Wednesday, September 05, 2007

Toilet

SAAT sebagian masyarakat disibukkan dengan antri minyak tanah, kami di kantor disibukkan dengan antri toilet. Hari gene ngantri toilet? Pasalnya, satu dari tiga toilet di kantor kami digembok dengan alasan kurang masuk di akal.

“Ini akibat dari perbuatan kalian!” cetus seorang manager yang nimbrung makan siang kami di basement Mal Artha Gading yang super gerah. Seorang memplesetkan makan sembari sauna gratis.

“Halah, klasik banget. Kenapa terus digembok toiletnya?”
“Sebagai bahan pelajaran kalian yang jorok.”
“Tapi kenapa harus digembok? Apa tidak ada cara manajemen yang lebih wise?”
“Toilet itu kotor. Banyak tisu. Ada yang buang air tanpa menyiram. Noda sabun menempel di mana-mana.”
“Lalu, kenapa ditutup?”
“Iya, aku lihat Julia sibuk naik turun dengan tangan menggenggam pembalut. Sampai di atas, masih harus ngantri. Karena males, lalu turun lagi.”
“Ini sebagai peringatan. Kalau di antara kalian jorok, akibatnya semua kena getah.”
“Apa tidak ada cara yang lebih wise?”
“Tutup saja semua toilet!”
“Ah, manajemen yang kekanak-kanakan.”

Begitulah potongan obrolan di sela-sela makan siang. Obrolan soal toilet sempat membuat makan menjadi seret. Gumpalan daging ayam bakar bercampur nasi itu seakan tersumbat di kerongkongan. T-e-r-s-e-n-d-a-t. Seolah-olah segelas es teh pun tidak sanggup mendorongnya menuju lambung. Bukan lantaran jijik akan toiletnya. Tapi oleh tindakan menggembok salah satu toilet di lantai 4 itu. Dongkol campur gemes. Perlu tahu kantor kami memiliki empat lantai. Seluruhnya dihuni sekitar 60 mahkluk kaki dua yang dinamai karyawan.

Gedung ini punya tiga toilet. Ketiganya lengkap dengan si leher angsa, tempat segala limbah metabolisme tubuh digelontorkan sedalam-dalamnya ke tanah. Biar menjadi makanan bagi cacing-cacing. Seminggu lalu satu toilet resmi ditutup dengan gembok. Terbayang dalam kepalaku, tulisan garis polisi dengan tulisan “Do Not Cross!” melingkari ruangan yang tiba-tiba tampak keramat itu. Di lantai 4, tersisa satu toilet kecil seluas 44 ubin persegi. Tepatnya, panjang 11 ubin dan lebar 4 ubin. Di depan ruang kecil inilah, kami sekarang sering ngantri.

Lo, tahu kan rasanya kebelet?”
Gue pernah menggelepar kesakitan di lantai gara-gara kamar mandi rumah dipakai mandi saudaraku. Padahal, saat itu gue benar-benar sakit perut. Rasanya ingin tumpah saja.”
“Kalo aku lain. Biasanya aku ngebut naik motor saat rasa ingin be-ol tak tertahankan lagi.”
“Celanaku malah pernah basah. Habis gak bisa nahan.”
“Emang. Be-ol itu nikmat banget.”
“Berada di toilet itu seperti berada di ruang pribadi.”
“Betul, itu sangat privasi.”
“Saat-saat itu, saat-saat paling pribadi buat gue!”

Obrolan tenteng toilet berlanjut dengan kawan-kawan lain di ruang chatting. Sementara, sampai hari ini, toilet itu tetap terkunci. Tak jarang, kami pun harus ngantri. Kalau di kampung, tidak ada toilet juga tidak masalah. Alam raya telah menyediakan tempat yang bisa kita gunakan untuk toilet sesuka kita. Di bawah pohon atau di pohonnya sekalian. Asal tidak bikin orang lain mabuk lantaran bau busuk menusuk-nusuk hidungnya.

Omong-omong soal toilet, aku punya serpihan catatan. Asal tahu saja, toilet sudah dikenal dalam peradaban manusia pada periode Sebelum Masehi. Ini kata ensiklopedi online Wikipedia. Pada abad ke-25 SM, orang-orang Harappa di India memiliki toilet di setiap rumah. Toilet dihubungkan dengan saluran air dari batu bata. Di Mesir dan Tiongkok kuno, orang-orangnya juga sudah sadar toilet. Bahkan, di masyarakat Romawi toilet menyatu dengan tempat mandi umum.

Pada 1596, Sir John Harington menemukan toilet dengan fasilitas penyiraman. Toilet-toilet ini terus mengalami banyak inovasi pada Zaman Victoria di Inggris sampai sekarang. Lihat tuh, sadar toilet saja sudah dibangun sejak zaman baheula.

“Tas apa yang paling enteng?” tanya temanku.
“Tas tanpa isi!”
“Salah!”
“Lalu apa?”
Tas, ngising!” (tas dalam bahasa Jawa= usai; ngising= berak)

Memang benar kata temanku itu. Saat-saat yang paling ringan, plong, seolah seluruh beban hidup meluruh ke bawah bersama ampas-ampas yang digelontorkan melalui leher angsa adalah usai berak. Be-ol itu rasanya seperti menyeruput secangkir kopi panas. Nikmatnya luar biasa. Ini sebuah karunia Tuhan yang tiada taranya. Coba bayangkan jika seumur hidup kita tidak bisa be-ol. Jangankan seumur hidup, cobalah satu hari saja. Tubuh seakan menciut bersama pucat. Langkah-langkah pun jadi limbung. Lalu orang berubah menjadi mayat hidup dengan gigi mengintip dari celah bibir. Pucat. Pasi. Linu. Duh, menderitanya!

Dan toilet itu pun masih terkunci. Gembok dingin masih menempel dengan sombongnya. Muka-muka meringis pun tampak samar dari etalase kaca di depan meja kerjaku. Sampai-sampai, aku sudah mulai lupa kalau di lantai 4 ada dua toilet. Amnesia?!?

3 comments:

tukang ngising said...

tas ngisih?
ih, garing ah!
:P

patrianila said...

kesejahteraan dan kemakmuran terkadang tidak diukur dari seberapa kinclong mobil, apartermen, atau gandengan seseorang. Cukup sejengkal tanah berlobang untuk buang hajat.

edenia, said...

pergi ke toilet itu, berarti memenuhi panggilan jiwa. yg gembok toilet mungkin ngga pernah memenuhi panggilan jiwa..hehehe