Wednesday, September 19, 2007

Mati, Mati, & Mati

KEMATIAN itu begitu akrab. Dekat. Biasa. Bayangkan saja dalam waktu hampir 4 bulan, ada 4 sanak kerabatku yang mati. Pertama, kakekku mati lantaran usur usia dengan komplikasi berbagai penyakit. Satu bulan berikutnya, adik lelaki kandung kakek, Mbah Gimin, mati di Surabaya. Lalu di susul Bulik Mukri di Jogjakarta. Lalu Om Har pada usia 43 tahun lantaran virus hepatitis B menggerogoti hatinya. Ini terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Sudah ada 4 catatan tentang kematian aku posting di blog ini. Mungkin karena kematian ini begitu akrab. Memesona. Dekat. Biasa. Sering. Semua menimpa keluargaku. Mungkin juga karena kematian ini begitu menganggu. Menakutkan. Asing. Misterius. Sepertinya malaikat pencabut nyawa itu belum puas memanen jiwa-jiwa dari ladang keluargaku. Bahkan, aku sempat bertanya, jangan-jangan kematian itu menular. Menulari orang-orang terdekat.

Kematian mungkin juga menyakitkan. Aku tidak bisa membayangkan perasaan simbah putriku (nenek) saat bersimpuh di depan peti jenasah Om Har, putra kesayangannya. Bayangkan saja, tiga bulan sebelumnya, suaminya diambil Tuhan. Kesedihan belum sempurna raib, Tuhan mengambil putra kesayangannya. Aku memandangi matanya yang tersaput oleh sedikit selaput katarak putih. Nenek tidak menangis. Ia hanya mengangguk-angguk sambil berucap Sembah Bekti (Doa Salam Maria-red) sambil memilin jemari keriputnya pengganti butiran tasbih. Mungkin, ia memang sudah tidak bisa menangis lagi. Air matanya sudah habis. Rasa kehilangan datang seperti kemarau panjang. Pergi meninggalkan kerontang di pelupuk matanya. Kesediah sudah lama menyumbat mata-mata air air matanya.

Sampai di suatu siang, terdengar kabar dari suara tak dikenal, Om Bambang (suami dari Bulik Yani, adik kandung ibuku) mati mengenaskan di jalan. Suara lirih penuh simpati dari menguar dari telepon genggam Bulik Yani. Sontak, Bulik terkejut bukan kepalang. Tangisnya pecah. Meraung-raung seperti anak singa terluka oleh peluru senapan pemburu. Kabar ini pun menyebar cepat ke sanak kerabat. Semua orang kawatir. Bulik pun merasa tak berdaya di depan kematian yang rutin menghampiri. Bulik pun menggugat kakek yang seakan tidak puas mengajak saudara dan anaknya untuk mati, sampai dirinya mengajak suami tercintanya berpulang tanpa gelagat.

Untung saja, kondisi buruk ini segera bisa diatasi. Suara pewarta kematian tak dikenal itu pun terbongkar. Ini modus kejahatan yang jamak terjadi dengan memanfaatkan telepon untuk memeras uang korban. Om Bambang pulang ke rumah Cimanggis dengan kondisi segar bugar.

Meski demikian. Kematian itu tetaplah akrab. Dekat. Biasa. Misterius. Aku hanyut dalam permenungan. Malaraux dari Prancis pernah menulis, seseorang baru dilahirkan ketika ia berdiri merenung di depan sebuah mayat dan bertanya: m-e-n-g-a-p-a?

No comments: