Tuesday, February 12, 2008

Penaku Masih Basah, Roy!

PENAKU masih basah, Roy. Hanya saja, tintanya lumer di lembaran-lembaran lain. Tahu tidak, belakangan ini aku terserang insomnia. Susah sekali mengatupkan kedua kelopak mataku untuk sepotong mimpi. Dulu, kala insomnia datang berkunjung, secangkir nutrisari panas rasa jeruk nipis selalu menemani malam panjangku. Sekarang, hanya teh panas minus gula dalam iringan suara hujan menghantam genting rumah, dengkur berat ibu peri, dan detak teratur jam dinding di atas meja rias.

Pekan lalu, aku harus nongkrong di bangku kubikel kantor sampai tengah malam lantaran deadline. Lebih tepatnya, deadline dua edisi majalah sekaligus, edisi khusus dan edisi reguler. Ya, beginilah nasib buruh di pabrik kata-kata. Tugasnya tak lain adalah menjentikkan jari-jari di tuts keyboard sampai lupa malam sudah hampir pudar dan jari-jari ini sudah cukup sempoyongan. Tariannya pun sudah tidak selincah hari-hari sebelumnya. Istirahat memang perlu.

Usai deadline, ide-ide menulis terus berloncatan di malam hari. Ibu peri pun mengerti diri. Malahan selalu menanyakan kenapa aku tidak segera membuka laptop seusai mandi, mematut diri, dan makan malam. Sesekali perempuan berperut melembung lantaran akan melahirkan peri kecil itu menyuguhkan segelas jeruk hangat hasil perasannya sendiri, melarutkan sebutir vitamin c dalam segelas air bening atau menggorengkan tiga lembar mendoan panas.

Jujur saja, Roy. Menulis di malam hari mempunyai sisi ekstase tersendiri. Tidak sekadar mencoreti lembar putih layar monitor. Tapi, seperti tercebur dalam palung tanpa dasar. Di sana, harapan, masa depan, kesepian, kehangatan, keprihatinan, kepedulian, kegelisahan, keragu-raguan, terang, gelap, sedih, dan rupa-rupa perasaan lain larut jadi satu adonan. Tuhan pun melarut bersama malam-malam penuh harap itu. Dengkur ibu peri yang kelelahan membawa peri kecil yang semakin besar di perutnya justru membuat tarian jari-jari ini semakin lincah. Apalagi peri kecil yang doyan pamer sepak kaki di perut ibunya. Saat itu, sepertinya aku sedang menulis masa depan. Masa depan kami. Aku tidak tahu kapan jari-jari ini berhenti menari. Aku hanya berharap Tuhan masih memberi energi belimpah agar jari-jari ini tidak lelah menari, tidak cepat tua, keriput, lalu mati. Semoga jari-jariku masih bisa mengalirkan kata-kata ajaib.

Terimakasih Roy atas komentarmu pada dua tulisanku yang lahir di malam insomnia dua hari lalu. Semoga, saat dirimu mondar-mandir di halaman putih ini, dirimu menemukan kebaruan. Andaipun tidak , aku harap kamu mengerti, karena ujung penaku tidak pernah basah. Hanya saja tintanya lumer di lembaran-lembaran lain. Selamat menulis juga, Roy!

read more...

Friday, January 11, 2008

Gadis Peramal dari Belitung

WAKTU kadang bertingkah aneh bin ajaib. Bayangkan saja sudah sekitar 8 tahun aku berpisah dengan gadis ini dan baru dua hari lalu aku menemukan kontaknya. Pernah di waktu-waktu senggang aku memikirkan bagaimana caranya mengontak dan menemui gadis ini. Tapi selalu nihil. Nomer ponsel yang dulu pernah ada raib bersama diambilnya ponselku oleh tangan misterius saat aku menumpangi bus yang melintasi ruas jalan Tomang beberapa tahun silam. Sekalipun otak diputar-putar, diurai lipatan-lipatan neuronnya, dan digelar di bawah terik matahari yang paling terik, aku tetap tidak menemukan cara menjumpai gadis itu. Gadis itu mungkin sudah hilang abadi. Ia seperti satu larik kalimat usang yang terlihat samar dan menempel di dinding batok kepalaku dengan sedikit berlumut.

Tapi, dua hari lalu, saat aku membolak-balik halaman sebuah buku untuk sepotong referensi buat cerpenku, aku menemukan jejak pensil yang merangkai namanya. Di situ tergores nama Ovi lengkap dengan dua nomer telepon. Satu nomer rumah berkepala 7. Satu lagi nomer ponsel. Aku masih belum percaya benar itu adalah nama diri dan nomer ponselnya. Aku berupaya mengingat-ingat kapan aku menuliskannya di buku itu. Aku mendadak seperti kakek temanku yang sudah pikun dan sedang berupaya keras memutar otak untuk mengingat-ingat nama cucunya sendiri.

Mengapa gadis ini begitu istimewa? Aku mengenal Ovi saat aku masih menjadi anak kos di tahun terakhir kuliah filsafatku di Cempaka Putih. Saat itu, seorang kawan membawanya ke tempat kosku untuk sepotong perkenalan. Ia mengaku seorang mahasiswi dari IKIP Jakarta. Obrolan demi obrolan membuat kami semakin nyambung saja. Gadis ini berparas manis. Bermata oval. Rambut ikal dengan potongan pendek. Titik-titik jerawat menghiasai kedua pipinya yang merona. Bila tersenyum, jerawat-jerawat itu berubah menjadi manik-manik yang membuat wajah imutnya seperti gula-gula paling manis di dunia. Jujur kataku, saat garis bibirnya melengkung ke atas, manisnya minta ampun. Tapi, senyum manis itu adalah milik gadis bertubuh kerempeng lantaran kekuatan aneh menghisap tubuhnya. Tubuhnya cilik, ciut, dan terkesan ringkih.

Ovi adalah seorang gadis unik. Dia mengaku memiliki kekuatan membaca pertanda. Mirip-mirip seperti Mama Laurent maupun Permadi. Kekuatan ini dicurahkan dari langit kedalam dirinya sejak lahir. Pernah ia bercerita betapa sakit hatinya ketika membaca ada seorang kenalan yang akan mengalami penderitaan. Maksudnya, ia bisa membaca nasib orang. Pernah ada keinginan membuncah memintanya meramal nasibku. Tapi selalu berujung urung. Pengetahuan ini telah membuatnya lelah memikirkan nasib orang lain. Sampai-sampai pikiran ini seakan menguras energinya sekaligus menghisap tubuhnya menjadi sosok gadis kerempeng.

Ia juga dikaruniai kemampuan merasakan kehadiran mahkluk halus. Bahkan, berkomunikasi dengan mereka. Ini pernah ia ceritakan ketika kami sedang menyusuri malam dalam naungan bayangan dahan-dahan pohon yang tertimpa sorot lampu kota di sepanjang jalan Utan Kayu. Utan Kayu, tepatnya Teater Utan Kayu (TUK) adalah tempat favorit kami menggelar perjumpaan. Entah menonton pertunjukan teater, festival film, tari, maupun sekadar diskusi ngalor-ngidul. Maklum, waktu itu, kami mahasiswa dengan idealisme meluberi volume kepala. Apalagi tahu sendiri, saat itu gerakan reformasi lagi unjuk gigi.

Hampir tanpa absen, ia juga doyan menggabungkan diri dalam diskusi rutin hari Senin di kampusku. Sebuah forum diskusi Senin siang yang dinamai Mazhab Jembatan Serong. Suatu ketika, ia pernah bilang, aku adalah saudaranya. Tepatnya adalah kakaknya. Predikat dadakan ini sempat membuatku merenung lama. Lalu, entah kenapa waktu 8 tahun telah menculik gadis itu ke sebuah daerah yang tidak sembarang orang tahu.

Nah, setelah menemukan nomer kontaknya, segera aku menelponnya. Telepon rumah tidak bisa dihubungi. Lalu kutelepon nomer ponselnya. Ternyata yang angkat bukan dirinya melainkan orang lain yang mengaku saudaranya. Saat hampir putus asa, orang berpita suara sopran itu mengabari bahwa Ovi sudah tidak di Jakarta, melainkan tinggal di Belitung. Orang itu memberiku nomer ponsel Ovi yang baru.

Mendengar kata ‘Belitung’ sontak memoriku langsung berteriak, “Laskar Pelangi!” Tidak salah. Belitung itukan tanah kelahiran Andrea Hirata, pengarang novel Laskar Pelangi. Aku terkekeh renyah sambil mengenang karakter-karakter ‘dodol’ tentang anak-anak Belitung seperti yang diceritakan Andrea Hirata. Nah, hari juga aku menelponnya.

Dag-dig-dug dan penasaran mengiringi bunyi nada sambung ponselnya. Jiwaku seperti keranjingan untuk segera mengetahui kabar dari gadis itu. Akhirnya, babak pembukaan selesai dengan selamat. Kami berdua sama-sama menuai kejutan. Kami pun seperti terlibat dalam sebuah reuni dadakan meski kami terpisah jarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Serpihan peristiwa masa lalu berloncatan seperti bunga-bunga api memancar dari batang kembang api di malam tahun baru kemarin. Ia sempat mengobrol soal Laskar Pelangi. Tapi, obrolan itu tidak lama. Maklum pulsa nomer ponselku mendadak berubah wujud menjadi seorang tiran kejam yang melarangku mengobrol lama. Lalu aku akhiri rendezvous online itu dengan harapan kita akan kontak-kontakan lagi.

Intinya, gadis itu sekarang tinggal di Manggar, ibukota kabupaten Belitung Timur. Ia bekerja sebagai pegawai negeri di kantor Dharma Wanita kabupaten. Tiga kali dalam seminggu seusai melepas seragam pegawai negerinya, ia mengisi malam hari dengan bercuap-cuap sebagai presenter di sebuah stasiun radio FM di sana. Saat aku menelepon, ia sedang libur dan sibuk membantu temannya yang sedang punya hajatan nikah. Ada suara latar berupa cuap-cuap ayam kampung saat kami melangsungkan pembicaraan. Membuat imajinasiku semakin mengerti seperti apakah Belitung itu.

Oiya, aku kembali menelepon dirinya untuk menanyakan nama lengkapnya. Maklum terlalu lama hidup di bangsa pelupa, jadi ketularan amnesia. Nama lengkap gadis itu Yunita Oviantari.

read more...

Wednesday, January 09, 2008

Malam Berbagi Gelak

ADA yang mengocok perutku tadi malam. Tepatnya, usai mengantar ibu peri ke dokter untuk mengetahui kabar si peri kecil. Malam dengan sedikit bintang dan jam dinding di atas meja rias menunjuk pukul 22.10 WIB. Kami berbaring di atas kasur sambil memandangi langit-langit kamar yang penuh jejak air hujan.

Entah kenapa, mendadak kami berbagi celotehan tentang pengalaman lucu di masa kecil. Aku mengawali obrolan tentang bioskop. Bioskop pertama yang aku kunjungi adalah bioskop Senopati yang terletak di belakang Benteng Vredeburg atau di pusat perbelanjaan shooping, selatan Malioboro, Yogyakarta. Sayang sekarang bioskop ini sudah tidak beroperasi lagi.

Ada dua film yang pernah aku tonton di gedung ajaib itu, yakni Arie Hanggara (1985) dan Saur Sepuh (1988). Keduanya tidak bakal lekang dari memoriku. Pasalnya, ada pengalaman lucu bercitarasa pahit di sana. Bagi yang sudah hidup di tahun 1980-an, tentu tahu apa itu Saur Sepuh. Film ini diangkat dari sandiwara radio yang terkenal dengan tokoh superheronya bernama Brama Kumbara. Asal tahu saja, radio waktu itu cukup populer. Alasannya bisa ditebak. Tayangan televisi masih super monoton dan membosankan karena dikuasai stasiun tunggal pelat merah, TVRI. Cerita Saur Sepuh begitu membiusku. Tidak heran jika di batok kepalaku lebih terisi nama-nama seperti Brama, Mantili, Lasmini atau jurus-jurus sakti seperti bayu bajra dan sebagainya, ketimbang mata pelajaran yang dibawakan guru-guru dengan membosankan. Saat kabar sandiwara yang sudah difilmkan itu menyusup ke lobang telinga, aku pun sontak merengek pada ayahku untuk lekas menontonnya.

