Monday, October 01, 2007

Apa Ini Writer's Block?

ADA yang macet hari ini. Jari-jariku rasanya kaku. Membeku seperti terserang dingin. Mereka emoh diajak menari-nari lagi di keyboard komputerku. Sepertinya harus ada tenaga atom untuk menggerakkan jari-jari ini. Tapi, sayangnya, jari-jariku tidak mau menulis. Apa pun. Di mana pun. Padahal, di kepalaku berloncatan ide-ide untuk segera digelontorkan dalam rangkaian huruf-huruf. Mau menulis tentang junta militer Burma. Tentang biksu dan peluru. Tentang Film Paris, Je T’aime. Film Notes on a Scandal. Tentang Patfinder. Little Miss Sunshine. Tentang pidato para peraih nobel sastra. Buku Stephen King On Writing. Tentang global warming yang menyergap kamar tidurku. Namun, sepertinya ide-ide itu tidak mau turun dari kepalaku. Seakan ada pipa-pipa kinetik yang tersumbat. Stuck in the traffic jam! Penyumbatan ini membuat ide-ide itu berubah menjadi air yang mengenangi kepala. Bikin pusing. Nyeri. Linu.

Hari ini cukup lowong. Penugasan liputan juga belum turun. Masih digodog di komputer redaktur pelaksana. Membunuh rasa ‘cenut-cenut’ di kepala, aku memilih membolak-balik koran Kompas Minggu. Menyusuri lagi sajak-sajak Wayan Sunarta dan Isbedy Setiawan. Mencermari cerpen GM Sudarta berjudul Candi Ala. Membaca “Obselete” dari Suka Hardjana pada rubrik Asal Usul. Ulasan Bre Redana tentang satu kota seribu cinta dalam Paris, Je T’aime. Membaca ulasan khusus tentang Tan Malaka di Ruang Baca Tempo. Resensi Wars Within karya Janet Steele, pengajar jurnalisme sastrawi yang pernah aku temui di MP Book Point saat peluncuran buku Pencuri Anggrek bulan lalu. Petualangan detektif Hercule Poirot, karakter buatan Agatha Christie, yang dihidupkan lagi dalam bentuk komik. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Gejala macet aku lihat sejak awal pekan kemarin. Dalam diri, ada gemuruh untuk segera menyentuh laptop. Melanjutkan adegan-adegan dalam fiksi yang sedang aku garap. Menulis untuk blog. Mengeksekusi sebuah esai. Tapi, nyatanya, laptop itu masih terbungkus tas hitam. Bersender di pojok meja samping kamus tebal berisi idiom-idiom bahasa Inggris. Ingin mendekat, tapi praktiknya menjauhi. Malah aku memanjakan mataku dengan tiga serial film yang aku pinjem dari Video Ezy. The Snow Man. Notes on A Scandal. Trust The Man. Selain film, aku juga gantian dengan ponakkanku memainkan jagoan Resident Evil dalam PS2.

Itulah hari ini. Tapi, bukannya tulisan ini menandakan jari-jariku masih mau melakukan tugas-tugasnya. Menulis. Mungkin, jari-jariku sedang ngambek. Tidak mau menulis tentang sesuatu di luar dirinya. Jari-jari itu lagi senang menulis dirinya sendiri. Lihat saja, meski ada kemacetan lalu lintas ide, jari-jariku mampu menyelesaikan 5 paragraf pada tulisan ini. Tepatnya ada 396 kata atau 2364 karakter no spaces.

Apakah ini gejala writer’s block?

No comments: