TIDAK ada bintang berkelip di langit timur. Tidak ada nubuat para nabi. Tidak ada malaikat menampakkan diri di dalam mimpi. Tidak ada cerita-cerita tentang sinterklas dan pit hitam. Tidak ada pohon cemara berhias kelap-kelip lampu gantung. Tidak ada boneka salju. Tidak ada kaos kaki berisi batangan cokelat. Tidak ada suara Charlotte Church mengalun bersenandungkan kidung Silent Night. Tidak ada melodi Ave Maria ala Franz Schubert atau Johan Sebastian Bach menguar di bilik rumah. Tidak ada lonceng berdentang ditingkahi malam yang dingin selain suara detak teratur dari jam dinding yang menggantung di dekat meja rias. Tidak ada sajak Clement Moore yang dibacakan. Inilah adven di rumah kami.
Sunday, January 06, 2008
Natal di Februari
Friday, December 28, 2007
Tragedi Gigi Hingga Kaki
ADA yang wajib kuperhatikan secara serius soal kesehatanku. Maklum, gejala-gejala ketidakberesan mulai aku rasakan akhir-akhir ini. Sepuluh tahun silam, aku boleh berbangga. Dari hasil general check up, aku menjadi salah satu anggota asrama yang paling sehat. Sementara temanku mengantongi sederet catatan dokter: entah jantung, paru-paru, maupun ginjal, aku sendiri mendapat satu catatan. Bunyinya: makan yang banyak. Maklum, saat itu badanku cukup kerempeng seperti pohon pisang yang tidak pernah disentuh air hujan.
Itu dulu ketika aku masih ngendhon di bawah langit Ungaran, Jawa Tengah. Tapi, sekarang, gejala ketidakberesan itu mulai menggerayangi ragaku yang semakin menua ini. Tubuhku semakin melebar. Apalagi setelah satu rumah dengan ibu peri. Berat badanku per 25 Desember 2007 adalah 68 Kg. Itu artinya 26 kilogram lebih berat dibanding ketika aku berada di asrama 10 tahun silam. Sejak dulu, aku tidak merokok dan tidak akan memutuskan diri untuk menyulutkan api pada sebatang rokok dan menghisapnya. Tapi, tidak berarti orang yang tidak merokok otomatis steril dari serangan penyakit. Mari kita lihat satu per satu.
Thursday, December 27, 2007
Jejak Pengembaraan 2007
SEBAGAI pengamin kata-kata Socrates, penghujung tahun merupakan waktu yang tepat untuk melihat kembali jejak pengembaraan selama hampir 365 hari ini. Guru kebijaksanaan Yunani klasik ini pernah berujar: hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dijalani. Aku mengamini betul kata-kata itu. Bukan untuk sok bijak. Tapi, memang ingin bijak dalam hidupku sendiri. Aku sih tidak ingin membiarkan berbagai pengalaman itu berterbangan tanpa arah seperti abu kertas yang dikoyak oleh angin liar. Aku sendiri sangat bersyukur telah dikaruniai kemampuan untuk memaknai setiap jejak langkah. Alih-alih ini sebagai reuni singkat tapi mendalam dengan seribu satu pengalaman pribadi selama setahun.
Saturday, December 22, 2007
The Golden Compass
GODAAN itu datang di toko buku Gramedia Artha Gading. Toko buku yang jaraknya hanya seperlemparan batu dari tempatku bekerja. Perempuan yang pernah terjungkal tanpa sebab di halaman balairung UI di pagi cerah itu memberitahuku bahwa buku Philip Pullman berjudul The Golden Compass ada di rak sastra. Perempuan itu bagaikan Eva di taman Firdaus yang memetik buah apel yang ranum dan membujuk Adam untuk segera menyantapnya. Tanpa pikir panjang, kantong kurogoh, dan kubeli buku itu seharga Rp 50.000. Padahal aku tidak mengagendakan beli buku di hari itu. Maklum, sudah banyak banyak buku baru yang aku beli bulan ini. Lebih-lebih, aku harus mulai mengirit untuk biaya kelahiran peri kecilku nanti. Namun, apa boleh buat, ‘apel’ itu terlalu menggoda.
Pullman juga menyebut Magisterium sebagai lembaga yang mengatur segalanya. Dalam tradisi Gereja Katolik, Magisterium lebih diartikan sebagai kuasa mengajar. Kuasa mengajar ini yang menjadi hak eksklusif para klerus dalam hierarki Gereja Katolik. Soal ini, akan kutulis di lembar putih terpisah. Pasalnya, aku pernah mengalami teguran keras oleh seorang pastor atas nama Magisterium ketika aku menerbitkan tulisan seputar gereja di majalah internal gereja. Selain itu, Pullman melontarkan terminologi baru, yakni Debu. Debu masih misterius. Di akhir novel The Golden Compass pun, Debu ini masih mengandung ketidakjelasan. Di situ, Debu diartikan sebagai dosa asal (original sin) dan dikerangkai dengan cerita pendek tentang manusia di Taman Fridaus. Tapi, aku rasa pembaca juga masih belum paham. Dan, sang karakter utama, Lyra pun masih mencari-cari apa makna sebenarnya Debu itu.
Sunday, November 25, 2007
Kebiasaan Baru: M-e-n-d-o-n-g-e-n-g
AKU punya kebiasaan baru, yakni mendongeng. Tepatnya, membacakan cerita buat peri kecilku yang masih dalam kandungan. Sudah empat kali ini dongeng dibacakan. Selang-seling dengan ibu peri. Mungkin ini kelihatan aneh. Tapi, seorang pakar anak pernah menasihati akan lebih baik jika anak sedari kandungan dilatih untuk berkomunikasi. Katanya, ini akan memengaruhi psikologi anak itu kelak. Bentuknya beragam. Salah tiganya, mengajaknya ngobrol, menyetelkan musik, atau mendongeng. Nah, ketiganya telah kami pilih.
Ibu peri membacakan dongeng pada siang hari. Saat bola raksasa melarut dalam gelap, sambil meluruhkan sisa kepenatan kerja ke lantai, giliranku mendongeng. Dongeng tentang Anak-anak Lilin menjadi dongeng pertama yang aku bacakan. Cerita ini diambil dari antologi dongeng Gadis yang Menikahi Seekor Singa karya Alexander McCall Smith. Antologi ini diterbitkan dan diterjemahkan oleh penerbit Bentang (2005).
Buku itu merupakan koleksi dongeng-dongeng tradisional dari dua negara Afrika, yakni Zimbabwe dan Botswana. Seperti cerita-cerita rakyat di manapun, buku tadi juga mengisahkan suatu kehidupan yang unik, ajaib, filmis, imajinatif, sekaligus penuh pesan nilai. Menarik memang. Aku sendiri menyukainya. Lebih-lebih ketika membacanya sambil mengeluarkan suara dan sesekali berakting dan berakhir dengan cekikikan sendiri. Senyum simpul pun sering menempel di paras ibu peri saat aku membacanya.
Bicara soal dongeng, aku jadi teringat masa kecilku. Dulu, aku senang didongengi oleh kakak perempuanku. Bahkan, teman kakakku juga sering membacakan cerita untukku jika sedang bertandang ke rumah. Namanya Rusmiyati. Dongeng serial Kancil dengan berbagai topik. Sebut saja kancil dan buaya, kancil dan seruling Nabi Sulaiman, kancil si pencuri ketimun, dan sebagainya. Dongeng begitu hidup dan mencekam. Apalagi temaram lampu teplok menerangi ruangan tempat kami bercengkerama. Maklum, desaku, di sudut Bantul, waktu itu belum kesetrum alias dialiri listrik. Tapi, bila gelap membekap dusun dan suhu dingin tergelincir dari bukit Sempu, terciptalah suasana romantis yang tidak bakal lekang dari ingatanku. Lebih-lebih ditambah dengan suara jengkerik yang beradu nada dengan suara burung hantu yang bertengger di pohon asem, kodok di kebun, dan ditingkahi suara kentongan dari dusun sebelah.
Kadang malam mendadak seperti dipenuhi dementor, hantu-hantu gentayangan di dunia Harry Potter, saat mbak Rus bercerita tentang mahkluk malam bernama kunang-kunang. Si kecil yang terbang sambil membawa lampu berkelip ini senang melintasi kebun depan rumah di sela-sela ranting tanaman ceplok piring dan bunga sepatu. Konon, katanya, kunang-kunang asalnya dari kuku orang mati. M-e-n-y-e-r-a-m-k-a-n. Betapa bulu kuduk mendadak berdiri seperti sapu lidi terbalik saat lilin terbang ini masuk rumah lewat jendela kamar. Tapi, liliput bercahaya ini sudah lama tidak aku lihat. Libur lebaran kemarin pun, aku tidak melihatnya. Di sawah dan di kebun mereka tidak nampak. Mungkin mereka sudah punah. Mungkin lampu yang dibawanya mati atau kehabisan bahan bakar. Mungkin migrasi ke negeri antah berantah. Mungkin sekarang ia hanya ada di dalam ceritaku ini. Toh bumi sudah semakin renta. Banyak yang dulu ada sekarang sudah tidak ada lagi.
Aku dan ibu peri sepakat mengenalkan buku pada peri kecil sejak sekarang. Kami percaya buku akan mengantar kehidupan yang lebih baik. Buku adalah jembatan mencapai mimpi-mimpi.
Borong Buku
Nah, Sabtu
, 24 November 2007. Pagi hari, sekitar tiga jam setelah bola raksasa meloncat dari tepian bumi sebelah Timur, aku dan ibu peri bergegas ke Gramedia Book Fair di Gedung Gramedia, Jl. Panjang, Kebon Jeruk. Di lantai 8, digelar bursa buku murah. Diskon 20% untuk semua buku dan obral buku murah, Rp 5.000 dan Rp 10.000.
Tanpa lama, beberapa buku terjerembab dalam keranjang belanja kami. Dengan Rp 161.500, kami membeli 10 buku. Dari 9 buku itu, 3 buah buku buat peri kecil. Ketiganya antara lain Si Gadis Penakut (Enid Blyton), Si Pembuat Jam (Philip Pullman), dan Putri Si Pembuat Kembang Api (Philip Pullman).