Nah, pengalaman lucu rasa pare itu muncul di sore hari. Waktu itu, aku, ayahku, dan adikku yang masih kecil antri karcis di bioskop Senopati. Jumlah pengantri berjubel. Sementara, jam tayang sudah di ambang pintu. Entah kenapa, aku lupa, aku terpisah dari ayahku. Dan aku pun kehilangan mereka. Aku berputar-putar mencari mereka. Setelah capek menyusup di antara kaki-kaki angkuh di seputar loket, aku pun mematung seperti setangkai bunga lili kusut. Lalu gelembung-gelembung cair mengembang di kedua sudut mataku dan tergelincir pelan di pipi diiringi suara sesenggukan dari arah tenggorokan. Aku menangis. Seorang dewasa datang menyambangiku, memberiku secuil penghiburan, lantas menggandengku menuju petugas informasi. Seorang lelaki dewasa berpakaian hansip-waktu itu hansip tidak hanya masuk kampung tapi juga bioskop-menanyai namaku, nama ayahku, dan mencatatnya di sepotong kertas. Lalu, dengan nada suara yang dibuat kebapak-bapakan, hansip bioskop itu pun menyuruhku duduk manis di bangku tak jauh dari pos. Sambil mengayun-ayunkan kaki di bangku, mataku mengembara ke kerumunan. Mendadak aku melihat bayangan ayahku. Sontak aku minggat dari bangku tanpa sepengetahuan mata sang hansip. Di depan ayahku, aku malah dimarahi. Tanpa lama, kami pun menghayutkan diri di barisan orang menuju dalam gedung karena film segera dimulai.

Sampailah aku di dalam sebuah ‘gua’ raksasa dengan semilir angin AC yang tidak begitu dingin dan sebuah kain putih raksasa terbentang gagah di depan bangku tempat kami duduk. Pintu masuk ditutup. Lamu dimatikan. Secercah cahaya terang meluncur dari belakang dan membuat kain itu menyala. Dan apa yang pertama kali terlihat di kain putih itu? Selarik tulisan berukuran besar menempel dan menyebut nama ayahku.

PAK XXXXX DICARI ANAKNYA
HARAP DATANG DI POS INFORMASI

Sontak, gedung bioskop itu meledak oleh tawa dari para penonton. Sangat gaduh. Mereka berteriak sambil menyebut-nyebut nama ayahku. Aku semakin malu. Perlahan aku melelehkan diri ke bangku empuk bioskop itu. Beringsut malu. Merasa seolah para penonton lain itu tahu kalau kamilah yang disebut di layar putih itu. Ayahku hanya melempar senyum simpul sambil tangannya mengelus-elus rambutku.

Ternyata, hujan tawa itu pun berlanjut di kamar kami. Ibu peri pun tak kuasa menahan gelak. Sebenarnya, ada satu lagi pengalaman lucu rasa pare berkaitan dengan bioskop yang bisa kutuliskan di lembar putih ini. Tapi, cukup satu sajalah. Pengalaman ‘dodol’ lainnya biarlah tersimpan rapi di rak-rak memori kepalaku. Usai meredam gelak, kami berdua pun sibuk dengan urusan masing-masing. Ibu peri memilih membaca antologi cerpen karangan Ratih Kumala berjudul Larutan Senja. Lalu ia tertidur. Aku sendiri memilih membisu di depan laptop sambil berupaya melanjutkan larik-larik cerita untuk dirajut dalam sebuah buku. Kantuk datang, aku pun tidur.

read more...

Tuesday, January 08, 2008

Membaca Philip Pullman

FILM The Golden Compass akhirnya aku tonton juga pada Sabtu siang, 5 Januari 2008 di studio 21 Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mungkin karena The Golden Compass sebagai film anak-anak, bangku-bangku di kanan kiri, depan belakang tempat aku dan ibu peri duduk dipenuhi oleh anak-anak. Riuhnya bukan main. Untungnya, saat film itu diputar, mereka mampu duduk manis menikmati film garapan Chris Weitz dan dibintangi Nicole Kidman itu.

Secara umum, film ini cukup imajinatif sebagai karya fantasi. Fantasinya mirip-mirip Film Harry Potter, Eragon, Lord of The Rings, atau The Chronicles of Narnia. Asal tahu saja, rilis The Golden Compass cukup diiringi dengan gerimis kontroversi. Saat mengendus andanya kontroversi ini, aku sendiri tergelak renyah. Paling-paling wacananya mirip-mirip saat novel The Da Vinci Code karya Dan Brown diluncurkan. Juga mirip Harry Potter buah karya JK. Rowling yang dinilai Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) mengajarkan ilmu-ilmu sihir yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Kristen. Tentu saja kritikan itu memunyai alasan (reasoning)-nya sendiri. Tapi, sebagai pecinta sekaligus penikmat teks-teks sastra, aku sendiri tidak mau terjebak dalam lingkaran kontroversi itu. Aku sendiri mencoba menemukan dan mencecap seni di dalamnya.

Siang ini, sepotong pesan dari seorang teman mampir di lembar putih ruang chattingku. Intinya, teman itu menghimbau agar aku tidak usah menontonnya dengan alasan tidak bagus dan tidak ada pesan moral apa pun. Gelakku semakin renyah saja. Kadang orang buru-buru berkomentar negatif karena sudah pasang prasangka sejak awal. Memprihatinkan lagi, orang sudah menilai negatif tetapi itu hanya kata orang lain. Dirinya sendiri belum membaca novel dan menonton filmnya.

Sembari menonton, aku mencoba membandingkan imajinasiku ketika membaca versi novelnya dengan visualisasi film itu. Alur ceritanya sebagian besar sama dengan yang ada di buku: petualangan Lyra dari Akademi Jordan sampai Bolvangar di kutub utara. Kekuatan fantasi film itu ada di visualisasi para daemon. Tanpa daemon, mungkin, bobot fantasinya itu terlihat kering. Personifikasi binatang baik daemon maupun sosok beruang kutub seperti Iorek menjadi poin penting. Secara materi, aku menilai sama seperti di buku, film ini masih tergolong berat. Apalagi disajikan untuk anak-anak. Aku menangkap isi buku Pullman sarat dengan muatan teologis. Nah, ini menjadi berat untuk anak-anak yang masih mencerna realitas secara pragmatis. Di sana, dikenalkan kata-kata ‘misterius’ seperti Magisterium, Dust, Dunia Paralel, Daemon, Pemisahan, dan sebagainya. Nah, Pullman seakan mencoba mengemas itu dalam cerita anak-anak. Meskipun demikian, untuk sementara ini, aku menilai upaya Pullman ini gagal. Tidak sesuai dengan target marketnya. Tapi, materi berat ini cukup tertolong dengan plot, karakter yang fantastis, seperti karakter daemon anak-anak yang bergonta-ganti wujud, wahana kutub utara yang memukau, kompas emas ajaib, pasukan penyihir pimpinan Serafina Pekkala yang melayang-layang di udara, sosok beruang raksasa yang superhero, dan sebagainya.

Ada beberapa bagian dalam cerita di buku yang tidak divisualisasi dalam film. Mungkin ini sebagai bagian dari politik film itu sendiri. Toh, menurutku, buku dan film, meskipun memuat cerita yang sama, tetaplah dua entitas yang berbeda. Kata ‘gereja’ yang beberapa kali muncul di buku tidak muncul di film. Ending di buku dan di film juga cukup berbeda. Di buku, wacana teologis Pullman lebih kentara dengan menghadirkan sepotong cerita dari Kitab Kejadian menyoal manusia pertama di Taman Firdaus. Di film, bagian ini dihilangkan. Epilog di film juga lebih dipersingkat ketimbang di buku. Epilognya sangat tanggung. Film ini menyisakan banyak hal misterius yang belum terjawab. Karena ini bagian pertama dari trilogi His Darks Materials, dipastikan akan ada film lanjutan yang mengangkat buku kedua The Subtle Knife dan buku ketiga The Amber Spyglass. Oleh karenanya, cerita Pullman tidak utuh jika tidak membaca ketiga bukunya. Apalagi menghakiminya tanpa membaca larik-larik kata dalam trilogi Pullman itu. Meskipun, ini catatan pribadiku, gaya bercerita Pullman tidak serenyah Rowling atau Lewis.

Pesan Moral
Soal opini temanku bahwa cerita Pullman tanpa pesan moral, aku berpendapat lain. Aku tidak begitu memedulikan Pullman mengusung pesan moral tertentu atau tidak. Bisa jadi, orang terjebak mengais-ngais makna tapi melupakan keindahan cerita itu sendiri. Sama seperti orang yang melakukan perjalanan tetapi lantaran terlalu memikirkan tujuan, ia lupa menikmati warna-warninya realitas di jalanan. Nah, soal mengais makna, aku selalu memperlakukan teks sebagai yang berdiri sendiri. Ia sudah terpisah dengan pengarangnya. Seperti dikatakan Rolland Barthes bahwa the author is dead ketika sebuah tulisan dipublikasikan. Teks dalam hal ini buku atau film memunyai kebebasan besar untuk ditafsirkan pembaca. Pembaca pun memunyai kebebasan menafsirkan teks itu tanpa terbelenggu oleh maksud pengarang. Dalam melihat The Golden Compass, aku bersikap seperti ini.

Hasilnya, aku menemukan pesan moral yang sangat bagus dari buku dan film Pullman ini. Mungkin Pullman sendiri tidak memikirkan atau bermaksud seperti yang aku tafsirkan (perlu studi lebih lanjut). Seusai menonton, aku menangkap ada satu kritik sosial dari film itu. Konsep daemon yang dimiliki anak-anak dan senantiasa berubah-ubah aku tafsirkan sebagai jiwa merdeka anak-anak. Hal ini berbeda dengan daemon orang dewasa yang tetap dan tidak berubah-ubah. Daemon yang disimbolkan dengan sosok binatang ini seperti kehendak bebas. Tapi, apa yang terjadi selanjutnya? Jiwa merdeka anak-anak ini dirusak oleh orang dewasa dan oleh institusi-institusi sosial dalam masyarakat termasuk institusi agama (dalam konteks Pullman adalah gereja). Jiwa-jiwa merdeka itu telah dipisahkan dari anak-anak dan menjadikan anak-anak kehilangan kemerdekaannya alias tidak menjadi diri sendiri. Tetapi, perilaku harus disesuaikan dengan aturan-aturan sosial yang kadang membuat orang menjadi sosok-sosok munafik. Aturan itu, menurutku, diwakili oleh terminologi Pullman tentang magisterium. Ingatkan, semakin banyak aturan dengan dalih moral dan kesucian, akan berpotensi melahirkan kemunafikan. Kemunafikan biasanya dilawankan dengan kepolosan anak-anak.

Nah, anak-anak yang dipisahkan dengan daemonnya lewat proses pemisahan, akan mati. Ia tidak hidup. Sekalipun hidup, itu pun kehidupan yang tidak asli. Ini digambarkan dengan jelas dengan sosok Billy Costa, bocah cilik dari komunitas gipsi, yang lunglai setelah dipisahkan dari Ratter, daemonnya (catatan: di buku, karakter ini bernama Tony Makarios). Itu salah satu tafsiranku ketika membaca/menonton karya pengarang kelahiran Inggris itu.

