Monday, August 20, 2007

Tenggelam Dalam Tugas Domestik

TIGA bulan terakhir ini, aku telah disibukkan tugas-tugas domestik. Segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah tangga. Bangun pagi sebelum bola raksasa bangkit dari Timur. Mengucap sepotong sapa untuk Sang Pemilik Malam. Mencuci muka dengan air kran kamar mandi. Menyalakan kompor gas dengan dua kali putaran. Menanak nasi. Menyeduh secangkir teh. Memanasi sayuran. Mendadar dua telor. Mengaduk susu cokelat dengan air panas. Membersihkan meja makan dari debu dan tisu. Menyiapkan hidangan itu di meja dengan rapi untuk ia yang tidak bisa bangun pagi. Sesekali menggertak tikus kecil yang ngumpet di balik mesin cuci. Mengusir semut yang mengerubungi sisa makanan yang jatuh di lantai atau gelas tempat sirup ABC yang tidak habis diminum.

Melihat jam dinding. Membuka gorden jendela. Melihat cicak lari terbirit-birit. Melihat sinar matahari yang mengelus pucuk-pucuk pohon tetangga. Mendengar Si Engkong membuka gerbang, menyetel lagu-lagu Mandarin dengan suara yang tidak kalau keras dari mikrofon masjid. Membuka pintu depan. Mematikan lampu. Menyiram enam pot tanaman. Mengeluarkan James, motor Hondaku. Sesekali menyalakan mesin pompa air merek DAB yang doyan rewel. Bolang-baling turbinnya harus diputar dulu dengan sepotong kayu berlumut.

Bergabung dengan kerumunan ibu-ibu di pasar yang jaraknya 100 meter dari rumah. Tinggal jalan 3 menit. Membeli 1 liter beras, 2 larik pisang, ½ kilo buah pir segar, 1 bongkah tempe, 1 bungkus bawang merah-bawang putih, 1 ons lombok rawit, dan sebagainya. Sesekali mendengarkan ceriwis berceloteh ibu-ibu muda. Sambil mencuri pandang pada ibu-ibu yang berparas lumayan dan berdandan seksi.

Akhir pekan, kerja bakti. Membersihkan rumah dari kulit kacang, plastik kresek hitam, bungkus wafer, kotak minuman kacang ijo, struk rental film Video Ezy, plastik makanan katering, bungkus burger crispy. Menunggu si tua tukang sampah menyeret gerobak dengan tertatih di depan rumah. Mengelap meja, tabung televisi, kipas angin, DVD player, sofa hijau di ruang tamu, merapikan buku-buku di perpustakaan pribadi. Menyapu. Mengepel.

Masih ditambah menyortir baju dan celana yang mau dimasukan dalam mesin cuci. Menunggu mesin cuci selesai membolak-balik cucian selama dua jam. Mengumpulkan hanger. Menjemur pakaian. Memburu nasi padang atau soto Surabaya untuk makan siang. Membayar biaya listrik dan telepon. Membayar iuran keamanan bulanan Rp 10 ribu tiap minggu pertama dalam bulan.

Malam hari suasai ngantor. Menyiapkan makan malam. Menyeduh susu cokelat untuk orang terkasih. Membawa oleh-oleh. Memasukkan sayur untuk esok hari dalam kulkas. Bercerngkerama sejenak untuk sepotong perjumpaan dan cerita hari itu. Menonton kinclongnya gigi Thukul dalam program Empat Mata. Mematikan lampu kamar. Mengusapi lengan tangan dan kaki dengan sofell. Kalau ada waktu dan sisa energi, aku menulis. Ditemani Nutrisari hangat rasa jeruk nipis atau seduhan beras kencur ala Sido Muncul dengan tiga bongkah kecil es batu. Lalu menyapa sejenak pada Sang Pemilik Malam. Mendaratkan tiga kecupan. Mengucapkan selamat malam & selamat tidur.

Begitu seterusnya. Inilah rutinitas baruku di samping kerjaan pokok sebagai penulis. Awalnya, memang sangat membosankan. Rasanya ingin hengkang dari rumah itu dua atau tiga bulan lamanya. Maupun terbang seperti burung yang gemar menari-nari di atas loteng rumah tiap senja tiba. Tapi, gelora cinta itu lebih besar ketimbang rasa bosan.

Aku tersemangati oleh masa lalu. Di asrama, tugas-tugas rumah tangga itu sudah biasa dilakukan. Itu pun bagian dari doa. Inilah pembelajaran hidup yang amat berharga. Kecil tapi besar. Sepele tapi sangat berharga. Aku sedang belajar seperti Maryam, ibu Isa. Ia melihat segala peristiwa dan menyimpannya dalam hati serta merenungkannya. Belajar mencinta. Belajar setia.

Semua itu demi peri kecilku!

3 comments:

yang penasaran said...

peri kecil? humm ...

nara patrianila said...

memahami dan menjalani hidup memang harus dijalani satu-satu. satu dengan yang lainnya menjadi pijakkan untuk meneruskan perjalanan.

Seorang Mahatma Gandhi bisa menumbangkan penjajahan salah satunya dengan menenun sendiri pakainya.

hal kecil atau hal besar hanyalah persepsi kita yang tentunya sangat terbatas.

Hanya senyum bekal kita semua mencari makna di dunia.

www.patrianila.wordpress.com

Hijau Tosca said...

Kata Ferdinand de Saussure, tinjaulah sebuah karya hanya dari karya itu. Tapi saya penasaran dengan peri kecil.