Buku Enid Blyton hadir dalam 8 seri. Masing-masing seri berisi 7-8 cerita pendek. Asal tahu saja, buku Enid Blyton inilah yang menjadi buku bacaan masa kecilku selain serial Lima Sekawan maupun Trio Detektif karya Alfred Hitchcock. Serial itu aku dapatkan dari perpustakaan sekolah kakakku nomer dua, SMP Stella Duce, Suryadiningratan. Kini, buku itu sudah mengalami 10 kali cetak ulang.
Aku kira terjemahan buku Enid Blyton perlu di-upgrade lagi. Bahasanya sudah bagus. Tapi, ada hal yang perlu disesuaikan dengan perubahan zaman. Misalnya, dalam cerita Celengan Mia dalam antologi seri Si Gadis Penakut, masih disebut uang Rp 5 dan Rp 20. Nah, angka ini untuk konteks masa kecilku mungkin masih cocok. Tapi, untuk konteks anak sekarang, perlu diadaptasikan lagi.
Novel Philip Pullman sengaja aku pilih karena menurutku menarik. Novel Putri Si Pembuat Kembang Api (The Firework-Maker’s Daughter) memenangi Gold Medal Smarties Prize. Sedangkan Si Pembuat Jam (Clockwork) memenangi Silver Medal Smarties Prize. Buku yang kedua disebut itu dicetak dalam 107 halaman dan kubaca dalam waktu 45 menit. Ceritanya memikat. Mengalir. Kurekomendasikan pada ibu peri untuk segera membacanya. Ibu peri malah melayangkan sepotong pertanyaan, "Apa kamu tidak mencoba menulis cerita anak-anak? Aku kira kamu punya modal itu." Aku diam saja sambil menekuk garis lengkung bibirku ke atas.
Sebenarnya, aku tertarik membeli trilogi Philip Pullman dalam serial His Dark Materials. Ketiganya dalam edisi tebal, yakni The Golden Compass, The Subtle Knife, dan The Amber Spyglass. Tapi, aku sedikit menahan diri. Maklum sekarang aku harus pandai-pandai mengelola isi kantong. Mungkin bulan depan setelah gajian atau mendapat honor ghostwriter, baru aku beli ketiganya.
Sementara itu, ibu peri membeli 4 buku lainnya. Sebut saja Mereka Bilang Saya Monyet dan Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu, Absolute Victory karya Robert Pino, dan When God Winks karya Squire Rushnell. Aku sendiri menambah 3 buku lagi, yakni Dunia di Kepala Alice karya Ucu Agustine, Bulan Jingga dalam Kepala karya Fadjroel Rachman, dan Wawancara dengan J.K. Rowling dari Lindsey Fraser.
Dengan begitu, perpustakaan rumah mendapat anggota baru berupa buku-buku sastra. Aku ingat terus apa yang ditulis seorang karib, Nara Patrianila namanya. Ia pernah menuliskan di sebuah kartu ucapan yang diselipkan dalam kado buku untuk pernikahanku tahun lalu. Ia menulis: cinta bisa dipahami dengan puisi, sastra, dan menikah. Semoga kehadiran anggota baru di perpustakaan rumah ini membuat isi rumah semakin memahami arti cinta. Termasuk aku, ibu peri, peri kecil, cicak di balik lemari, tikus di gudang, kecoak di kolong mesin cuci, dan semuanya yang ada di sini. Cinta dalam arti seluas-luasnya.
read more...
Thursday, November 22, 2007
Lelaki Itu Muncul di Kick Andy
TADI malam, aku menonton Kick Andy edisi Andy’s Diary, 22 November 2007. Tontonan setiap Kamis malam pukul 22.00 di Metro TV yang tidak layak ditinggalkan. Sambil membiarkan jari-jariku menari-nari di atas keyboard laptopku untuk sepotong tulisan. Maklum deadline sudah di ambang pintu. Cenut-cenut juga sudah mulai merambati batok kepalaku.
Dalam edisi tadi malam, Andy F Noya, si krebo pemandu acara mengajak pemirsa melihat kilas balik perjalanan Kick Andy. Program ini sangat menarik. Minimal bagiku. Seperti layaknya Oprah, Andy F Noya berhasil menciptakan talk show yang menarik. Dalam. Ringan. Mengalir. Penuh sentuhan human interest.
Kick Andy pun berhasil menghadirkan sosok-sosok luar biasa. Andai pun biasa, bisa digali secara luar biasa. Tepatnya, sesuatu yang biasa yang tidak pernah kita tangkap nilai luar biasanya. Di sana, ada Xanana Gusmao, Jendral Alfredo, Hercules, Andrea Hirata, Suster Apung, para jurnalis perang, dan sebagainya. Beberapa sesi mendapat protes dan kritikan. Apalagi menyangkut tokoh tertentu. Tapi, dengan kalem, Andy mengatakan, “Tontonlah Kick Andy dengan hati, dan bukan hanya dengan otak.” Aku setuju dengan Andy. Hati memunyai matanya sendiri untuk melihat yang tidak terlihat oleh mata kepala dan otak kita.
Tapi, ada satu tokoh yang dihadirkan di Kick Andy yang membuatku menempelkan perhatian lebih erat pada tabung ajaib itu. Tokoh itu adalah Iwan Firman, seorang lelaki keturunan Tionghoa korban Tragedi Mei 1998. Sayang sekali, aku tidak melihat siaran utuhnya pada 10 Mei 2007 dalam edisi “Tragedi itu masih misteri.” Tapi, nukilan singkat ini cukup memutar memoriku. Di studio Metro TV, hadir pula Abdillah. Tema yang diangkat di sana adalah persahabatan dua orang dari dua etnis berbeda.
Nah, rasa-rasanya, aku mengenal dekat orang-orang itu. Kisahnya begitu familiar. Persahabatan dua orang beda etnis. Iwan beretnis Tionghoa dan Abdillah beretnis Jawa. Aku pernah bertemu dengan dua orang ini dalam sepotong wawancara. Cerita di Kick Andy pun mengingatkanku dengan tulisan yang pernah aku tulis di blog ini. Judulnya Merajut Seribu Mimpi yang diposting 19 Februari 2006. Tulisan ini pernah juga diterbitkan di Warta Minggu, buletin milik Paroki Maria Bunda Karmel, Tomang, Jakarta Barat pada 1 Juni 2003.
Aku mewawancari Iwan di rumahnya, di Tanah Tinggi, kawasan Senen. Waktu itu siang hari, 14 Mei 2003, persis 5 tahun saat Iwan mengalami peristiwa naas yang membuatnya cacat, 14 Mei 1998. Aku juga menjumpai Abdillah, penjaga palang kereta api Pos Pintu no. 31, Kembang Pacar, Pasar Gaplok, Senen. Dari cerita dua orang ini, aku menangkap inti persahabatan. Abdillah adalah sosok penyelamat hidup Iwan yang nyaris diakhiri di bantalan rel kereta api itu. Di posko lelaki kelahiran Brebes inilah, aku menemukan foto Iwan ketika masih berfisik normal (lihat di blog). Keduanya sudah bersahabat selama 20 tahun. Sebenarnya, ada satu lagi sahabat Iwan. Namanya Andreas. Tukang siomay keliling inilah yang menjadi sahabat keseharian Iwan. Dialah yang menyediakan makan, menyuapi, bahkan menceboki Iwan.
Nukilan di Kick Andy itu membuatku seperti bereuni dengan tulisanku sendiri. Bereuni dengan tokoh-tokoh dalam tulisan itu. Aku terbawa pada sebuah pengenangan. Mendadak aku terkesiap ketika di akhir nukilan Kick Andy itu, seorang dari penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) bernama Ramayanti memberikan sedekah mewakili Margat T, seorang novelis kawakan.
Rasa-rasanya aku pernah kontak mengontak dengan Ramayanti. Ia juga pernah berkirim surat elektronik sambil membawa pesan dari Marga T sebelum acara Kick Andy itu digelar. Ia mengirim pesan itu ke kotak suratku yang aku pasang di blog ini. Ia menyampaikan kabar bahwa Margat T mencari alamat Iwan Firman untuk memberikan tanda kasih pada korban kerusuhan Mei. Berikut surat dari Ramayanti tertanggal 14 Maret 2007:
Dear Musafirmuda,
Salam kenal. Saya Yanti, editor Gramedia Pustaka Utama. Dengar-dengar Mas kerja di Gramedia Majalah? Masih saudara dong kita? Kami mau minta tolong nih, Mas. Marga T melalui GPU ingin memberikan tanda kasih kepada para korban kerusuhan Mei '98. Kata MT, Mas pernah menulis tentang Iwan Firman? Apakah Mas tahu alamat Iwan dan korban-korban lainnya seperti Andreas Abdillah, Pak Penjaga KA, dan keluarga Almarhum Haji Harun? Trims berat untuk perhatiannya.
Salam,
Yanti
Aku heran aku disangkanya karyawan Gramedia. Maklum, namaku nama pasaran. Lalu, dengan senang hati, aku membalasnya dengan surat tertanggal 17 Maret 2007. Senang juga berkenalan dengan Margat T, penulis serial novel Sekuntum Nozomi itu. Syukur-syukur bisa mencuri-curi ilmu menulisnya. Minimal berbagi energi untuk tetap setia menulis. Mbak Yanti membalas lagi via sepotong surat tertanggal 20 Maret 2007.
Halo Mas,
Trims untuk balasannya. Wah, salah info nih saya, tapi kita tetap saudara di dunia penerbitan, kan. Saya sudah menelepon Iwan dan sudah mendapatkan alamatnya, tapi keluarga Haji Harun sudah pindah dan Iwan gak tahu alamatnya. Saya belum tahu persis kapan tepatnya tanda kasih itu akan diberikan, rencananya sih sekitar pertengahan Mei, tapi kami masih harus mematangkannya dulu karena ada pihak lain yang terkait. Mbak Marga T kebetulan tidak tinggal di Jakarta, Mas, jadi kalau kontak langsung mungkin agak susah. Tapi kalau lewat e-mail sih MT selalu welcome. Alamatnya: marga_xxx@yahoo.com
Sekali lagi, trims berat atas bantuannya.
Salam,
Yanti
Mungkin ini sebuah kebetulan. Kebetulan yang diagendakan semesta. Bagiku, ini seperti obat penawar lupa. Lupa adalah penyakit orang kita selama ini. Lupa sejarah. Lupa bahwa di sekitar kita ada korban. Korban yang diam dan didiamkan. Korban yang dilukai dengan cara-cara yang nyaris melampaui batasan rasa kemanusiaan kita untuk memahami penderitaan itu sendiri. Ekstrem. Nah, menulis adalah bagian dari sikap melawan lupa. Scripta manent, verba volant: yang tertulis akan mengabadi dan yang terucap akan berlalu bersama angin.