Soal tuduhan ateisme Philip Pullman, aku sendiri tidak buru-buru berkomentar. Aku sendiri bermaksud menjadikan ini menjadi studi atas teks-teks Pullman. Ada yang komentar karya Pullman ini sebagai antitesis karya C.S. Lewis khususnya The Chronicles of Narnia yang kental pesan religiusnya. Memang menurutku, kisah Lewis ini merupakan adaptasi kisah Injil dalam format fabel. Tapi, ada yang menarik dari pernyataan Pullman. Dalam sepotong wawancara dengan The Sydney Morning Herald pada tahun 2003, ia menyatakan “My book are about killing God.” Nah, ini membuncahkan minat pribadiku mengenal Philip Pullman dengan studi lebih lanjut. Sampai buku pertama dan kedua, aku masih mereka-reka titik poin ateisme Pullman. Mungkin terhubung dengan Dust, kebebasan manusia dalam konsep daemon, dunia paralel, dan sebagainya. Aku hanya tidak mau terburu-buru. Aku mau menjadikan ini momentum wisata studi teks-teks Pullman. Mungkin karena daya tangkapku yang terbatas. Tapi, aku tidak mau jadi naif seperti temanku tadi.

Sekarang, di folder komputerku, berderet beberapa artikel seputar Pullman dan karya-karyanya. Dan hari ini, buku Pullman yang lain berada di tangan setelah aku pesan dari toko buku maya, inibuku.com. Judulnya Dulu Aku Tikus (I was a Rat!) dan diterjemahkan oleh Penerbit Gramedia. Dengan begitu, sudah ada 6 novel Pullman di perpustakan pribadiku, yakni 3 buku His Dark Materials, Puteri Si Pembuat Kembang Api, Si Pembuat Jam, dan Dulu Aku Tikus.

Itulah Pullman. Membuatku gelisah. Ia akan hadir di malam-malamku ketika jari-jari ini terlihat begitu sempoyongan untuk segera menumpahkan ide-ide di layar laptoku.

read more...

Sunday, January 06, 2008

Natal di Februari

TIDAK ada bintang berkelip di langit timur. Tidak ada nubuat para nabi. Tidak ada malaikat menampakkan diri di dalam mimpi. Tidak ada cerita-cerita tentang sinterklas dan pit hitam. Tidak ada pohon cemara berhias kelap-kelip lampu gantung. Tidak ada boneka salju. Tidak ada kaos kaki berisi batangan cokelat. Tidak ada suara Charlotte Church mengalun bersenandungkan kidung Silent Night. Tidak ada melodi Ave Maria ala Franz Schubert atau Johan Sebastian Bach menguar di bilik rumah. Tidak ada lonceng berdentang ditingkahi malam yang dingin selain suara detak teratur dari jam dinding yang menggantung di dekat meja rias. Tidak ada sajak Clement Moore yang dibacakan. Inilah adven di rumah kami.

Penantian Natal ini sungguh nyata. Menurut dokter, Natalku akan tiba pada pertengahan Februari mendatang, bulan di mana peri kecilku akan lahir, memamerkan tangis pertamanya, dan menambah hiruk-pikuknya dunia. Beda sekali dengan Natal kemarin, sebuah hajatan berulang setiap penghujung tahun. Riuh dan meriah diiringi oleh hujan, angin taifun, dan banjir di beberapa daerah di nusantara. Nah, inilah pengalaman pertamaku mempersiapkan kelahiran peri kecil.

Mulai Januari, ada satu kegiatan baru menyelip di papan acara yang terpaku di batok kepalaku, yakni belanja barang-barang buat bayi. Sudah dua kali, aku dan ibu peri menyambangi toko bayi Kemanggisan. Toko ini terkenal lengkap dan harganya pun miring. Sekarang, di kamarku, teronggok barang-barang buat peri kecil. Popok. Baju. Celana. Selimut. Lampin. Tisu. Minyak telon. Bedak. Ember mandi. Tempat sabun. Tas bergambar Winnie the Pooh. Sisir. Pampers. Kapas. Sarung tangan. Sarung kaki. Baby oil. Wash lap. Handuk. Hanger. Termometer.

Tiap pagi, dengan catatan tidak gerimis atau hujan, aku menemani ibu peri jalan-jalan menyusuri gang. Alih-alih senam pagi sambil menanti bola raksasa meloncat di horizon timur. Itu pun kalau awan hitam tidak bergerombol menghadang jalan setapak yang sering dilalui bola raksasa itu. Sementara itu, ibu peri tidak pernah absen menegak dua gelas susu merek Prenagen pagi dan sore. Makan sayur mayur, buah, dan lauk sebisa mungkin ikan. Aku sendiri lagi berpikir bagaimana mengatur interior rumah sebersih dan seindah mungkin. Pekan depan, aku menyewa seorang tukang untuk mengecet langit-langit kamar. Maklum atap yang bocor membuat hujan menetes dan meninggalkan bercak hitam di langit-langit. Aku dan ibu peri juga sedang merenung-renung tentang nama yang baik buat peri kecil. Itulah beberapa persiapan yang kami lakukan. Semua itu kami jalani dalam iringan doa yang tak terucapkan bibir, tapi tertulis tajam di hati kami berdua demi keselamatan dan kebaikan peri kecil. Kami berharap peri kecil bisa lahir dengan sehat dan normal. Semoga semesta juga membuka jalan-jalan berkah bagi kelancaran persalinan dan hidup kami sebagai keluarga muda.

Itulah Natal menanti kelahiran peri kecil. Anakku, mungkin tidak ada bintang berkelip di langit mengiringi kelahiranmu lantaran hujan sedang girang membasahi tanah. Tapi, bintang itu berkelip terang di hati ayah dan ibumu. Mungkin tidak ada cemara berhiaskan lampu, bola kristal, dan patung malaikat. Tapi, biarlah suplir-suplir yang menggantung di dekat jendela kamar menari digoyang angin bersama pohon mangga milik tetangga yang pucuknya menjuntai sampai di halaman rumah kita. Mungkin tidak ada lagu Silent Night, Ave Maria, menguar di bilik kecil rumah kita. Tapi, biarlah senandung parau dari mulut ayah ibumu menguar bersama iringan gerimis yang meloncat-loncat di atas genting maupun aspal depan rumah kita. Aku juga minta doamu anakku agar Tuhan memberikan energi yang berlipat-lipat di jari-jari ayahmu ini untuk terus menulis, menari-nari di atas keyboard untuk melahirkan kata-kata ajaib, dan mewujudkan kado istimewa bagimu, yakni buku-buku.

Natal sudah di ujung jalan.

read more...

Friday, December 28, 2007

Tragedi Gigi Hingga Kaki

ADA yang wajib kuperhatikan secara serius soal kesehatanku. Maklum, gejala-gejala ketidakberesan mulai aku rasakan akhir-akhir ini. Sepuluh tahun silam, aku boleh berbangga. Dari hasil general check up, aku menjadi salah satu anggota asrama yang paling sehat. Sementara temanku mengantongi sederet catatan dokter: entah jantung, paru-paru, maupun ginjal, aku sendiri mendapat satu catatan. Bunyinya: makan yang banyak. Maklum, saat itu badanku cukup kerempeng seperti pohon pisang yang tidak pernah disentuh air hujan.

Itu dulu ketika aku masih ngendhon di bawah langit Ungaran, Jawa Tengah. Tapi, sekarang, gejala ketidakberesan itu mulai menggerayangi ragaku yang semakin menua ini. Tubuhku semakin melebar. Apalagi setelah satu rumah dengan ibu peri. Berat badanku per 25 Desember 2007 adalah 68 Kg. Itu artinya 26 kilogram lebih berat dibanding ketika aku berada di asrama 10 tahun silam. Sejak dulu, aku tidak merokok dan tidak akan memutuskan diri untuk menyulutkan api pada sebatang rokok dan menghisapnya. Tapi, tidak berarti orang yang tidak merokok otomatis steril dari serangan penyakit. Mari kita lihat satu per satu.

Gigi. Ini persoalan paling up date dan paling menguras energi dan kantongku. Pada libur Idul Adha 20 Desember 2007, dua gigi bolongku resmi ditambal permanen. Aku sempat dibuat kelimpungan karenanya. Gigi bolong ternyata masalah serius. Asal tahu saja, lima bulan lalu, aku divonis kena sinus oleh dokter THT RS Sumber Waras. Pertama-tama, aku merasa flu. Cairan kental keluar masuk di lubang hidung seperti peloncat indah yang ragu-ragu antara meloncat atau tidak. Tapi, ingusku (aku suka menyembutnya dengan umbel) tidak seperti biasa. Warnanya kekuningan. Baunya minta ampun. Bau busuk. Persis ketika kita menyurungkan hidung kita tepat di atas tempat sampah. Bau itu langsung menyengat saraf otakku dan merangsang rasa mau muntah.

Awalnya, aku merasa risih ada bau busuk tersebar di mana-mana. Di kamar tidur. Di kubikel kantor. Di toilet. Di mana pun. Eh, ternyata ‘tong sampah’ itu ada di hidungku sendiri. Alamak! Hasil rontgen mengatakan bau busuk itu berasal dari infeksi gigi berlobang yang sudah menggerus saraf sinus. Dokter THT RS Sumber Waras menyuruhku segera cabut gigi. Keesokan harinya, aku pergi ke dokter gigi. Tapi, dokter itu angkat tangan. Ia tidak mau ambil risiko seandainya gigi rahang atasku dicopot, saluran sinus juga akan rusak. Dokter perempuan itu pun menyarankan aku pergi ke Ladokgi di RSAL Mintohardjo.

Di sana, dokter memberi saran sebaliknya. Gigiku masih bisa diselamatkan, meski harus mengalami beberapa kali perawatan. Sepertinya biaya konsultasi dan obat sebesar Rp 400-an di RS Sumber Waras melayang sia-sia. Obat harus diganti dengan obat ala Lakdogi. Rontgen diulang dua kali. Perawatan berjalan. Gigiku ditusuk-tusuk dengan jarum dan ditambal sementara. Obat baru diberikan. Hasilnya lumayan. ‘Tong sampah’ itu sudah tanggal dari hidungku. Dokter menyuruhku datang setiap dua minggu sekali untuk perawatan. Tapi, sori seribu satu sori. Gara-gara mimpi buruk di sepotong siang, aku emoh lagi ke Lakdogi. Waktu itu, aku berniat memeriksakan gigiku yang sudah dua kali dirawat. Aku datang ke dokter gigiku sekadar menanyakan apakah aku langsung ke tempat perawatan atau tidak. Dokter mengangguk. Itu saja, tidak kurang dan tidak lebih. Lalu seorang asistennya menyodoriku blanko pembayaran konsultasi sebesar Rp 50.000 untuk segera dibayar di kasir. Melihat ini, rasa keadilanku terusik. Bisnis apa-apaan ini, batinku. Lalu aku terima blangko itu. Berlenggang kangkung meninggalkan ruang dokter. Dan kuremas-remas blangko itu sampai kusut seolah-olah sedang meremas-remas wajah asisten dokter itu sampai berlipat-lipat. Lalu kulemparkan bola kertas itu ke tong sampah. Melempar senyum simpul rasa pare super pahit kepada petugas kasir. Dan aku pun hengkang dari Lakdogi dan tak pernah kembali.

Aku pun pindah ke dokter gigi lain. Untung sekali, aku menemukan dokter gigi idamanku. Orangnya ramah meski sudah tua menghiasi parasnya. Sabar. Perawatannya eksklusif. Tempatnya super bersih. Bisa bikin janji secara pribadi. Setia memberi pesan pendek tanda alert via ponsel sehari sebelum jadwal periksa. Lebih untung lagi, klinik gigi ini jaraknya sekitar 500 meter dari rumahku. Pokoknya, uenak tenan! Akhirnya, dua gigi rahang atasku pun ditambal permanen. Katanya, gigi lobang jadi sarang bakteri. Jika sudah mengenai syaraf dan aliran darah, bakteri itu akan mengembara ke seluruh tubuh. Ia bisa membutakan mata. Merusak jantung dan paru-paru. Memperlemah sendi. Informasi ngeri inilah awal pertobatanku. Aku wajib memerhatikan gigiku. Aku pasti menyambangi dokter gigi itu enam bulan lagi.

