Wednesday, February 01, 2006

Menggali Harta Sang Alkemis

Judul : Sang Alkemis
Pengarang : Paulo Coelho
Penerbit : Pustaka Alvabet, 2005
Cetakan : VII
Tebal : 193 hlm.

Karya klasik modern Paulo Coelho ini memang cukup memukau. Novel garapan penulis Brazil ini berkisah tentang suka duka peziarahan bocah kecil bernama Santiago, bocah gembala di Andalusia, mencari harta karun. Perjalanan dimulai dari Spanyol menuju Tangier. Perjalanan panjang memakan ribuan kilometer. Di rentetan jejak langkahnya, Santiago bertemu dengan beragam orang dan beragam pengalaman unik. Ia menyeberangi gurun Mesir. Di sebuah oasis, ia mengalami perjumpaan yang menentukan dengan seorang Alkemis. Di gurun, ia pun menemukan kekasih hatinya, Fatima. Perjumpaan-perjumpaan yang menjadi ruang pembelajaran secara spiritual soal pencapaian cita-cita hidup.

Kejutan pertama ketika Santiago berjumpa dengan orangtua bernama Melchizedek. Obrolan dibuka dengan topik buku yang ditenteng bocah itu. Dari buku itu, ada perhatian soal usaha mewujudkan Legenda Pribadi. Masing-masing orang punya Legenda Pribadi atau mimpi dan cita-citanya. Orangtua yang mengaku Raja Salem itu melihat banyaknya ketidakmampuan orang untuk memilih Legenda Pribadinya. Bahkan, banyak orang yang akhirnya menyerahkan hidupnya pada nasib. Orangtua itu juga menasihati, saat orang menginginkan sesuatu, alam semesta bersatu untuk membantu orang itu meraihnya.

Santiago terus berjuang menggapai mimpinya. Ia terus membaca tanda tanda kehidupan, seperti yang Melchizedek katakan, untuk cita-citanya itu. Sebelum berpisah, Melchizedek memberikan dua buah batu penolong membaca tanda. Keduanya diberi nama Urim dan Thummim. Raja tua berbaju lusuh itu hanya berpesan, “Jangan pernah berhenti bermimpi, ikutilah pertanda.”

Anak muda ini melanjutkan perjalanan ke Tangier, sebuah kota pelabuhan di Afrika. Di sana, ia bekerja di sebuah toko kristal. Perjumpaan dengan si empunya toko membuat Santiago semakin terbuka pada cita-citanya. Si empunya toko digambarkan sebagai orang merasa terlambat untuk mewujudkan Legenda Pribadinya. Ia takut pada perubahan. Ia lebih menikmati hidupnya di ruang tokonya selama 30 tahun. Konon, ia punya mimpi untuk pergi ke Mekah dengan menyusuri gurun, dan mengitari Kabah tujuh kali. Tapi, ia ragu dan takut gagal. Ia memutuskan tinggal memimpikannya saja.

Setelah bekal dirasa cukup, Santiago melanjutkan perjalanan. Ia bertemu dengan lelaki Inggris yang bertahun-tahun mencari Sang Alkemis, Batu Filsuf, dan Obat Hidup. Kata orang, Alkemis termasyur ada di Arab, di oasis Al-Fayoum. Pada momen ini, Santiago menemukan gadis gurun bernama Fatima. Ia jatuh cinta. Santiago memberanikan diri bilang cinta. Fatima berujar, “Seorang dicintai karena ia dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai.” Lagi-lagi, sebuah refleksi mendalam yang masuk dalam novel ini.

Pada fase padang gurun ini, dimana dilatari perang antar suku, Santiago berjumpa dengan penunggang kuda. Tak lain adalah Sang Alkemis. Sebuah perjumpaan yang sangat menentukan. Keduanya terlibat dalam dialog-dialog menarik yang menambah bobot pada novel ini. Novel ini mampu melibatkan pembaca untuk terlibat dalam dialog dan berrefleksi atas kehidupannya sendiri. Tak lain karena apa yang didialogkan dalam novel ini dekat sekali dengan kehidupan pembaca. Tentunya, pembaca seperti Santiago mempunyai mimpi dan cita-cita dalam hidupnya.

Sang Alkemis mengatakan, untuk memahami Jiwa Buana, jiwa meraih cita-cita, orang harus mempunyai keberanian. Mewujudkan impian memang tidak mudah, bahkan menakutkan. “Memang menakutkan dalam mengejar impianmu, kau mungkin kehilangan semua yang telah kau dapatkan,” kata Alkemis. Bagi Alkemis, hanya satu hal yang membuat mimpi tidak dapat diraih, yakni perasaan takut gagal. Santiago mendapat pelajaran berharga dari Sang Alkemis. Tapi, setelah mendapat bekal berharga itu, apakah Santiago berhasil menemukan harta karun dan mewujudkan mimpinya?

Novel ini memang layak dimasukan dalam genre novel spiritual tentang realisasi sebuah impian. Paulo Coelho berhasil dalam mengawinkan refleksi spiritual dengan sastra. Mengajak pembaca tidak hanya menikmati hiburan kisah saja, tetapi terlibat dalam narasi karena apa yang dibaca tak lain adalah cermin kehidupan. Kekuatan ini pula yang tampak dalam novelnya yang lain, ‘Veronika Memutuskan Mati’, ‘Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk Tersedu’ dan ‘O Zahir.’ Coelho pun dianggap sebagai satu dari lima pengarang terbesar sepanjang sejarah dan meraih beragam penghargaan.

[Pernah dimuat di Majalah LeadershipPark edisi VIII]

1 comment:

pramubakti said...

saya sedang membaca novel "sang alkemis" dan berada pada sekitar 10 halaman terakhir. saya kok tidak mendapatkan "keindahan" dan "pelajaran" dari novel tersebut. bahasanya --menurut saya pribadi-- jauh dari keindahan, maknanya pun sangat sulit untuk ditangkap oleh orang awam (yang tidak mengerti ilmu semiotika) seperti saya. saya heran dan memandang aneh kepada orang-orang yang mengagumi buku ini dan karya paulo coelho lainnya.