Friday, January 12, 2007

Lelaki Tua dan Seekor Kucing

ENAM hari saat hujan lupa mengguyur Jakarta. Enam kali juga aku melihat sosok lelaki tua bermain dengan seekor kucing itu. Pemandangan ini setiap pagi terulang. Di pojok jalan, tepatnya di perempatan lampu merah Jalan Panjang-Pos Pengumben, Jakarta Barat, duduk seorang lelaki tua di sebuah cor-coran beton yang diperuntukkan sebagai pot bunga. Lelaki berbadan tirus, beruban, dan bersandal jepit abu-abu itu senantiasa sumringah sambil bermain-main dengan seekor kucing. Dan kucing itu tampak senang juga. Sesekali mundur menghindari sergapan tangan Si Tua, sesekali memasang kuda-kuda siap menerkam tangan keriput itu, sesekali mendekat dan mencakar-cakar manja jemari lelaki tua itu. Mulut lelaki itu mengembang, sebuah bunga senyuman yang jarang mekar di bibir orang-orang ibukota.

Sebotol aqua terisi setengah air dan tas plastik hitam tergolek dekat perdu, tempat si kucing menyembunyikan diri dari 'serangan' tangan lelaki tua itu. Duh, sebuah pemandangan yang menyenangkan. Dua mahkluk yang bermain-main. Laksana seorang ayah dan anaknya saja. Memang, kemacetan tidak selalu membuat hati gerah segerah udara akibat kepulan asap knalpot kendaraan yang berjejal di depan lampu merah. Tentunya, semua itu tergantung dari diriku sendiri. Banyak kehidupan yang menarik di jalanan. Salah satunya adalah lelaki tua dan seekor kucing itu.

Aku tidak bisa menerka dengan pasti apa yang ada di dalam benak lelaki tua itu. Mungkin ia lagi menghabiskan setiap pagi saat cahaya matahari masih ramah-ramahnya. Mungkin ia sedang menunggu seseorang, jemputan, atau yang lain. Mungkin itu sudah menjadi bagian dari rutinitas hariannya. Mungkin itu satu-satunya kegiatan favoritnya dan kucing itu adalah harta satu-satunya yang ia punyai. Mungkin ia dan kucing itu sudah janjian untuk rendesvouz setiap pagi menjelang. Mungkin mereka berdua belum lama berkenalan atau mereka justru sahabat lama yang belum lama ketemu. Ah, aku tidak tahu persis. Aku tidak tahu siapa lelaki tua itu. Aku juga tidak tahu siapa kucing berbulu coklat itu. Termasuk asal-usulnya. Mungkin, suatu saat, aku perlu bergabung dengan mereka.

Yang jelas, keriangan wajah dua mahkluk menyiratkan satu pesan: kebahagiaan itu murah!

2 comments:

femiadi said...

setuju banget kalo dibilang kebahagiaan itu murah. berbagi senyum dengan kucing. melambaikan tangan. membuat bibir lawan bicara melengkung keatas. mengucapkan selamat pagi ... juga bagian dari mencacah rasa bahagia kan?

aureliaclaresta said...

kalau kebahagiaan itu murah...
mengapa masih ada yang menjerit2 tidak bisa makan... meminta2..
menangis karena tidak bisa hidup dengan layak...

menurutku,
memilih untuk bahagia itu yang mudah
menjadi bahagia kadang2 tidak murah

aurel
(cah ngeyel)