Kolesterol. Penimbunan kolesterol kelihatnya memengaruhi kondisi tubuhku saat ini. Badan mudah capek. Linu-linu di persendian. Badan tidak terasa segar lagi. Kadang, muncul rasa linu di bagian jantung. Maklum, konsumsi lemak cukup berlebih. Sementara itu aku tidak mengimbanginya dengan olahraga. Jogging pun jarang-jarang. Ajakan main badminton tiap minggu dari kakak iparku masih kuanggap sepi. Ajakan Awigra untuk main pingpong, main futsal, lari-lari di senayan tiap jumat sore pun masih jauh dari eksekusi. Dulu, di asrama, olahraga begitu teratur. Maklum saja, hidup di asrama sudah digariskan di papan acara tiap hari.

Mata. Penglihatanku sedikit menurun. Kurang tajam. Mungkin saja, kacamata harus segera ditebalkan karena pertambahan angka minus. Mungkin juga aku harus menambah asupan vitamin A entah dengan memakan wortel atau menelan minyak ikan.

Kaki. Kelihatannya ada yang bermasalah dengan otot kakiku. Tepatnya di dekat mata kaki kiri. Aku tidak bisa berlari kencang. Sering keseleo otot. Ada otot yang mendosol di area mata kaki. Rasa linu doyan mampir seperti sebatang es batu yang ditempelkan di mata kaki dengan plester. Awalnya muncul di lapangan futsal di arena sport kelapa gading. Maksud hati ingin olahraga tiap rabu bersama sahabat kantor. Ini olahraga pertama yang aku lakukan bersama teman kantor. Dan, lima menit pertama, tanpa sebab apa pun, aku menggiring bola, lalu bermaksud menyepak dan menembakkannya di gawang lawan. Mumpung di depan tidak ada satu lawan pun yang menghadang. Tapi, apa yang terjadi? Bola luput aku tendang. Aku pun jatuh dan terkilir di atas rumput imitasi berwarna merah. Rasa cenut-cenut itu pun masih terasa sampai sekarang. Dan aku pun rajin melempar senyum manis pada kawan yang mengajakku main futsal lagi sebagai tanda penolakan halus.

Itulah beberapa poin penting yang patut aku perhatikan menyangkut kesehatan di tahun 2007. Resolusi tahun 2008: rajin berolahraga, hidup bersih, menambah porsi sayuran dan buah-buahan sebagai menu makan, dan rajin konsultasi ke dokter.

read more...

Thursday, December 27, 2007

Jejak Pengembaraan 2007

SEBAGAI pengamin kata-kata Socrates, penghujung tahun merupakan waktu yang tepat untuk melihat kembali jejak pengembaraan selama hampir 365 hari ini. Guru kebijaksanaan Yunani klasik ini pernah berujar: hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dijalani. Aku mengamini betul kata-kata itu. Bukan untuk sok bijak. Tapi, memang ingin bijak dalam hidupku sendiri. Aku sih tidak ingin membiarkan berbagai pengalaman itu berterbangan tanpa arah seperti abu kertas yang dikoyak oleh angin liar. Aku sendiri sangat bersyukur telah dikaruniai kemampuan untuk memaknai setiap jejak langkah. Alih-alih ini sebagai reuni singkat tapi mendalam dengan seribu satu pengalaman pribadi selama setahun.

Aku bagi refleksi ini dalam lima bagian: kesehatan, hidup pernikahan, mimpi-mimpi & belajar, hidup religius, serta karir. Tiap bagian aku tuliskan dalam lembar putih terpisah.

read more...

Saturday, December 22, 2007

The Golden Compass

GODAAN itu datang di toko buku Gramedia Artha Gading. Toko buku yang jaraknya hanya seperlemparan batu dari tempatku bekerja. Perempuan yang pernah terjungkal tanpa sebab di halaman balairung UI di pagi cerah itu memberitahuku bahwa buku Philip Pullman berjudul The Golden Compass ada di rak sastra. Perempuan itu bagaikan Eva di taman Firdaus yang memetik buah apel yang ranum dan membujuk Adam untuk segera menyantapnya. Tanpa pikir panjang, kantong kurogoh, dan kubeli buku itu seharga Rp 50.000. Padahal aku tidak mengagendakan beli buku di hari itu. Maklum, sudah banyak banyak buku baru yang aku beli bulan ini. Lebih-lebih, aku harus mulai mengirit untuk biaya kelahiran peri kecilku nanti. Namun, apa boleh buat, ‘apel’ itu terlalu menggoda.

Aku begitu ngebet dengan karya Philip Pullman itu. Maklum, karya novelis kelahiran Inggris 1946 itu berhasil diadaptasikan dalam film. Film yang dibintangi Nicole Kidman dan Daniel Craig itu dirilis 4 Desember 2007. Menurut catatan, baik buku dan filmnya menuai kontroversi. Banyak kalangan, khususnya orang-orang tertentu di Gereja Katolik menilai buku dan film itu kurang cocok sebagai bacaan sekaligus tontonan bagi anak-anak. Ada yang menilai karya Pullman ini cenderung antigereja dan berisi ajaran ateisme. Aku mulai membaca The Golden Compass sejak 10 Desember 2007 . Kusudahi 486 halaman buku itu pada 12 Desember 2007 pukul 00:17. Alih-alih sebagai midnight dan cerita sebelum tidur.

Sebagai cerita, menurutku The Golden Compass sangat menarik. Ketika membacanya, imajinasiku melalang buana ke sebuah negeri irisan antara dunia real dan dunia dongeng. Mirip-mirip Harry Potter karya JK. Rowling.

Sambil menyusuri larik-larik kalimat di buku itu, aku mencoba meraba-raba mana yang menjadi titik kritik. Mana juga yang menjadi poin yang bisa dijadikan bahan kesimpulan kalau Philip Pullman itu ateis. Beberapa kali dalam novel ini, Philip Pullman menyebut gereja sebagai satu agen misterius yang berupaya mengebiri anak-anak dan memisahkan mereka dari daemonnya. Daemon istilah Pullman untuk menggambarkan jiwa (inner spirit). Di novel itu, daemon dilukiskan secara filmis sebagai mahkluk berupa binatang yang dimiliki setiap orang. Aku sendiri membayangkannya sebagai malaikat pelindung (the guardian angel). Sosok ini pertama kali kukenal lewat guru sekolah mingguku puluhan tahun silam.

Pullman juga menyebut Magisterium sebagai lembaga yang mengatur segalanya. Dalam tradisi Gereja Katolik, Magisterium lebih diartikan sebagai kuasa mengajar. Kuasa mengajar ini yang menjadi hak eksklusif para klerus dalam hierarki Gereja Katolik. Soal ini, akan kutulis di lembar putih terpisah. Pasalnya, aku pernah mengalami teguran keras oleh seorang pastor atas nama Magisterium ketika aku menerbitkan tulisan seputar gereja di majalah internal gereja. Selain itu, Pullman melontarkan terminologi baru, yakni Debu. Debu masih misterius. Di akhir novel The Golden Compass pun, Debu ini masih mengandung ketidakjelasan. Di situ, Debu diartikan sebagai dosa asal (original sin) dan dikerangkai dengan cerita pendek tentang manusia di Taman Fridaus. Tapi, aku rasa pembaca juga masih belum paham. Dan, sang karakter utama, Lyra pun masih mencari-cari apa makna sebenarnya Debu itu.

Aku sendiri punya sepotong kritikan pada Pullman. Bukan pada masalah apakah dia ateis atau bukan. Bukan juga apakah dia menyebarkan ateisme pada anak-anak atau bukan. Tapi, Pullman seakan memaksakan persoalan yang sangat teologis pada anak-anak dan menempatkan itu di akhir novel The Golden Compass ini. Cerita petualangan Lyra Belacqua bersama daemonnya Pantalaimon sejak dari Akademi Jordan di Oxford; kehilangan karibnya Roger Parslow; mengalami pencarian atas Roger; terpaksa memenuhi ajakan Mrs. Coulter ke London; melarikan diri dari Mrs. Coulter dan bertemu teman baru dari kaum gipsi: Tony Costa, John Faa, Ma Costa, Farder Coram; menemukan sahabat baru seekor beruang kutub bernama Iorek Byrnison; mengembara ke Bolvangar tempat anak-anak di penjara; dan sebagainya; diakhiri dengan kupasan teologis yang agak memusingkan khususnya bagi anak-anak. Keindahan dan liak-liuk plot cerita yang bagus sedikit mendapat gangguan di akhir cerita.

Buku pertama dari trilogi His Dark Materials ini berakhir mengambang. Masih banyak teka-teki yang belum mendapat titik terang. Maklum, ini sebuah trilogi. Oleh karenanya, dua hari setelah The Golden Compass terbeli, aku segera membeli buku kedua, The Subtle Knife di toko buku Gramedia Artha Gading. Sehari kemudian, di toko buku Gramedia Taman Anggrek, bersama ibu peri, aku membeli buku ketiga, The Amber Spyglass. Tuntas sudah trilogi itu ada di perpustakaan pribadiku. Dan benar, buku kedua menjadi jawaban atas beberapa teka-teki buku pertama. Dan mungkin yang ketiga karena yang ketiga ini aku belum membacanya.

Film The Golden Compass sudah dirilis sejak 7 Desember 2007. Tapi, di Indonesia, menurut orang tidak dikenal, film garapan sutradara Chris Weitz ini akan diputar perdana pada 5 Januari 2008. Aku menyarankan siapa saja yang mau menonton film itu, membaca dulu novelnya. Dengan begitu, kita mampu membandingkan imajinasi kita ketika membacanya dengan visualisasi cerita itu dalam film. Bagaimanapun juga, novel dan film yang mengadaptasi novel itu tetaplah dua hal yang berbeda.

read more...

Sunday, November 25, 2007

Kebiasaan Baru: M-e-n-d-o-n-g-e-n-g

AKU punya kebiasaan baru, yakni mendongeng. Tepatnya, membacakan cerita buat peri kecilku yang masih dalam kandungan. Sudah empat kali ini dongeng dibacakan. Selang-seling dengan ibu peri. Mungkin ini kelihatan aneh. Tapi, seorang pakar anak pernah menasihati akan lebih baik jika anak sedari kandungan dilatih untuk berkomunikasi. Katanya, ini akan memengaruhi psikologi anak itu kelak. Bentuknya beragam. Salah tiganya, mengajaknya ngobrol, menyetelkan musik, atau mendongeng. Nah, ketiganya telah kami pilih.

Ibu peri membacakan dongeng pada siang hari. Saat bola raksasa melarut dalam gelap, sambil meluruhkan sisa kepenatan kerja ke lantai, giliranku mendongeng. Dongeng tentang Anak-anak Lilin menjadi dongeng pertama yang aku bacakan. Cerita ini diambil dari antologi dongeng Gadis yang Menikahi Seekor Singa karya Alexander McCall Smith. Antologi ini diterbitkan dan diterjemahkan oleh penerbit Bentang (2005).

Buku itu merupakan koleksi dongeng-dongeng tradisional dari dua negara Afrika, yakni Zimbabwe dan Botswana. Seperti cerita-cerita rakyat di manapun, buku tadi juga mengisahkan suatu kehidupan yang unik, ajaib, filmis, imajinatif, sekaligus penuh pesan nilai. Menarik memang. Aku sendiri menyukainya. Lebih-lebih ketika membacanya sambil mengeluarkan suara dan sesekali berakting dan berakhir dengan cekikikan sendiri. Senyum simpul pun sering menempel di paras ibu peri saat aku membacanya.

