Tuesday, February 13, 2007

Hujan, Perpustakaan Rumah, dan Resolusi 2007

HUJAN yang menghajar Jakarta dan menyebabkan banjir belakangan ini juga ikut menghajar perpustakaan pribadiku. Meski lingkungan rumahku tidak kena banjir, tetapi guyuran butiran jagung air dari langit itu mampu membobol langit-langit rumahku. Air hujan jatuh di atap yang bocor, merambat melalui dinding dan membasahi lantai. Belum sempat aku ungsikan di tempat aman, buku-buku yang tergeletak di lantai terlanjur basah. Sementara itu, udara lembab membuat buku-buku yang ada di rak terserang jamur. Bintik-bintik hitam mulai menghiasi sisi-sisi putih bukuku.

Melihat itu semua, aku tidak boleh tinggal diam. Tukang pun dipanggil. Genting dirapikan dan dilapisi cat antibocor merek Aquaproof. Minggu lalu (1/2), kuhabiskan hariku dengan merapikan ruangan perpustakaan. Sebenarnya, ruang perpustakaan ini multifungsi. Di samping rak besar, tergolek ranjang tidur. Di sebelahnya, ada meja belajar lengkap dengan lampu duduk, printer keluaran Hewlett-Packard, berserta tumpukan buku yang lain. Di ruang ini pula, aku melakukan aktivitas menulis.

Buku-buku itu harus diselamatkan. Apalagi resolusi personal tahun 2007 adalah mengoptimalkan aktivitas menulis, membaca, dan mengirim tulisan ke media massa atau penerbit. Di perpustakaan ini, ada sekitar 1500-an buku dengan beragam kategori. Ada buku-buku filsafat (koleksi sejak kuliah di STF Driyarkara), sosiologi, sastra, bahasa, dan sebagainya. Untungnya, istriku juga punya rasa eman dengan buku. Semenjak ia mendapat kiriman lima jilid novel Harry Potter, ia mengusulkan agar buku-buku itu diberi sampul plastik. Sebenarnya, ide serupa sudah ada sejak dulu. Tapi, lantaran rasa malas, ide ini tidak pernah diwujudkan. Akibatnya, banyak buku-buku yang bagus tetapi sudah bertampang kumal, penuh cendawan, dan bau.

Merawat perpustakaan rumah tidaklah susah-susah amat. Menurut arsitek Saptono Istiawan, ada tiga hal yang patut diperhatikan dalam memelihara perpustakaan yang difungsikan juga sebagai ruang baca. Pertama, cukup penerangan dan pencahayaan. Kedua, cukup penghawaan untuk menghindari lembab yang berpotensi merusak buku dan demi kenyamanan pembaca. Ketiga, cukup hening dari polusi suara.

Perlahan, aku juga mau mendata seluruh buku-buku yang aku miliki, lengkap dengan stampel, dan sebagainya. Semoga dari ruang kecil inilah, ada banyak hal hasil olah intelektualku bisa mewarnai berbagai media. Itu bagian dari resolusi personal 2007. Konsekuensinya, aku harus mengubah pola hidup lamaku. Orang lain sudah banyak menulis buku. Padahal, peluang, piranti menulis, bakat, sudah aku punyai. Tinggal komitmen dan jiwa besar untuk mewujudkannya.

Seorang kawan, panggil saja Heru, pernah melontarkan pertanyaan yang menusuk kesadaranku. “Di ruangan ini, banyak tergeletak buku-buku bagus, lalu yang mana buku karyamu sendiri?” katanya menyindir. Memalukan memang. Coba bandingkan dengan para penulis besar yang melahirkan karya-karya dalam situasi serba terbatas. Sebut saja penjara.

Ruang Baca Tempo edisi 3 Januari 2007 menyuguhkan kisah para penulis buku-buku dari balik jeruji besi. Ada Fvodor Mikhailovich Dostoesvsky yang mendekam di kamp Katorga, Omsk, Siberia. Bergulat dengan udara dan lantai penjara yang dingin, ia menghasilkan novelet psikologi fenomenal The Double. Ada lagi Ho Chi Minh dari Vietnam. Lelaki yang punya nama asli Nguyen Sinh Cung dan akrab dipanggil Paman Ho ini memilih jalan puisi sebagai bagian dari perjuangannya. Di dalam sel besi, ia melahirkan antologi puisi yang ia rangkum dalam A Comrades Paper Blanket. Nah, ada lagi Hitler dengan Mein Kampf-nya. Aung San Suu Kyi dengan Freedom From Fear and Other Writings. Voltaire dengan Oedipe.

Nah, mampukah aku mengubah ruang perpustakaan rumahku itu menjadi ‘penjara,’ tempat buku-buku bakal dilahirkan? Atau membiarkan ruangan itu menjadi uzur, berdebu, dan mandul? Tahun 2007 adalah tantangannya. Paling tidak, komitmen atas resolusi personal di Tahun Babi Api ini yang akan membuktikannya. Yang jelas, tidak usah muluk-muluk!

1 comment:

Tukang Koran said...

Waaaaaa.... seribu lima ratus buku! Sarikan semua di dalam blog ini, mas. Jadi kami tinggal menarik kesimpulannya :-) O iya, salam kenal!