Sunday, September 23, 2007

Tentang Dua Sahabat

SABTU malam. Aku bongkar satu kardus Aqua gelas. Tergolek di pojok kamar. Jarang kujamah. Kutemukan lagi 4 buku catatan harianku. Masing-masing berangka tahun 1993, 1996, 1997, dan 2001. Dengan begitu, total jumlah buku harian yang kutemukan menjadi 11 buku. Dokumentasi menarik ketika dibaca ulang.


Di antara catatan-catatan kumal itu, kutemukan 1 lembar kertas yang empat tahunan ini aku cari. Satu lembar. Kumal. Membekas empat garis penuh daki. Huruf-huruf sudah dikaburkan usia. Nyaris luntur. Kertas fotokopi ini memuat puisi seorang sahabat. Sahabat di asrama selama 4 tahun, 1992-1996 di Magelang.

Puisi itu pernah dibaca dua kali. Pertama kali oleh Sang Penulis sendiri, Martinus Jogie Putranto pada malam keakraban di pelataran kampus. Yang kedua kali dibacakan oleh Alexander Tamtomo untuk mengenang 1000 hari kematian Sang Penulis.

"Mungkin ini kata-kata terakhir sahabat kita Jogie. Puisi yang ia buat dan ia baca sendiri di malam akrab di kampus," kata Alex, sejauh aku mengingat, di rumah ibunda Jogie, Jl. Pulo Mas Barat IX/8 Jakarta.

Puisi itu begitu menusuk ulu. Kematian itu tak punya mata. Menimpa siapa saja. Tidak punya hati. Jogie masih sangat muda. Jogie yang di asrama dijuluki sapi ini lahir di Jakarta, 12 November 1976. Maut menjemputnya pada 11 Maret 2000. Kematian tak diundang. Tanpa tanda-tanda lumrah. Jogie yang waktu itu sedang menonton bola tiba-tiba membeku. Jantungnya mandeg saat langit Jogja mulai menggelap. Tidak ada suara dag-dig-dug di rongga dada kirinya. Warna biru perlahan merambati sekujur tubuhnya yang jangkung. Ia mati. Sementara tabung ajaib masih terus berceloteh.

Tapi, puisi itu seolah menjadi pertanda. Seperti burung dandang yang hinggap pada nok bubungan rumah dan meninggalkan sosok tanpa nyawa di dalam rumah itu keesokan harinya. Seperti juga binatang yang berlarian ke kaki gunung tanda Merapi mau meletus. Puisi itu adalah tanda.

Ketika waktu mulai berjalan
Merambati setiap batasan duniawi
Tak sadar pintu gerbang kebebasan ada di depan mataku
Kebebasan yang tak senilai dengan hidupku
Langkah demi langkah berjuang melawan nafsu
Hingga tertinggal hati yang damai dan penuh cinta
Tuhan kadang aneh dan menjengkelkan
Namun tak ada yang lebih susah daripada tidak punya hati dan cinta
Hari ini, bulan keempat di penghujung milenium
Aku bertemu Tuhanku
dan memandang sejenak wajah agung-Nya
Seakan Ia tahu apa yang kualami
Keterbatasan-keterbatasan itu harus kubuka dan kubuang selama-lamanya
Dan perlahan-lahan, namun pasti, hatiku yang dulu beku kini berkembang dalam lautan cinta dan kedamaian. Terimakasih Tuhan. Amin.

Itulah puisi terakhir Jogie. Puisi itu seperti lukisan The Last Supper karya Leornado Da Vinci. Puisi perpisahan dari seseorang yang sangat aku kenal. Orangnya supel. Perawakannya tinggi. Doyan gaya rambut pelontos. Berkacamata minus ala John Lenon. Ceplas-ceplos dengan logat ibukota. Dandanannya trendi. Pintar.

"...Pengalaman manis en pahit udah gue lewatin bareng temen-temen yang suka ketawa-ketiwi, yang imut-imut dan amit-amit. Gue jadi inget waktu klas 0 dikejar-kejar Sipir dan Menir. Klas I kepala benjol-benjol kejatuhan kates (untung bukan duren!). Klas II kedinginan & pegel kebanyakan begadang. At last klas III mentang-mentang udah punya kamar sendiri, tidurnya ngebluk melulu..."