Bicara soal dongeng, aku jadi teringat masa kecilku. Dulu, aku senang didongengi oleh kakak perempuanku. Bahkan, teman kakakku juga sering membacakan cerita untukku jika sedang bertandang ke rumah. Namanya Rusmiyati. Dongeng serial Kancil dengan berbagai topik. Sebut saja kancil dan buaya, kancil dan seruling Nabi Sulaiman, kancil si pencuri ketimun, dan sebagainya. Dongeng begitu hidup dan mencekam. Apalagi temaram lampu teplok menerangi ruangan tempat kami bercengkerama. Maklum, desaku, di sudut Bantul, waktu itu belum kesetrum alias dialiri listrik. Tapi, bila gelap membekap dusun dan suhu dingin tergelincir dari bukit Sempu, terciptalah suasana romantis yang tidak bakal lekang dari ingatanku. Lebih-lebih ditambah dengan suara jengkerik yang beradu nada dengan suara burung hantu yang bertengger di pohon asem, kodok di kebun, dan ditingkahi suara kentongan dari dusun sebelah.

Kadang malam mendadak seperti dipenuhi dementor, hantu-hantu gentayangan di dunia Harry Potter, saat mbak Rus bercerita tentang mahkluk malam bernama kunang-kunang. Si kecil yang terbang sambil membawa lampu berkelip ini senang melintasi kebun depan rumah di sela-sela ranting tanaman ceplok piring dan bunga sepatu. Konon, katanya, kunang-kunang asalnya dari kuku orang mati. M-e-n-y-e-r-a-m-k-a-n. Betapa bulu kuduk mendadak berdiri seperti sapu lidi terbalik saat lilin terbang ini masuk rumah lewat jendela kamar. Tapi, liliput bercahaya ini sudah lama tidak aku lihat. Libur lebaran kemarin pun, aku tidak melihatnya. Di sawah dan di kebun mereka tidak nampak. Mungkin mereka sudah punah. Mungkin lampu yang dibawanya mati atau kehabisan bahan bakar. Mungkin migrasi ke negeri antah berantah. Mungkin sekarang ia hanya ada di dalam ceritaku ini. Toh bumi sudah semakin renta. Banyak yang dulu ada sekarang sudah tidak ada lagi.

Aku dan ibu peri sepakat mengenalkan buku pada peri kecil sejak sekarang. Kami percaya buku akan mengantar kehidupan yang lebih baik. Buku adalah jembatan mencapai mimpi-mimpi.

Borong Buku
Nah, Sabtu, 24 November 2007. Pagi hari, sekitar tiga jam setelah bola raksasa meloncat dari tepian bumi sebelah Timur, aku dan ibu peri bergegas ke Gramedia Book Fair di Gedung Gramedia, Jl. Panjang, Kebon Jeruk. Di lantai 8, digelar bursa buku murah. Diskon 20% untuk semua buku dan obral buku murah, Rp 5.000 dan Rp 10.000.

Tanpa lama, beberapa buku terjerembab dalam keranjang belanja kami. Dengan Rp 161.500, kami membeli 10 buku. Dari 9 buku itu, 3 buah buku buat peri kecil. Ketiganya antara lain Si Gadis Penakut (Enid Blyton), Si Pembuat Jam (Philip Pullman), dan Putri Si Pembuat Kembang Api (Philip Pullman).

Buku Enid Blyton hadir dalam 8 seri. Masing-masing seri berisi 7-8 cerita pendek. Asal tahu saja, buku Enid Blyton inilah yang menjadi buku bacaan masa kecilku selain serial Lima Sekawan maupun Trio Detektif karya Alfred Hitchcock. Serial itu aku dapatkan dari perpustakaan sekolah kakakku nomer dua, SMP Stella Duce, Suryadiningratan. Kini, buku itu sudah mengalami 10 kali cetak ulang.

Aku kira terjemahan buku Enid Blyton perlu di-upgrade lagi. Bahasanya sudah bagus. Tapi, ada hal yang perlu disesuaikan dengan perubahan zaman. Misalnya, dalam cerita Celengan Mia dalam antologi seri Si Gadis Penakut, masih disebut uang Rp 5 dan Rp 20. Nah, angka ini untuk konteks masa kecilku mungkin masih cocok. Tapi, untuk konteks anak sekarang, perlu diadaptasikan lagi.

Novel Philip Pullman sengaja aku pilih karena menurutku menarik. Novel Putri Si Pembuat Kembang Api (The Firework-Maker’s Daughter) memenangi Gold Medal Smarties Prize. Sedangkan Si Pembuat Jam (Clockwork) memenangi Silver Medal Smarties Prize. Buku yang kedua disebut itu dicetak dalam 107 halaman dan kubaca dalam waktu 45 menit. Ceritanya memikat. Mengalir. Kurekomendasikan pada ibu peri untuk segera membacanya. Ibu peri malah melayangkan sepotong pertanyaan, "Apa kamu tidak mencoba menulis cerita anak-anak? Aku kira kamu punya modal itu." Aku diam saja sambil menekuk garis lengkung bibirku ke atas.

Sebenarnya, aku tertarik membeli trilogi Philip Pullman dalam serial His Dark Materials. Ketiganya dalam edisi tebal, yakni The Golden Compass, The Subtle Knife, dan The Amber Spyglass. Tapi, aku sedikit menahan diri. Maklum sekarang aku harus pandai-pandai mengelola isi kantong. Mungkin bulan depan setelah gajian atau mendapat honor ghostwriter, baru aku beli ketiganya.

Sementara itu, ibu peri membeli 4 buku lainnya. Sebut saja Mereka Bilang Saya Monyet dan Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu, Absolute Victory karya Robert Pino, dan When God Winks karya Squire Rushnell. Aku sendiri menambah 3 buku lagi, yakni Dunia di Kepala Alice karya Ucu Agustine, Bulan Jingga dalam Kepala karya Fadjroel Rachman, dan Wawancara dengan J.K. Rowling dari Lindsey Fraser.

Dengan begitu, perpustakaan rumah mendapat anggota baru berupa buku-buku sastra. Aku ingat terus apa yang ditulis seorang karib, Nara Patrianila namanya. Ia pernah menuliskan di sebuah kartu ucapan yang diselipkan dalam kado buku untuk pernikahanku tahun lalu. Ia menulis: cinta bisa dipahami dengan puisi, sastra, dan menikah. Semoga kehadiran anggota baru di perpustakaan rumah ini membuat isi rumah semakin memahami arti cinta. Termasuk aku, ibu peri, peri kecil, cicak di balik lemari, tikus di gudang, kecoak di kolong mesin cuci, dan semuanya yang ada di sini. Cinta dalam arti seluas-luasnya. read more...

Thursday, November 22, 2007

Lelaki Itu Muncul di Kick Andy

TADI malam, aku menonton Kick Andy edisi Andy’s Diary, 22 November 2007. Tontonan setiap Kamis malam pukul 22.00 di Metro TV yang tidak layak ditinggalkan. Sambil membiarkan jari-jariku menari-nari di atas keyboard laptopku untuk sepotong tulisan. Maklum deadline sudah di ambang pintu. Cenut-cenut juga sudah mulai merambati batok kepalaku.

Dalam edisi tadi malam, Andy F Noya, si krebo pemandu acara mengajak pemirsa melihat kilas balik perjalanan Kick Andy. Program ini sangat menarik. Minimal bagiku. Seperti layaknya Oprah, Andy F Noya berhasil menciptakan talk show yang menarik. Dalam. Ringan. Mengalir. Penuh sentuhan human interest.

Kick Andy pun berhasil menghadirkan sosok-sosok luar biasa. Andai pun biasa, bisa digali secara luar biasa. Tepatnya, sesuatu yang biasa yang tidak pernah kita tangkap nilai luar biasanya. Di sana, ada Xanana Gusmao, Jendral Alfredo, Hercules, Andrea Hirata, Suster Apung, para jurnalis perang, dan sebagainya. Beberapa sesi mendapat protes dan kritikan. Apalagi menyangkut tokoh tertentu. Tapi, dengan kalem, Andy mengatakan, “Tontonlah Kick Andy dengan hati, dan bukan hanya dengan otak.” Aku setuju dengan Andy. Hati memunyai matanya sendiri untuk melihat yang tidak terlihat oleh mata kepala dan otak kita.

Tapi, ada satu tokoh yang dihadirkan di Kick Andy yang membuatku menempelkan perhatian lebih erat pada tabung ajaib itu. Tokoh itu adalah Iwan Firman, seorang lelaki keturunan Tionghoa korban Tragedi Mei 1998. Sayang sekali, aku tidak melihat siaran utuhnya pada 10 Mei 2007 dalam edisi “Tragedi itu masih misteri.” Tapi, nukilan singkat ini cukup memutar memoriku. Di studio Metro TV, hadir pula Abdillah. Tema yang diangkat di sana adalah persahabatan dua orang dari dua etnis berbeda.

Nah, rasa-rasanya, aku mengenal dekat orang-orang itu. Kisahnya begitu familiar. Persahabatan dua orang beda etnis. Iwan beretnis Tionghoa dan Abdillah beretnis Jawa. Aku pernah bertemu dengan dua orang ini dalam sepotong wawancara. Cerita di Kick Andy pun mengingatkanku dengan tulisan yang pernah aku tulis di blog ini. Judulnya Merajut Seribu Mimpi yang diposting 19 Februari 2006. Tulisan ini pernah juga diterbitkan di Warta Minggu, buletin milik Paroki Maria Bunda Karmel, Tomang, Jakarta Barat pada 1 Juni 2003.

Aku mewawancari Iwan di rumahnya, di Tanah Tinggi, kawasan Senen. Waktu itu siang hari, 14 Mei 2003, persis 5 tahun saat Iwan mengalami peristiwa naas yang membuatnya cacat, 14 Mei 1998. Aku juga menjumpai Abdillah, penjaga palang kereta api Pos Pintu no. 31, Kembang Pacar, Pasar Gaplok, Senen. Dari cerita dua orang ini, aku menangkap inti persahabatan. Abdillah adalah sosok penyelamat hidup Iwan yang nyaris diakhiri di bantalan rel kereta api itu. Di posko lelaki kelahiran Brebes inilah, aku menemukan foto Iwan ketika masih berfisik normal (lihat di blog). Keduanya sudah bersahabat selama 20 tahun. Sebenarnya, ada satu lagi sahabat Iwan. Namanya Andreas. Tukang siomay keliling inilah yang menjadi sahabat keseharian Iwan. Dialah yang menyediakan makan, menyuapi, bahkan menceboki Iwan.

Nukilan di Kick Andy itu membuatku seperti bereuni dengan tulisanku sendiri. Bereuni dengan tokoh-tokoh dalam tulisan itu. Aku terbawa pada sebuah pengenangan. Mendadak aku terkesiap ketika di akhir nukilan Kick Andy itu, seorang dari penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) bernama Ramayanti memberikan sedekah mewakili Margat T, seorang novelis kawakan.

Rasa-rasanya aku pernah kontak mengontak dengan Ramayanti. Ia juga pernah berkirim surat elektronik sambil membawa pesan dari Marga T sebelum acara Kick Andy itu digelar. Ia mengirim pesan itu ke kotak suratku yang aku pasang di blog ini. Ia menyampaikan kabar bahwa Margat T mencari alamat Iwan Firman untuk memberikan tanda kasih pada korban kerusuhan Mei. Berikut surat dari Ramayanti tertanggal 14 Maret 2007:

Dear Musafirmuda,
Salam kenal. Saya Yanti, editor Gramedia Pustaka Utama. Dengar-dengar Mas kerja di Gramedia Majalah? Masih saudara dong kita? Kami mau minta tolong nih, Mas. Marga T melalui GPU ingin memberikan tanda kasih kepada para korban kerusuhan Mei '98. Kata MT, Mas pernah menulis tentang Iwan Firman? Apakah Mas tahu alamat Iwan dan korban-korban lainnya seperti Andreas Abdillah, Pak Penjaga KA, dan keluarga Almarhum Haji Harun? Trims berat untuk perhatiannya.
Salam,
Yanti


Aku heran aku disangkanya karyawan Gramedia. Maklum, namaku nama pasaran. Lalu, dengan senang hati, aku membalasnya dengan surat tertanggal 17 Maret 2007. Senang juga berkenalan dengan Margat T, penulis serial novel Sekuntum Nozomi itu. Syukur-syukur bisa mencuri-curi ilmu menulisnya. Minimal berbagi energi untuk tetap setia menulis. Mbak Yanti membalas lagi via sepotong surat tertanggal 20 Maret 2007.

