Wednesday, August 01, 2007

Iraq Can Fly

PENCERAHAN itu datang dari lapangan bola. Mengharukan. Tim Irak berhasil menyabet predikat juara Piala Asia 2007 setelah menundukkan Arab Saudi dengan sekor 1-0. Younes Mahmoud, kapten tim Irak, berhasil menyundul bola dan menjebol gawang Arab Saudi pada menit ke-71. Tim Singa dari Mesopotamia ini pun dinobatkan sebagai Sang Juara.

Kemenangan tim Irak adalah sebuah keajaiban. Bayangkan saja, Irak adalah negeri yang hancur lebur pascainvasi Amerika Serikat. Lebih-lebih ketika rezim Sadam Husein berakhir di tiang gantungan. Tiap hari, dipastikan ada orang tewas akibat bom mobil atau granat bunuh diri. Tanah Irak itu seakan tidak pernah kering dari tetesan air mata dan aroma amis darah akibat perang saudara. Jumlah anak yatim dan janda-janda terus bertambah. Sementara itu, tidak ada pemerintahan yang jelas dan berwibawa. Irak, surga Mesopotamia tempo dulu, meratap seolah tanpa masa depan. Negeri dongeng seribu satu malam itu menjadi negeri seribu satu derita.

Tapi, kemenangan tim sepak bola laksana sapu tangan yang menyeka airmata anak-anak Irak. Peristiwa itu menjadi penanda masih ada sesuatu yang bisa dibanggakan dari negeri yang tampaknya tidak bisa dibanggakan lagi. Ada sepotong harapan di negeri yang tampaknya tidak bisa diharapkan lagi. Ada masa depan samar di negeri yang tampaknya tidak punya masa depan lagi. Tidak ada lorong gelap yang sempurna. Kehancuran tidaklah abadi.

Sepotong cerita lain direkam oleh Bhaman Khobadi dalam film Turtles Can Fly (2005). Film garapan sutradara berdarah Kurdis itu aku tonton tiga minggu lalu. Menarik. Mengharukan. Khobadi berhasil menampilkan potret buram Irak pasca-Sadam dari kacamata anak-anak. Hampir seluruh karakter utama film itu adalah anak-anak.

Khobadi mengambil seting perbukitan suku Kurdi yang menjadi basecamp pengungsian di Irak Utara. Di daerah penuh debu dan karang itu, hiduplah sekelompok anak yatim piatu. Mereka berusaha bertahan hidup dan menjalin persahabatan. Ada Hengkoy (Hirsh Feyssal), bocah buntung kaki karena ranjau darat. Hengkoy tinggal di tenda bersama saudara perempuannya Agrin (Ayaz Latif), gadis cilik yang selalu dihantui masa lalu. Agrin membenci Risa, bocah cilik hasil pemerkosaan tentara Irak. Ada lagi Satelit, bocah genius berkacamata. Satelit berhasil membawa antena parabola di kamp pengungsi. Dari antena dan televisi inilah, para pengungsi melihat siaran berita dan hiburan. Khobadi memotret kehidupan anak-anak itu. Tentang persahabatan, mimpi-mimpi, luka, kepedihan, kehilangan, kesepian, kesetiakawanan, dan pengharapan.

Cerita anak-anak mengharukan ini sesekali dibumbui dengan humor-humor. Inilah film anti-perang yang menegaskan perang hanya akan membawa penderitaan. Persis seperti yang dikatakan mendiang Paus Yohanes Paulus II, perang adalah kejahatan melawan kemanusiaan. Pernyataan Paus itu muncul pada saat AS berancang-ancang membombardir Irak. Sekarang, pernyataan itu menemui kebenarannya. Lebih-lebih, perang sering dilatari motif ekonomi. Keserakahan. Penguasaan sumber daya alam. Jual beli senjata. Minyak. Emas. Banyak hal.

Dongeng senjata pemusnah massal ala Amerika itu hanya membawa derita. Bukan penghiburan. Tapi, kehancuran fisik bukanlah akhir segala-galanya. Minimal kemenangan tim sepak bola Irak di Piala Asia dan sepotong cerita besutan Bhaman Khobadi itu menjadi penanda tidak matinya harapan masyarakat Irak. Negeri penuh kedamaian dan kedamaian tetaplah sebuah keniscayaan. Tanah Terjanji yang berkelimpahan susu dan madu itu bukanlah mitos. Irak pun bisa melangit.

Pengharapan itu bisa dibagikan melalui cerita. Anne Frank bertutur dengan buku hariannya. Elie Wiesel dalam buku Night. Imre Kartes dalam buku Fateless. Spilman dalam novel The Pianist. Lois Lowry dalam novel Number The Stars. Yah, cerita-cerita untuk melawan lupa.

Iraq can fly!

3 comments:

kw said...

tes kok eror

kw said...

oh bisa to? cuman pengen komen, tulisannya keren. boleh dong bagi2 tipsnya
salan kenal, nice 2 meet u

Hijau Tosca said...

Sigiiiit tulisannya bagus banget!