Sunday, November 25, 2007

Kebiasaan Baru: M-e-n-d-o-n-g-e-n-g

AKU punya kebiasaan baru, yakni mendongeng. Tepatnya, membacakan cerita buat peri kecilku yang masih dalam kandungan. Sudah empat kali ini dongeng dibacakan. Selang-seling dengan ibu peri. Mungkin ini kelihatan aneh. Tapi, seorang pakar anak pernah menasihati akan lebih baik jika anak sedari kandungan dilatih untuk berkomunikasi. Katanya, ini akan memengaruhi psikologi anak itu kelak. Bentuknya beragam. Salah tiganya, mengajaknya ngobrol, menyetelkan musik, atau mendongeng. Nah, ketiganya telah kami pilih.

Ibu peri membacakan dongeng pada siang hari. Saat bola raksasa melarut dalam gelap, sambil meluruhkan sisa kepenatan kerja ke lantai, giliranku mendongeng. Dongeng tentang Anak-anak Lilin menjadi dongeng pertama yang aku bacakan. Cerita ini diambil dari antologi dongeng Gadis yang Menikahi Seekor Singa karya Alexander McCall Smith. Antologi ini diterbitkan dan diterjemahkan oleh penerbit Bentang (2005).

Buku itu merupakan koleksi dongeng-dongeng tradisional dari dua negara Afrika, yakni Zimbabwe dan Botswana. Seperti cerita-cerita rakyat di manapun, buku tadi juga mengisahkan suatu kehidupan yang unik, ajaib, filmis, imajinatif, sekaligus penuh pesan nilai. Menarik memang. Aku sendiri menyukainya. Lebih-lebih ketika membacanya sambil mengeluarkan suara dan sesekali berakting dan berakhir dengan cekikikan sendiri. Senyum simpul pun sering menempel di paras ibu peri saat aku membacanya.

Bicara soal dongeng, aku jadi teringat masa kecilku. Dulu, aku senang didongengi oleh kakak perempuanku. Bahkan, teman kakakku juga sering membacakan cerita untukku jika sedang bertandang ke rumah. Namanya Rusmiyati. Dongeng serial Kancil dengan berbagai topik. Sebut saja kancil dan buaya, kancil dan seruling Nabi Sulaiman, kancil si pencuri ketimun, dan sebagainya. Dongeng begitu hidup dan mencekam. Apalagi temaram lampu teplok menerangi ruangan tempat kami bercengkerama. Maklum, desaku, di sudut Bantul, waktu itu belum kesetrum alias dialiri listrik. Tapi, bila gelap membekap dusun dan suhu dingin tergelincir dari bukit Sempu, terciptalah suasana romantis yang tidak bakal lekang dari ingatanku. Lebih-lebih ditambah dengan suara jengkerik yang beradu nada dengan suara burung hantu yang bertengger di pohon asem, kodok di kebun, dan ditingkahi suara kentongan dari dusun sebelah.

Kadang malam mendadak seperti dipenuhi dementor, hantu-hantu gentayangan di dunia Harry Potter, saat mbak Rus bercerita tentang mahkluk malam bernama kunang-kunang. Si kecil yang terbang sambil membawa lampu berkelip ini senang melintasi kebun depan rumah di sela-sela ranting tanaman ceplok piring dan bunga sepatu. Konon, katanya, kunang-kunang asalnya dari kuku orang mati. M-e-n-y-e-r-a-m-k-a-n. Betapa bulu kuduk mendadak berdiri seperti sapu lidi terbalik saat lilin terbang ini masuk rumah lewat jendela kamar. Tapi, liliput bercahaya ini sudah lama tidak aku lihat. Libur lebaran kemarin pun, aku tidak melihatnya. Di sawah dan di kebun mereka tidak nampak. Mungkin mereka sudah punah. Mungkin lampu yang dibawanya mati atau kehabisan bahan bakar. Mungkin migrasi ke negeri antah berantah. Mungkin sekarang ia hanya ada di dalam ceritaku ini. Toh bumi sudah semakin renta. Banyak yang dulu ada sekarang sudah tidak ada lagi.

Aku dan ibu peri sepakat mengenalkan buku pada peri kecil sejak sekarang. Kami percaya buku akan mengantar kehidupan yang lebih baik. Buku adalah jembatan mencapai mimpi-mimpi.

Borong Buku
Nah, Sabtu, 24 November 2007. Pagi hari, sekitar tiga jam setelah bola raksasa meloncat dari tepian bumi sebelah Timur, aku dan ibu peri bergegas ke Gramedia Book Fair di Gedung Gramedia, Jl. Panjang, Kebon Jeruk. Di lantai 8, digelar bursa buku murah. Diskon 20% untuk semua buku dan obral buku murah, Rp 5.000 dan Rp 10.000.