Menulis bagiku memunyai misi sosial. Tulisan bisa menggugah solidaritas orang. Mengingatkan orang. Meneguhkan orang. Meski tak jarang, tulisan juga bisa membunuh orang. Aku merasa senang ketika tulisanku membuat orang termotivasi untuk membantu orang lain. Dengan demikian, tulisanku ini memunyai energi. Aku mengamini pesan Thomas Carlyle: tulisan yang lahir dari hati akan menyentuh hati-hati yang lain.
Tapi, jujur saja, aku pernah terpuruk oleh suatu pengalaman buruk. Tepatnya, mimpi buruk yang masih menggantung di batok kepalaku. Mimpi buruk itu tak lain aku pernah merasa terlibat dalam pembunuhan seseorang gara-gara aku emoh menulis. Mimpi buruk ini pernah aku tulis di blog ini. Judulnya Apakah Aku Turut Membunuhnya? (silakan klik).
Berikut petikan awal tulisanku tentang Iwan Firman itu:
“Pria berpostur gemuk dengan luka bakar di sekujur tubuhnya itu tampak gelisah. Sesekali, ia menatap kalender yang digantung di dinding ruangan berukuran 2X4 meter. Tanggal 14 Mei 2003. Matahari siang masih menghujamkan panasnya di Tanah Tinggi, Kawasan Senen. Patung panglima Tiongkok Kwang Kong dan seekor burung robin dalam sangkar seolah turut merasakan kegelisahan pria itu. Sejenak mereka hening. Iwan Firman, seorang korban Kerusuhan Mei 1998, takkan melupakan tanggal itu. Lima tahun lalu, pada tanggal yang sama, Iwan mengalami kekerasan yang membuat fisiknya cacat, tak senormal dulu. Siang itu juga, Iwan berbagi kisah tentang peristiwa horor Mei kelabu. Aku duduk mendengarkan. Membuat coret-coret di notes kecilku.” (Selengkapnya)
read more...
Sunday, November 18, 2007
Menonton Butet
MIMPI ibu peri jadi kenyataan. Keinginan kuat menonton monolog Butet Kartaredjasa berlakon Sarimin itu pun kesampaian malam ini. Jumat malam, 16 November 2007. Bayangkan, keinginan nya sampai terbawa mimpi. Mau tidak mau, dengan senang hati, aku menurutinya. Apalagi di dalam rahimnya, ada peri kecil berusia 6 bulan berjenis kelamin laki-laki. Siapa tahu, itu keinginan si kecil mendengar banyolan seniman asal Bantul itu.
Ini adalah kedua kalinya aku bersama ibu peri menonton Butet manggung di tahun 2007. Pertama kita nonton Butet berperan sebagai Ilak Alipredi dalam pementasan Kunjungan Cinta persembahan Teater Koma, Januari 2007. Ibu peri memang doyan nonton teater. Begitu pula aku.
Sampai di Graha Bhakti Budaya TIM pukul 18.00. Masih 2 jam menunggu pentas aktor kelahiran Jogja, 21 November 1961 itu. Di depan loket, kantong dirogoh, uang Rp 100.000 didapat, dan ditukarkan dengan 2 tiket bernomer W16 dan W17. Sayang kepalang sayang. Kita salah pilih kursi. Ternyata kita dapat kursi di balkon. Jeda waktu kami isi dengan nonton film gratis dalam Le Mois du Film Documentaire, festival film pemenang festival yang digelar di Studio 1 TIM 21. Film La traversee (2006) jadi tontonan pemanasan. Karya Elisabeth Leuvrey dan berdurasi 55 menit ini berisi dialog-dialog unik rombongan orang yang menyeberangi lautan antara Prancis dan Aljazair setiap musim panas. Khususnya, antara kota Marseille dan kota Alger.
Sisa jeda waktu kami isi dengan menyambangi gerai buku di pojok TIM. Hasilnya, 2 novel dari trilogi YB. Mangunwijaya terbeli ibu peri seharga Rp 60.000, yakni Roro Mendut dan Lusi Lindri. Buku ke-2 dari trilogi itu masih dicari, berjudul Genduk Duku.
Pukul 20.05, Butet pun manggung diiringi musik dari Djaduk Ferianto. Butet tampil pertama kali sebagai narator. Ia berkisah tentang seorang miskin bernama Sarimin. Mendengar nama ini, orang langsung berasosiasi dengan tukang monyet keliling. Dan benarlah, Sarimin dalam cerita Butet adalah lelaki miskin berumur 54 tahun yang bekerja sebagai tukang monyet keliling.
Tanpa lama, Butet menanggalkan peran narator dan merasuk ke tokoh Sarimin. Suatu siang, Sarimin menemukan sebuah KTP di jalan. Karena buta huruf, ia tidak tahu siapa pemilik kartu identitas itu. Dengan polos, ia pun menyambangi kantor polisi terdekat. Sayang sekali, di kantor polisi yang bertuliskan “Kami siap melayani Anda” itu, Sarimin merana. Ia dibiarkan menunggu oleh polisi yang sok sibuk dengan pekerjaan lain yang lebih besar: m-e-n-g-e-t-i-k. Tik-tak tik-tok, tik-tak tik-tok. Demikian suara mesin ketik manual itu menenggelamkan tugas polisi untuk melayani wong cilik seperti Sarimin.
Sampai akhirnya seorang polisi menjumpainya dan mempersalahkannya. Sarimin didakwa telah mencuri KTP yang ternyata adalah KTP milik hakim agung. Sejak itu, nasibnya berubah seperti bola yang leluasa ditendang ke sana ke mari oleh aparat penegak hukum. Sarimin dipaksa mengaku. Tapi, keteguhan dan kejujurannya mengantarnya ke dalam penjara. Ia bisa dibebaskan asal ia menebus dengan uang. Tapi, uang sepeser pun tidak ada di kantongnya. Kemiskinan terlanjur getir. Butet pun mulai berakting dengan gaya humornya. Parodi dan satir jadi satu. Sesekali ia bermain sebagai polisi. Sesekali ia bermain sebagai seorang pengacara berdarah Batak dan bernama Binsar. Olah suaranya dibilang jago. Meski sesekali keseleo memainkan lidah orang Batak, ia mampu menutupinya dengan banyolan segar.
Kehadiran pengacara menambah hati Sarimin runyam. Ia hanya ingin numpang populer. Bahkan, pengacara bodoh itu melemparkan logika bodoh ke telinga Sarimin: “Karena benar, maka kamu salah.” Logika yang terbolak-balik.
Monolog itu adalah monolog kita sendiri. Rasanya begitu miris memikirkan praktik hukum di negeri ini. Hukum yang tidak lagi memihak pada kebenaran dan keadilan. Tapi, hukum yang bisa dipermainkan oleh uang. Akibatnya, orang miskin semakin menderita oleh sistem hukum ini. Hukum hanya menjadi alat aparat penegak hukum memeras korban. Aku yakin masing-masing dari kita pernah menemui pengalaman seperti Sarimin. Entah di jalan dengan polisi lalu lintas atau polisi pamong praja yang arogan. Ada 1001 pengalaman buruk bersama para penegak hukum ini. Kalau dilihat hanya bikin sakit hati lagi. Anehnya, logika bodoh ini menulari masyarakat. Persis seperti kekerasan yang menular. Rene Girard menyebutnya dengan mimesis, proses tiru-meniru. Tapi, monolog ini mengajak kita untuk menertawakan semua itu. Menertawakan kepahitan. Menertawakan kebodohan. Menertawakan kebebalan. Menertawakan kemiskinan. Menertawakan hidup.
Pukul 22.00, monolog usai. Membuatku merenung. Dunia memang membutuhkan orang-orang yang berani untuk mengatakan benar jika itu benar. Salah jika itu salah. Kutengok peri kecilku di dalam sana. Semoga, peri kecilku nanti bisa tegar dan tidak terjerumus dalam arus dunia yang sarat dengan kemunafikan dan kebodohan. Lalu kita tutup jalan-jalan malam itu dengan menyantap nasi kucing lengkap dengan sate usus dan teh panas di angkringan Cikini.
read more...
Thursday, November 15, 2007
Peristiwa 9/11
ANGKA 9 dan angka 11 adalah angka sangat penuh arti. Angka ini pernah dipakai untuk menandai sejarah dunia, Tragedi 11 September 2001. Tragedi 11/9 memutar memori kita pada suatu pagi nan cerah di Manhattan. Pagi saat dua burung besi berisi ratusan penumpang menghantam menara kembar World Trade Center. Pagi naas dan menewaskan lebih dari 3000 orang.
Bagaimana kalau kita balik angkanya menjadi 9/11? Peristiwa 9/11 juga sarat arti. Pada tahun 1989, angka itu merujuk peristiwa runtuhnya Tembok Berlin. Ini sejarah penting bersatunya dua Jerman, Jerman Timur berhaluan komunis dan Jerman Barat berhaluan kapitalis. Sementara itu, jauh di tahun 1799, angka ini mengacu pada Napoleon Bonaparte resmi menjadi diktaktor. Pada tahun 1904, angka ini bicara tentang pesawat yang diterbangkan pertama kali. Pada tahun 1918, Bavaria memproklamirkan diri sebagai republik. Tahun 1932, angin ribut mengosak-asik Santa Cruz del Sur Cuba dan menewaskan 2500 orang. Pada tahun 1970, Presiden Prancis Charles deGaulle mati di usia 79 tahun. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Mau tahu lebih banyak, silakan cek di situs scopsys. Iseng-iseng untuk utak-atik tanggal dan peristiwa.
Tapi, peristiwa 9/11 yang bagiku paling berarti adalah peristiwa di tahun 1976. Pada saat inilah, pukul 1o malam dan Jogja sedang dibekap hawa dingin, aku dilahirkan. Aku dilahirkan dari seorang ayah tentara dan ibu seorang pegawai negeri. Bantul, kampung halamanku. Lahir sebagai anak ketiga setelah 2 kakak perempuanku.
