Friday, September 14, 2007

Semalam Ada yang Bilang 'Sayang'

“Sudah menikmati secangkir kopi?”
“There is no morning coffee here.”
“Semalam ada seseorang yang bilang sayang ke gue”

Mataku sejenak melotot pada ruang chatting. Menahan untuk meledakkan tawa. Perempuan yang pernah terjungkal tanpa sebab di pelataran UI Depok itu menceritakan seorang lelaki telah ‘menembaknya’ tadi malam. Tadi malam di Dante Coffee, gerai kopi seberang Starbucks di Mal Kelapa Gading. Ditemani secangkir caramel macciato, jenis kopi yang tak begitu disukainya. Lebih enak menyeruput capuccino atau kopi susu cap Luwak pemberian teman. Enak tidak enak, pasti pelor-pelor cinta itu mengoyak jantungnya. Membuatnya insomnia mendadak. Malam jadi panjang. Suhu kamar naik-turun. Dan ini benar!

“Mengejutkan, menyenangkan, membuat gue susah tidur.”
“Senyum terus sepanjang malem”
“Ternyata gue gak segitu jeleknya”
“Masih ada juga yang diam-diam memendam rasa suka ke gue.”

Hatiku pun terpingkal-pingkal. Teman kantorku ini memang lucu bin ajaib. Apalagi setelah mengaku ternyata lelaki jagoan itu adalah adik kelasnya, lelaki yang diam-diam jatuh cinta padanya. Perempuan ini pernah cerita bahwa dirinya enggan menanggapi gelagat lelaki ini. Beribu cara ia cari untuk menghindar. Tapi, akhirnya dirinya terperangkap juga di Dante Coffee, gerai kopi yang tiba-tiba disulap menjadi lapangan tembak. Lelaki itu menunggu saat yang tepat. Mengukur kecepatan angin. Menguatkan pegangan. Menarik napas. Lalu menarik pelatuk. Dan “dorrrr!!!’’ Senapan cinta itu meletus. Pelor cinta pun menembus jantung temanku. Membuatnya membeku tanpa jawab.

“Gue tidur cuma beberapa jam. Tapi, hari ini, gue bangun dengan mata terang benderang tanpa jejak kantuk sedikit pun.”
“Sekuat itu ya pengakuan dia?”

Akunya, jagoan ini sudah nguber-uber dirinya selama 14 tahun. Sayangnya, jagoan ini adalah pangeran kesiangan. Seorang Romeo dadakan yang malang. Jaka Tarub yang gagal mencuri selendang dewi kayangan. Dua bulan lagi, sang putri naik ke pelaminan. Melepas lajang dan mengurung niat bercangkir kopi dengan para kawan dan selingkuhan. Tapi, sebegitu tegarkah pondasi hati tuan putri?

“Tapi dasar perempuan jahaman, gue seneng2 saja ada yang ama gue.”
“Dan mulailah sikap ambigu gue.”

Ketawaku mendadak berkeping-keping. Berderai di sela-sela keyboard komputer, tempat jemariku menari-nari. Perempuan ini pun bercerita lebih banyak lagi. Dan lagi. Tapi tidak etis aku ceritakan di sini semuanya.


“Klo bisa memiliki semua pria yang menyayangi gue, gue mau aja lho”

Alamak! Hati-hati, ntar banyak yang 'ngokang senjata'!

1 comment:

nara patrianila said...

Aku suka melihat orang yang sedang jatuh cinta. Meski agak iri juga kadang-kadang. Yang jelas aku jadi enggan untuk menjadi tua, bongkok, bermbut putih, keriput.

Orang yang jatuh cinta membuatku teringat dengan kisah cintaku. Tampaknya memang cinta akan memancing cinta.

Orang jatuh cinta wuuuih dahsyatnya. Di setiap film, selalu adegan favorit saya adalah saat orang jatuh cinta.