Halo Mas,
Trims untuk balasannya. Wah, salah info nih saya, tapi kita tetap saudara di dunia penerbitan, kan. Saya sudah menelepon Iwan dan sudah mendapatkan alamatnya, tapi keluarga Haji Harun sudah pindah dan Iwan gak tahu alamatnya. Saya belum tahu persis kapan tepatnya tanda kasih itu akan diberikan, rencananya sih sekitar pertengahan Mei, tapi kami masih harus mematangkannya dulu karena ada pihak lain yang terkait. Mbak Marga T kebetulan tidak tinggal di Jakarta, Mas, jadi kalau kontak langsung mungkin agak susah. Tapi kalau lewat e-mail sih MT selalu welcome. Alamatnya:
marga_xxx@yahoo.com
Sekali lagi, trims berat atas bantuannya.
Salam,
Yanti


Mungkin ini sebuah kebetulan. Kebetulan yang diagendakan semesta. Bagiku, ini seperti obat penawar lupa. Lupa adalah penyakit orang kita selama ini. Lupa sejarah. Lupa bahwa di sekitar kita ada korban. Korban yang diam dan didiamkan. Korban yang dilukai dengan cara-cara yang nyaris melampaui batasan rasa kemanusiaan kita untuk memahami penderitaan itu sendiri. Ekstrem. Nah, menulis adalah bagian dari sikap melawan lupa. Scripta manent, verba volant: yang tertulis akan mengabadi dan yang terucap akan berlalu bersama angin.

Menulis bagiku memunyai misi sosial. Tulisan bisa menggugah solidaritas orang. Mengingatkan orang. Meneguhkan orang. Meski tak jarang, tulisan juga bisa membunuh orang. Aku merasa senang ketika tulisanku membuat orang termotivasi untuk membantu orang lain. Dengan demikian, tulisanku ini memunyai energi. Aku mengamini pesan Thomas Carlyle: tulisan yang lahir dari hati akan menyentuh hati-hati yang lain.

Tapi, jujur saja, aku pernah terpuruk oleh suatu pengalaman buruk. Tepatnya, mimpi buruk yang masih menggantung di batok kepalaku. Mimpi buruk itu tak lain aku pernah merasa terlibat dalam pembunuhan seseorang gara-gara aku emoh menulis. Mimpi buruk ini pernah aku tulis di blog ini. Judulnya Apakah Aku Turut Membunuhnya? (silakan klik).

Berikut petikan awal tulisanku tentang Iwan Firman itu:

“Pria berpostur gemuk dengan luka bakar di sekujur tubuhnya itu tampak gelisah. Sesekali, ia menatap kalender yang digantung di dinding ruangan berukuran 2X4 meter. Tanggal 14 Mei 2003. Matahari siang masih menghujamkan panasnya di Tanah Tinggi, Kawasan Senen. Patung panglima Tiongkok Kwang Kong dan seekor burung robin dalam sangkar seolah turut merasakan kegelisahan pria itu. Sejenak mereka hening. Iwan Firman, seorang korban Kerusuhan Mei 1998, takkan melupakan tanggal itu. Lima tahun lalu, pada tanggal yang sama, Iwan mengalami kekerasan yang membuat fisiknya cacat, tak senormal dulu. Siang itu juga, Iwan berbagi kisah tentang peristiwa horor Mei kelabu. Aku duduk mendengarkan. Membuat coret-coret di notes kecilku.” (Selengkapnya) read more...

Sunday, November 18, 2007

Menonton Butet

MIMPI ibu peri jadi kenyataan. Keinginan kuat menonton monolog Butet Kartaredjasa berlakon Sarimin itu pun kesampaian malam ini. Jumat malam, 16 November 2007. Bayangkan, keinginan nya sampai terbawa mimpi. Mau tidak mau, dengan senang hati, aku menurutinya. Apalagi di dalam rahimnya, ada peri kecil berusia 6 bulan berjenis kelamin laki-laki. Siapa tahu, itu keinginan si kecil mendengar banyolan seniman asal Bantul itu.

Ini adalah kedua kalinya aku bersama ibu peri menonton Butet manggung di tahun 2007. Pertama kita nonton Butet berperan sebagai Ilak Alipredi dalam pementasan Kunjungan Cinta persembahan Teater Koma, Januari 2007. Ibu peri memang doyan nonton teater. Begitu pula aku.

Sampai di Graha Bhakti Budaya TIM pukul 18.00. Masih 2 jam menunggu pentas aktor kelahiran Jogja, 21 November 1961 itu. Di depan loket, kantong dirogoh, uang Rp 100.000 didapat, dan ditukarkan dengan 2 tiket bernomer W16 dan W17. Sayang kepalang sayang. Kita salah pilih kursi. Ternyata kita dapat kursi di balkon. Jeda waktu kami isi dengan nonton film gratis dalam Le Mois du Film Documentaire, festival film pemenang festival yang digelar di Studio 1 TIM 21. Film La traversee (2006) jadi tontonan pemanasan. Karya Elisabeth Leuvrey dan berdurasi 55 menit ini berisi dialog-dialog unik rombongan orang yang menyeberangi lautan antara Prancis dan Aljazair setiap musim panas. Khususnya, antara kota Marseille dan kota Alger.

Sisa jeda waktu kami isi dengan menyambangi gerai buku di pojok TIM. Hasilnya, 2 novel dari trilogi YB. Mangunwijaya terbeli ibu peri seharga Rp 60.000, yakni Roro Mendut dan Lusi Lindri. Buku ke-2 dari trilogi itu masih dicari, berjudul Genduk Duku.

Pukul 20.05, Butet pun manggung diiringi musik dari Djaduk Ferianto. Butet tampil pertama kali sebagai narator. Ia berkisah tentang seorang miskin bernama Sarimin. Mendengar nama ini, orang langsung berasosiasi dengan tukang monyet keliling. Dan benarlah, Sarimin dalam cerita Butet adalah lelaki miskin berumur 54 tahun yang bekerja sebagai tukang monyet keliling.

Tanpa lama, Butet menanggalkan peran narator dan merasuk ke tokoh Sarimin. Suatu siang, Sarimin menemukan sebuah KTP di jalan. Karena buta huruf, ia tidak tahu siapa pemilik kartu identitas itu. Dengan polos, ia pun menyambangi kantor polisi terdekat. Sayang sekali, di kantor polisi yang bertuliskan “Kami siap melayani Anda” itu, Sarimin merana. Ia dibiarkan menunggu oleh polisi yang sok sibuk dengan pekerjaan lain yang lebih besar: m-e-n-g-e-t-i-k. Tik-tak tik-tok, tik-tak tik-tok. Demikian suara mesin ketik manual itu menenggelamkan tugas polisi untuk melayani wong cilik seperti Sarimin.

Sampai akhirnya seorang polisi menjumpainya dan mempersalahkannya. Sarimin didakwa telah mencuri KTP yang ternyata adalah KTP milik hakim agung. Sejak itu, nasibnya berubah seperti bola yang leluasa ditendang ke sana ke mari oleh aparat penegak hukum. Sarimin dipaksa mengaku. Tapi, keteguhan dan kejujurannya mengantarnya ke dalam penjara. Ia bisa dibebaskan asal ia menebus dengan uang. Tapi, uang sepeser pun tidak ada di kantongnya. Kemiskinan terlanjur getir. Butet pun mulai berakting dengan gaya humornya. Parodi dan satir jadi satu. Sesekali ia bermain sebagai polisi. Sesekali ia bermain sebagai seorang pengacara berdarah Batak dan bernama Binsar. Olah suaranya dibilang jago. Meski sesekali keseleo memainkan lidah orang Batak, ia mampu menutupinya dengan banyolan segar.

Kehadiran pengacara menambah hati Sarimin runyam. Ia hanya ingin numpang populer. Bahkan, pengacara bodoh itu melemparkan logika bodoh ke telinga Sarimin: “Karena benar, maka kamu salah.” Logika yang terbolak-balik.

Monolog itu adalah monolog kita sendiri. Rasanya begitu miris memikirkan praktik hukum di negeri ini. Hukum yang tidak lagi memihak pada kebenaran dan keadilan. Tapi, hukum yang bisa dipermainkan oleh uang. Akibatnya, orang miskin semakin menderita oleh sistem hukum ini. Hukum hanya menjadi alat aparat penegak hukum memeras korban. Aku yakin masing-masing dari kita pernah menemui pengalaman seperti Sarimin. Entah di jalan dengan polisi lalu lintas atau polisi pamong praja yang arogan. Ada 1001 pengalaman buruk bersama para penegak hukum ini. Kalau dilihat hanya bikin sakit hati lagi. Anehnya, logika bodoh ini menulari masyarakat. Persis seperti kekerasan yang menular. Rene Girard menyebutnya dengan mimesis, proses tiru-meniru. Tapi, monolog ini mengajak kita untuk menertawakan semua itu. Menertawakan kepahitan. Menertawakan kebodohan. Menertawakan kebebalan. Menertawakan kemiskinan. Menertawakan hidup.

Pukul 22.00, monolog usai. Membuatku merenung. Dunia memang membutuhkan orang-orang yang berani untuk mengatakan benar jika itu benar. Salah jika itu salah. Kutengok peri kecilku di dalam sana. Semoga, peri kecilku nanti bisa tegar dan tidak terjerumus dalam arus dunia yang sarat dengan kemunafikan dan kebodohan. Lalu kita tutup jalan-jalan malam itu dengan menyantap nasi kucing lengkap dengan sate usus dan teh panas di angkringan Cikini.


[sumber foto: www.fotografer.net]
read more...

Thursday, November 15, 2007

Peristiwa 9/11

ANGKA 9 dan angka 11 adalah angka sangat penuh arti. Angka ini pernah dipakai untuk menandai sejarah dunia, Tragedi 11 September 2001. Tragedi 11/9 memutar memori kita pada suatu pagi nan cerah di Manhattan. Pagi saat dua burung besi berisi ratusan penumpang menghantam menara kembar World Trade Center. Pagi naas dan menewaskan lebih dari 3000 orang.

Bagaimana kalau kita balik angkanya menjadi 9/11? Peristiwa 9/11 juga sarat arti. Pada tahun 1989, angka itu merujuk peristiwa runtuhnya Tembok Berlin. Ini sejarah penting bersatunya dua Jerman, Jerman Timur berhaluan komunis dan Jerman Barat berhaluan kapitalis. Sementara itu, jauh di tahun 1799, angka ini mengacu pada Napoleon Bonaparte resmi menjadi diktaktor. Pada tahun 1904, angka ini bicara tentang pesawat yang diterbangkan pertama kali. Pada tahun 1918, Bavaria memproklamirkan diri sebagai republik. Tahun 1932, angin ribut mengosak-asik Santa Cruz del Sur Cuba dan menewaskan 2500 orang. Pada tahun 1970, Presiden Prancis Charles deGaulle mati di usia 79 tahun. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Mau tahu lebih banyak, silakan cek di situs scopsys. Iseng-iseng untuk utak-atik tanggal dan peristiwa.

Tapi, peristiwa 9/11 yang bagiku paling berarti adalah peristiwa di tahun 1976. Pada saat inilah, pukul 1o malam dan Jogja sedang dibekap hawa dingin, aku dilahirkan. Aku dilahirkan dari seorang ayah tentara dan ibu seorang pegawai negeri. Bantul, kampung halamanku. Lahir sebagai anak ketiga setelah 2 kakak perempuanku.