Jarang aku merayakan ulang tahun. Minimal traktir mentraktir saja. Itu pun sederhana. Perayaan besar justru terjadi ketika aku berada di asrama Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah, 11 tahun silam. Bila hari itu tiba, seluruh isi asrama berpesta. Minimal dengan sajian makan siang khusus. Maklum, pada hari itu, bertepatan dengan hari ulang tahun seorang pembesar asrama. Namanya Bruder Van Dooren SJ. Ia seorang bruder tua asal Belanda dan ditugasi mengajar anak-anak asrama bahasa Prancis. Tapi, saat aku datang, ia sudah terlalu uzur. Ia tinggal wisma Emaus, tempat para Jesuit tua tinggal menunggu keabadian. Parasnya lucu seperti dokter Patch Adam yang diperankan oleh Tom Hanks. Memorinya sedikit aus. Pelupa. Doyan jalan-jalan dengan sepeda unta, beropi koboi, mengelilingi kampung seputar asrama. Ia begitu dicintai anak-anak kampung. Buktinya, banyak anak dan warga kampung yang senang hati mengantar pulang bruder itu karena lupa jalan menuju asrama. Maklum. Sekarang ia sudah meninggal. Tapi, kenangan lucu masih menggantung di batok kepalaku. Aku mau menuliskannya di lembar terpisah.
Kembali ke ulang tahun. Ulang tahun di tahun 2007 ini juga tidak meriah. Malam menjelang ulang tahun, tubuhku justru menggigil diserang demam. Demam yang sebelumnya mampir di tubuh ibu peri. Pagi hari, seperti biasa, kulayangkan sepotong doa tanda syukur. Lalu sarapan bareng bersama ibu peri dengan ketupat sayur yang ia beli di pasar dekat rumah. Liputan. Ngantor. Mentraktir teman-teman kantor kue donat dengan patungan bareng Eko yang berulangtahun sehari sebelumnya. Menulis.
Ucapan selamat berderai baik melalui sms, telepon, langsung, maupun yahoo messenger. Saudara-saudaraku pun ‘berdemonstrasi’ minta ditraktir. Tapi, aku tunda dulu, karena sore hari, aku harus memeriksakan ibu peri ke dokter kandungan. Maklum sudah 6 bulan dan vitamin dari dokter sudah habis. Sayang saja, dokter Raditya sedang cuti satu minggu. Malam hari, bersama ibu peri, aku pergi Video Ezy untuk pinjam beberapa film. Karena petugas rental tahu hari itu ulang tahunku, aku mendapat gratis 2 keping film dan kartu ucapan. Lama aku tidak dapat kartu ucapan ini. Sekali dapat, justru dari rental vcd itu. Bagus. Bagus. Malamnya aku habiskan dengan ngobrol bersama ibu peri sambil memandangi atap kamar tidur. Di luar, hujan jatuh membasahi jalanan.
Baru hari berikutnya, aku menepati janjiku mentraktir saudaraku. Kijang Taruna warna hijau membawa kami ke gerai Djakarta’s Steak di Meruya. Gerai steak sederhana tetapi tidak terlalu jelek. Meski soal rasa masih kalah dibanding Abuba. Tapi, untuk rame-rame, Djakarta’s Steak ini lumayan cocok. Harganya juga ekonomis. Menunya pun beragam. Ada tenderloin, sirloin, T-bone, chicken gordon blue, cruncy, crispy, dan sebagainya. Ada menu tambahan seperti french fries, spaghetti bolognaise, dan aneka minuman. Range harganya cukup membuat kantong tersenyum, Rp 15 ribu s.d. Rp 28 ribu. Kedai tenda ini cukup ramai oleh pengunjung. Sampai kita pun berebut kursi.
Hari berikutnya masih ada ucapan yang mampir di ponsel. Bahkan, Rabu malam, seusai menemui narasumberku di Starbucks City Plaza, aku diberi hadiah tas oleh seorang sahabat dan pembaca blog. Bertempat di outlet roti Seven Grain di Mampang Prapatan, ia menyodoriku kado tas dan sepotong cake dengan satu lilin kecil berulir. Wah, terimakasih kisanak!
Bertambah umur, bertambah tua. It’s a long road!
read more...
Wednesday, November 14, 2007
Noni Menikah
SEORANG sahabat baru saja menikah. Namanya Airin Sunandar. Putri sulung seorang dokter gigi ini sering menyebut dirinya Noni. Noni adalah inisial buat tulisan-tulisannya. Noni menikah dengan Anton di Gereja Katolik Bunda Perantara Cideng, Jakarta Pusat, Minggu 11 November 2007. Resepsi dilangsungkan malam harinya di Panti Perwira Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan. Sekitar 500 meter dari sepotong gang tempat favorit untuk melepas malam bersama marina, zombie, atau satu teko bir plethok ditemani kacang goreng bertabur garam.
Entah kenapa, sebulan sebelum pernikahannya, Noni memintaku membuat dan membacakan doa untuk membuka resepsi itu. Setengah tidak percaya. Bagaimana mungkin orang yang jarang ke gereja ini membuat dan membacakan doa? Bisa jadi para malaikat di langit jatuh pingsan. Apa Tuhan tidak terpingkal-pingkal. Tuhan yang selama ini aku sejajarkan dengan larutan panas cappuccino bertabur chocolate granule merek Tora Bika itu. Tuhan yang doyan aku ejek dengan ungkapan: hari tanpa ngopi itu seperti agama tanpa Tuhan. Ejekan yang justru membuat seorang kawan di kantor ingin mendampratku.
Tapi, aku menyanggupinya. Dalam pesan pendek, ia minta agar doanya seromantis mungkin. Waduh! Aku bukan orang yang doyan roman-romanan. Tapi, tidak apa-apa. Alih-alih sebagai persembahan buat seorang sahabat sendiri. Dulu, beberapa bulan lalu, ia juga memintaku membuatkan teks doa. Tapi buat ulang tahun pernikahan papa mamanya. Alamak, dosa apa aku ini.
“Tuhan yang merajai seluruh semesta. Pada malam yang suci dan agung ini, kami menghaturkan sembah sujud penuh ketakziman atas segala peristiwa dan segala perjumpaan yang Kau suguhkan pada kami seperti rintik hujan yang Kau kirim pada tanah malam ini. Malam di mana bulan mengunci diri. Bersamadi dalam sunyi. Merenungi kasih ilahi.”
Tahu tidak, sebelum pembuka doa itu aku daraskan di atas mimbar, aku sempat grogi. Serius. Sesekali aku meminta Helena dan Bernardi, sahabat yang turut resepsi itu untuk menggantikanku. Tapi, mereka tidak mau. Mereka malah mengembangkan bibirnya untuk sebuah senyuman. Seakan mereka mau mengatakan: mampus lo!
Bayangkan saja, pesta nikah ini diadakan secara mewah. Para tamu undangan berpakaian serba parlente. Panti nikahnya begitu agung. Modern. Airin tampil begitu ayu dengan gaun putih. Anton tampil ganteng dengan balutan jasnya. Panti pun disulap wah dan elegan. Ditambah dengan full music seperti light jazz, instrumental, dsb. Nah, apa tidak rusak gara-gara mendengar doa dengan suara slendro (baca: jawa medhok) yang jauh bermil-mil dari suara mikrofonis ini Tapi, quid scriptus, scriptus! Artinya, yang tertulis tetaplah tertulis. Sang pembawa acara pun harus taat pada urutan acara yg sudah tertulis. Apalagi rombongan pengantin sudah manggung. Sorot lampu kamera menghunjam deras ke tubuhku yang berbalut kemeja batik dengan motif bunga-bunga didominasi warna merah. Para undangan sudah memalingkan wajahnya padaku seperti mau mendengarkan seorang presiden hendak mengumumkan kenaikan harga BBM. Dan benar yang terjadi. Saat bibirku mengajak hening sejenak, semua orang hening. Kertas doa yang sudah kucel aku buka. Mikrofon sudah ada 5 cm di depan mulut.
Serius! Mendadak podium berubah menjadi panggung seni. Aku merasa seperti Sapardi Djoko Damono yang hendak membacakan sajak romantisnya. Bak Joko Pinurbo yang hendak membaca syair-syair dalam antologi Di Bawah Kibaran Sarung (2001) atau Pacar Senja (2005). Lalu, aku bermonolog lagi.
“Hanya karena cinta, jari-jari-Mu menari-nari melukiskan ada. Bumi. Pohon. Burung. Angin. Senja. Kupu-kupu. Cakrawala. Matahari. Cemara. Langit. Bintang. Segala dan setiap napas yang berhembus. Karena cintamu, Kau telah mempertemukan rumput dengan embun pagi. Awan di angkasa dengan langit di kaca jendela. Ombak dengan pasir. Bunga tulip dengan lebah madu. Demikian juga Kau mempertemukan dua mempelai ini.”
Noni adalah seorang sahabat yang menarik. Aku mengenalnya sejak berkarya bersama di Warta Minggu, sebuah buletin gereja Katolik di Jakarta Barat. Ia seorang pelahap buku. Bukunya banyak. Apalagi kategori fiksi. Tak jarang, kita sering barter buku cerita untuk dipinjam. Aku selalu senang melihat orang doyan buku. Pasti ada suatu yang berbeda dari cara hidupnya dibanding orang yang tidak pernah atau jarang membaca buku. Selain itu, gadis penyuka kucing ini adalah seorang penulis menjanjikan. Tulisannya ngepop. Mengalir. Enak. Muda. Berisi. Aku tidak bakalan lupa dengan satu cerpennya berjudul Rendesvouz. Cerita pendek yang isinya amat dekat dengan kisah hidupku di masa-masa mengenal seorang cewek bernama Nat yang sekarang menjadi ibu peri. Cewek yang aku kenal di bawah temaran lampu-lampu gantung di Kedai Tempo, Utan Kayu.
Ia juga seorang resensor buku yang baik. Buktinya, beberapa buku anak-anak yang ia resensi diterbitkan di Kompas Minggu di rubrik anak. Kita sering bertukar informasi seputar buku, entah pameran buku, diskusi buku, buku murah, dan sebagainya. Itulah Airin, sahabat yang menarik.
"Bersama semesta, kami berdoa bagi kedua mempelai. Semoga cinta yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma, mereka berikan secara cuma-cuma juga satu sama lain. Berkatilah jalan-jalan pejiarahan mereka. Kuatkanlah jika kaki-kaki mereka melemah. Lembutkanlah jika rasa mereka mulai membatu. Ketuklah jika pintu-pintu hati mereka mulai terkatup. Terangilah jika api pengharapan mereka mulai meredup. Ingatkanlah jika mereka mulai menyimpang dari jalan-jalanmu."
