Monday, October 06, 2008

Tamu Istimewa

Tamu istimewa datang berkunjung ke rumahku beberapa hari sebelum Lebaran tiba. Datang sendirian. Tanpa pasukan. Pagi hari saat ibu peri membuka pintu kamar depan dan mematikan bola lampu. Tubuhnya mungil. Lebih tepat lagi kurus. Rambutnya awut-awutan. Tatapannya nanar. Langkahnya limbung seperti pengemis dekil digempur lapar. Mulutnya meracau dalam bahasa yang tidak kukenali.

Rasa kasihan perlahan muncul seperti peluh yang menggembung di pori-pori saat gerah tiba. Mungkinkah dia seorang pengemis yang mengiba-iba. Ataukah dia seorang sahabat yang selama ini kulupakan dan mengetuk-ketuk pintu rumahku agar aku membukanya dan memberinya sepotong roti dan bukan seekor ular atau kalajengking. Mungkin dia adalah Maryam, Ibu Jesus, yang menyaru. Lalu bertandang ke rumahku seperti yang ia lakukan dua ribu tahun silam dengan mengunjungi rumah saudaranya, Elizabeth. Ah, jelas bukan! Mungkin seorang Maryam yang sedang bunting Anak Tuhan dan sedang berjalan dari pintu ke pintu untuk sebuah tumpangan karena jabang bayinya akan segera lahir. Ah, bisa jadi.

Bisa jadi dia seorang musafir yang tersesat. Mendadak dia lupa arah mata angin. Tidak tahu mana utara, mana selatan. Mana barat, mana timur. Atau juga dia Sidharta Gautama yang sedang menguji hatiku untuk sebuah pertolongan. Mungkin juga dia seorang malaikat yang karena melanggar perjanjian dikutuk dan diempaskan ke bumi ini untuk merasakan pahitnya cawan kehidupan. Bisa juga dia salah satu dari leluhurku yang harus menjalani reinkarnasi untuk menebus dosa-dosamasa lalunya dengan laku samsara.

Ah, semua itu bisa jadi. Tapi, di depan mataku, dia hanya seekor anak kucing yang kehilangan induknya dan merana. Badannya ciut. Kerempeng. Matanya belekan. Tulangnya menyembul berlomba dengan daging yang kian kisut. Tatapannya mendorongku untuk melakukan apa yang disebut Levinas dengan tanggung jawab etis. Dua biji bakpia kuserahkan padanya. Maaf tidak ada ikan asin di meja makan atau onggokan daging di kulkas. Tapi, kucing itu memakannya dengan lahap. Usai kenyang, kucing itu pergi dan tidak kembali lagi. Mungkin mengembara ke suatu tempat yang tak pernah kumengerti. Mungkin juga sudah menjelma lagi menjadi Sidharta Gautama.

Ah, ada-ada saja! Bagaimana kalau esok dia datang lagi dalam rupa manusia?
read more...

Pada Sebuah Halaman

Pernah melihat burung-burung dara jejingkrakan bergerombol di sebuah pelataran memperebutkan remah-remah makanan dari para pelancong? Aku pernah melihatnya! Mungkin kamu juga. Tapi, di televisi. Itu pun di sebuah daerah di benua dingin, Eropa. Potret itu juga pernah aku lihat di kalender dinding. Juga di halaman perjalanan sebuah majalah. Aku tertarik pada pemandangan itu. Sepertinya burung-burung itu punya rasa aman yang tinggi. Tidak terusik oleh mahkluk berjalan tegak dan berasio itu. Manusia pun tidak mengusik gerombolan mahkluk bangsa aves itu. Sebuah persahabatan yang indah!

Aku melihat pelataran itu berenergi magis. Menyerap siapa saja untuk datang ke situ. Para pelancong dari berbagai arah mata angin. Duduk santai. Bermandi matahari musim panas. Baca buku. Berciuman. Tiduran sambil menanti senja. Menikmati siluet di gedung-gedung tambun berusia ratusan tahun. Mengayun-ayunkan kaki telanjang di sebuah kolam. Berceloteh. Menari. Main biola. Mencuci muka dengan air yang mengalir dari lubang penis sebuah patung bocah bersayap. Bersepedia ria. Meliuk-liukkan tubuh dalam sepotong akrobat. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Nah, begitulah aku menganalogkan halaman depan rumah kami.


