai sama seperti di buku, film ini masih tergolong berat. Apalagi disajikan untuk anak-anak. Aku menangkap isi buku Pullman sarat dengan muatan teologis. Nah, ini menjadi berat untuk anak-anak yang masih mencerna realitas secara pragmatis. Di sana, dikenalkan kata-kata ‘misterius’ seperti Magisterium, Dust, Dunia Paralel, Daemon, Pemisahan, dan sebagainya. Nah, Pullman seakan mencoba mengemas itu dalam cerita anak-anak. Meskipun demikian, untuk sementara ini, aku menilai upaya Pullman ini gagal. Tidak sesuai dengan target marketnya. Tapi, materi berat ini cukup tertolong dengan plot, karakter yang fantastis, seperti karakter daemon anak-anak yang bergonta-ganti wujud, wahana kutub utara yang memukau, kompas emas ajaib, pasukan penyihir pimpinan Serafina Pekkala yang melayang-layang di udara, sosok beruang raksasa yang superhero, dan sebagainya.

Ada beberapa bagian dalam cerita di buku yang tidak divisualisasi dalam film. Mungkin ini sebagai bagian dari politik film itu sendiri. Toh, menurutku, buku dan film, meskipun memuat cerita yang sama, tetaplah dua entitas yang berbeda. Kata ‘gereja’ yang beberapa kali muncul di buku tidak muncul di film. Ending di buku dan di film juga cukup berbeda. Di buku, wacana teologis Pullman lebih kentara dengan menghadirkan sepotong cerita dari Kitab Kejadian menyoal manusia pertama di Taman Firdaus. Di film, bagian ini dihilangkan. Epilog di film juga lebih dipersingkat ketimbang di buku. Epilognya sangat tanggung. Film ini menyisakan banyak hal misterius yang belum terjawab. Karena ini bagian pertama dari trilogi His Darks Materials, dipastikan akan ada film lanjutan yang mengangkat buku kedua The Subtle Knife dan buku ketiga The Amber Spyglass. Oleh karenanya, cerita Pullman tidak utuh jika tidak membaca ketiga bukunya. Apalagi menghakiminya tanpa membaca larik-larik kata dalam trilogi Pullman itu. Meskipun, ini catatan pribadiku, gaya bercerita Pullman tidak serenyah Rowling atau Lewis.

Pesan Moral
Soal opini temanku bahwa cerita Pullman tanpa pesan moral, aku berpendapat lain. Aku tidak begitu memedulikan Pullman mengusung pesan moral tertentu atau tidak. Bisa jadi, orang terjebak mengais-ngais makna tapi melupakan keindahan cerita itu sendiri. Sama seperti orang yang melakukan perjalanan tetapi lantaran terlalu memikirkan tujuan, ia lupa menikmati warna-warninya realitas di jalanan. Nah, soal mengais makna, aku selalu memperlakukan teks sebagai yang berdiri sendiri. Ia sudah terpisah dengan pengarangnya. Seperti dikatakan Rolland Barthes bahwa the author is dead ketika sebuah tulisan dipublikasikan. Teks dalam hal ini buku atau film memunyai kebebasan besar untuk ditafsirkan pembaca. Pembaca pun memunyai kebebasan menafsirkan teks itu tanpa terbelenggu oleh maksud pengarang. Dalam melihat The Golden Compass, aku bersikap seperti ini.

Hasilnya, aku menemukan pesan moral yang sangat bagus dari buku dan film Pullman ini. Mungkin Pullman sendiri tidak memikirkan atau bermaksud seperti yang aku tafsirkan (perlu studi lebih lanjut). Seusai menonton, aku menangkap ada satu kritik sosial dari film itu. Konsep daemon yang dimiliki anak-anak dan senantiasa berubah-ubah aku tafsirkan sebagai jiwa merdeka anak-anak. Hal ini berbeda dengan daemon orang dewasa yang tetap dan tidak berubah-ubah. Daemon yang disimbolkan dengan sosok binatang ini seperti kehendak bebas. Tapi, apa yang terjadi selanjutnya? Jiwa merdeka anak-anak ini dirusak oleh orang dewasa dan oleh institusi-institusi sosial dalam masyarakat termasuk institusi agama (dalam konteks Pullman adalah gereja). Jiwa-jiwa merdeka itu telah dipisahkan dari anak-anak dan menjadikan anak-anak kehilangan kemerdekaannya alias tidak menjadi diri sendiri. Tetapi, perilaku harus disesuaikan dengan aturan-aturan sosial yang kadang membuat orang menjadi sosok-sosok munafik. Aturan itu, menurutku, diwakili oleh terminologi Pullman tentang magisterium. Ingatkan, semakin banyak aturan dengan dalih moral dan kesucian, akan berpotensi melahirkan kemunafikan. Kemunafikan biasanya dilawankan dengan kepolosan anak-anak.

Nah, anak-anak yang dipisahkan dengan daemonnya lewat proses pemisahan, akan mati. Ia tidak hidup. Sekalipun hidup, itu pun kehidupan yang tidak asli. Ini digambarkan dengan jelas dengan sosok Billy Costa, bocah cilik dari komunitas gipsi, yang lunglai setelah dipisahkan dari Ratter, daemonnya (catatan: di buku, karakter ini bernama Tony Makarios). Itu salah satu tafsiranku ketika membaca/menonton karya pengarang kelahiran Inggris itu.

Soal tuduhan ateisme Philip Pullman, aku sendiri tidak buru-buru berkomentar. Aku sendiri bermaksud menjadikan ini menjadi studi atas teks-teks Pullman. Ada yang komentar karya Pullman ini sebagai antitesis karya C.S. Lewis khususnya The Chronicles of Narnia yang kental pesan religiusnya. Memang menurutku, kisah Lewis ini merupakan adaptasi kisah Injil dalam format fabel. Tapi, ada yang menarik dari pernyataan Pullman. Dalam sepotong wawancara dengan The Sydney Morning Herald pada tahun 2003, ia menyatakan “My book are about killing God.” Nah, ini membuncahkan minat pribadiku mengenal Philip Pullman dengan studi lebih lanjut. Sampai buku pertama dan kedua, aku masih mereka-reka titik poin ateisme Pullman. Mungkin terhubung dengan Dust, kebebasan manusia dalam konsep daemon, dunia paralel, dan sebagainya. Aku hanya tidak mau terburu-buru. Aku mau menjadikan ini momentum wisata studi teks-teks Pullman. Mungkin karena daya tangkapku yang terbatas. Tapi, aku tidak mau jadi naif seperti temanku tadi.

Sekarang, di folder komputerku, berderet beberapa artikel seputar Pullman dan karya-karyanya. Dan hari ini, buku Pullman yang lain berada di tangan setelah aku pesan dari toko buku maya, inibuku.com. Judulnya Dulu Aku Tikus (I was a Rat!) dan diterjemahkan oleh Penerbit Gramedia. Dengan begitu, sudah ada 6 novel Pullman di perpustakan pribadiku, yakni 3 buku His Dark Materials, Puteri Si Pembuat Kembang Api, Si Pembuat Jam, dan Dulu Aku Tikus.

Itulah Pullman. Membuatku gelisah. Ia akan hadir di malam-malamku ketika jari-jari ini terlihat begitu sempoyongan untuk segera menumpahkan ide-ide di layar laptoku.

read more...