Saturday, October 20, 2007

Ia Mati di Tangan Ayah

SIANG menjelang di bawah pohon-pohon jati yang meranggas. Angin mengintip malu dari batang-batang bambu dan menimbulkan jeritan lirih. Burung-burung srigunting yang melayang-layang di atas pohon kelapa mendadak berubah menjadi gagak-gagak hitam pemakan bangkai. Cicak terbang melesat dari dahan jati ke dahan jati lainnya. Seolah tahu, sebentar lagi akan ada mahkluk hidup yang akan diakhiri hidupnya dengan paksa.


Tempat penjagalan ini cukup tersembunyi. Di situ, ada bekas kolam ikan yang sudah rusak. Penuh dengan daun-daun bambu kering yang siap digunakan untuk membakar tembikar. Mirip kuburan orang Tionghoa yang tidak terawat. Sepi. Hanya ada aku, ayahku, dan calon korban. Napasku sedikit tersengal. Hatiku belum bisa memercayai ia ditakdirkan mati di tangan ayahku sendiri. Ia yang semalam aku jumpai terkulai lemah di bawah temaram bola lampu 5 watt. Tanpa bicara. Pandangannya pun nanar.

Sekarang, korban berbusana putih itu sudah ada di dekapan ayahku. Tangan kiri ayah menutup matanya. Tangan kanannya memegang sebilah pisau besar yang belum lama diasah. Aku diperintahkan untuk memegangi kedua kaki korban. Napasku tidak beraturan. Hatiku sedikit menciut tidak tega. Tubuh korban memberontak. Tapi tangan ayahku begitu kuat. Tangan pensiunan tentara itu menegang. Otot-otot menyembul membentuk relief sungai di kulitnya yang hitam keriput.

Ayah menatapku. Mengerdipkan mata sebagai kode penjagalan segera dimulai. Maksudnya, aku harus mengencangkan pegangan agar korban tidak lepas. Pisau perlahan menempel di lehernya. Sebuah leher putih dan polos. Ia terlihat begitu pasrah.

Aku memalingkan kepalaku dari wajah korban. Mendadak ladang penjagalan ini berubah seperti kawasan Lubang Buaya pada era 1965. Lagu Genjer-Genjer berkumandang di lubang telinga. Para Gerwani menari-nari dan berjingkrak sambil mengayun-ayunkan celurit di depan para jenderal terikat tangan kakinya. "Darah itu merah jenderal!" teriak seorang perempuan sambil mengibas-ngibaskan silet karatan di depan bola mata sang jenderal. Itulah gambaran film propaganda politik rezim Soeharto yang tidak pernah absen aku tonton setiap tahunnya di bangku sekolah dasar dulu. Meski aku tahu semua itu adalah kebohongan, tapi propaganda itu berhasil masuk di batok kepalaku. Membekas. Sejarah negeri ini wajib diluruskan.

Aku mendengar dengus napas ayah begitu dalam. Lalu tangan ayah bergerak maju mundur. Aku meringis sambil mengunci rapat-rapat kelopak mataku. Terdengar ada yang robek di dekat tangan ayah. Tubuh korban menggeliat dahsyat. Tangan ayah semakin kuat mencengkeram. Tubuh korban memberontak. Terdengar suara tetes air menghunjam tanah berpasir itu. Baus amis darah menusuk hidung. Melihat darah mulai merembesi gaun putihnya, ayah semakin keranjingan. Ia terus menghunjamkan pisau itu lebih dalam. Tepat di saluran darahnya. Baru kali ini aku melihat ayah sebagai pembunuh berdarah dingin. Tubuh korban mengejang. Jiwanya mau meloncat. Seolah jiwanya menelusup lewat pergelangan tanganku. Lalu tubuh bersimbah darah itu diam. Membeku. Nyawanya lari pontang-panting tak tentu arah.

Dan angsa putih yang dibeli si bungsu seharga Rp 30 ribu itu mati. Karakter cerita Hans Christian Andersen itu pun berakhir di tangan ayah. Bumbu masak sudah siap di dapur. Pesta pun dimulai. Luar biasa, kedatanganku di kampung disambut dengan pesta opor angsa putih.

1 comment:

winda said...

Gaya bahasanya apik, ketika membaca jadi ikut terbawa suasananya.
Ditunggu tulisan lainnya..