Semoga doa-doa itu didengar Tuhan. Buat Noni, selamat melakukan pejiarahan panjang bersama suamimu. Semesta membukakan jalan-jalan rezeki dan bahagia untukmu. Ia akan menyediakan oase-oase penawar dahaga. Hati-hati pula, di jalan banyak fatamorgana. Welcome to another paradise!
read more...
Monday, October 22, 2007
Nobel Sastra dan Kesunyian Seorang Penulis
NAMA yang aku tunggu akhirnya muncul. Oktober sudah hampir lewat. Padahal di setiap Oktober, nama pemenang Nobel biasanya diumumkan. Daftar nominasi kandidat sendiri muncul setiap 1 Februari. Minggu pagi, seperti ritual biasanya, aku membuka Koran Tempo Minggu. Seperti biasa juga, aku langsung membuka halaman rubrik sastra dan buku. Nah, di halaman 19, aku menemukan nama Doris Lessing, peraih nobel sastra 2007 itu.
Potret Doris terpampang di samping judul “Kado Manis untuk Doris” (Koran Tempo, 21 Oktober 2007). Parasnya sudah uzur. Keriput menghiasi setiap sudut mata dan lekuk pipinya. Garis-garis lipatan kulit tegas nampak di dahinya. Rambutnya sudah semuanya memutih. Tapi, sorot bola mata yang tenggelam di antara lipatan kelopak matanya, tampak begitu tajam. Tanda betapa perempuan ini sudah banyak makan asam garam. Itulah Doris Lessing.
Doris lahir pada 22 Oktober 1919 di Kermanshah, Iran. Nama lengkapnya Doris May Taylor. Putri dari Alfred Cook Taylor, mantan kapten Inggris pada masa Perang Dunia I, dan Emily Maude Taylor, seorang perawat ini menjadi orang ke-106 yang mendapat anugerah ini.
Nama Lessing ia peroleh dari pernikahan kedua dengan Gottfried Lessing, seorang imigran Jerman-Yahudi yang ia kenal dalam Klub Buku Kiri. Doris beberapa kali terlibat dalam gerakan Kiri, entah di Partai Buruh Rhodesia Selatan maupun British Communist Party.
Jalan kepenulisannya ia mulai dengan novel The Grass is Singing (1950). Novel ini berkisah tentang relasi istri petani kulit putih dengan budak kulit hitamnya. Konflik rasial menjadi konteks dari seluruh plot cerita. Berlanjut dengan antologi cerita dalam This was The Old Chief’s Country (1951), cerita pendek Five (1953), The Children of Violence Series (1952-1959). Novel fenomenal Doris adalah The Golden Notebook (1962). Novel ini berkisah tentang Anna Wulf, karakter cerita yang memunyai buku catatan untuk menumpahkan ide-idenya tentang Afrika, politik, komunisme, relasi dengan pria, dan seks. Ia menggunakan pisau analisis psikolog Carl Gustav Jung untuk mengeksplorasi mimpi, seni, mitologi, agama, dan filsafat. Tema-tema perempuan bisa ditemukan dalam karyanya African Laughter: Four Visits to Zimbabwe (1992), Under My Skin (1994), The Summer Before the Dark (1973), The Fifth Child (1988), dan Walking in the Shade (1997). Novel terbarunya adalah The Cleft (2007).
Aku mereka-reka apa yang akan Doris katakan pada hari penganugerahan 10 Desember nanti. Ia akan mendapatkan piagam dan medali bergambar Alfred Nobel berlapis emas 24 karat. Raja Swedia Carl XVI Gustaf akan memberi kado ulang tahun berupa uang 10 juta kron atau Rp 14 miliar.
“Pembaca bebas melakukan apa pun, bebas menilai, dan penulis hanya bisa mengikuti,” kata Doris dalam sepotong wawancara dengan Adam Smith, panitia penghargaan itu. Bagiku, itulah wujud kerendahan hati Doris. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri dari karya-karyanya, Doris seorang yang menyuarakan keprihatinannya atas dunia sosial tempat ia hidup. Seperti hanya banyak penulis lain, Doris pun mengalami masa-masa kesendirian, asketik (mati raga), konflik, ditinggalkan, sepi. Aku senang menyebutnya sebagai soliter bagi penulis. Sepertinya, jalan-jalan kesunyian adalan jalan keharusan bagi para penulis.
Lihat saja para penulis lain. Gabriel Garcia Marquez, peraih Nobel Sastra 1982, tanpa letih berjuang dalam sayap Kiri dan mengkritik habis kediktaktoran Kolumbia, Laureano Gomez dan penggantinya, Jendral Gustavo Rojas Pinilla. Ia harus bersembunyi di Meksiko dan Spanyol. Dari tangannya lahirlah novel tentang refleksi mendalam atas sejarah Amerika Latin. Novel berjudul One Hundred Years of Solitude (1970) telah mengantarnya menjadi maestro realisme magis dunia. Novel ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Bentang dengan judul 100 Tahun Kesunyian. “Kita hanya sedikit sekali berimajinasi, sebab kita kekurangan alat-alat konvensional untuk lebih memercayai hidup. Inilah kawan, inti terdalam dari kesunyian kita,” katanya.
Di Asia, muncul nama Gao Xingjian. Peraih Nobel Sastra 2000 ini, pernah bermain ‘petak umpet’ dengan pemerintah China. Lelaki kelahiran Ganzhou ini baru bisa menerbitkan tulisannya lima tahun setelah Revolusi Kebudayaan berakhir tahun 1976. Kritikan pedas pada kebijakan represif pemerintah membuatnya pergi sementara ke Prancis pada tahun 1990. Ia juga mengkritik habis pembantaian berdarah di Lapangan Tiananmen tahun 1989. Naskah dramanya Tauwong (1992) membuat pemerintah China melarang semua tulisannya. Novel Ling Shan (Soul Mountain) menjadi karya terbesar Gao. “Saya mulai menulis novel saya, Soul Mountain, untuk mengusir kesepian jiwa saya di sepanjang waktu ketika karya-karya yang telah saya tulis dengan sensor diri yang ketat pun dilarang,” katanya pada saat pidato.
Ada lagi Nadine Gordimer dari Afrika Selatan. Perempuan peraih Nobel Sastra 1991 dipuji karena cara berceritanya yang sangat alami dan gaya menulisnya yang memukau. Tulisan-tulisannya diwarnai dengan keprihatinan atas rasialisme yang menghinggapi sistem sosial politik Afrika Selatan. Puncak pemikirannya tercermin pada Writing and Being (1995). Nadine menegaskan penulis mengada lewat karyanya dan bagaimana proses mengada itu dijelaskan oleh manusia melalui ragam cara, seperti agama, filsafat, ilmu pengetahuan, dan mitos.
Kenzaburo Oe dari Jepang dikenal sebagai kritikus bangsanya sendiri melalui novel-novelnya. Ia merupakan sastrawan pasca-Perang Dunia II. Karyanya bercerita seputar lingkungan hidup, antinuklir, dan antiperang. Novel termasyurnya berjudul Man’en gannen no futtoboru (The Silent Cry, 1967). Novel ini merupakan refleksinya mendalam atas peristiwa Hiroshima dan Nagasaki. Ia dianugerahi Nobel Sastra pada tahun 1994.
Lain lagi dengan Naguib Mahfouz dari Mesir. Ia dikejar-kejar lantaran karyanya terlalu banyak mengkritik otoritas agama. Bahkan, ia nyaris mati oleh tikaman dari penyerang gelap. Ia memenangi Nobel Sastra tahun 1988. Tidak ketinggalan juga Imre Kertesz dan Gunter Grass. Kertesz, novelis Hungaria, adalah seoarang Yahudi yang berhasil lepas dari kamp Auschwitz. Ia menyikapi holokaus itu dengan arif dan jauh dari kesumat. Tulisannya mengalir. Oleh karenanya, seperti dikatakan saat pidato, ia menulis untuk dirinya sendiri. Bukan untuk pembaca atau untuk memengaruhi orang lain. Grass, penulis Jerman, dikenal lantaran perannya menghidupkan sastra Jerman paskaperang. Ia seorang pecinta damai dan pengkritik kebijakan menjelang Jerman bersatu. Kertesz mendapat Nobel Sastra pada tahun 2002 dan Grass pada tahun 1999.
Sekali lagi, kesepian, asketisme, pengekangan diri, penindasan, hampir senantiasa mengiringi kehidupan para penulis itu. Boleh dibilang, situasi sosial semacam itu, ikut merangsang syaraf-syaraf kreatif mereka untuk bersastra. Di Tanah Air, kita tidak boleh melupakan sosok Pramoedya Ananta Toer. Sebagian karya-karyanya lahir di pembuangan di Pulau Buru. Siksa dan derita pun tidak luput mengunjungi sang penulis. Lebih-lebih kesepian, di mana banyak orang memalingkan muka darinya.
Tapi, penulis dan kesepian (soliter) tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Marguerite Duras menegaskan keberanian untuk kesepian dan terasing mutlak diperlukan oleh penulis. GP Sindhunata dalam sepotong tulisannya di internet, mengatakan kesepian bukan berarti isolasi. Itu menjadi semacam keberadaan diri yang sadar, yang justru terus bergulat untuk menemukan kontak. Tapi, juga menolak kontak.
Soal kesepian ini, aku ingat potongan catatan harian Soe Hok Gie. Berikut lima kalimat ungkapan kegelisahan yang pernah aku posting juga di blogku. "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang. Makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan. Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian," katanya.
Sindhunata menegaskan, dalam kesepian itu orang bisa menjadi liar. Menulis memang membuat orang menjadi liar. “Seorang penulis tiba-tiba mendapati dirinya liar seperti di hutan, dan selalu liar sepanjang hidupnya. Untuk menulis, orang harus menggigit bibir, bergulat dengan keliarannya. Untuk itu ia harus menjadi lebih kuat dari tubuhnya. Ia juga harus lebih kuat daripada apa yang hendak ditulisnya. Kalau tidak, ia akan menyerah dan kalah. Maka menulis itu sebenarnya bukan hanya menulis, tapi mengalahkan kelemahan dirinya, menundukkan apa yang dihadapinya,” kata seorang Jesuit yang baru saja menerbitkan novel anyarnya Putri Cina (2007).
