Sunday, March 04, 2007

Bulan Raksasa

PERASAAN itu datang lagi. Dini hari. Aku terjaga dari bunga tidurku. Aku merindukan bulan. Bulan purnama. Tapi, bukan bulan yang selama 30 tahun ini aku lihat. Bukan bulan yang biasa aku lihat di atas loteng. Bukan bulan yang menggantung di langit hitam di pojok lapangan depan rumahku. Bukan bulan yang berkejaran di balik gedung-gedung jangkung saat motorku melintas Jalan Sudirman atau Thamrin. Bukan pula bulan yang berada di dalam kubangan sisa hujan di jalan beraspal. Bukan!

Aku merindukan bulan raksasa. Raksasa. Bulan raksasa yang mengembara di langit bersih. Bukan bulan biasa yang nampak sebesar bola voli. Tapi, bulan raksasa yang terbang rendah di balik hutan cemara pada musim semi. Ingin kupandanginya sepanjang malam tanpa kedipan. Ingin kucecap lekak-lekuk wajah tembaganya. Ingin menemaninya melintasi hutan cemara, punggung-punggung bukit, pucuk-pucuk gunung bersalju, rimba gandum yang masih hijau, dan amblas di balik padang bebatuan penuh debu. Bila saat itu tiba, aku tidak mau tidur. Aku mau berjaga. Aku mau menulis cerita.

“Kapan aku bisa menemukan bulan itu?”
“Dua tahun lagi, kamu pasti akan menemukannya!”
“Dua tahun lagi?”
“Iya, dua tahun lagi. Kamu pasti menemukannya. Aku dan kamu akan berada di sebuah gubug kecil saat bulan raksasa itu muncul dari pucuk-pucuk cemara.”
“Kamu yakin, kita bisa melihatnya?”
“Kamu meragukanku? Instingku mengatakan itu. Masihkah kamu tidak percaya? Coba ingat saat kita menghadiri arisan di lereng bukit Cimanggis, di rumah saudaramu? Sebelum arisan dikocok, aku berbisik padamu: hari ini, hari keberuntunganmu. Kamu akan dapat arisan. Dan apa yang terjadi? Kamu dapat arisan itu.”
“Aku juga merasakan yang sama. Dua tahun lagi. Dan cerita-ceritakulah yang menerbangkan aku dan kamu ke lembah Eden itu.”
“Indira mau diajak?”

Aku melempar senyum kecil pada istriku. Dibalas dengan senyum genit dari bibirnya. Aku melongok ke arah luar jendela. Langit masih kosong. Hitam. Lengang.

1 comment:

M4esa said...

Cinta ku..Bulannya bagus. Kamu pasti akan bisa melihatnya. Seperti kata-kata 'instingku'....Terus putar roda menulismu...
Aku dan 'Indira', mendukungmu...