Sunday, August 26, 2007

Alberto Knox

PEREMPUAN itu mengirimiku pesan pendek pada Jumat, 24 Agustus 2007 pukul 15:37:34 WIB. Pesannya pendek sekali. Membuatku mengernyitkan dahi sejenak. Mereka-reka apa maksudnya. Ia menulis seperti orang terkejut. Terkejut seperti Putri dalam dongeng yang baru mengenal seekor anjing yang selama ini menemaninya adalah seorang pangeran tampan. Atau seperti dua orang asal Emaus yang terkejut setelah seorang pemuda berwajah samar itu memecah-mecah roti pada sebuah meja makan dan mengenalnya sebagai Sang Juru Selamat. Keduanya terbelalak sampai pemuda itu pun raib dari penglihatan mereka.

Ia menulis seperti berikut: “Ya Tuhan...Kau adalah Alberto Knox! Tidak salah lagi!!”

Awalnya, aku bingung apa maksud pesan itu. Siapa Alberto Knox? Mungkin dia salah kirim SMS. Dipikir-pikir, kelihatannya aku agak familiar dengan nama itu. Otakku pun berputar-putar. Mengelana sejenak. Menjumput memori yang masih tersisa. Maklum aku sering diserang virus amnesia dadakan.

Lima menit berlalu. Akhirnya, aku tahu identitas Alberto Knox. Alberto Knox adalah salah satu tokoh rekaan Jostein Gaardner dalam novelnya berjudul Dunia Sophie (1991). Bacaan yang kubaca sejak lama. Alberto Knox adalah lelaki misterius yang gemar berkirim surat pada Sophie Amundsend. Lelaki ini terus berkorespondensi dengan Sophie tanpa langsung mengenalkan identitasnya. Seorang penulis tanpa nama.

Isi surat-surat lelaki misterius itu pun unik. Semua surat berisi pelajaran filsafat. Filsafat yang dikemas dalam cerita-cerita keseharian. Menarik. Unik. Sebuah petualangan di dunia ide yang menyenangkan. Dari ide-ide sebelum Socrates sampai ide eksistensialisme Jean Paul Sartre. Inilah kelebihan Gaardner. Ia mencoba menerjemahkan filsafat yang sering ditakuti itu menjadi cerita yang menarik. Gaardner adalah penulis kelahiran Oslo, Norwegia pada 1952. Karir sastranya ia mulai pada 1986 dengan antologi cerpennya. Pada 1990, ia dianugerahi Norwegian Literary Critics untuk novelnya berjudul The Solitaire Mystery. Sementara itu, Dunia Sophie atau dalam bahasa aslinya Sofie’s Verden menjadi best seller pada 1995. Mengalahkan novel The Celestine Prophecy karya James Redfield.

Lalu apa maksud perempuan itu mengirimiku pesan pendek seperti itu? Aku tidak paham betul siapa perempuan ini. Ia pernah aku temui dalam sepotong perjumpaan sehabis bertemu narasumberku di Mr.Been Cafe di Cilandak Town Square. Ini perjumpaan pertama. Itu pun berlangsung singkat ditemani segelas orange juice. Aku menjumpai dalam jarak dekat, sejauh 60 cm. Perempuan ini mungil. Berkacamata minus. Bertahi lalat kecil di parasnya. Berjaket ketat warna krem. Bersandalkan warna hitam dengan taburan gambar bunga/bintang warna-warni. Ia memberi sepotong sapa perkenalan. Ia adalah blasteran Manado-Jogja. Ayahnya seorang pemburu waktu. Mengelana di sudut-sudut metropolitan. Menjumput rezeki dari orang-orang yang minta diantar. Yang mengejutkanku, dia mengaku sebagai seorang pembacaku. Ia mengembara di labirin kata-kata yang kugoreskan dalam patahan-patahan cerita. Ia menganalisisku. Ia mendiskusikanku bersama koleganya. Ia menebakku. Mengira-ngira. Lalu, apa hubungannya dengan Alberto Knox, penulis misterius itu? Yang jelas, dia sendiri yang tahu.

Usai membunuh keingintahuanku itu, aku pun terus berlenggang. Menorehkan satu dua kata sebagai tanda keberadaanku. Jalan masih tampak tiada berujung.

2 comments:

patrianila@wordpress.com said...

Setiap orang memang membutuhkan bidan untuk lahir kembali. Itulah yang aku pahami sebagai sebuah interaksi. Semakin satu sama lain membantu kelahiran satu dengan yang lain akan lebih sehat sebuah relasi.

Bidan paling berdaya adalah kesaksian hidup.

nyi dasima said...

hmmm..

menarik,,,,