Menurutnya, orang yang tidak berani sepi, dia tak mungkin jadi penulis yang baik. Tapi, kesepian bukanlah saat untuk beromantisme. “Kesepian itu adalah suasana, yang menantang kita untuk berani bergulat dengan seluruh realitas, yang ternyata tidak mudah kita taklukan. Tak jarang orang menyerah dalam pergulatan itu, karena ia merasa tidak kuat dan tidak mampu. Menulis akhirnya adalah suatu askese, matiraga, suatu kebertapaan di tengah keramaian,” katanya.
Aku sendiri membutuhkan waktu lama untuk menimbang-nimbang dalam menjatuhkan pilihan di jalan penulisan ini. Menulis sebagai sebuah matiraga sudah aku rasakan. Meski hanya karya-karya kecil saja yang baru aku hasilkan. Menulis membutuhkan jiwa besar dan hati rela berkorban. Menulis membutuhkan kedisiplinan yang besar. Menulis dekat dengan rasa sakit. Sepi. Ditinggalkan. Kemampuan bertahan. Godaan untuk segera menutup laptop, mematikan komputer, membuang pena jauh-jauh, merobek kertas berisi coretan, dan sebagainya. Lebih-lebih logika pasar memasang standarnya sendiri. Tapi, bagiku, godaan paling besar adalah kemalasan untuk duduk dan menulis. Ini sebuah perjuangan besar!
Benar apa yang dikatakan Pater Greg Soetomo SJ, di sebuah wisma skolastik para Jesuit muda di Kampung Ambon pada sepotong senja. Ia mengatakan banyak orang pintar tapi tidak bisa menulis. Seorang yang bertekad menjadi penulis harus membuktikan hidupnya sebagai seorang penulis. Ia mengumpamakan seorang penulis harus berani menjadi the prodigal son, anak hilang. Aku suka dengan metafor anak hilang ini. Ia benar-benar memunyai komitmen dan disiplin tinggi pada apa yang dicintai. Mungkin ia akan hilang dari komunitasnya. Bahkan, komunitas (keluarga)-nya pun merasa kewalahan, sedikit uring-uringan, menilainya nyeleneh (menyimpang dari umum) sebelum akhirnya memahami sikap dan komitmen dari orang yang bertekad menjadi penulis ini. Ia benar-benar mengalokasikan waktu untuk banyak membaca, menulis, lebih senang menyendiri, merenung, dan sebagainya. Mungkin inilah bahasa lain dari jalan-jalan sunyi yang harus ditempuh oleh seorang penulis.
Aku sendiri mengamini itu semua. Lebih-lebih, sudah banyak penulis telah mengalaminya. Menulis itu seperti berjalan di padang pasir kesunyian. Mungkin Robert Frost lebih tepat menggambarkannya. Ia mengatakan di hutan, ia menjumpai dua jalan. Satu jalan besar, mulus, lurus, dan sering dilalui orang. Satu jalan lain kecil, berkelok, penuh belukar, dan jarang dilalui orang. Frost dengan besar hati akhirnya memilih jalan yang jarang dilewati orang itu.
Aku juga memilih jalan itu!
[refleksi atas berbagai sumber]
read more...
Saturday, October 20, 2007
Ia Mati di Tangan Ayah
SIANG menjelang di bawah pohon-pohon jati yang meranggas. Angin mengintip malu dari batang-batang bambu dan menimbulkan jeritan lirih. Burung-burung srigunting yang melayang-layang di atas pohon kelapa mendadak berubah menjadi gagak-gagak hitam pemakan bangkai. Cicak terbang melesat dari dahan jati ke dahan jati lainnya. Seolah tahu, sebentar lagi akan ada mahkluk hidup yang akan diakhiri hidupnya dengan paksa.
Tempat penjagalan ini cukup tersembunyi. Di situ, ada bekas kolam ikan yang sudah rusak. Penuh dengan daun-daun bambu kering yang siap digunakan untuk membakar tembikar. Mirip kuburan orang Tionghoa yang tidak terawat. Sepi. Hanya ada aku, ayahku, dan calon korban. Napasku sedikit tersengal. Hatiku belum bisa memercayai ia ditakdirkan mati di tangan ayahku sendiri. Ia yang semalam aku jumpai terkulai lemah di bawah temaram bola lampu 5 watt. Tanpa bicara. Pandangannya pun nanar.
Nyaris 25 Jam
SEORANG sahabat mengirimiku pesan pendek pada 17 Oktober 2007 pukul 10 malam. Dia menulis, "Kemacetan yang saya alami pagi & sore ini di jalur puncak menyadarkan saya bahwa manusia membutuhkan rasa aman ontologis dari yang mengalir (pantha rei) daripada yang tersendat."
Pesan pendek itu seakan mengerangkai seluruh perjalanan mudik. Hidup itu mengalir. Ungkapan dari mulut seorang Herakleitos ini mendapati kebenarannya di sini. Di jalan-jalan yang kami lalui. Sejak ruas jalan Karawang berubah seperti parit yang mampet oleh onggokan sampah, rasa capek dan bosan mulai datang berkunjung. Laksana tamu dari rantau yang malu-malu mengetuk pintu rumah. Jiwa-jiwa dalam raga kita seperti ular laut yang memberontak, mengibas-ngibaskan ekor, mengoyak dinding air, bila dirinya terperangkap dalam kemandegan.
Mobil kami membelok begitu mendapati gang kosong. Menghindari ruas yang sudah diluberi para ksatria bermotor hingga di bibir jalan. Pukul 9 pagi, mobil berpaling ke arah Purwakarta. Raungan sepeda motor, sumpeknya jalan, semakin menguar bersama lanskap pedesaan yang timbul tenggelam di kaca jendela mobil. Lalu 50 menit kemudian, perut sudah mengomel minta diisi sarapan. Tapi, rumah-rumah makan pun masih tutup. Sampai akhirnya, di kompleks pengisian bahan bakar tol Padalarang, kami berhenti. Dengan merogoh kocek Rp 60.000, nasi rames tersaji untuk enam perut. Ditambah dengan tiga sloki berisi kopi panas gratis merek Ali Cafe. Lumayan untuk sepotong jeda pengusir jenuh sambil menikmati hamparan rumput gajah nan gersang lantaran kelamaan mandi matahari.
Usai jeda, mobil melaju lagi. Untuk membunuh rasa bosan, aku membuka lagi bab-bab akhir dari petualangan anggota Laskar Pelangi dalam novel fenomenal buah tangan Andrea Hirata. Sesekali menorehkan larik-larik kata dalam notes kecil sebagai catatan perjalanan. Membaca buku sudah jadi kebiasaan. Lebih-lebih untuk mengakali waktu. Petualangan Mahar, A Kiong, dan Flo yang gandrung pada dunia perdukunan dan membentuk komunitas Societeit de Limpai cukup mengocok perutku. Karakter-karakter dodol yang ditampilkan Andrea Hirata merangsang memoriku mengingat pengalaman masa kecil di bangku sekolah di kampung tempo dulu. Novel best seller yang sedang digarap Mira Lesmana untuk versi sinemanya ini memang sangat menarik. Aku membaca tetralogi dari belakang. Edensor. Sang Pemimpi. Baru Laskar Pelangi. Buku keempat Maryamah Karpov masih aku tunggu.
Sementara itu, lima orang lain dalam mobil memunyai cara masing-masing untuk membunuh kebosanan. Eko beberapa kali mengeluarkan kamera digital merek Nikon untuk beberapa jepretan. Sesekali, ia mengunyah cerita Sidney Sheldon dalam lakon The Sky is Falling. Novel yang ia pinjam dariku ini tampaknya memikat hatinya. Meski Eko tampaknya bukan tipe pembaca yang rakus. Ia lebih suka membaca pelan-pelan. Buktinya, novel yang sama itu masih ia baca saat balik ke Jakarta. Sementara, pembatas bukunya pun masih berada sangat jauh dari halaman belakang. Seandainya dia penyanyi, dia lebih mirip dengan penyanyi goyang patah-patah ketimbang Luciano Pavarotti sang maestro tenor. Eko, teman karibku. Kita pernah bersama-sama bekerja di tiga perusahaan. Perkenalan dengan lelaki asli Sidoarum, Sleman ini, justru terjadi di halaman parkir Hotel Santika Surabaya, empat tahun silam. Di situ, kita berdua sama-sama merasakan pengalaman ditolak saat melamar kerja di sebuah koran nasional.
Pur lebih senang bermain-main dengan kacamata hitamnya. Sesekali memijit-mijit komunikatornya untuk internetan. Benda kecil inilah yang selalu ia gadang-gadang. Laksana permata spinell atau blue velvet yang ia temukan di tengah debu-debu ibukota. Simbol prestasi mengatasi nasib sebagai orang udik. Pur adalah karib yang menarik. Pintar menulis, melobi, dan ngeles orang lain. Ia gemar mengejutkan dengan banyolan-banyolan dadakan. Kata-kata jorok pun kadang tidak kepalang tanggung. Namun, aroma udik juga belum sempurna hengkang dari lelaki asal Solo pencit itu. Tidak lama kemudian, Pur pun meleleh di sofa belakang samping calon istrinya. Matanya sengaja dilipat di balik kacamata hitamnya. Sementara, calon istrinya lebih senang diam. Mungkin saja kepalanya dipenuhi pikiran pernikahan yang segera ia jalani. Tentang urutan acara. Menu makan. Suvenir. Tamu undangan. Pawang hujan. Mungkin juga, termangu dan terheran-heran kenapa dirinya jadi mau diajak nikah sama lelaki yang sudah mendengkur di sampingnya. Semua itu adalah mungkin.
Kakak iparku lebih senang berceloteh dengan Iwa, si sopir. Tentang musik. Tentang kerupuk mlarat. Tentang pengalaman mengemudi. Misi utama kakak iparku pulang kampung adalah mencari pembantu. Maklum, baru saja ia memecat dengan hormat pembantu sekaligus pengasuh anaknya lantaran kerja yang jauh dari becus. Iwa sendiri mengaku baru saja menikahi gadis Betawi. Sekarang, istrinya sedang mengandung tiga bulan. Keduanya tinggal di Kampung Rambutan.