Jarang aku merayakan ulang tahun. Minimal traktir mentraktir saja. Itu pun sederhana. Perayaan besar justru terjadi ketika aku berada di asrama Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah, 11 tahun silam. Bila hari itu tiba, seluruh isi asrama berpesta. Minimal dengan sajian makan siang khusus. Maklum, pada hari itu, bertepatan dengan hari ulang tahun seorang pembesar asrama. Namanya Bruder Van Dooren SJ. Ia seorang bruder tua asal Belanda dan ditugasi mengajar anak-anak asrama bahasa Prancis. Tapi, saat aku datang, ia sudah terlalu uzur. Ia tinggal wisma Emaus, tempat para Jesuit tua tinggal menunggu keabadian. Parasnya lucu seperti dokter Patch Adam yang diperankan oleh Tom Hanks. Memorinya sedikit aus. Pelupa. Doyan jalan-jalan dengan sepeda unta, beropi koboi, mengelilingi kampung seputar asrama. Ia begitu dicintai anak-anak kampung. Buktinya, banyak anak dan warga kampung yang senang hati mengantar pulang bruder itu karena lupa jalan menuju asrama. Maklum. Sekarang ia sudah meninggal. Tapi, kenangan lucu masih menggantung di batok kepalaku. Aku mau menuliskannya di lembar terpisah.

Kembali ke ulang tahun. Ulang tahun di tahun 2007 ini juga tidak meriah. Malam menjelang ulang tahun, tubuhku justru menggigil diserang demam. Demam yang sebelumnya mampir di tubuh ibu peri. Pagi hari, seperti biasa, kulayangkan sepotong doa tanda syukur. Lalu sarapan bareng bersama ibu peri dengan ketupat sayur yang ia beli di pasar dekat rumah. Liputan. Ngantor. Mentraktir teman-teman kantor kue donat dengan patungan bareng Eko yang berulangtahun sehari sebelumnya. Menulis.

Ucapan selamat berderai baik melalui sms, telepon, langsung, maupun yahoo messenger. Saudara-saudaraku pun ‘berdemonstrasi’ minta ditraktir. Tapi, aku tunda dulu, karena sore hari, aku harus memeriksakan ibu peri ke dokter kandungan. Maklum sudah 6 bulan dan vitamin dari dokter sudah habis. Sayang saja, dokter Raditya sedang cuti satu minggu. Malam hari, bersama ibu peri, aku pergi Video Ezy untuk pinjam beberapa film. Karena petugas rental tahu hari itu ulang tahunku, aku mendapat gratis 2 keping film dan kartu ucapan. Lama aku tidak dapat kartu ucapan ini. Sekali dapat, justru dari rental vcd itu. Bagus. Bagus. Malamnya aku habiskan dengan ngobrol bersama ibu peri sambil memandangi atap kamar tidur. Di luar, hujan jatuh membasahi jalanan.

Baru hari berikutnya, aku menepati janjiku mentraktir saudaraku. Kijang Taruna warna hijau membawa kami ke gerai Djakarta’s Steak di Meruya. Gerai steak sederhana tetapi tidak terlalu jelek. Meski soal rasa masih kalah dibanding Abuba. Tapi, untuk rame-rame, Djakarta’s Steak ini lumayan cocok. Harganya juga ekonomis. Menunya pun beragam. Ada tenderloin, sirloin, T-bone, chicken gordon blue, cruncy, crispy, dan sebagainya. Ada menu tambahan seperti french fries, spaghetti bolognaise, dan aneka minuman. Range harganya cukup membuat kantong tersenyum, Rp 15 ribu s.d. Rp 28 ribu. Kedai tenda ini cukup ramai oleh pengunjung. Sampai kita pun berebut kursi.

Hari berikutnya masih ada ucapan yang mampir di ponsel. Bahkan, Rabu malam, seusai menemui narasumberku di Starbucks City Plaza, aku diberi hadiah tas oleh seorang sahabat dan pembaca blog. Bertempat di outlet roti Seven Grain di Mampang Prapatan, ia menyodoriku kado tas dan sepotong cake dengan satu lilin kecil berulir. Wah, terimakasih kisanak!

Bertambah umur, bertambah tua. It’s a long road! read more...

Wednesday, November 14, 2007

Noni Menikah

SEORANG sahabat baru saja menikah. Namanya Airin Sunandar. Putri sulung seorang dokter gigi ini sering menyebut dirinya Noni. Noni adalah inisial buat tulisan-tulisannya. Noni menikah dengan Anton di Gereja Katolik Bunda Perantara Cideng, Jakarta Pusat, Minggu 11 November 2007. Resepsi dilangsungkan malam harinya di Panti Perwira Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan. Sekitar 500 meter dari sepotong gang tempat favorit untuk melepas malam bersama marina, zombie, atau satu teko bir plethok ditemani kacang goreng bertabur garam.

Entah kenapa, sebulan sebelum pernikahannya, Noni memintaku membuat dan membacakan doa untuk membuka resepsi itu. Setengah tidak percaya. Bagaimana mungkin orang yang jarang ke gereja ini membuat dan membacakan doa? Bisa jadi para malaikat di langit jatuh pingsan. Apa Tuhan tidak terpingkal-pingkal. Tuhan yang selama ini aku sejajarkan dengan larutan panas cappuccino bertabur chocolate granule merek Tora Bika itu. Tuhan yang doyan aku ejek dengan ungkapan: hari tanpa ngopi itu seperti agama tanpa Tuhan. Ejekan yang justru membuat seorang kawan di kantor ingin mendampratku.

Tapi, aku menyanggupinya. Dalam pesan pendek, ia minta agar doanya seromantis mungkin. Waduh! Aku bukan orang yang doyan roman-romanan. Tapi, tidak apa-apa. Alih-alih sebagai persembahan buat seorang sahabat sendiri. Dulu, beberapa bulan lalu, ia juga memintaku membuatkan teks doa. Tapi buat ulang tahun pernikahan papa mamanya. Alamak, dosa apa aku ini.

“Tuhan yang merajai seluruh semesta. Pada malam yang suci dan agung ini, kami menghaturkan sembah sujud penuh ketakziman atas segala peristiwa dan segala perjumpaan yang Kau suguhkan pada kami seperti rintik hujan yang Kau kirim pada tanah malam ini. Malam di mana bulan mengunci diri. Bersamadi dalam sunyi. Merenungi kasih ilahi.”

Tahu tidak, sebelum pembuka doa itu aku daraskan di atas mimbar, aku sempat grogi. Serius. Sesekali aku meminta Helena dan Bernardi, sahabat yang turut resepsi itu untuk menggantikanku. Tapi, mereka tidak mau. Mereka malah mengembangkan bibirnya untuk sebuah senyuman. Seakan mereka mau mengatakan: mampus lo!

Bayangkan saja, pesta nikah ini diadakan secara mewah. Para tamu undangan berpakaian serba parlente. Panti nikahnya begitu agung. Modern. Airin tampil begitu ayu dengan gaun putih. Anton tampil ganteng dengan balutan jasnya. Panti pun disulap wah dan elegan. Ditambah dengan full music seperti light jazz, instrumental, dsb. Nah, apa tidak rusak gara-gara mendengar doa dengan suara slendro (baca: jawa medhok) yang jauh bermil-mil dari suara mikrofonis ini Tapi, quid scriptus, scriptus! Artinya, yang tertulis tetaplah tertulis. Sang pembawa acara pun harus taat pada urutan acara yg sudah tertulis. Apalagi rombongan pengantin sudah manggung. Sorot lampu kamera menghunjam deras ke tubuhku yang berbalut kemeja batik dengan motif bunga-bunga didominasi warna merah. Para undangan sudah memalingkan wajahnya padaku seperti mau mendengarkan seorang presiden hendak mengumumkan kenaikan harga BBM. Dan benar yang terjadi. Saat bibirku mengajak hening sejenak, semua orang hening. Kertas doa yang sudah kucel aku buka. Mikrofon sudah ada 5 cm di depan mulut.

Serius! Mendadak podium berubah menjadi panggung seni. Aku merasa seperti Sapardi Djoko Damono yang hendak membacakan sajak romantisnya. Bak Joko Pinurbo yang hendak membaca syair-syair dalam antologi Di Bawah Kibaran Sarung (2001) atau Pacar Senja (2005). Lalu, aku bermonolog lagi.

“Hanya karena cinta, jari-jari-Mu menari-nari melukiskan ada. Bumi. Pohon. Burung. Angin. Senja. Kupu-kupu. Cakrawala. Matahari. Cemara. Langit. Bintang. Segala dan setiap napas yang berhembus. Karena cintamu, Kau telah mempertemukan rumput dengan embun pagi. Awan di angkasa dengan langit di kaca jendela. Ombak dengan pasir. Bunga tulip dengan lebah madu. Demikian juga Kau mempertemukan dua mempelai ini.”

Noni adalah seorang sahabat yang menarik. Aku mengenalnya sejak berkarya bersama di Warta Minggu, sebuah buletin gereja Katolik di Jakarta Barat. Ia seorang pelahap buku. Bukunya banyak. Apalagi kategori fiksi. Tak jarang, kita sering barter buku cerita untuk dipinjam. Aku selalu senang melihat orang doyan buku. Pasti ada suatu yang berbeda dari cara hidupnya dibanding orang yang tidak pernah atau jarang membaca buku. Selain itu, gadis penyuka kucing ini adalah seorang penulis menjanjikan. Tulisannya ngepop. Mengalir. Enak. Muda. Berisi. Aku tidak bakalan lupa dengan satu cerpennya berjudul Rendesvouz. Cerita pendek yang isinya amat dekat dengan kisah hidupku di masa-masa mengenal seorang cewek bernama Nat yang sekarang menjadi ibu peri. Cewek yang aku kenal di bawah temaran lampu-lampu gantung di Kedai Tempo, Utan Kayu.

Ia juga seorang resensor buku yang baik. Buktinya, beberapa buku anak-anak yang ia resensi diterbitkan di Kompas Minggu di rubrik anak. Kita sering bertukar informasi seputar buku, entah pameran buku, diskusi buku, buku murah, dan sebagainya. Itulah Airin, sahabat yang menarik.

"Bersama semesta, kami berdoa bagi kedua mempelai. Semoga cinta yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma, mereka berikan secara cuma-cuma juga satu sama lain. Berkatilah jalan-jalan pejiarahan mereka. Kuatkanlah jika kaki-kaki mereka melemah. Lembutkanlah jika rasa mereka mulai membatu. Ketuklah jika pintu-pintu hati mereka mulai terkatup. Terangilah jika api pengharapan mereka mulai meredup. Ingatkanlah jika mereka mulai menyimpang dari jalan-jalanmu."

Semoga doa-doa itu didengar Tuhan. Buat Noni, selamat melakukan pejiarahan panjang bersama suamimu. Semesta membukakan jalan-jalan rezeki dan bahagia untukmu. Ia akan menyediakan oase-oase penawar dahaga. Hati-hati pula, di jalan banyak fatamorgana. Welcome to another paradise! read more...

Monday, October 22, 2007

Nobel Sastra dan Kesunyian Seorang Penulis

NAMA yang aku tunggu akhirnya muncul. Oktober sudah hampir lewat. Padahal di setiap Oktober, nama pemenang Nobel biasanya diumumkan. Daftar nominasi kandidat sendiri muncul setiap 1 Februari. Minggu pagi, seperti ritual biasanya, aku membuka Koran Tempo Minggu. Seperti biasa juga, aku langsung membuka halaman rubrik sastra dan buku. Nah, di halaman 19, aku menemukan nama Doris Lessing, peraih nobel sastra 2007 itu.

Potret Doris terpampang di samping judul “Kado Manis untuk Doris” (Koran Tempo, 21 Oktober 2007). Parasnya sudah uzur. Keriput menghiasi setiap sudut mata dan lekuk pipinya. Garis-garis lipatan kulit tegas nampak di dahinya. Rambutnya sudah semuanya memutih. Tapi, sorot bola mata yang tenggelam di antara lipatan kelopak matanya, tampak begitu tajam. Tanda betapa perempuan ini sudah banyak makan asam garam. Itulah Doris Lessing.

