Monday, June 18, 2007

Espaňol

“Hola. Buenos dias!”
“Como estas? Me llamo Roberto, y tu?”
“Soy muy bien. Me llamo Regina.”


Kosakata (el vocabulario) bahasa Spanyol mulai mengakrabi telinga dan pikiranku. Bibirku pun mulai latah dengan ucapan como estas (apa kabarmu), de donde eres (darimana asalmu), muchas gracias, dan sebagainya. Maklum, mulai Sabtu, 16 Juni 2007, aku bergabung dalam kelas inicial (permulaan) bahasa Spanyol (Espanol) di Institutio Cervantes Jakarta di Universitas Trisakti, Jakarta Barat.

Menarik. Menyenangkan. Imaginatif. Aroma kelas yang sudah tiga tahun lalu aku tinggalkan, pagi itu kembali menguar. Membangkitkan memori-memori akademisku semenjak masih duduk di bangku kelas filsafat di Driyarkara. Ini bukan kebetulan (coincidencia). Seorang teman mengabariku tentang kursus bahasa ini. Gayung bersambut, aku segera merogoh kocek dan kukeluarkan uang Rp650.000 untuk 50 jam pelajaran.

Ada ragam motivasi yang melatariku mengambil kursus bahasa negara matador itu. Pertama, aku ingin belajar lagi dan mumpung mempunyai spirit studi yang lagi berkobar. Kedua, aku bermimpi bisa berkelana laksana musafir ke negara-negara asing. Di sana, aku ingin belajar apa saja, terus membekali diri, memperkaya hidup, dan ingin membagikan banyak hal kepada semakin banyak orang. Syukur-syukur dapat beasiswa untuk ilmu sastra atau ilmu-ilmu sosial (social sciences). Seorang kolega di Intitutio Cervantes pernah mengatakan, “Aku ingin mempunyai banyak supaya bisa memberi banyak.”

Selain itu, Spanyol hadir dengan sejuta pesona. Bahasa Spanyol berakar dari castellano lantaran lahir di propinsi kuno Castilla. Data membuktikan, bahasa Spanyol digunakan oleh lebih 300 juta penduduk dunia. Espanol berada di posisi kelima setelah bahasa Cina, Inggris, India, dan Rusia. Banyak negara menggunakan bahasa Spanyol. Di Amerika Latin, selain Brazil, seluruh negaranya menggunakan bahasa Spanyol. Nah, menjadi menarik menyimak pidato Fidel Castro, Hugo Chavez, Subcomandante Marcos, dalam bahasa Spanyol. Bahasa yang seksi sekaligus beraroma revolusi. Di Amerika Latinlah, aku bisa belajar apa saja tentang perlawanan pada hegemoni Amerika Serikat yang sudah mulai pudar di sana. Di Eropa dan AS, bahasa Spanyol juga sudah jamak digemari.

Mau membaca karya-karya sastrawan Amerika Latin? Belajar saja bahasa Spanyol. Tentu akan lebih menukik dan asyik. Di sana, ada Gabriel Garcia Marques, penulis asal Kolumbia dan pemenang Hadiah Nobel Sastra tahun 1982. Dua karya kondangnya adalah “Seratus Tahun Kesunyian” (Cien anos de Soledad) dan “Sang Jenderal dalam Labirinnya” (El General en su Laberinto). Ada juga penyair asal Chile Pablo Neruda yang meraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1971 dan penyair Mexico Octavio Paz yang meraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1990.

Negara Spanyol sendiri juga mempunyai kebudayaan dan kebiasaan yang unik. Di sana, ada pertunjukkan penakluk sapi petarung yang akrab disebut la corrida de toros. Pertunjukkan ini sering diadakan pada musim panas. Di sana, juga ada festival lempar tomat yang disebut dengan La Tomatina. Festival pertama kali diadakan pada tahun 1945. Sempat dilarang oleh penguasa dan dibuka lagi pada tahun 1959. Festival kolosal ini diikuti sekitar 3000 orang dengan melempar tomat sekitar 240.000 pon. Belum dengan jejak-jejak pendudukan Islam di Cardoba pada Abad ke-8 SM. Termasuk jenis-jenis folk song dan tarian seperti Flamenco asal dataran Andalusia.

Berkenala di belahan bumi lain tetaplah menjadi mimpi. Berkelana sambil bermain pena alias menulis. Hatiku sungguh berkobar untuk menggapai mimpi-mimpi itu. Aku mengamini apa yang dikatakan Sang Alkemis kepada seorang bocah penggembala domba Andalusia Santiago dalam novelnya Paulo Coelho. Kalau kita mempunyai mimpi dan berusaha keras, seluruh alam semesta akan membantu mewujudkannya. Persis dengan pesan yang aku baca dari bukunya Rhonda Byrne tentang rahasia berpikir positif dalam The Secret (Gramedia Pustaka Utama, 2007). “Biarkan Semesta mengetahui apa yang Anda inginkan. Semesta selalu merespons pikiran-pikiran Anda,” kata buku itu.

Jujur saja, energi besar yang senantiasa mendorongku adalah kesadaran hidup hanyalah sekali. Aku ingin total dan benar-benar merayakan apa yang dinamakan kehidupan ini. Dengan demikian aku pun kelak bisa mengamini kematianku. Aku ingin mati dengan bangga karena aku berhasil mengamini dan merayakan hidup.

Que bien!Gracias.

Hasta la vista!

1 comment:

Aris said...

tulisan yang indah dan menggugah. siapkah kamu wahai musafir muda? bolehkah kita menjadi kawan berbincang?