Thursday, September 20, 2007

Ibu Pulang

HANYA 10 hari ibu berada di Jakarta. Senin pagi kemarin, ular besi menelan ibuku. Membawanya kembali ke Jogja. Sepotong rasa sedih tertinggal di hati. Belum puas maksud hati mengenyam kangen. Tapi, apa boleh buat. Kerabat di Jogja lebih membutuhkan kehadiran ibu.

Ibu tampak lebih tua. Garis-garis putih semakin banyak menghiasi mahkotanya. Kerutan-kerutan di kulitnya semakin tegas. Langkahnya juga tidak sekokoh dulu. Semut-semut tidak kasat mata pun berkoloni di setiap persendiannya. Membuatnya berlobang. Rapuh. Gejala osteoporosis. Tapi, ada yang tidak berubah dalam diri ibu. Pancaran matanya memperlihatkan sebuah ketegaran, keuletan, dan pengharapan tanpa batas. Tekadnya kuat. Kalau sudah melakukan pekerjaan, ia tidak mau berhenti meski rasa capek menggerayangi tubuhnya. Semua harus beres. Tanpa ada penundaan.

Selama 10 hari itu, ibu harus berbagi malam dengan dua rumah. Rumah kakak perempuanku di mana cucu pertamanya berada dan rumah ibu di mana aku tinggal. Kehadiran ibu membuat tugas-tugas domestikku cukup terbantu. Menyapu. Mengepel. Membersihkan gudang. Belanja ke pasar. Memasak. Menyirami suplir. Mencuci. Kalau ada jeda, ibu mengantar keponakan ke sekolah. Menyuapinya. Berbagi cerita. Memilin rosario. Mengunjungi kerabat. Menyambangi tetangga. Membaca buku. Tak ketinggalan, ibu memasak menu favoritku, yakni kering tempe.

Soal buku, tidak heran, ibuku pun doyan membaca. Di hari pertama kunjungannya ke Jakarta, ibu memintaku menyediakan buku. Di perpustakaan rumah, terserak banyak buku. Kusuguhkan 2 buku. Bukan buku filsafat. Bukan novel. Tapi, buku rohani, pemantik inspirasi. Kusodorkan dua buku kecil. Satu buku karangan Henri J.M. Nouwen berjudul “Buah Pengharapan” (Kanisius, 1998) dan “Girisonta: Dari Novisiat Menatap Taman Getsemani, Percikan Kisah Para Sahabat.” Buku pertama selesai ia baca. Buku kedua hanya ia sortir saja karena kumpulan kisah.

Pernah sebuah siang, aku dan ibuku duduk bareng di sofa hijau. Kami duduk bersama tanpa obrolan karena kami sibuk dengan buku bacaan masing-masing. Sesekali kulihat ibuku mengatur letak kacamata plusnya. Menarik ulur letak buku untuk mencari fokus baca. Membasahi jari tengah kanannya dengan sejumput liur untuk membuka halaman per halaman. Aku berjanji membelikan buku-buku rohani padanya. Tapi, belum kesampaian juga menebus janji itu. Ular besi bernama Fajar Utama itu keburu menculik ibu. Membawanya kembali ke kampung halaman.

Sesekali, aku bisa membaca kecemasan dan kesedihan menghiasi parasnya. Apalagi, ketika menerima kabar dari Jogja, si bungsu meminta uang untuk sebotol anggur. Pesta anggur dengan dewa mabuk. Sampai kapan malam-malam seperti itu akan berakhir. Sudah belasan tahun, ibu menjalani ini dengan tabah. Tapi, semua itu membuat iman ibu semakin membaja. Kuat. Kekuatan ibu hanya satu, yakni p-e-n-g-h-a-r-a-p-a-n. Pengharapan akan masa depan yang lebih baik. Bagi si bungsu. Bagi keluarga. Bagi dirinya sendiri. Seakan ia mengamini tidak ada rasa sakit yang abadi.

Aku pernah memberontak pada Tuhan. Aku katakan, ibuku sudah terlalu sabar menjalani realitas ini. Tak kunjung jugakah Dirimu memberinya sepotong kebahagiaan di usia tuanya? Ibuku seperti perempuan tua yang mengetuk-ketuk pintu rumah sahabat untuk meminta pertolongan karena anaknya sakit. Tapi, sampai tangan perempuan itu berdarah-darah karena terlalu lama mengetuk pintu kayu itu, pintu juga belum dibukakan. Tapi, itu dulu. Ibu sendiri tidak protes. Justru, ibu mengenyam semua itu sebagai bagian dari iman personalnya. Ia selalu menyimpan segala perkara di dalam hatinya.

Aku pernah membenci ibu. Dulu, saat aku di asrama. Sejak hari pertama, ibu berjanji akan mengirimiku surat. Tapi, selama 8 tahun aku berada dan akhirnya keluar dari asrama, ibuku tidak pernah menulis sepucuk surat pun untuk satu cerita atau satu larik kalimat atau satu kata pun. Sepertinya hanya teman-temankulah yang ditakdirkan menerima surat. Sampai sekarang, aku belum menanyakan mengapa ibu tidak pernah berkirim surat. Itu dulu. Sekarang, kebencian itu sudah lama tanggal dari hatiku.

Itulah ibu. Satu pesan ibu sebelum pulang: jangan lupa membersihkan dapur dan gudang setiap malam sebelum tidur. Tiga hari ini, pesan ini aku penuhi. Maklum, aku tidak mau trio mickey mouse itu datang lagi. Dapur dan gudang tidak pernah absen dari sapu, cairan wipol, dan kain pel. Semua barang harus disterilkan dari binatang pengerat itu. Dan para pengerat berbau tak sedap itu tidak nongol lagi. Mungkin sudah migrasi ke rumah tetangga.

Pesan itu diulangi saat tiba di Stasiun Senen. Tepatnya di gerbong 5 nomer 5 A. Pukul 06.20, ular besi itu menjalar. Derit roda-rodanya semakin kencang. Ibu pun dibawa lari. Akhirnya, ibu pulang juga.

1 comment:

nara patrianila said...

Kanjeng Ibu kan Pinurba Mulus Tanpa Ciri. Nyuwun Kawelasan.