Thursday, November 15, 2007

Peristiwa 9/11

ANGKA 9 dan angka 11 adalah angka sangat penuh arti. Angka ini pernah dipakai untuk menandai sejarah dunia, Tragedi 11 September 2001. Tragedi 11/9 memutar memori kita pada suatu pagi nan cerah di Manhattan. Pagi saat dua burung besi berisi ratusan penumpang menghantam menara kembar World Trade Center. Pagi naas dan menewaskan lebih dari 3000 orang.

Bagaimana kalau kita balik angkanya menjadi 9/11? Peristiwa 9/11 juga sarat arti. Pada tahun 1989, angka itu merujuk peristiwa runtuhnya Tembok Berlin. Ini sejarah penting bersatunya dua Jerman, Jerman Timur berhaluan komunis dan Jerman Barat berhaluan kapitalis. Sementara itu, jauh di tahun 1799, angka ini mengacu pada Napoleon Bonaparte resmi menjadi diktaktor. Pada tahun 1904, angka ini bicara tentang pesawat yang diterbangkan pertama kali. Pada tahun 1918, Bavaria memproklamirkan diri sebagai republik. Tahun 1932, angin ribut mengosak-asik Santa Cruz del Sur Cuba dan menewaskan 2500 orang. Pada tahun 1970, Presiden Prancis Charles deGaulle mati di usia 79 tahun. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Mau tahu lebih banyak, silakan cek di situs scopsys. Iseng-iseng untuk utak-atik tanggal dan peristiwa.

Tapi, peristiwa 9/11 yang bagiku paling berarti adalah peristiwa di tahun 1976. Pada saat inilah, pukul 1o malam dan Jogja sedang dibekap hawa dingin, aku dilahirkan. Aku dilahirkan dari seorang ayah tentara dan ibu seorang pegawai negeri. Bantul, kampung halamanku. Lahir sebagai anak ketiga setelah 2 kakak perempuanku.

Jarang aku merayakan ulang tahun. Minimal traktir mentraktir saja. Itu pun sederhana. Perayaan besar justru terjadi ketika aku berada di asrama Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah, 11 tahun silam. Bila hari itu tiba, seluruh isi asrama berpesta. Minimal dengan sajian makan siang khusus. Maklum, pada hari itu, bertepatan dengan hari ulang tahun seorang pembesar asrama. Namanya Bruder Van Dooren SJ. Ia seorang bruder tua asal Belanda dan ditugasi mengajar anak-anak asrama bahasa Prancis. Tapi, saat aku datang, ia sudah terlalu uzur. Ia tinggal wisma Emaus, tempat para Jesuit tua tinggal menunggu keabadian. Parasnya lucu seperti dokter Patch Adam yang diperankan oleh Tom Hanks. Memorinya sedikit aus. Pelupa. Doyan jalan-jalan dengan sepeda unta, beropi koboi, mengelilingi kampung seputar asrama. Ia begitu dicintai anak-anak kampung. Buktinya, banyak anak dan warga kampung yang senang hati mengantar pulang bruder itu karena lupa jalan menuju asrama. Maklum. Sekarang ia sudah meninggal. Tapi, kenangan lucu masih menggantung di batok kepalaku. Aku mau menuliskannya di lembar terpisah.

Kembali ke ulang tahun. Ulang tahun di tahun 2007 ini juga tidak meriah. Malam menjelang ulang tahun, tubuhku justru menggigil diserang demam. Demam yang sebelumnya mampir di tubuh ibu peri. Pagi hari, seperti biasa, kulayangkan sepotong doa tanda syukur. Lalu sarapan bareng bersama ibu peri dengan ketupat sayur yang ia beli di pasar dekat rumah. Liputan. Ngantor. Mentraktir teman-teman kantor kue donat dengan patungan bareng Eko yang berulangtahun sehari sebelumnya. Menulis.

Ucapan selamat berderai baik melalui sms, telepon, langsung, maupun yahoo messenger. Saudara-saudaraku pun ‘berdemonstrasi’ minta ditraktir. Tapi, aku tunda dulu, karena sore hari, aku harus memeriksakan ibu peri ke dokter kandungan. Maklum sudah 6 bulan dan vitamin dari dokter sudah habis. Sayang saja, dokter Raditya sedang cuti satu minggu. Malam hari, bersama ibu peri, aku pergi Video Ezy untuk pinjam beberapa film. Karena petugas rental tahu hari itu ulang tahunku, aku mendapat gratis 2 keping film dan kartu ucapan. Lama aku tidak dapat kartu ucapan ini. Sekali dapat, justru dari rental vcd itu. Bagus. Bagus. Malamnya aku habiskan dengan ngobrol bersama ibu peri sambil memandangi atap kamar tidur. Di luar, hujan jatuh membasahi jalanan.

Baru hari berikutnya, aku menepati janjiku mentraktir saudaraku. Kijang Taruna warna hijau membawa kami ke gerai Djakarta’s Steak di Meruya. Gerai steak sederhana tetapi tidak terlalu jelek. Meski soal rasa masih kalah dibanding Abuba. Tapi, untuk rame-rame, Djakarta’s Steak ini lumayan cocok. Harganya juga ekonomis. Menunya pun beragam. Ada tenderloin, sirloin, T-bone, chicken gordon blue, cruncy, crispy, dan sebagainya. Ada menu tambahan seperti french fries, spaghetti bolognaise, dan aneka minuman. Range harganya cukup membuat kantong tersenyum, Rp 15 ribu s.d. Rp 28 ribu. Kedai tenda ini cukup ramai oleh pengunjung. Sampai kita pun berebut kursi.

Hari berikutnya masih ada ucapan yang mampir di ponsel. Bahkan, Rabu malam, seusai menemui narasumberku di Starbucks City Plaza, aku diberi hadiah tas oleh seorang sahabat dan pembaca blog. Bertempat di outlet roti Seven Grain di Mampang Prapatan, ia menyodoriku kado tas dan sepotong cake dengan satu lilin kecil berulir. Wah, terimakasih kisanak!

Bertambah umur, bertambah tua. It’s a long road!

No comments: