Tuesday, January 31, 2006

Neraka Ciputat

Tahu Neraka Kamboja? Inilah judul novel karya Haing S Ngor, novel yang aku baca saat di bangku SMA. Novel ini berkisah pembantaian massal oleh rezim Pol Pot. Novel ini kemudian difilmkan dalam judul “The Killing Field.” Sang pengarang lalu mati tertembak secara misterius saat liburan di Amerika Serikat.

Kali ini, bukan Neraka Kamboja. Aku menyebutnya Neraka Ciputat. Ini bukan bercerita tentang genocide di Ciputat. Tapi, ini memaparkan sumpeknya dan ruwetnya jalan di Pasar Ciputat, ke arah Parung atau Serpong. Siang itu cukup terik. Sinar matahari seakan membakar jaket hitamku, saat aku menyusuri jalanan di Pasar Ciputat.

Benar-benar aku merasa seperti di neraka. Macet berat. Sepeda motor berjalan lambat, berlomba dengan puluhan mikrolet, bajaj, bus, dan ratusan kendaraan lainnya. Sementara itu, lalu lalang pedagang dan hiruk pikuknya pasar menambah runyam suasana jalanan. Pasar telah memakan sekitar dua meter bahu jalan. Ini yang andil dalam kemacetan itu. Pasar juga membuat jalan menjadi becek dan mengeluarkan bau tak sedap dan menusuk hidung.

Peluh mulai membasahi bajuku. Sebagian butiran keringat jatuh di kacamata. Suasana begitu bising. Polusi kendaraan menambah gerah suasana. Lebih jengkel lagi, banyak pemakai jalan yang membunyikan klakson tanpa henti. Bikin pekak telinga. Sudah tahu macet, kenapa harus membunyikan klakson. Apa bunyi klakson bisa membuat arus jalan menjadi lancar seketika? Tak ketinggalan, aura kemarahan tertumpah ruah di sana. Orang berebut jalan. Tak jarang, terdengar umpatan-umpatan jengkel.

Sementara itu, jalanan sudah sangat buruk kondisinya. Lubang terjal menganga di sana-sini. Tidak rupa jalan raya lagi, melainkan bak sungai kering. Kenapa Pemda tidak peka pada kondisi ini? Bagaimana dengan layanan dari Dinas Jasa Marga? Jangan-jangan, anggaran membangun jalan ini juga habis lantaran dikorupsi? Ah, ini umpatan lumrah dari mulut seorang yang lagi seperti cacing kepanasan di jalanan.

“Inilah wujud konkret dari kebiadaban publik!” kata kawanku di belakang. Betul juga, kataku. Inilah bentuk dari raibnya keadaban publik di jalanan. Konkret dan terpampang jelas. Aku sungguh merasakannya. Aku turut prihatin atas kondisi ini. Ada ketidakadilan sosial di sini.

Kawanku kembali memberi pernyataan damai siang itu. Bak menuangi air segar di tengah kegerahan. Katanya, “Jangan anggap mereka para pesaing kita di jalanan. Mereka adalah sahabat kita dalam perjalanan.” Kata-kata ini menyejukan hatiku. Selama ini, aku sering memperlakukan para pengendara motor di jalan sebagai pesaing. Lupa, kalau mereka adalah sahabat dalam perjalanan juga. Kenapa aku harus mengumpati mereka? Toh, aku harus bersyukur mereka adalah sahabat dalam perjalanan. Dan, dalam Neraka Ciputat itu, aku dan mereka adalah sama-sama sebagai korban. Korban ketidakadilan sosial yang berhak mendapat layanan publik berupa jalanan yang manusiawi. Tapi, hak itu telah dimakan oknum-oknum tak bertanggungjawab. Persis seperti lubang-lubang terjal di jalanan Neraka itu...

7 comments:

Meity said...
This comment has been removed by the author.
Meity said...

Mau meluruskan sedikit boleh ya..

Neraka Kamboja menceritakan kehidupan penulisnya sendiri, Dr. Haing S. Ngor. Sedangkan The Killing Fields menceritakan kisah hidup Dith Pran, seorang jurnalis Kamboja.

Haing S. Ngor mati tertembak bukan ketika sedang liburan, tapi tepat di depan apartemennya sendiri, di Chinatown di Los Angeles.

Anonymous said...

setuju dgn comment meity. haing s ngor adalah pemeran tokoh dith pran dalam film the killing field, yang dibuat berdasarkan novel yg ditulis oleh dith pran. semoga berkenan

pamulang said...

Memang saya setuju banget, ciputat emanug sangat sembrawut walaupun sudah dibangun fly over sepertinya sia-sia tetap aja macet. oya aku mo ngucapin selamat atas terbentuknya kota tangsel. moga pembangunan makin pesat dan jalan-jalan diperbaiki karena perbaikan jalan itu dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat.

Dede widarta said...

Saya sangat menyesal membaca 2 jilid buku Neraka Kamboja,karena saya ga punya jilid terakhirnya..saya sudah coba hunting kemana-mana tp tetep ga nemuin juga..mungkin rasa nyesel saya bs ilang kl ada yg bawa in jilid ke 3 buku itu..please..

Orang Ciputat said...

Setuju tulisannya...Ciputat emang Semrawut, khususnya pagi, dan sore

dan ralat dikit ya...
diciputat gak ada BAJAJ (yang roda 3)........

Anonymous said...

Emang dulu Ciputat semrawut tapi coba rasain skarang lalu lintas udah lancar dengan adanya flyover.

Yang kurang itu Terminal itu yang membuat kemacetan.

dengan tidak adanya terminal jadinya angkot ngetem dimana mana/