Doris lahir pada 22 Oktober 1919 di Kermanshah, Iran. Nama lengkapnya Doris May Taylor. Putri dari Alfred Cook Taylor, mantan kapten Inggris pada masa Perang Dunia I, dan Emily Maude Taylor, seorang perawat ini menjadi orang ke-106 yang mendapat anugerah ini.

Nama Lessing ia peroleh dari pernikahan kedua dengan Gottfried Lessing, seorang imigran Jerman-Yahudi yang ia kenal dalam Klub Buku Kiri. Doris beberapa kali terlibat dalam gerakan Kiri, entah di Partai Buruh Rhodesia Selatan maupun British Communist Party.

Jalan kepenulisannya ia mulai dengan novel The Grass is Singing (1950). Novel ini berkisah tentang relasi istri petani kulit putih dengan budak kulit hitamnya. Konflik rasial menjadi konteks dari seluruh plot cerita. Berlanjut dengan antologi cerita dalam This was The Old Chief’s Country (1951), cerita pendek Five (1953), The Children of Violence Series (1952-1959). Novel fenomenal Doris adalah The Golden Notebook (1962). Novel ini berkisah tentang Anna Wulf, karakter cerita yang memunyai buku catatan untuk menumpahkan ide-idenya tentang Afrika, politik, komunisme, relasi dengan pria, dan seks. Ia menggunakan pisau analisis psikolog Carl Gustav Jung untuk mengeksplorasi mimpi, seni, mitologi, agama, dan filsafat. Tema-tema perempuan bisa ditemukan dalam karyanya African Laughter: Four Visits to Zimbabwe (1992), Under My Skin (1994), The Summer Before the Dark (1973), The Fifth Child (1988), dan Walking in the Shade (1997). Novel terbarunya adalah The Cleft (2007).

Aku mereka-reka apa yang akan Doris katakan pada hari penganugerahan 10 Desember nanti. Ia akan mendapatkan piagam dan medali bergambar Alfred Nobel berlapis emas 24 karat. Raja Swedia Carl XVI Gustaf akan memberi kado ulang tahun berupa uang 10 juta kron atau Rp 14 miliar.

“Pembaca bebas melakukan apa pun, bebas menilai, dan penulis hanya bisa mengikuti,” kata Doris dalam sepotong wawancara dengan Adam Smith, panitia penghargaan itu. Bagiku, itulah wujud kerendahan hati Doris. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri dari karya-karyanya, Doris seorang yang menyuarakan keprihatinannya atas dunia sosial tempat ia hidup. Seperti hanya banyak penulis lain, Doris pun mengalami masa-masa kesendirian, asketik (mati raga), konflik, ditinggalkan, sepi. Aku senang menyebutnya sebagai soliter bagi penulis. Sepertinya, jalan-jalan kesunyian adalan jalan keharusan bagi para penulis.

Lihat saja para penulis lain. Gabriel Garcia Marquez, peraih Nobel Sastra 1982, tanpa letih berjuang dalam sayap Kiri dan mengkritik habis kediktaktoran Kolumbia, Laureano Gomez dan penggantinya, Jendral Gustavo Rojas Pinilla. Ia harus bersembunyi di Meksiko dan Spanyol. Dari tangannya lahirlah novel tentang refleksi mendalam atas sejarah Amerika Latin. Novel berjudul One Hundred Years of Solitude (1970) telah mengantarnya menjadi maestro realisme magis dunia. Novel ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Bentang dengan judul 100 Tahun Kesunyian. “Kita hanya sedikit sekali berimajinasi, sebab kita kekurangan alat-alat konvensional untuk lebih memercayai hidup. Inilah kawan, inti terdalam dari kesunyian kita,” katanya.

Di Asia, muncul nama Gao Xingjian. Peraih Nobel Sastra 2000 ini, pernah bermain ‘petak umpet’ dengan pemerintah China. Lelaki kelahiran Ganzhou ini baru bisa menerbitkan tulisannya lima tahun setelah Revolusi Kebudayaan berakhir tahun 1976. Kritikan pedas pada kebijakan represif pemerintah membuatnya pergi sementara ke Prancis pada tahun 1990. Ia juga mengkritik habis pembantaian berdarah di Lapangan Tiananmen tahun 1989. Naskah dramanya Tauwong (1992) membuat pemerintah China melarang semua tulisannya. Novel Ling Shan (Soul Mountain) menjadi karya terbesar Gao. “Saya mulai menulis novel saya, Soul Mountain, untuk mengusir kesepian jiwa saya di sepanjang waktu ketika karya-karya yang telah saya tulis dengan sensor diri yang ketat pun dilarang,” katanya pada saat pidato.

Ada lagi Nadine Gordimer dari Afrika Selatan. Perempuan peraih Nobel Sastra 1991 dipuji karena cara berceritanya yang sangat alami dan gaya menulisnya yang memukau. Tulisan-tulisannya diwarnai dengan keprihatinan atas rasialisme yang menghinggapi sistem sosial politik Afrika Selatan. Puncak pemikirannya tercermin pada Writing and Being (1995). Nadine menegaskan penulis mengada lewat karyanya dan bagaimana proses mengada itu dijelaskan oleh manusia melalui ragam cara, seperti agama, filsafat, ilmu pengetahuan, dan mitos.

Kenzaburo Oe dari Jepang dikenal sebagai kritikus bangsanya sendiri melalui novel-novelnya. Ia merupakan sastrawan pasca-Perang Dunia II. Karyanya bercerita seputar lingkungan hidup, antinuklir, dan antiperang. Novel termasyurnya berjudul Man’en gannen no futtoboru (The Silent Cry, 1967). Novel ini merupakan refleksinya mendalam atas peristiwa Hiroshima dan Nagasaki. Ia dianugerahi Nobel Sastra pada tahun 1994.

Lain lagi dengan Naguib Mahfouz dari Mesir. Ia dikejar-kejar lantaran karyanya terlalu banyak mengkritik otoritas agama. Bahkan, ia nyaris mati oleh tikaman dari penyerang gelap. Ia memenangi Nobel Sastra tahun 1988. Tidak ketinggalan juga Imre Kertesz dan Gunter Grass. Kertesz, novelis Hungaria, adalah seoarang Yahudi yang berhasil lepas dari kamp Auschwitz. Ia menyikapi holokaus itu dengan arif dan jauh dari kesumat. Tulisannya mengalir. Oleh karenanya, seperti dikatakan saat pidato, ia menulis untuk dirinya sendiri. Bukan untuk pembaca atau untuk memengaruhi orang lain. Grass, penulis Jerman, dikenal lantaran perannya menghidupkan sastra Jerman paskaperang. Ia seorang pecinta damai dan pengkritik kebijakan menjelang Jerman bersatu. Kertesz mendapat Nobel Sastra pada tahun 2002 dan Grass pada tahun 1999.

Sekali lagi, kesepian, asketisme, pengekangan diri, penindasan, hampir senantiasa mengiringi kehidupan para penulis itu. Boleh dibilang, situasi sosial semacam itu, ikut merangsang syaraf-syaraf kreatif mereka untuk bersastra. Di Tanah Air, kita tidak boleh melupakan sosok Pramoedya Ananta Toer. Sebagian karya-karyanya lahir di pembuangan di Pulau Buru. Siksa dan derita pun tidak luput mengunjungi sang penulis. Lebih-lebih kesepian, di mana banyak orang memalingkan muka darinya.

Tapi, penulis dan kesepian (soliter) tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Marguerite Duras menegaskan keberanian untuk kesepian dan terasing mutlak diperlukan oleh penulis. GP Sindhunata dalam sepotong tulisannya di internet, mengatakan kesepian bukan berarti isolasi. Itu menjadi semacam keberadaan diri yang sadar, yang justru terus bergulat untuk menemukan kontak. Tapi, juga menolak kontak.

Soal kesepian ini, aku ingat potongan catatan harian Soe Hok Gie. Berikut lima kalimat ungkapan kegelisahan yang pernah aku posting juga di blogku. "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang. Makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan. Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian," katanya.

Sindhunata menegaskan, dalam kesepian itu orang bisa menjadi liar. Menulis memang membuat orang menjadi liar. “Seorang penulis tiba-tiba mendapati dirinya liar seperti di hutan, dan selalu liar sepanjang hidupnya. Untuk menulis, orang harus menggigit bibir, bergulat dengan keliarannya. Untuk itu ia harus menjadi lebih kuat dari tubuhnya. Ia juga harus lebih kuat daripada apa yang hendak ditulisnya. Kalau tidak, ia akan menyerah dan kalah. Maka menulis itu sebenarnya bukan hanya menulis, tapi mengalahkan kelemahan dirinya, menundukkan apa yang dihadapinya,” kata seorang Jesuit yang baru saja menerbitkan novel anyarnya Putri Cina (2007).

Menurutnya, orang yang tidak berani sepi, dia tak mungkin jadi penulis yang baik. Tapi, kesepian bukanlah saat untuk beromantisme. “Kesepian itu adalah suasana, yang menantang kita untuk berani bergulat dengan seluruh realitas, yang ternyata tidak mudah kita taklukan. Tak jarang orang menyerah dalam pergulatan itu, karena ia merasa tidak kuat dan tidak mampu. Menulis akhirnya adalah suatu askese, matiraga, suatu kebertapaan di tengah keramaian,” katanya.

Aku sendiri membutuhkan waktu lama untuk menimbang-nimbang dalam menjatuhkan pilihan di jalan penulisan ini. Menulis sebagai sebuah matiraga sudah aku rasakan. Meski hanya karya-karya kecil saja yang baru aku hasilkan. Menulis membutuhkan jiwa besar dan hati rela berkorban. Menulis membutuhkan kedisiplinan yang besar. Menulis dekat dengan rasa sakit. Sepi. Ditinggalkan. Kemampuan bertahan. Godaan untuk segera menutup laptop, mematikan komputer, membuang pena jauh-jauh, merobek kertas berisi coretan, dan sebagainya. Lebih-lebih logika pasar memasang standarnya sendiri. Tapi, bagiku, godaan paling besar adalah kemalasan untuk duduk dan menulis. Ini sebuah perjuangan besar!

Benar apa yang dikatakan Pater Greg Soetomo SJ, di sebuah wisma skolastik para Jesuit muda di Kampung Ambon pada sepotong senja. Ia mengatakan banyak orang pintar tapi tidak bisa menulis. Seorang yang bertekad menjadi penulis harus membuktikan hidupnya sebagai seorang penulis. Ia mengumpamakan seorang penulis harus berani menjadi the prodigal son, anak hilang. Aku suka dengan metafor anak hilang ini. Ia benar-benar memunyai komitmen dan disiplin tinggi pada apa yang dicintai. Mungkin ia akan hilang dari komunitasnya. Bahkan, komunitas (keluarga)-nya pun merasa kewalahan, sedikit uring-uringan, menilainya nyeleneh (menyimpang dari umum) sebelum akhirnya memahami sikap dan komitmen dari orang yang bertekad menjadi penulis ini. Ia benar-benar mengalokasikan waktu untuk banyak membaca, menulis, lebih senang menyendiri, merenung, dan sebagainya. Mungkin inilah bahasa lain dari jalan-jalan sunyi yang harus ditempuh oleh seorang penulis.

Aku sendiri mengamini itu semua. Lebih-lebih, sudah banyak penulis telah mengalaminya. Menulis itu seperti berjalan di padang pasir kesunyian. Mungkin Robert Frost lebih tepat menggambarkannya. Ia mengatakan di hutan, ia menjumpai dua jalan. Satu jalan besar, mulus, lurus, dan sering dilalui orang. Satu jalan lain kecil, berkelok, penuh belukar, dan jarang dilalui orang. Frost dengan besar hati akhirnya memilih jalan yang jarang dilewati orang itu.

Aku juga memilih jalan itu!

[refleksi atas berbagai sumber] read more...