Wednesday, August 23, 2006

Ada Gie di Diariku


AKU buka-buka laptopku. Malam ini, cukup sepi. Biasa, kesepian sering mampir tiba-tiba di bilik hatiku. Aku sengaja buka folder diari. Sengaja pula aku buka diari di folder tahun 2005. Eh, aku menemukan tulisanku tentang Soe Hok Gie dalam diariku. Berikut aku postingkan:

Selasa, 19 Juli 2005

Hari ini, aku nonton film Gie bersama Femi, temenku seorang wartawan Kontan. Malam itu, bioskop Megaria tidak begitu ramai. Mungkin, karena ini hari kerja bukan weekend. Tiket seharga Rp 20 ribu segera kami beli. Aku sedang serius mengenal sosok Soe Hok Gie baru-baru ini setelah wacana pemikirannya dibuka dengan film. Sekilas aku pernah membaca bukunya yang diterbitkan LP3ES berjudul “Catatan Seorang Demonstran” di Toko Buku Gramedia Taman Anggrek beberapa pekan lalu. Sangat menarik dan inspiratif. Aku sendiri merasa sangat ketinggalan membaca Soe dan pemikirannya. Padahal, buku itu senantiasa hadir di perpusatkaan di setiap asrama tempat aku tinggal.

Tapi, apalah arti ketertinggalan, toh waktu masih memberi ruang bagiku untuk belajar banyak darinya. Tapi, sudah ada nih buku ‘Catatan Seorang Demonstran’ dan ‘Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani’ karya John Maxwell terbitan Grafiti.

Studio 4 Megaria dipenuhi dengan orangmuda. Tampak beberapa orangtua ikutan nonton film yang disutradarai Riri Reza dan diproduseri Mira Lesmana itu. Semula, aku merasa sayang ketika sosok aktivis dan intelektual muda itu diperankan oleh para bintang popular anak muda sekarang, seperti Nicholas Saputra, Wulan Guritno, dan sebagainya. Muncul sedikit kekawatiran animo orangmuda yang nonton film itu bukan karena sosok Soenya tetapi sosok Nicholas Saputra yang mulai mengorbit sejak main di film garapan anak negeri “Ada Apa Dengan Cinta.” Tampak antre berderet orangmuda dengan wajah-wajah beragam. Ada yang wajah culun dan cool dengan tampang-tampang pengidola Peter Pan. Tapi, ada juga tampang-tampang sangar, sorot mata tajam, dandandan acak-acakan, bak aktivis mahasiswa. Ada kekawatiran juga bila terjadi distorsi sejarah.

Tapi, aku tak lama sadar. Aku melihat kejeniusan Riri Reza dalam hal ini. Dengan menggunakan ikon remaja populer sekarang, Riri mau mengajak orangmuda untuk mempelajari sejarah. Belajar sejarah secara visual, dengan film. Soal sejarah, aku teringat yang diprihatinkan Pramoedya Ananta Toer di saat hari ulangtahunnya ke-80. Pram prihatin tentang sejarah yang tidak diminati kaum muda sekarang. Padahal, menurutnya, Bangsa ini selalu terpuruk dalam lingkaran setan kesengsaraan dan persoalan karena tidak pernah belajar dari sejarah. Nah, Riri tampaknya mau memasukkan pelajaran sejarah dengan metode alternatif, yakni film. Aku membayangkannya Riri mencoba mempertemukan dua generasi, yakni generasi Soe dan generasi Nicholas Saputra. Harapannya, keduanya bisa berdialog dan saling belajar. Lihat saja nanti, apakah ini menjadi awal gerakan orangmuda yang baik? Aku pun berharap demikian...aku lihat positifnya deh!

Ada dua hal dari sosok dari Soe yang menarik bagiku. Pertama, kegigihan dia sebagai seorang intelektual. Kedua, kecintaannya pada menulis sebagai alat pergerakkan. Dari catatan-catatan yang aku baca, film yang aku tonton, dan komentar orang tentang sosok Soe, aku bisa melihat Soe memegang teguh komitmennya sebagai seorang intelektual. Ingat Soe, aku ingat apa yang kubaca dari Julien Benda, khususnya tentang Pengkhianatan Intelektual (La Trahison des Clercs). Aku baca Benda bukan dari buku aslinya, tapi dari bukunya Edward Said berjudul Sang Intelektual. Said cukup banyak menyinggung karya Benda itu.