Tepatnya halaman di depan garasi rumah kami. Selama hampir hampir tujuh tahun mendiami rumah bernomer 23 di sepotong gang Haji Solihun itu, aku memperhatikan ada suatu yang aneh di halaman depan rumah kami. Sebenarnya, bukan halaman. Tapi, jalan yang menghubungan sebuah ruas gang dengan sebuah pasar tradisional. Jalanan yang tiap pagi dilewati oleh istri-istri pengangguran dan barisan pembantu rumah tangga. Meski begitu, itu halamanku. Jalan sekaligus halaman. Maklum, susah mencari rumah berhalaman di ibukota. Kecuali kalau itu disulap oleh para kontraktor menjadi hunian mewah yang semakin menggeser rumah-rumah warga kecil. Tiap pagi dan sore kami menyapu dan menyiraminya dengan air. Biar adem dan teduh, kata kakak perempuanku suatu hari. Apalagi, kalau garasi bersih, rezeki akan datang mengalir sendiri ke rumah itu.

Halaman itu seperti zona ajaib. Punya kekuatan magnet. Menyerap siapa saja. Bagai Segitiga Bermuda yang menyedot kapal-kapal di lautan Atlantik ke palung misterius. Mereka doyan berhenti persis di depan garasi. Minimal satu kali dalam sehari. Paling sering para pengendara sepeda motor yang berhenti hanya untuk menerima sepotong telepon, mengirim pesan pendek, atau mengontak seseorang yang ku tak pernah tahu di mana ia berada. Ada lagi tukang asinan keliling yang senang duduk-duduk di depan sambil istirahat dan menghalau panas matahari yang membakar udara siang. Ada tukang siomay yang menggelar dagangannya tiap sore.

Tempat itu juga sering jadi tempat kencan. R-e-n-d-e-s-v-o-u-s. Tak jarang kudengar celotehan dua orang, entah dua-duanya laki-laki, entah yang satu laki dan satunya perempuan, dari bilik kamarku. Sementara kedua sepeda motor mereka di parkir miring tepat di depan garasi. Sampai kini, aku tak tahu apa isi celotehan mereka. Mungkin tentang bisnis. Proyek baru. Rumah kontrakan. Kebon anggrek. Jual tanah. Bisnis Adenium. Ah, tak tauhlah!

Aku kadang bertanya. Apa yang menarik dari sepotong halaman beraspal yang kanan kirinya ditumbuhi rumput liar itu? Pernah ada dua orang ibu-ibu dari pasar terdengar ngomel-omel. Mulut mereka meracau tak keruan. Suara gaduh pun menguar melalui lorong garasi dan masuk ke kamar lalu membuat siang jadi tambah gerah. Ada lagi para pengendara sepeda motor yang suka memutar arah persis di depan. Seolah-olah halaman itu seperti putaran lap balapan Formula 1.

Lebih lucu lagi ketika halaman itu tiba-tiba ditanami tiang-tiang penyangga terpal. Meminjam istilah Desi Ratnasari “Tenda Biru.” Hah, halaman depan rumah dijadikan pelaminan bagi tetangga yang mau nikah. Padahal rumah tetangga ada 500 meter di belakang rumahku. Tapi, kenapa aku si tuan rumah tidak diberitahu atau sekadar izin pinjam halaman. Ini sedikit menyembulkan sedikit prejudice pada saudara Betawi. Tenda ini pun memaksa aku memindahkan si kecil pindah sementara ke rumah kakak. Maklum pesta itu akan dihujani oleh petasan. Yak, daripada gara-gara petasan si kecil jadi tidak mau minum susu atau mendadak amnesia pada bapak dan ibunya. Berabe dah!

Ada juga yang kurang ajar memarkir mobilnya persis merapat di depan pintu garasi. Otomatis pintu garasi tidak bisa dibuka. Padahal seberang masih ada space khusus buat parkir. Alhasil, aku pun marah-marah pada sopir bodoh nan malang itu. Lebih kurang ajar lagi ketika masa Lebaran tiba. Dipastikan, tempat itu akan menjadi ajang menyulut petasan. “Blaar!” lalu kumbang-kumbang tak kasat mata pun berterbangan di liang telinga.

Istriku justru mengajakku bersyukur. Ternyata, halaman depan rumah menjadi tempat nyaman bagi banyak orang. Katanya lagi, coba kalau hati kita seperti halaman depan rumah itu, pastilah banyak orang akan menyediakan diri untuk mampir dan mengecap sejumput kedamaian dari sepetak halaman hati kita. Tapi, hati kita lebih sering dipagari beton tinggi. Tertutup bagi orang lain. Angker. Beku. Kesepian.

He, he, he. Iya sih!
read more...