Wednesday, February 01, 2006

Stiker Militer

Perjalanan menuju kantor pagi ini (16/1) diwarnai dengan beragam pemandangan. Jalanan sepanjang Rawa Belong-Palmerah cukup padat. Mikrolet M-11 berjejal dan beradu dengan kendaraan lain. Sepeda motor yang kunaiki pun tidak bisa berjalan cepat, pelan, dan harap sabar. Untuk mengatasi kesumpekan pagi itu, mataku lumayan kreatif untuk memandangi kendaraan di depanku atau melintas di jalur seberang.

Selain membaca tulisan beragam di kaca belakang tiap mikrolet, mataku juga melihat beragam stiker yang tertempel di mobil-mobil itu. Hampir tiap hari, aku melihat stiker warna kuning bertuliskan “Taman Safari” dengan bentuk badak atau singa tertempel di kaca belakang mobil. Namun, beberapa kali, aku juga melihat stiker berwarna hijau, kadang doreng (hijau-coklat) bertuliskan “Angkatan Darat”, “Keluarga Mabes TNI”, atau “PM” (Polisi Militer) tertempel di kaca mobil atau bodi sepeda motor. Anehnya, pengemudi mobil atau motor itu berperawakan bukan sebagai seorang anggota militer atau polisi. Bisa jadi, memang keluarga dari militer atau polisi.

Aku teringat pada omku saat liburan di Jogja. Saat berpergian dengannya, omku menghentikan balenonya untuk membeli stiker militer bertulis “keluarga besar TNI”. Katanya, biar aman. Aku bertanya, aman dari apa? Dari orang jahat atau polisi lalu lintas? Padahal, dia bukan keluarga besar TNI. Apakah dengan stiker itu, mobil itu bisa aman dari orang jahat dan kebal dari aturan lalu lintas?

Ah, bagiku kenapa harus takut? Kenapa berlindung di balik stiker? Bukan kebanggaan memakai stiker itu, melainkan ketakutan di balik plastik lengket itu. Toh, ketakutan hanya melahirkan berbagai kepura-puraan. Tapi, ini fenomena konkret di depan mata. Aku pun pernah mau memasang stiker itu.

Pendekar Miyamoto Musashi dalam novelnya Eiji Yoshikawa pernah berujar, “Aku tidak takut pada siapa pun. Satu yang aku takuti, yakni ketakutan itu sendiri.” Pendekar pedang asal Negeri Sakura itu menyadari ketakutan adalah potensi awal sebuah kekalahan. So, mengapa takut?

1 comment:

aureliaclaresta said...

hm... ini membuktikan bahwa orang indonesia ini moralnya udah tercemar bgt ya...

termasuk aurel juga sih...

pikirannya dijejali oleh 'hal-hal yg jadi suatu momok padahal nggak perlu'

payah...
pengen jadi anak kecil lagi....
no memories
lahir di taman firdaus aja
bukan di dunia penuh kebusukan ini