Nah, aku lihat sosok Soe seperti intelektual yang digambarkan Benda. Dia tidak hanya berteori dan menganalisis bak raja yang duduk di menara gading, tapi Soe juga terjun dalam gerakan dan mengalami lapangan. Soe juga tidak mau jadi partisan. Artinya, ikut dalam partai atau kelompok tertentu tang sarat ragam kepentingan. Ia memilih berjalan sendiri. Seorang diri dan kadang mengalami kesepian.

Sisi kedua yang menarik, yakni Soe senang menulis. Kelihatan sekali, Soe menggunakan media tulisan sebagai alat perjuangan. Jujur, ini yang memberi inspirasi aku yang lagi belajar menulis. Tulisan-tulisan di media massa dan catatan hariannya ternyata sangat berguna. Kritikan-kritikannya memberi semangat pergerakkan. Tapi, banyak juga yang marah, sakit hati, dan tidak suka dengan tulisan-tulisan Soe. Aku paling tersentuh dengan komentar dari Arif Budiman, kakak Soe, tentang kegelisahan Soe atas apa yang selama ini ia kerjakan.
"Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang. Makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan. Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian," katanya.

Perasaan Soe itu juga pernah aku alami. Merasakan apa yang kulakukan tidak ada gunanya dan malah membuat banyak orang sakit hati. Tak sedikit orang yang menganggap tulisanku terlalu tajam mengkritik gereja, khususnya parokiku. Terlalu berani, tidak sopan. Tapi, ada juga yang melontarkan apresiasi positif. Kadang, merasa apa yang aku kerjakan aneh-aneh saja dan tidak ada gunanya. Ditambah dengan Kafe Socrates, forum diskusi bulanan. Pernah, aku dibilangin oleh seorang kawan? “Mau mengubah Gereja ya. Mustahil!” katanya. Bahkan, seorang mantan ‘pejabat Gereja’ pernah menganggap Kafe Socrates sebagai tong sampah, bisanya cuma menyalahkan gereja.

Tapi, aku pernah dengar dari pemredku di LeadershipPark. Nara Patrianila namanya. Dia pernah berujar, “Kata adalah mantra. Dan mantra itu berenergi. Energi tidak bisa dimusnahkan. Ia kekal. Ia cuma bisa diubah dari bentuk satu ke bentuk lainnya...” Aku percaya pada itu bahwa kata adalah mantra. Itu kan pelajaran Fisika. Persis seperti yang dilakukan Soe. Meskipun ia sudah mati dalam pelukan hawa beracun puncak Semeru, tapi Soe masih hadir sekarang dan di sini.Tak percaya, rasakan saja. Makanya, aku terus belajar menulis. Aku beruntung punya sahabat dan komunitas yang peduli pada dunia menulis ini.

Uahhh. Udah mengantuk nih. Sebaiknya, aku tutup malam yang sudah mulai runtuh jadi pagi ini dengan tidur. Kasur dan bantal sudah merangsang untuk aku tiduri. Pengin rasanya cepat ‘bercinta’ dengan mereka. Melihat buku-buku yang terserak di rak samping tempat tidur, aku sempat merasa sayang. Oke deh, akan kusentuh lagi kalian...tapi, aku masih males-malesan kalo besok pagi aku ke kantor. Karena aku lagi males disuruh menulis yang sebenarnya aku males menulisnya. Ha ha ha...Luweh!

2 comments:

Fenty Lovegood said...

Perjuangan Gie emang luar biasa, but somehow kalo liat dari filmnya dia pengecut soal cinta ya ?? hehehe, entah deh benernya kaya' apa ... Tapi film ini emang bagus kok.

panimbang said...

Kamu, Gie banget!