Itulah salah satu rekaman kata-kata Jogie di buku kenangan tahun 1995-1996. Buku yang belum lama aku temukan di tumpukan kardus. Asal tahu saja, ada 1001 pengalaman unik, lucu, dan mengharubiru di asrama yang dikelilingi pohon pinus dan dihuni oleh mahkluk berkelamin lelaki itu.

"Wah, pokoknya asyik deh. Sulit ngelupain semua kebersamaan kita selama ini. Apalagi bareng temen-temen yang bagi gue udah kayak saudara sendiri. Tapi mo’ gimana lagi, gara-gara kucing tetangge hamil, kita emang kudu pisah en ngelanjutin perjalanan yang fana ini. So, jangan pernah lupa dengan kekompakan & kebersamaan kita selama ini..."

Sebenarnya kita sudah kehilangan 2 sahabat. Dua-duanya mati muda. Jogie dan Waris. Waris, sahabat kelahiran Magelang 6 Februari 1977 ini mati karena otaknya aus. Lelaki ini bertubuh ramping. Berkulit hitam kopi susu ini. Rambutnya jadul seperti kepunyaan Chairil Anwar. Suka memakai celana kasual dan sesekali jeans. Jalannya membungkuk. Leluconnya garing. Tapi, ia dikenal paling pintar di asrama. Di batok kepalanya sering menari-nari angka-angka. Dia adalah Stephen Hawking-nya asrama. Pelajaran Matematika, Fisika, dan Kimia baginya renyah seperti camilan. Padahal, bagi yang lain, ketiganya seperti sosis yang dimasukkan lemari pendingin. Beku. Keras. Bikin linu di gigi.

Sosoknya unik bin ajaib. Bayangkan, saat temannya rekreasi dengan jalan-jalan, main ping pong, baca koran, ngrumpi, mojok di lapangan dengan pepaya curian, ia lebih doyan memecahkah teka-teki soal cerita. Bahkan, ia mempunyai buku kumpulan soal cerita yang ia karang sendiri. Ia begitu terkesiap pada waktu. Ia berusaha memecahkan misteri tentang waktu. Ia juga gandrung dengan santet. Santet baginya adalah fenomena ilmiah, di mana terjadi transformasi materi ke energi dan energi ke materi. Itulah sosok kerempeng dengan ingus yang doyan maju mundur dari lobang hidungnya. Angka-angka dan rumus-rumus itu tiba-tiba berubah menjadi seperti ular-ular kecil. Mereka mengelana di sekujur tubuhnya. Menyedot habis daya tahan tubuhnya. Menghisap tuntas seluruh sumsum kepalanya. Lalu ia pun mati. Satu kata yang ia tuliskan di buku kenangan itu: Aku lahir, aku hidup, aku bahagia.

Selamat jalan sahabat. Sudah lama aku ingin menuliskan ini. Tapi kertas itu baru saja aku temukan. Doakan kita-kita yang masih mengelana di kehidupan yang sarat dengan tawa, canda, airmata, darah, benci, dendam, kasih, kecewa, sepi, tak pasti, pengkhianatan, dan sebagainya. Masih ingatkah kalian akan kata-kata perpisahan dari kepala asrama kita? Aku ketikkan ulang buat kalian berdua. Mumpung aku masih menyimpannya.

"...Perjalanan pejiarahanmu masih sangat panjang. Namun, jangan takut sebab Dia tak pernah tidur. Hanya waspadalah terhadap ilusi dan fatamorgana padang gurun yang tercipta ketika jiwa letih dan semangat luruh bak jerami kering. Sebab pada saat-saat seperti itu kilau dunia kan mampu membutakan nuranimu. Tetapi, pandanglah kilau abadi yang terpancar dari puncak gunung suci, di mana Ia telah setia menunggumu di sana..."

Aku yakin kalian berdua sudah tenteram di pucuk gunung suci itu. Memandangi lautan daun-daun pinus penuh kenangan. Dan jangan lupa tunggu aku di sana. Aku teruskan pengembaraan ini!

1 comment:

nara patrianila said...

Entah kenapa, kematian selalu menyentakan. kita hanya bisa mengikuti gerakan ekornya saja. Sedangkan makhluknya telah berlalu tanpa bisa sekejap pun dipandang.

Aku belum pernah mengalamai apa yang kamu alami. Menyaksikan teman yang meninggal. Rasanya kematian menjadi begitu dekat sekali. Seperti teman sebangku yang diam saja serta sering kita abaikan karena tak ada suaranya.

Aku pun waktu itu kaget, ketika mendengar dua teman itu duluan pergi.