Tanpa lama, beberapa buku terjerembab dalam keranjang belanja kami. Dengan Rp 161.500, kami membeli 10 buku. Dari 9 buku itu, 3 buah buku buat peri kecil. Ketiganya antara lain Si Gadis Penakut (Enid Blyton), Si Pembuat Jam (Philip Pullman), dan Putri Si Pembuat Kembang Api (Philip Pullman).

Buku Enid Blyton hadir dalam 8 seri. Masing-masing seri berisi 7-8 cerita pendek. Asal tahu saja, buku Enid Blyton inilah yang menjadi buku bacaan masa kecilku selain serial Lima Sekawan maupun Trio Detektif karya Alfred Hitchcock. Serial itu aku dapatkan dari perpustakaan sekolah kakakku nomer dua, SMP Stella Duce, Suryadiningratan. Kini, buku itu sudah mengalami 10 kali cetak ulang.

Aku kira terjemahan buku Enid Blyton perlu di-upgrade lagi. Bahasanya sudah bagus. Tapi, ada hal yang perlu disesuaikan dengan perubahan zaman. Misalnya, dalam cerita Celengan Mia dalam antologi seri Si Gadis Penakut, masih disebut uang Rp 5 dan Rp 20. Nah, angka ini untuk konteks masa kecilku mungkin masih cocok. Tapi, untuk konteks anak sekarang, perlu diadaptasikan lagi.

Novel Philip Pullman sengaja aku pilih karena menurutku menarik. Novel Putri Si Pembuat Kembang Api (The Firework-Maker’s Daughter) memenangi Gold Medal Smarties Prize. Sedangkan Si Pembuat Jam (Clockwork) memenangi Silver Medal Smarties Prize. Buku yang kedua disebut itu dicetak dalam 107 halaman dan kubaca dalam waktu 45 menit. Ceritanya memikat. Mengalir. Kurekomendasikan pada ibu peri untuk segera membacanya. Ibu peri malah melayangkan sepotong pertanyaan, "Apa kamu tidak mencoba menulis cerita anak-anak? Aku kira kamu punya modal itu." Aku diam saja sambil menekuk garis lengkung bibirku ke atas.

Sebenarnya, aku tertarik membeli trilogi Philip Pullman dalam serial His Dark Materials. Ketiganya dalam edisi tebal, yakni The Golden Compass, The Subtle Knife, dan The Amber Spyglass. Tapi, aku sedikit menahan diri. Maklum sekarang aku harus pandai-pandai mengelola isi kantong. Mungkin bulan depan setelah gajian atau mendapat honor ghostwriter, baru aku beli ketiganya.

Sementara itu, ibu peri membeli 4 buku lainnya. Sebut saja Mereka Bilang Saya Monyet dan Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu, Absolute Victory karya Robert Pino, dan When God Winks karya Squire Rushnell. Aku sendiri menambah 3 buku lagi, yakni Dunia di Kepala Alice karya Ucu Agustine, Bulan Jingga dalam Kepala karya Fadjroel Rachman, dan Wawancara dengan J.K. Rowling dari Lindsey Fraser.

Dengan begitu, perpustakaan rumah mendapat anggota baru berupa buku-buku sastra. Aku ingat terus apa yang ditulis seorang karib, Nara Patrianila namanya. Ia pernah menuliskan di sebuah kartu ucapan yang diselipkan dalam kado buku untuk pernikahanku tahun lalu. Ia menulis: cinta bisa dipahami dengan puisi, sastra, dan menikah. Semoga kehadiran anggota baru di perpustakaan rumah ini membuat isi rumah semakin memahami arti cinta. Termasuk aku, ibu peri, peri kecil, cicak di balik lemari, tikus di gudang, kecoak di kolong mesin cuci, dan semuanya yang ada di sini. Cinta dalam arti seluas-luasnya.

2 comments:

Winda said...

Jangan dibacakan cerita bahasa spanyol dulu yah. Nanti si kecil bingung hihihi

nara patrianila said...

Dongeng....mendengar kata ini disebut saja aku sudah tersenyum apalagi bila duduk tepekur menyimak sang pencerita merentang cerita.

pernahkah terbayang, orang hidup dari dongeng. Ternyata ada. Dongeng tidak lagi sekedar cerita yang mendayu-dayu. Tetapi bagi sekelompok kecil masyarakat di Papua, dongeng menjadi kitab suci, pandangan dan arah hidup. Hebatnya dongeng.

Setahun nyantrik di SAV PUSKAT Yogya, aku menjadi meyakini kekuatan dongeng. Puskat mengembangkan banyak dongeng.

Dongeng tidak hanya sekedar rentetan kata-kata. Di dalamnya bersemayam jiwa. Para leluhur