Tanpa sadar, pukul 13.32. Eko, mas Kris, Pur, dan calon istrinya terlelap. Buku Laskar Pelangi masih di tanganku. Iwa sudah mendapati rohnya sebagai pengemudi. Ia ngebut. Berkelok-kelok naik turun bukit Cadas Pangeran laksana pembalap Ferrari Michael Schumacher meliak-liuk di sirkuit Formula 1. Seakan lupa kalau dirinya sedang membawa lima nyawa di mobil itu. Lagu Listen to Your Heart disetel keras-keras. Di kanan jalan ada jurang menganga. Di kaca jendela, langit biru masih setia menemani mega putih yang berarak di jajaran cemara angin dan bambu gunung. Satu menara sutet dan satu pemancar menyembul di antara lautan hijau cemara angin itu. Mobil terus meliak-liuk seperti wahana halilintar.
Pukul 15.15, mobil sampai di Majalengka. Tangki diisi lagi dengan premium Rp 157 ribu. Iwa mengajak ngopi sejenak ditemani tiga porsi sate kambing untuk dimakan rame-rame. Sesampai di Cikijing, senja sudah mulai turun. Meninggalkan jejak jingga keperakan di langit Barat. Lalu, malam tiba. Mobil terus melaju mencapai Rancah. Di Rancah, jalanan rusak seperti sungai dihajar kemarau. Pukul 20:32, mobil mencapai Banjar dengan gerimis menyambut kami yang sebagian masih lelap. Pukul 20:44, kami memasuki Cilacap. Dan pada pukul 1:37, baleho selamat datang di kota Jogja tertampang di pinggir jalan. Akhirnya, pukul 2.30, aku sudah berada di depan rumahku. Wuhhh, perjalanan ini nyaris memakan waktu 25 jam. Cape deh!
Thursday, October 18, 2007
Dikawal 15 Ribu Malaikat
LAMBAIAN tangan ibu peri di depan garasi raib saat mobil yang membawaku berkelok pada sepotong gang. Jam digital di ponsel menunjuk angka 01.30. Pagi yang gelap dan tidak lagi dingin. Mobil kijang inova bernomer polisi B 2699 JR itu membawaku lari dari kepenatan Jakarta. Pulang bersama mobil mudik gratis sajian SariWangi. Mobil warna biru metalik ini segera menjumput mas Kris, kakak iparku. Berlanjut Eko di Klender, serta Purjono plus calon istri di Bekasi. Dua jam lebih waktu dihabiskan untuk jemput-menjemput ini.
Inova dikenyangkan dulu dengan full tank isi premium seharga Rp 217.000. Siap melaju untuk jarak jauh. Barang-barang dikemas. Bagasi inova terlalu kecil untuk dus-dus kumal itu. Eko memasukkan 1 dus gede isi barang. Laptop merek Compaq ia taruh di depan bangku. Bukan alasan rajin menulis di kampung, tapi alasan keamanan di kos. Pur sibuk menata 4 dus. Aku kenal betul isi dus-dus itu. Pasti di sana ada minuman kaleng Pocari Sweat, botol-botol M-150, kopi susu kemasan bantal, popcorn, gulaku, tepung terigu, sirup marjan, indomie, dan sebagainya. Maklum, seluruh barang-barang itu juga aku dapatkan dari kantor. Untuk kenyamanan, ada kesepakatan, seluruh barang bawaan ditaruh di jatah bangku masing-masing. Aku sendiri cuma bawa 1 tas isi beberapa potong pakaian, 1 tas pinggang, dan 1 tas kresek isi camilan. Prinsipku, mudik harus seringkas mungkin dan nyaman untuk menikmati perjalanan. Pur yang paling banyak bawa barang, harus merelakan jatah bangkunya untuk dus-dus kumal itu. Ia dan calon istrinya harus berdesakan di bangku belakang. Aku dan Eko ada di bangku tengah. Kakak iparku sengaja memilih di depan sekaligus berperan sebagai navigator bagi Iwa, sang sopir asli Ciamis itu.
Jalur Selatan menjadi pilihan. Pukul 3 dini hari. Tol Cikarang sudah macet total. Dari radio mobil, tersiar kabar hari itu sebagai puncak arus mudik. Kelap-kelip lampu mobil berderap seperti kunang-kunang yang migrasi di subuh hari. Kami memutuskan menghindari jalan bebas hambatan itu. Iwa membawa kami ke jalur motor di pinggir tol. Kijang inova segera beradu dengan para pengendara sepeda motor. Dini hari, jalanan masih lancar. Tapi, pukul 7 kurang 4 menit, inova benar-benar berhenti. Macet total. Dua jalur dipenuhi dengan sepeda motor yang meraung-raung. Bola raksasa yang terbang di langit bertaburan awan hitam mulai memuntahkan panasnya. Menyengat. Merangsang butiran kristal bening keluar dari pori-pori para pemudik. Debu menguar di jalanan aspal mirip sungai kering itu. Aneka bunyi klakson besahut-sahutan. Mirip kampanye. Orang-orang kampung berhamburan keluar. Duduk di pinggir jalan. Seperti menonton festival atau kirab kereta kencana keraton yang dikeluarkan dari istana setahun sekali. Persis seperti melewati ruas jalan menuju fly over Tanah Abang setiap sore. Macet-cet!
Sepeda motor mengepung mobil kami. Wajah-wajah lesu, letih, beringsut samar di balik helm penutup kepala mereka. Beberapa menyerakkan motor mereka di pinggir jalan untuk sepotong jeda. Lautan kaum komuter itu menarik diamati. Ada yang merelakan diri berdesakan di pick up terbuka beratapkan langit. Ada yang nekat memboncengkan anaknya di belakang kemudi. Ada yang bawa dus-dus besar berisi oleh-oleh ibukota. Ada yang bawa sapu dan kain pel seolah di kampung minus perkakasan pembersih ini. Ada yang bawa istri dan kedua anaknya sekaligus. Pemandangan yang menjadi ritual di hari libur besar ini.
Aku sendiri sungguh menikmati perjalanan ini. Semua itu sudah masuk hitungan risiko. Itulah Jakarta. Ibukota. Sebagian warganya adalah orang-orang pengembara dari berbagai pelosok. Berbagai sudut. Berbagai desa antah berantah. Aku menyebutnya dengan ksatria bermotor. Mungkin ada orang melihat yang dilakukan para ksatria itu sebagai kebodohan. Tapi, bagiku, mereka adalah para pengelana sejati. Mengelana untuk mengisi hidup. Meski sederhana. Meski tidak menjadi orang terpandang dengan harta mentereng. Mungkin hanya seorang buruh, karyawan biasa, tukang sapu, office boy, sales, pekerja rumah tangga, dan sebagainya. Mereka mengelana demi mengisi periuk mereka. Meski tidak seberapa, mereka merelakan diri menghambur dalam lautan semut udik itu untuk berbagi sedikit rezeki dengan sanak kerabat. Meski cuma sapu, kain pel, segepok uang, sirup marjan, tepung terigu, mainan, dan sebagainya. Salah sendiri kenapa gula-gula itu hanya dikonsentrasikan di ibukota saja. Coba kalau gula-gula itu ditaruh di kota-kota lain. Mungkin Lebaran tidak semacet ini.
Aku jadi mengerti apa yang disampaikan ustad Jaffar di resto Bebek Bali Senayan, tiga hari sebelum mudik. Ustad yang sudah 30 kali pergi ke tanah Arab itu, mengatakan mobil yang kami tumpangi akan dikawal oleh 15 ribu malaikat. Dan, aku paham 15 ribu malaikat pengawal itu tak lain adalah ribuan para ksatria bermotor itu. Lalu, paras berjenggot dan bersorban putih itu menari-nari di batok kepalaku. Para kaum udik dan urban itulah pengawal perjalanan kami. Mereka adalah sahabat-sahabat dalam perjalanan. Inilah Lebaran!
read more...
Wednesday, October 10, 2007
Mudik Dulu
PUKUL 2 pagi nanti aku mudik. Kamis, 11 Oktober 2007. Meninggalkan ibukota untuk sementara waktu. Bergabung dengan jutaan urban menuju kampung halaman. Sebenarnya tidak ada rencana untuk mudik. Tapi, karena dapat mobil mudik gratis SariWangi, aku urungkan niat ngendhon di kota yang aku diami hampir 10 tahun ini. Urung pula untuk menikmati sejenak Jakarta sebagai kota yang nyaman, sepi, lega, dan bebas macet.
Tadi pagi, mobil kijang inova warna biru, terparkir di depan rumah. Seorang lelaki muda mengetuk pintu garasi. Lelaki itu adalah supir yang akan mengantar kami pulang ke Jogjakarta. Namanya Iwa asal Ciamis.
Dalam Program Mudik Gratis Sariwangi 2007 ini, pihak SariWangi menyediakan 150 unit kijang inova untuk 150 keluarga. Sementara 5 unit di antaranya disediakan untuk kalangan media. Aku termasuk salah satunya yang beruntung. Sayang sekali, ibu peri tidak bisa ikut. Kondisinya masih kurang memungkinkan untuk perjalanan jauh. Lebih-lebih, bayangan kemacetan timbul tenggelam di batok kepala. Lagian ia mengandung 5 bulan si peri kecilku. Ibu peri berencana menikmati Lebaran bersama keluarga di Sawangan, Depok.
Aku sendiri senang dengan rencana perjalanan ini. Pasti banyak cerita yang bisa aku tulis. Namanya saja juga seorang musafir. Lebih senang lagi karena ibu peri memberiku satu misi, yakni membeli daster dan celana gombor di Pasar Beringharjo. Ada satu lagi yang membuatku senang. Mobil ini akan membawa sepasang calon pengantin baru, teman di redaksi, yakni Purjono dan calonnya Wiwin. Mereka akan menikah pada 17 Oktober 2007. Siapa tahu ini selain berkat jabang bayi juga berkat manten anyar (pengantin baru). Selain itu, ada Eko (teman redaksi) dan Mas Kris (mas ipar). Jadilah kita 5 sekawan plus 1 sopir.
Semoga perjalanan mudik ini baik-baik saja. Seperti yang sudah didoakan oleh ustad Jaffar di gerai makan Bebek Bali, Senayan, Senin lalu. Katanya, rombongan mudik ini akan dikawal oleh 15 ribu malaikat. Mungkin ini saat yang tepat juga untuk memaknai pengembaraan. Hidup memang seperti seorang musafir. Sesekali perlu pulang. Fitrah. Pulang dalam bahasa Jawa berarti 'mulih.' Kata 'mulih' bisa diterjemahkan dengan 'memulihkan.' Semoga ada yang pulih dengan kepulangan sejenak ini.
