Wednesday, November 14, 2007

Noni Menikah

SEORANG sahabat baru saja menikah. Namanya Airin Sunandar. Putri sulung seorang dokter gigi ini sering menyebut dirinya Noni. Noni adalah inisial buat tulisan-tulisannya. Noni menikah dengan Anton di Gereja Katolik Bunda Perantara Cideng, Jakarta Pusat, Minggu 11 November 2007. Resepsi dilangsungkan malam harinya di Panti Perwira Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan. Sekitar 500 meter dari sepotong gang tempat favorit untuk melepas malam bersama marina, zombie, atau satu teko bir plethok ditemani kacang goreng bertabur garam.

Entah kenapa, sebulan sebelum pernikahannya, Noni memintaku membuat dan membacakan doa untuk membuka resepsi itu. Setengah tidak percaya. Bagaimana mungkin orang yang jarang ke gereja ini membuat dan membacakan doa? Bisa jadi para malaikat di langit jatuh pingsan. Apa Tuhan tidak terpingkal-pingkal. Tuhan yang selama ini aku sejajarkan dengan larutan panas cappuccino bertabur chocolate granule merek Tora Bika itu. Tuhan yang doyan aku ejek dengan ungkapan: hari tanpa ngopi itu seperti agama tanpa Tuhan. Ejekan yang justru membuat seorang kawan di kantor ingin mendampratku.

Tapi, aku menyanggupinya. Dalam pesan pendek, ia minta agar doanya seromantis mungkin. Waduh! Aku bukan orang yang doyan roman-romanan. Tapi, tidak apa-apa. Alih-alih sebagai persembahan buat seorang sahabat sendiri. Dulu, beberapa bulan lalu, ia juga memintaku membuatkan teks doa. Tapi buat ulang tahun pernikahan papa mamanya. Alamak, dosa apa aku ini.

“Tuhan yang merajai seluruh semesta. Pada malam yang suci dan agung ini, kami menghaturkan sembah sujud penuh ketakziman atas segala peristiwa dan segala perjumpaan yang Kau suguhkan pada kami seperti rintik hujan yang Kau kirim pada tanah malam ini. Malam di mana bulan mengunci diri. Bersamadi dalam sunyi. Merenungi kasih ilahi.”

Tahu tidak, sebelum pembuka doa itu aku daraskan di atas mimbar, aku sempat grogi. Serius. Sesekali aku meminta Helena dan Bernardi, sahabat yang turut resepsi itu untuk menggantikanku. Tapi, mereka tidak mau. Mereka malah mengembangkan bibirnya untuk sebuah senyuman. Seakan mereka mau mengatakan: mampus lo!

Bayangkan saja, pesta nikah ini diadakan secara mewah. Para tamu undangan berpakaian serba parlente. Panti nikahnya begitu agung. Modern. Airin tampil begitu ayu dengan gaun putih. Anton tampil ganteng dengan balutan jasnya. Panti pun disulap wah dan elegan. Ditambah dengan full music seperti light jazz, instrumental, dsb. Nah, apa tidak rusak gara-gara mendengar doa dengan suara slendro (baca: jawa medhok) yang jauh bermil-mil dari suara mikrofonis ini Tapi, quid scriptus, scriptus! Artinya, yang tertulis tetaplah tertulis. Sang pembawa acara pun harus taat pada urutan acara yg sudah tertulis. Apalagi rombongan pengantin sudah manggung. Sorot lampu kamera menghunjam deras ke tubuhku yang berbalut kemeja batik dengan motif bunga-bunga didominasi warna merah. Para undangan sudah memalingkan wajahnya padaku seperti mau mendengarkan seorang presiden hendak mengumumkan kenaikan harga BBM. Dan benar yang terjadi. Saat bibirku mengajak hening sejenak, semua orang hening. Kertas doa yang sudah kucel aku buka. Mikrofon sudah ada 5 cm di depan mulut.

Serius! Mendadak podium berubah menjadi panggung seni. Aku merasa seperti Sapardi Djoko Damono yang hendak membacakan sajak romantisnya. Bak Joko Pinurbo yang hendak membaca syair-syair dalam antologi Di Bawah Kibaran Sarung (2001) atau Pacar Senja (2005). Lalu, aku bermonolog lagi.

“Hanya karena cinta, jari-jari-Mu menari-nari melukiskan ada. Bumi. Pohon. Burung. Angin. Senja. Kupu-kupu. Cakrawala. Matahari. Cemara. Langit. Bintang. Segala dan setiap napas yang berhembus. Karena cintamu, Kau telah mempertemukan rumput dengan embun pagi. Awan di angkasa dengan langit di kaca jendela. Ombak dengan pasir. Bunga tulip dengan lebah madu. Demikian juga Kau mempertemukan dua mempelai ini.”

Noni adalah seorang sahabat yang menarik. Aku mengenalnya sejak berkarya bersama di Warta Minggu, sebuah buletin gereja Katolik di Jakarta Barat. Ia seorang pelahap buku. Bukunya banyak. Apalagi kategori fiksi. Tak jarang, kita sering barter buku cerita untuk dipinjam. Aku selalu senang melihat orang doyan buku. Pasti ada suatu yang berbeda dari cara hidupnya dibanding orang yang tidak pernah atau jarang membaca buku. Selain itu, gadis penyuka kucing ini adalah seorang penulis menjanjikan. Tulisannya ngepop. Mengalir. Enak. Muda. Berisi. Aku tidak bakalan lupa dengan satu cerpennya berjudul Rendesvouz. Cerita pendek yang isinya amat dekat dengan kisah hidupku di masa-masa mengenal seorang cewek bernama Nat yang sekarang menjadi ibu peri. Cewek yang aku kenal di bawah temaran lampu-lampu gantung di Kedai Tempo, Utan Kayu.

Ia juga seorang resensor buku yang baik. Buktinya, beberapa buku anak-anak yang ia resensi diterbitkan di Kompas Minggu di rubrik anak. Kita sering bertukar informasi seputar buku, entah pameran buku, diskusi buku, buku murah, dan sebagainya. Itulah Airin, sahabat yang menarik.

"Bersama semesta, kami berdoa bagi kedua mempelai. Semoga cinta yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma, mereka berikan secara cuma-cuma juga satu sama lain. Berkatilah jalan-jalan pejiarahan mereka. Kuatkanlah jika kaki-kaki mereka melemah. Lembutkanlah jika rasa mereka mulai membatu. Ketuklah jika pintu-pintu hati mereka mulai terkatup. Terangilah jika api pengharapan mereka mulai meredup. Ingatkanlah jika mereka mulai menyimpang dari jalan-jalanmu."

Semoga doa-doa itu didengar Tuhan. Buat Noni, selamat melakukan pejiarahan panjang bersama suamimu. Semesta membukakan jalan-jalan rezeki dan bahagia untukmu. Ia akan menyediakan oase-oase penawar dahaga. Hati-hati pula, di jalan banyak fatamorgana. Welcome to another paradise!

1 comment:

nara patrianila said...

bahkan sebelum ada kata-kata
doa sudah ada
bahkan sebelum agama
doa sudah ada
bahkan sebelum ada kita
doa sudah ada
kali ini aku jadi bertanya
apakah doa itu awal dan akhir?