Thursday, March 22, 2007

Fe

Aku pernah mengirim pesan pendek pada gadis ini saat ia berada di perut kereta yang menjalar dengan tujuan stasiun Tugu. Pesanku tidak ditanggapi. Sejak saat itu, ia menghilang tanpa jluntrung. Berbulan-bulan. Sampai akhirnya, di sebuah sore, aku mengajaknya bertemu sekadar melepas rindu sambil menikmati mendoan panas di ujung jalan kawasan Blok B.

Fe begitu aku sering menyapa gadis itu. Dia seorang jurnalis muda sama sepertiku. Aku suka dengan gadis ini. Sosoknya cerdas, tegas, plus melankolis. Lebih-lebih, ketika ia menjentikkan jari untuk sekadar menulis sepotong narasi hidupnya di tengah kesibukannya menulis berita. Tulisannya bagus, mengalir, berisi, dan beraroma sastra. Hampir tidak pernah absen, setiap pagi aku memulai menghidupkan komputer, kukunjungi blognya.

Dulu, aku tampak begitu akrab dengan dirinya. Tak jarang, perjumpaan pun digelar. Kami sering mengadakan perjumpaan di kedai mendoan ujung jalan itu. Biasanya, aku menjemput di kantor redaksinya dengan motor hondaku saat senja beringsut pelan. Pernah, kami mengunyah malam basah dengan menikmati Burger Blenger di Blok M atau Gultik di Bulungan. Serpihan perjumpaan juga terjadi di kosnya di bilangan Palmerah. Kos yang seluruh kamar dihuni oleh mahkluk berkelamin perempuan. Sebuah kos yang unik. Setiap Fe mengajak cowok masuk ke kamarnya, dari kejauhan Fe sudah melempar peringatan dengan meneriakkan kata “permisi!”. Pasalnya, lorong menuju kamar Fe harus melewati ruang nonton TV di mana para bidadari itu memanjakan mata mereka menonton sinetron, film, atau kuis setelah seharian digempur urusan kantor. Tak jarang, ketika aku mau lewat, para perempuan itu sibuk menata gaya duduknya, merapikan rok, kutang, dan sebagainya. Ah, sebuah peluang cuci mata yang menarik.

Fe menyukai ornamen katak. Di kamarnya, terdapat aneka barang, boneka, stiker, rumbai-rumbai yang digantung di pintu kamarnya, semua berornamen katak. Aku tidak tahu kenapa ia menyukai ornamen katak. Samar juga filosofi di kepalanya tentang katak. Aku alpa menanyakannya. Dulu, di kamar itu, ia berbagi banyak cerita. Ia berencana membuat buku. Ia berencana mengambil S2 Budaya dan Religi di Sanata Dharma. Ia bercerita tentang ayahnya. Ibunya. Kakaknya. Tapi, itu dulu sebelum kereta malam menculiknya dan pesan pendekku tiada terbalas dan sosoknya raib di balik kelam.

Sekarang, aku menemuinya hanya di dalam blognya. Usaha untuk sebuah sua pun belum kesampaian juga. Kopi darat di kedai mendoan ujung jalan itu pun belum terlaksana. Sepotong-sepotong saja aku menemukan jejaknya. Gadis ini laksana bayangan di balik gundukan ilalang tersaput kabut pagi. Mungkin, ia sedang ke Jogja untuk mengirim dua buket aster merah marun buat bapak ibunya. Mungkin, sedang berceloteh dengan kakaknya dalam sebuah pesan pendek, telepon, atau email. Mungkin sedang berselingkuh dengan si abang. Sedang sibuk menghapus warna biru yang membekap hatinya. Sedang berbagi gelak, berbagi api untuk sebatang rokok, berbagi sebotol red wine. Sedang menunggu bola raksasa amblas pukul lima sore. Sedang sibuk memenuhi cetak biru hidupnya. Dan sebagainya.

Dua lagi yang aku ingat. Di Megaria, kita pernah nongkrong bareng di sebuah bioskop untuk memelototi film Soe Hok Gie garapan Riri Reza. Di ruas jalan kawasan Tebet, bersama kawan lain, kita pernah beria-ria menghabiskan malam dengan dua teko besar berisi Marina. Marina adalah oplosan Vodka dengan Crush hijau. Marina hanyalah satu pilihan di samping Zombie, Blitz Orange, Apolonia Slink, Pletok, Valentine, dan Pink Lady. Ditemani camilan kacang goreng asin, kami merayakan keruntuhan malam.

Itu dulu. Sekarang, Fe ada di sana. Celotehnya pun terdengar samar...

3 comments:

HuN_hUn said...

Ughhhhhhhhhh....dalam sehari q melihat 3 postingan brumuwh!!! ga terimaaaaaaaa.... q aja bkin satu sulit..hahahha...

matahari said...

Wah...yang jadi Fe pasti seneng banget punya teman seperti kamu...sampaikan salam kenal ku buat Fe mu...

Fe said...

dul ... gue masih disini kok. ;) o iya, aku punya hadiah kecil untukmu. kapan kita bisa ketemu ya?