Pasti aku merindukanmu, Ibu Peri!
read more...
Tuesday, October 02, 2007
Dasar Petasan!
PAGI tadi, aku bangun dengan mata berat. Kelopak mataku susah untuk dibuka. Jam meja berbentuk bola warna jingga sudah mengingatkan waktu pagi pukul 7. 15. Mataku seperti gorden jendela yang talinya tersendat pada besi karatan. Susah dibuka. Aku terlambat bangun.
Penyebabnya sepele. Bukan lantaran aku begadang bersama malam. Bukan pula ikutan ronda keliling kampung. Bukan melamun di atas loteng menantang angin pembawa kembung. Bukan menjaga tong sampah di teras rumah dari serbuan tikus dan kucing liar. Bukan karena ada seseorang yang membunyikan ponselku dan mengajakku curhat di malam hari. Bukan karena ngelembur bersama secangkir kopi untuk sepotong tulisan. Bukan itu semua! Tapi, gara-gara petasan meletus tepat di depan rumah pada pergantian hari.
“Blaarrrr!!!!” Suara itu mendadak pecah. Membuat diriku dan ibu peri kaget . Membuyarkan alam tidur yang nyaris kami masuki. Nyut-nyut berdecak di dadaku. Sontoloyo! Batinku mengumpat. Pertama kali, aku mengira ada anak iseng kebetulan lewat di depan rumah dan melempar petasan. Tapi, karena tiga kali selang lima menitan, petasan meletus lagi di jalan depan rumah, aku meloncat dari kasur. Mengipaskan selimut. Membuang bantal. Membuka gorden jendela. Memastikan siapa tersangka utamanya. Memutar kunci pintu perlahan. Berjalan mengendap-endap. Dan sampailah diriku pada jarak 2 meter dari titik letusan.
Di depan, di balik terali besi garasi, terdengar riuh ocehan anak remaja. Beberapa sibuk menaikkan layang-layang raksasa untuk diterbangkan bersama angin malam. Layang-layang itu berenang-renang di udara dan menimbulkan suara gemuruh seperti suara gasing. Aku duduk berjongkok. Mengintip dari lubang plastik penutup garasi. Seperti seorang sniper yang sedang mengintai objek tembakan. Tak lama, seorang remaja berlari ke depan rumah. Ceplak-ceplek suara sandal jepitnya mencium aspal. Berjingkrak. Parasnya innocent, polos, tak merasa bersalah. Persis seperti para teroris beneran usai mendengar putusan pengadilan. Tangan kanannya memegang sugumpal kertas yang digulung terisi karbit. That is petasan! Giginya menyembul ke depan. Seolah bibirnya tidak kuasa menahan desakan gigi-gigi gede yang doyan pamer. Mirip gigi kuda. Remaja berkaos ijo pupus itu pun berhenti. Celingak-celinguk. Aku tetap tak bergeming. Menunggu saat yang tepat untuk menangkap teroris cilik itu. Lalu, anak itu berlari menjauhi pintu garasi. Dan, blaarrrr!!!! Petasan itu meletus lagi. Telingaku mendadak tuli sejenak. Seperti ada kumbang berputar-putar di liang telingaku.
Keterlaluan! Ingin rasanya segera membuka gembok garasi. Mengejar teroris cilik bergigi kuda itu. Mencekik lehernya. Melemparkannya ke langit setinggi layang-layang itu. Tapi, niatku urung kueksekusi. Ada keraguan. Kejengkelan. Plus ketakutan. Tapi, ini tidak bisa dibiarkan. Ini sudah melanggar ketertiban umum. Akhirnya, aku memilih sembunyi. Lampu teras aku matikan. Perang gerilya dilanjutkan. Mataku terus mengintai gerak-gerik begundal cilik itu. Kunci gembok sudah ditangan. Siap dimasukkan ke lobang kunci. Ancang-ancang menyergapnya.
Aku heran. Kenapa hanya aku yang meributkan petasan ini. Di mana tetangga-tetanggaku? Harusnya mereka ikut terganggu. Mungkin mereka sudah terlalu jauh jatuh dalam sumur mimpi. Mungkin mereka sedang asyik bercinta sehingga lupa ada serangan tak diundang. Lalu, lebih aneh lagi, di mana si engkong, tetangga persis samping rumah. Engkong yang suka ngomel dan memutar lagu-lagu mandarin keras-keras tiap pagi juga tidak nongol juga. Hatiku sedikit terpingkal. Jangan-jangan, si engkong sudah pingsan sejak letusan pertama. Atau, jangan-jangan jiwanya sudah meloncat ke ceruk malam bersamaan dengan letusan itu. Ah, saatnya tunjukin kepedulian!
Tanpa lama, teroris cilik itu datang lagi. Berlari sambil menjingkatkan kaki-kaki pendeknya. Aku siap-siap. Bocah itu sudah berada di depan pintu garasi. Sejenak celingkukan. Tampak ia meletakkan sesuatu berbentuk tabung putih. Lalu ia lari. Aku pun segera membuka pintu gerbang. “Hei brengsek!” Belum sempat menyergap, petasan kelima itu meletus. “Blaarrrr!!” Dengan sedikit terhuyung seperti pejuang Vietnam, aku mengejar si pelaku. Kumbang-kumbang pun kembali berterbangan dan mengiang di liang telinga. Aku berusaha menarik napas. Memajang paras garang. b-r-a-v-e-h-e-a-r-t!
“Lo, jangan bikin onar rumah orang!”
“Bukan gue!”
“Gue liat sendiri. Sekali lagi menyalakan petasan di depan rumah gue lagi, urusan jadi serius!” kataku sambil mengacungkan jari telunjuk tangan kananku ke arah ke wajahnya, menyapu pelan ke arah teman-temannya.
Teroris cilik itu diam saja. Bibirnya mengatup. Meski gigi kudanya masih mengintip. Lalu aku membalikkan tubuhku. Berjalan tegap di antara para pecundang. Merasa diri sebagai pemenang perang malam itu. Di bahuku seolah menempel tiang kecil dengan bendera kemenangan berkibar. Suara kibaranya lebih dahsyat ketimbang bunyi dengung gasing layang-layang itu.
Aku kembali ke kamar dengan sedikit lega campur dongkol. Mataku susah dikatupkan. Hati sudah terlajur kesal dengan ulah anak-anak itu. Jam digital ponselku menunjuk pukul dua pagi. Rasa kantukku seperti kaburi dari kepalaku bersama bunyi petasan itu. Lalu samar-samar, mikrofon mesjid bergemuruh. Berkoar-koar menyerukan saur dari segala arah. Jalanan mulai menggeliat. Di luar, terdengar teriakan tukang nasi goreng dan tukang sate. Lalu, karena kelelahan, aku pun tertidur. Meleleh di balik selimut. Bangun pukul 07.15 dengan mata berat. Dan rasa kantuk itu kembali ke kepala ini siang ini. Lebih-lebih saat di acara peluncuran iPod terbaru dari Apple tadi.
Monday, October 01, 2007
Apa Ini Writer's Block?
ADA yang macet hari ini. Jari-jariku rasanya kaku. Membeku seperti terserang dingin. Mereka emoh diajak menari-nari lagi di keyboard komputerku. Sepertinya harus ada tenaga atom untuk menggerakkan jari-jari ini. Tapi, sayangnya, jari-jariku tidak mau menulis. Apa pun. Di mana pun. Padahal, di kepalaku berloncatan ide-ide untuk segera digelontorkan dalam rangkaian huruf-huruf. Mau menulis tentang junta militer Burma. Tentang biksu dan peluru. Tentang Film Paris, Je T’aime. Film Notes on a Scandal. Tentang Patfinder. Little Miss Sunshine. Tentang pidato para peraih nobel sastra. Buku Stephen King On Writing. Tentang global warming yang menyergap kamar tidurku. Namun, sepertinya ide-ide itu tidak mau turun dari kepalaku. Seakan ada pipa-pipa kinetik yang tersumbat. Stuck in the traffic jam! Penyumbatan ini membuat ide-ide itu berubah menjadi air yang mengenangi kepala. Bikin pusing. Nyeri. Linu.
Hari ini cukup lowong. Penugasan liputan juga belum turun. Masih digodog di komputer redaktur pelaksana. Membunuh rasa ‘cenut-cenut’ di kepala, aku memilih membolak-balik koran Kompas Minggu. Menyusuri lagi sajak-sajak Wayan Sunarta dan Isbedy Setiawan. Mencermari cerpen GM Sudarta berjudul Candi Ala. Membaca “Obselete” dari Suka Hardjana pada rubrik Asal Usul. Ulasan Bre Redana tentang satu kota seribu cinta dalam Paris, Je T’aime. Membaca ulasan khusus tentang Tan Malaka di Ruang Baca Tempo. Resensi Wars Within karya Janet Steele, pengajar jurnalisme sastrawi yang pernah aku temui di MP Book Point saat peluncuran buku Pencuri Anggrek bulan lalu. Petualangan detektif Hercule Poirot, karakter buatan Agatha Christie, yang dihidupkan lagi dalam bentuk komik. Dan sebagainya. Dan sebagainya.
Gejala macet aku lihat sejak awal pekan kemarin. Dalam diri, ada gemuruh untuk segera menyentuh laptop. Melanjutkan adegan-adegan dalam fiksi yang sedang aku garap. Menulis untuk blog. Mengeksekusi sebuah esai. Tapi, nyatanya, laptop itu masih terbungkus tas hitam. Bersender di pojok meja samping kamus tebal berisi idiom-idiom bahasa Inggris. Ingin mendekat, tapi praktiknya menjauhi. Malah aku memanjakan mataku dengan tiga serial film yang aku pinjem dari Video Ezy. The Snow Man. Notes on A Scandal. Trust The Man. Selain film, aku juga gantian dengan ponakkanku memainkan jagoan Resident Evil dalam PS2.
Itulah hari ini. Tapi, bukannya tulisan ini menandakan jari-jariku masih mau melakukan tugas-tugasnya. Menulis. Mungkin, jari-jariku sedang ngambek. Tidak mau menulis tentang sesuatu di luar dirinya. Jari-jari itu lagi senang menulis dirinya sendiri. Lihat saja, meski ada kemacetan lalu lintas ide, jari-jariku mampu menyelesaikan 5 paragraf pada tulisan ini. Tepatnya ada 396 kata atau 2364 karakter no spaces.
Apakah ini gejala writer’s block?
read more...